Baterai Dibikin dari Garam, dan Pabrik Besi di Seluruh Dunia Mulai Grogi
Baterai sodium-ion memakai natrium yang bisa diekstrak dari garam laut, jauh lebih melimpah dan murah dibanding litium. China bahkan sudah membebaskannya dari pajak sambil menggenjot produksi massal CATL tahun ini.

Coba bayangkan baterai yang bahan bakunya bisa diambil langsung dari air laut. Itulah sodium-ion, teknologi penyimpanan listrik yang sekarang mulai diproduksi massal di China, dan bukan sekadar isu laboratorium lagi. Selama ini kita menganggap baterai itu selalu identik dengan lithium, tapi natrium yang ternyata jauh lebih melimpah dan murah sedang dipompa keluar dari laboratorium.
Yang menarik, baterai sodium-ion ini sama sekali tidak akan menggantikan baterai lithium-ion di HP atau laptop kamu dalam waktu dekat. Pabrik China justru membidik pasar lain yang selama ini selalu terlupakan, yaitu aki konvensional berbasis timbal. Kalau selama ini kamu menganggap baterai sodium cuma alternatif murah yang kualitasnya lebih rendah, kamu setengah benar dan setengah keliru.
Baterai Dibikin dari Garam, Bukan dari Tambang Langka
Sodium atau natrium adalah elemen yang sangat melimpah di kerak bumi. Beda dengan lithium yang harus ditambang di negara-negara tertentu, sodium bisa diekstrak dari garam laut. RRI mencatat alasan inilah yang membuat banyak pengembang mulai serius meliriknya, karena keterbatasan bahan baku lithium, mahalnya biaya produksi, dan terus munculnya isu lingkungan di tambang-tambang lama.
rantai pasoknya juga jauh lebih sehat. Karena natrium tersedia di mana-mana, negara pengguna tidak perlu terlalu bergantung pada satu-dua negara penambang. Soal harga, China bahkan sudah memasang kebijakan yang sangat agresif. Kementerian Keuangan dan otoritas pajak di sana mengumumkan, mulai 1 September 2026, baterai lithium-ion dikenakan pajak konsumsi 2 persen, rencananya naik jadi 4 persen setahun kemudian.
Sementara itu, baterai sodium-ion dan solid-state dibebaskan dari pajak konsumsi sampai 2028. Artinya, selisih harga antara keduanya hanya akan semakin melebar dari waktu ke waktu.
Harga Murah Tapi Baterai Sodium-Ion Punya Keterbatasan Jelas
Namun, baterai sodium-ion ini bukan tanpa kelemahan. Densitas energinya memang lebih rendah dibandingkan lithium-ion. Ion natrium sendiri lebih besar dan lebih berat, sehingga butuh ruang penyimpanan yang lebih besar untuk menghasilkan daya dengan jumlah yang sama. RRI menyoroti kelemahan ini sebagai alasan utama teknologi ini belum cocok untuk perangkat yang harus dibuat sangat tipis, seperti smartphone, atau mobil listrik performa tinggi yang mengejar jarak tempuh sangat jauh.
Densitas Energi Lebih Rendah, Ukuran Lebih besar
Tapi, di sisi lain, baterai sodium-ion justru lebih aman. Risiko kegagalan thermal-nya lebih rendah, sehingga tidak mudah terbakar atau meledak saat terjadi korsleting atau benturan fisik yang sangat keras. Jagatreview bahkan menyebut, dalam pengujian ekstrem seperti tertusuk atau tertekan, baterai ini diklaim tetap aman.
Ada satu keunggulan lagi yang jarang dibahas, yaitu performa di suhu dingin. Saat baterai lithium cenderung kehilangan kapasitas di cuaca dingin, sodium-ion justru tetap stabil. Performanya juga relatif stabil di berbagai suhu.

Indonesia Diam-Diam Mulai Masuk, Meski Masih Mahal
Indonesia juga ternyata sudah mulai melirik teknologi ini, meski masih sangat pelan. Kompas melaporkan PT Dharma Polimetal (DRMA), salah satu pelaku industri komponen otomotif nasional, sedang mengkaji baterai berbasis sodium sebagai alternatif penyimpanan energi selain lithium. Eko Maryanto, Head of Business Development DRMA, mengatakan posisi sodium memang masih di bawah lithium, tapi lebih baik dibanding lead acid. Menurutnya, untuk aki, sebenarnya sodium yang paling cocok.
Namun, Eko juga jujur mengakui kendala utamanya. Teknologinya masih mahal, energinya lebih rendah dari LFP, tapi harganya justru lebih tinggi. Kondisi ini membuat produk berbasis sodium belum bisa diterima pasar secara luas. Industri baterai nasional saat ini masih didominasi LFP karena lebih stabil dan ekosistem produksinya sudah matang.
Baterai Sodium-Ion Memang Bukan Pengganti Lithium untuk HP
Jadi, sebaiknya kamu menunggu baterai sodium-ion di HP kamu? Jawabannya jelas tidak. Densitas energi yang lebih rendah membuatnya belum bisa masuk ke perangkat tipis seperti smartphone. Tempatnya yang tepat adalah di sektor-sektor yang selama ini menggunakan baterai timbal.
Kasus paling jelas adalah aki motor dan mobil. Baterai sodium-ion sudah menyerbu pasar pengganti aki timbal di sektor otomotif, dan ini adalah area pertama yang akan digesernya. Selain itu, teknologi ini juga ideal untuk stasiun penyimpanan energi di pembangkit listrik tenaga surya, karena di sektor ini, biaya per kilowatt-hour jauh lebih penting daripada ukuran fisik.
China sudah bergerak sangat cepat. CATL, raksasa baterai asal Tiongkok, menargetkan produksi massal sodium-ion sepanjang 2026. Kepala Ilmuwan CATL, Wu Kai, menyebutkan hambatan inti dalam produksi sudah terselesaikan, dan perusahaan kini mempersiapkan produksi skala besar mulai akhir tahun ini. Bahkan, kendaraan listrik yang memakai baterai ini disebut bisa menempuh hingga 600 kilometer dalam sekali pengisian. Pada April 2026 saja, CATL memasang baterai EV sebesar 29,06 GWh dengan pangsa pasar 46,6 persen di China.

Siklus Pengisian Lama bikin Total Biaya Kepemilikan Lebih Murah
Daya tahan baterai sodium-ion juga tidak main-main. Siklus pengisian yang panjang artinya baterai bisa dipakai bertahun-tahun tanpa degradasi signifikan. Jagatreview menyebut ini membuat total biaya kepemilikan kendaraan listrik berpotensi lebih murah, dan pengisian cepat juga sedang dikembangkan untuk menyaingi teknologi baterai saat ini.
Waktu Terbaik Melihat Perkembangan Baterai Sodium-Ion
Untuk kamu yang sehari-hari memakai HP, laptop, atau smartwatch, baterai sodium-ion belum akan mengubah hidup kamu dalam waktu dekat. Perangkat-perangkat ini akan tetap memakai lithium-ion karena densitas energinya memang sulit ditandingi. Tapi, kalau kamu pakai motor atau mobil, kemungkinan besar aki kendaraan kamu akan makin banyak yang memakai sodium-ion.
Yang paling penting, jangan sampai kamu tertukar. Baterai sodium-ion bukanlah teknologi yang merusak pasar lithium, melainkan teknologi yang mengisi tempat yang selama ini diisi baterai timbal. Jadi, ketika nanti ada iklan yang menulis bahwa baterai sodium akan menggantikan lithium, anggap saja itu berlebihan. Lithium masih berkuasa untuk perangkat pintar, sementara sodium mengambil alih pasar aki konvensional.
Sementara itu, kalau kamu melihat berita tentang mobil listrik yang harganya turun, ada kemungkinan besar itu juga efek dari baterai sodium-ion yang lebih murah. Jadi, meski teknologi ini tidak langsung memengaruhi HP kamu, dompet kamu tetap akan merasakan dampaknya, hanya saja lewat jalur yang berbeda.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar