Baterai Berbahan Garam Mulai Rebahkan Litium, dan Indonesia Masih Sibuk Nikel
Litium makin mahal dan cadangannya makin tipis, sementara pabrikan China sudah memproduksi massal baterai sodium-ion. Indonesia masih berdebat nikel versus LFP.

Hampir semua barang elektronik punya satu bahan yang sama: litium. HP, laptop, mobil listrik, hingga penyangga listrik rumah mengandalkan logam alkali bernomor atom 3 itu. Harga litium karbonat sekarang bergerak di kisaran US$17.000 sampai US$26.000 per ton, dan cadangannya cuma terkonsentrasi di beberapa negara. Belum lama ini CATL, produsen baterai terbesar dunia asal China, resmi memproduksi massal baterai sodium-ion. Natriumnya diambil dari garam.
Berita ini agak telat sampai ke Indonesia. Ketua Umum Periklindo Moeldoko ngomong langsung di rapat bersama Komisi VII DPR bahwa industri baterai dalam negeri masih sibuk berdebat nikel versus LFP, padahal di luar negeri teknologi sodium sudah melompat kencang. Kita semua bisa bikin mobil listrik, katanya, tapi kita terlambat.
Baterai Garam Bukan Mitos, Ion Natrium Pembawa Muatan
Istilah baterai berbahan garam sering disalahpahami. Tidak ada yang menyetorkan garam dapur langsung ke pabrik baterai. Baterai sodium-ion memakai ion natrium sebagai pembawa muatan listrik, sementara natrium sendiri biasa berikatan dengan klorida membentuk NaCl. Prinsip kerjanya nyaris identik dengan baterai ion litium: ion bergerak antara katoda dan anoda saat diisi dan dilepas. Di katoda, ion litium diganti ion sodium. Di elektrolit, garam litium ditukar garam sodium.
Kemiripan struktur ini justru jadi senjata utamanya. Pabrik yang sudah punya mesin produksi baterai litium bisa mengadaptasi jalur sodium-ion tanpa bongkar total. CATL mengklaim baterai sodium-ion buatannya pakai dimensi platform yang sama dengan baterai litium, sehingga kompatibel dengan rantai pasok yang sudah ada. Itu artinya biaya pindah jalur jauh lebih murah daripada membangun ekosistem dari nol.

Tiga Alasan Garam Lebih Menguntungkan dari Litium
Alasan paling nyata adalah ketersediaan bahan baku. Natrium adalah salah satu unsur paling banyak di kerak bumi dan air laut. Litium hanya mengendap di segelintir negara, itupun dengan harga melambing. Hugh Smith, kandidat PhD di MIT yang meneliti baterai sodium-ion, memilih natrium, besi, dan mangan justru karena ketiganya melimpah dan murah, ketimbang litium, nikel, dan kobalt yang langka dan mahal.
Momentum komersialnya juga sudah jalan. CATL mengamankan kontrak pasokan 60 GWh bersama HyperStrong, integrator penyimpanan energi, dan klaim itu sebagai pesanan baterai sodium-ion terbesar di dunia. Angkanya setara separuh dari total pengiriman baterai penyimpanan energi CATL sepanjang 2025, yang mencapai 121 GWh. Wu Kai, Kepala Ilmuwan CATL sekaligus anggota Chinese Academy of Engineering, menyebut seluruh tantangan utama manufaktur sodium-ion sudah teratasi.
Suhu ekstrem jadi medan uji yang menarik. Changan Automobile menggelar uji coba di Yakeshi, Mongolia, di mana suhu anjlok di bawah minus 40 derajat Celsius. Baterai sodium-ion 45 kWh mereka tetap stabil saat pengosongan daya, dengan jarak jelajah CLTC sekitar 400 kilometer. Malah daya tahannya di suhu dingin lebih baik dari baterai LFP buatan CATL sendiri. Uji penetrasi bor yang dilakukan bersama CATL tidak memunculkan asap, api, maupun ledakan.
Litium Tidak Akan Langsung Pensium
Ion natrium berukuran lebih besar dari ion litium, sehingga kepadatan energinya lebih rendah dalam ruang yang sama. Mobil listrik berbahan sodium umumnya punya jarak tempuh lebih pendek. Litium masih jadi pilihan utama untuk performa tinggi dan daya jelajah jauh, sedangkan sodium lebih cocok untuk kendaraan perkotaan, kendaraan roda dua, dan penyimpanan energi skala besar. CATL menargetkan generasi berikutnya mampu 600 kilometer sekali isi, angka yang mendekati LFP.
Startup asal San Diego, Unigrid, menunjukkan model bisnis lain. Mereka menjual baterai sodium-ion 9 kWh untuk rumah tangga ke Spanyol, Prancis, Jerman, dan Belanda. Warga Eropa menyimpan listrik saat tarif jaringan murah, lalu memakainya untuk pendingin ruangan saat gelombang panas. Unigrid sudah mengirim 100 unit pertama dan menargetkan 1.000 unit sebelum akhir tahun. Harga mereka sekitar US$100 per kWh, masih di atas LFP yang sekitar US$81 per kWh, tapi analisa memperkirakan sodium-ion bisa turun sampai US$30 per kWh dalam beberapa tahun.
Indonesia Kehilangan Momentum di Jalur Lambat
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan bahan baku. Cadangan nikel melimpah, dan hilirisasi nikel sudah menyerap investasi besar. Tapi Moeldoko melihat jebakan di balik kekayaan itu. Indonesia mengadopsi teknologi secara linear, mengikuti tren dari belakang, sementara perkembangan baterai bergerak dengan lompatan. Saat ini pabrikan global sudah menganeka-ragamkan kimia sel: LFP, LMFP, baterai solid-state, sampai sodium-ion.
Prinsip dasar industri baterai sebenarnya sederhana menurut Moeldoko: bahan baku mudah didapat, biaya produksi rendah, produk akhir daya saing tinggi. Dari prinsip itu nikel bukan satu-satunya jawaban. LFP, yang orientasinya bukan nikel, justru lebih efisien, lebih murah, dan daya tahannya cukup baik dibanding NMC. Indonesia masih sibuk memperdebatkan dua-duanya, sementara sodium fosfat di luar negeri sudah berjalan kencang.

Risiko Tetap Ada, dan Ini Bukan Teknologi Sempurna
Baterai sodium-ion punya masalahnya sendiri. Unigrid memakai katoda yang mengandung chromium-3, dan Profesor Dame Clare Grey dari University of Cambridge memperingatkan bahwa dalam kondisi tertentu chromium-3 bisa berubah menjadi chromium-6, material beracun yang memicu kanker. Ivana Hasa dari University of Warwick menilai perubahan itu mungkin terjadi pada pengisian daya yang sangat tinggi, tapi risikonya bisa ditekan lewat pengaturan voltase dalam baterai. CEO Unigrid Darren Tan menyebut kekhawatiran itu berlebihan, karena uji pihak ketiga tidak berhasil menghasilkan chromium-6.
Risiko kebakaran juga tidak nol. Hasa mengingatkan produksi massal tetap menantang. Tapi bila berhasil, sodium-ion membuka pilihan strategis baru: mengurangi pemborosan listrik terbarukan dan menekan biaya energi. Smith dari MIT menilai masalahnya bukan menciptakan baterai paling canggih, melainkan merancang baterai yang tepat sesuai kebutuhan. Angin dan surya sudah murah, katanya, masalahnya adalah keandalan, dan baterai bisa memecahkan itu.
Apa Arti Buat Konsumen Indonesia
Pergeseran ini punya dua sisi untuk konsumen Indonesia. Kalau adopsi baterai murah berjalan, harga mobil listrik bisa lebih terjangkau. Changan akan meluncurkan Nevo A06 sebagai mobil pertama berbaterai sodium-ion pertengahan 2026, dan beberapa model lain akan menyusul. Tapi kalau industri dalam negeri terlalu lama bertahan di satu jalur teknologi, kita bisa ketinggalan dari produsen global yang lebih gesit berpindah jalur.
Setiap teknologi baterai pada akhirnya punya segmen pasarnya sendiri. Litium masih memegang performa puncak, sodium mengisi segmen ekonomis, dan keduanya bakal berdampingan. Yang perlu disadari adalah arah teknologi global bergerak dalam lompatan, bukan garis lurus. Kalau Indonesia tetap linear, kekayaan nikel yang sekarang jadi andalan bisa berubah menjadi beban ketika dunia sudah pindah ke bahan baku yang lebih murah dan lebih merata.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar