Beli TWS Mahal Berujung Suara Mendem dan Delay, Jalur Codec Bluetooth Ini Penyebab Utamanya

Banyak pengguna mengira TWS mahal mereka rusak saat suara game terlambat dan musik terdengar mendem. Biang kerok sebenarnya ada pada jalur kompresi codec Bluetooth yang jarang diperhatikan.

Bagikan cerita ini:
Sepasang earphone nirkabel TWS modern dalam wadah pengisi daya dengan teknologi audio Bluetooth

Banyak orang rela merogoh kocek dalam demi membeli earphone nirkabel idaman dengan harapan suara musik langsung memanjakan telinga. Namun rasa kecewa kerap datang saat perangkat mulai dipakai mendengarkan lagu favorit atau bermain game. Suara vokal terasa mendem seperti terperangkap di balik tirai, sementara desingan peluru di dalam game terdengar terlambat setelah jari menekan layar. Kondisi ini membuat pengguna sering menduga earphone mereka cacat pabrik atau rusak.

Dugaan tersebut sering kali keliru karena komponen pengeras suara di dalam earphone sebenarnya bekerja sangat normal. Masalah utama yang memangkas kualitas audio dan memicu jeda waktu terletak pada jalur transmisi data nirkabel bernama codec audio Bluetooth. Tanpa memahami cara kerja kompresi data ini, earphone semahal apa pun bisa terdengar biasa saja karena terjebak pada format pengiriman data yang sangat terbatas.

Jalur Pipa Nirkabel dan Kompromi Ruang Udara yang Memaksa Kompresi Kasar

Koneksi Bluetooth bekerja memanfaatkan gelombang radio pada pita frekuensi 2,4 GHz yang juga diperebutkan oleh router Wi-Fi dan perangkat rumah tangga. Keterbatasan ruang udara ini membuat jalur pipa transmisi Bluetooth memiliki kapasitas transfer data yang jauh lebih sempit dibanding kabel tembaga. Sebagai perbandingan nyata, rekaman audio berkualitas cakram padat standar membutuhkan kecepatan data sekitar 1.411 kilobit per detik untuk mengalirkan musik secara murni.

Jalur nirkabel tentu tidak sanggup menampung volume data sebesar itu secara langsung tanpa menimbulkan gangguan sinyal putus-putus. Di sinilah peran codec mengambil alih kendali dengan meremas dan memadatkan ukuran file lagu sebelum ditembakkan lewat udara ke telinga kita. Setiap jenis codec memiliki resep kompresi berbeda, mulai dari yang memangkas detail suara secara agresif hingga yang berupaya menjaga keaslian nada.

Subband Codec Sebagai Standar Purba yang Mengorbankan Detail Musik

Format Subband Codec atau SBC merupakan standar dasar tertua yang wajib ada di setiap perangkat audio Bluetooth sejak awal kemunculannya. Standar ini dirancang untuk memastikan semua merek ponsel dan earphone bisa saling terhubung tanpa kendala kecocokan sistem, dengan batas kecepatan aliran data maksimal sekitar 328 kilobit per detik pada kedalaman 16-bit.

Kelemahan paling mencolok dari SBC adalah algoritma kompresinya yang tergolong purba dan tanpa ampun membuang frekuensi nada tinggi demi menghemat ruang transmisi. Selain detail instrumen musik menjadi kabur, SBC juga menghasilkan latensi transmisi yang cukup tinggi di kisaran 150 hingga 250 milidetik. Angka jeda tersebut menjadi alasan kuat mengapa telinga kita merasa ada jeda waktu mengganggu saat bermain game cepat.

Seorang pengguna bermain game di smartphone menggunakan earphone untuk memantau efek suara latensi rendah
Foto oleh Torsten Dettlaff di Pexels

Perbedaan Format Apple dan Android Menentukan Kejernihan Suara Sehari-hari

Bagi pengguna ekosistem Apple, format Advanced Audio Coding atau AAC menjadi andalan utama. Format ini mampu mengalirkan data hingga kecepatan 320 kilobit per detik dengan algoritma psikoakustik yang jauh lebih cerdas dibanding SBC dalam mempertahankan keutuhan suara vokal. Cip pengolah khusus pada iPhone mampu mengeksekusi kompresi AAC secara sangat efisien tanpa menguras daya baterai.

Kondisi berbeda justru kerap dialami pengguna Android saat memaksakan penggunaan earphone yang hanya mengandalkan format AAC. Fragmentasi perangkat keras dan perbedaan sistem manajemen daya pada ponsel Android membuat pemrosesan AAC sering kali tidak berjalan seefektif pada ekosistem Apple. Akibatnya, earphone nirkabel yang bersuara merdu di iPhone bisa mendadak terdengar lebih tipis dan datar saat dipasangkan ke ponsel Android.

Keluarga Qualcomm aptX Menjaga Keseimbangan Jeda Waktu dan Resolusi

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, produsen semikonduktor Qualcomm mengembangkan keluarga codec aptX yang sangat populer di ekosistem ponsel pintar Android. Format aptX standar menawarkan aliran data 352 hingga 384 kilobit per detik, sementara varian aptX HD mampu mendongkrak transmisi hingga 576 kilobit per detik pada resolusi tinggi 24-bit. Pendekatan ini membuat instrumen musik yang rapat terdengar lebih berbobot dan terpisah rapi.

Qualcomm juga merilis varian aptX Low Latency yang secara khusus memangkas jeda pengiriman sinyal hingga 32 sampai 40 milidetik saja demi kenyamanan bermain game. Terobosan terbaru mereka yang hadir lewat paket Snapdragon Sound adalah aptX Lossless, teknologi mutakhir yang sanggup mengalirkan data secara dinamis dari 140 kilobit per detik hingga 1 megabit per detik untuk mereproduksi kualitas audio tanpa kehilangan data asli.

Kapasitas Transmisi Raksasa Sony LDAC yang Menuntut Jalur Udara Bersih

Bagi penikmat musik yang mengutamakan kemurnian rekaman, codec LDAC buatan Sony menjadi standar tertinggi transmisi nirkabel saat ini. Format ini mampu menyemburkan data hingga 990 kilobit per detik pada frekuensi sampel 96 kilohertz dengan kedalaman 24-bit. Sejak kehadiran Android 8, Sony telah menyerahkan lisensi teknologi ini kepada proyek sumber terbuka Android sehingga sebagian besar ponsel pintar masa kini sudah mendukungnya.

Pengguna perangkat berbasis iOS harus gigit jari karena Apple secara konsisten tidak menyertakan dukungan format LDAC pada sistem operasi mereka. Namun kemampuan raksasa LDAC bukan tanpa tantangan. Format ini bekerja dengan tiga tingkatan kecepatan, yaitu 990 kilobit per detik untuk kualitas terbaik, 660 kilobit per detik untuk mode seimbang, dan 330 kilobit per detik untuk prioritas sambungan stabil.

Saat kita berada di lokasi yang padat gelombang elektromagnetik, transmisi 990 kilobit per detik sangat mudah goyah dan tersendat. Pada titik inilah ponsel pintar akan secara otomatis menurunkan kecepatan ke tingkatan terendah sebesar 330 kilobit per detik. Penurunan sepihak tersebut membuat kualitas audio menyusut drastis dan tidak lagi terdengar istimewa dibanding format standar.

Perangkat smartphone dan headphone nirkabel terhubung untuk mendengarkan transmisi audio beresolusi tinggi
Foto oleh Akshay Shende di Pexels

Kompensasi Waktu Gambar Video Menyembunyikan Kelemahan Latensi Nirkabel

Pertanyaan yang paling sering muncul di benak pengguna adalah alasan mengapa menonton film di aplikasi streaming terasa sinkron sempurna, sementara saat bermain game suaranya tertinggal jauh. Jawabannya terletak pada manipulasi waktu cerdik lewat teknik penyesuaian buffer internal. Ponsel secara pintar menunda penayangan gambar video selama sekian milidetik agar pas dengan tibanya suara di telinga.

Skenario tersebut mustahil diterapkan saat bermain game kompetitif di mana setiap detik membutuhkan respons nyata secara instan. Permainan game tidak dapat menebak kapan musuh akan melompat atau kapan tombol tembak akan ditekan. Ketiadaan ruang untuk menunda gambar membuat seluruh keterlambatan pengolahan data Bluetooth terpampang nyata di telinga pemain.

Membongkar Menu Pengaturan Tersembunyi Demi Menyelamatkan Kualitas Suara

Kabar baiknya adalah pengguna tidak perlu langsung buru-buru membuang earphone nirkabel yang baru dibeli ke tempat sampah. Pada ponsel Android, kamu bisa mengintip dan mengubah jalur transmisi data secara mandiri melalui menu Opsi Pengembang yang tersembunyi. Cukup buka menu pengaturan, masuk ke informasi perangkat lunak, lalu ketuk nomor versi bentukan sistem operasi sebanyak tujuh kali hingga akses pengembang terbuka.

Setelah masuk ke dalam menu Opsi Pengembang, cari bagian setelan Codec Audio Bluetooth untuk melihat format apa yang sebenarnya aktif terpasang. Dari menu tersebut, kamu bisa memastikan earphone kesayanganmu tidak terkunci pada format SBC dan mengubahnya ke opsi aptX atau LDAC bila kedua perangkat mendukung. Memahami batasan teknologi nirkabel membantu kita mengatur ekspektasi perangkat secara sehat tanpa mudah kecewa.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar