Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.

Janji Manis di Kotak Paket, Tagihannya Datang Belakangan
Beli smartwatch sekarang sudah seperti membeli janji. Kotaknya menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, hitung langkah presisi, analisis tidur, sampai peringatan detak tidak normal. Sayangnya, tagihan aslinya baru muncul setelah paketnya dibuka dan dipakai berminggu-minggu.
Sensor Jantung yang Ternyata Pilih Kasih
Mekanismenya sebenarnya sederhana. Smartwatch memakai sensor optik yang menembakkan cahaya ke kulit lalu menangkap pantulannya untuk membaca detak jantung. Masalahnya, algoritma teknologi ini sering dikembangkan pada populasi kulit putih yang homogen, sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasi ke semua orang. Daniel Koerber, dokter residen di Universitas Alberta, memimpin tinjauan sistematis terhadap 10 penelitian dengan total 469 partisipan yang dipresentasikan pada Sesi Ilmiah Tahunan ke-71 American College of Cardiology. Empat dari sepuluh penelitian itu menemukan pengukuran detak jantung secara signifikan kurang akurat pada individu berkulit gelap. Tato di pergelangan tangan juga bisa membuat pembacaan sensor tidak akurat, menambah daftar pengguna yang tidak dapat janji penuh dari sensor yang diiklankan.

GPS Hemat Baterai atau Akurasi yang harus Dikorbankan
Fitur GPS jadi daya tarik utama untuk pelari dan pesepeda. Sekilas memang praktis, kamu bisa lihat rute, jarak, dan pace tanpa membawa ponsel. Tapi GPS internal adalah salah satu fitur paling haus daya di smartwatch. Kompas mencatat penggunaan GPS saat berolahraga bisa menguras sekitar 30 persen baterai dalam satu sesi. Jadi jangan heran kalau jam tangan yang diklaim tahan 14 hari mendadak loyo sebelum akhir minggu.
Produsen menjawab dengan antena yang dipindah agar sinyal tidak terganggu. Huawei Watch GT Runner 2 memakai teknologi 3D Floating Antenna dengan dual-band yang mendukung GPS, GLONASS, Galileo, BeiDou, dan QZSS. Saat uji lari 5K, perangkat ini tetap akurat di area dengan gedung tinggi atau terowongan, tempat sinyal GPS biasanya error.
Alternatif yang lebih murah adalah GPS dari ponsel, tapi ini ada konsekuensinya. GPS internal merekam jarak dan rute jauh lebih tepat daripada GPS ponsel yang dipinjam. Jadi, kamu harus milih: bawa ponsel saat lari, atau bayar baterai jam tangan yang lebih cepat habis.
Pergelangan Tangan yang Pertama Kali Mengeluh
Masalah paling sering diabaikan adalah tali jamnya sendiri. Strap silikon dipakai sepanjang hari, menempel di kulit dalam waktu lama. Pada sebagian orang, bahan ini memicu gatal, kemerahan, sampai iritasi. Penyebabnya bisa keringat, gesekan, kotoran, atau kulit sensitif terhadap bahan tertentu. Strap yang terlalu ketat juga membuat area di bawahnya jadi lembap dan kurang sirkulasi udara.
Bagian sensor di belakang jam tangan juga tidak boleh dilupakan. Saat dipakai berolahraga, jam tangan menyerap keringat dan kotoran dari tubuhmu, dan ini langsung berdampak pada akurasi sensor. Penghalang apa pun di antara sensor dan kulit akan merusak data detak jantung. Kencangkan strap selebar satu jari di atas tulang pergelangan tangan, dan bersihkan bagian belakang jam secara rutin. Jika tetap gatal, lepaskan dulu jam tangan, cuci strap dengan air dan sabun lembut, lalu keringkan total sebelum dipakai lagi.
AOD Memang Keren, Tapi Layar Adalah Komponen Paling Boros
Always-On Display (AOD) bikin jam tangan terlihat keren karena waktu selalu terpampang. Tapi Kompas menempatkan layar sebagai komponen yang paling banyak mengonsumsi daya, dan AOD adalah musuh utama daya tahan baterai. Suara menambahkan, mematikan AOD dan menggantinya dengan Raise to Wake bisa menghemat 30 sampai 40 persen daya. Pengaturan lain yang sering luput: kecerahan layar yang terlalu tinggi, screen timeout yang terlalu lama, serta notifikasi yang masuk untuk setiap grup WhatsApp yang ramai.
Pemantauan detak jantung dan SpO2 secara terus-menerus juga boros. Ubah frekuensinya dari continuous menjadi setiap 10 atau 30 menit, kecuali saat sedang berolahraga. Matikan pelacakan stres otomatis dan sleep tracking kalau tidak benar-benar dibutuhkan. Untuk GPS, nyalakan hanya saat olahraga outdoor, bukan untuk aktivitas indoor seperti treadmill. Logikanya sederhana: tidak ada gunanya GPS menyala saat kamu berlari di tempat.
Pengaturan notifikasi juga adalah penyebab paling disia-siakan. Banyak pengguna membiarkan semua aplikasi masuk, dari game, promo, sampai media sosial. Padahal notifikasi memicu layar menyala dan motor getar bekerja, yang masing-masing butuh daya. Pilih hanya aplikasi krusial seperti telepon, pesan penting, dan kalender. Di sisi lain, kalau notifikasi WhatsApp tidak muncul di Apple Watch, kadang bukan salah jam tangan, melainkan pengaturan di iPhone yang belum diaktifkan, atau iPhone sedang dalam mode pesawat atau do not disturb.
Fitur yang Diam-Diam Ditinggalkan
Soal fitur, ada kenyataan yang lebih pahit. Apple membatasi fitur AI terbaru di watchOS 27 hanya untuk Apple Watch Series 9, Series 10, Series 11, Ultra 2, Ultra 3, dan SE generasi ketiga. Padahal Apple Watch Series 8 dan Ultra generasi pertama baru diluncurkan 2022, dan Ultra dulunya dijual sekitar 799 dollar AS atau setara Rp 13 jutaan. Jam tangan 4 tahun yang dibeli dengan harga premium tidak mendapat fitur utama, dan umur dukungan fiturnya terasa lebih pendek dibanding iPhone.
Pemakai Mirip, Tapi Kebutuhannya Bertolak Belakang
Tren jam tangan tanpa layar justru semakin ramai. Garmin Cirqa hadir sebagai gelang pintar pertama tanpa layar, dipakai di pergelangan tangan atau lengan atas, dengan tali kain ComfortFit Fabric dan ketahanan air 5 ATM. Susan Lyman, Vice President Consumer Sales and Marketing Garmin, menjelaskan Cirqa dirancang untuk pengguna yang ingin memantau kondisi tubuh tanpa perlu berinteraksi terus dengan perangkat. Semua fitur kesehatannya, dari detak jantung, HRV, stres, suhu kulit, durasi tidur, sampai siklus menstruasi, bisa dipakai tanpa biaya berlangganan.
Google mengambil jalur serupa dengan Fitbit Air. Perangkat ini sengaja hadir tanpa layar supaya lebih kompak dan membebaskan penggunanya dari notifikasi yang tidak perlu. Andy Abramson, Head of Product Google Health, menyebut banyak orang menganggap perangkat wearable terlalu besar, rumit, dan mahal. Fitbit Air hadir dengan sensor jantung optik, akselerometer, giroskop, sensor inframerah, dan sensor temperatur dengan bobot cuma 12 gram.
Cek Tujuh Hal Ini Sebelum Mengembalikan Jam Tanganmu
Kalau smartwatchmu terasa kurang akurat atau boros, coba cek tujuh hal ini sebelum ke pusat layanan. Pertama, pastikan pelacakan detak jantung benar-benar aktif. Kedua, kencangkan strap dengan benar. Ketiga, bersihkan bagian belakang jam tangan dari keringat dan kotoran. Keempat, matikan mode Low Power karena ini bisa memengaruhi pelacakan kesehatan. Kelima, atur ulang notifikasi agar hanya yang penting saja yang muncul. Keenam, ubah frekuensi pemantauan detak jantung dan SpO2 ke interval 10 atau 30 menit. Ketujuh, restart perangkat karena ini sering menyelesaikan masalah pelacakan data.
Setelah semuanya dicek dan masalah tetap ada, barulah kamu bisa curiga bahwa masalahnya bukan pada pemakaianmu. Untuk pengguna berkulit gelap atau bertato, ketidakakuratan sensor jantung adalah masalah yang sudah didokumentasikan secara ilmiah. Untuk yang lain, masalah paling sering bukan pada jam tangannya, melainkan pada pengaturan default pabrik yang tidak pernah diubah sejak pertama kali dipakai.
Satu hal yang juga layak dicatat: jam tangan pintar pernah menyelamatkan nyawa secara nyata. Peter Moore, mantan eksekutif teknologi di Montecito, California, menerima peringatan detak jantung rendah dari Apple Watch-nya saat dalam perjalanan ke bandara. Detaknya turun ke 32, dan dia langsung ke rumah sakit. Omid Yousefian, ahli elektrofisiologi jantung di Sansum Clinic Cardiology, mengkonfirmasi bahwa jam tangannya memainkan peran penting, dan Moore menjalani implantasi alat pacu jantung dalam beberapa jam. Jadi, meskipun sensor optiknya tidak sempurna, kemampuannya memberi peringatan dini tetap punya nilai nyata.

Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Keyboard HP Mengganti Tulisanmu Tanpa Izin, Padahal yang Salah Justru Pengaturannya
Keyboard HP diam-diam mengoreksi setiap kata yang kamu ketik, dan hampir semua masalahnya dimulai dari pengaturan yang tidak pernah kamu buka.
Ruang Diskusi & Komentar