Drone Bikinan Negeri Sendiri Mulai Terbang Tinggi, dan Modalnya Ternyata dari Hobi Aeromodelling
Industri drone Indonesia kini diisi 24 perusahaan, dan banyak yang lahir bukan dari pabrik raksasa melainkan dari lapangan aeromodelling. Riset BRIN sampai uji coba Polri memadamkan karhutla menunjukkan kemandirian itu nyata, meski soal taksi terbang masih panjang jalannya.

Beberapa tahun lalu, mendengar kata drone, yang terbayang di kepala kita biasanya barang impor mahal yang dibawa pulang dari Singapura atau dibeli lewat paket kurir dari Tiongkok. Sekarang ceritanya berbalik. Sebagian wahana yang terbang di langit Indonesia memang dirakit, didesain, dan dibuat komponennya di dalam negeri, oleh perusahaan yang kantornya ada di kota-kota kita sendiri.
Bahkan, banyak pelakunya tidak lulusan sekolah penerbangan atau korporasi multinasional. Mereka adalah orang-orang yang dulunya cuma main aeromodelling di lapangan terbuka tiap akhir pekan. Kebiasaan itu yang akhirnya tumbuh jadi lini produksi sungguhan.
Lalu, seberapa jauh sebenarnya kemandirian ini? Berikut yang berhasil dihimpun dari sejumlah sumber tentang kondisi industri pesawat nirawak Tanah Air hari ini.
Dua Puluh Empat Perusahaan, dan Sebagian Berawal dari Lapangan Aeromodelling
Kementerian Perindustrian mencatat sekitar 24 perusahaan saat ini bergerak di sektor drone. Angka itu mungkin terdengar kecil dibanding jumlah startup yang rebutan di Jakarta, tapi untuk industri kedirgantaraan, ini sudah cukup ramai.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menjelaskan bahwa sebagian pelaku industri ini memang berawal dari hobi, termasuk aeromodelling. Dari sekadar terbang-terbangan, kemampuan teknis mereka perlahan berkembang menjadi usaha yang memproduksi perangkat berbasis teknologi.
Kemampuannya juga tidak sebatas merakit. Sejumlah perusahaan sudah mampu membuat desain sendiri sekaligus mengembangkan komponen yang dipakai. Ada yang memakai baterai, ada pula yang memakai bahan bakar, dan ada wahana yang sanggup terbang hingga enam jam nonstop.
Enam jam adalah angka yang patut diacungi jempol. Banyak drone komersial di pasaran hanya bertahan 20 sampai 40 menit sebelum baterainya minta diisi ulang. Daya tahan semacam ini membuka peluang besar untuk pemetaan wilayah, patroli, hingga pengiriman ke daerah yang sulit dijangkau.

Wahana Bikinan BRIN yang Sudah Diterjunkan ke Medan Bencana
Bicara drone buatan dalam negeri, tidak bisa lepas dari Alap-alap. Pesawat udara tanpa awak buatan ilmuwan Indonesia ini dipamerkan dalam Indonesia Innovation Summit and Expo 2026. Fungsinya cukup serius, mulai dari pemetaan wilayah, pemantauan bencana, hingga mendukung operasi modifikasi cuaca.
Robertus Heru Triharjanto, Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa, menceritakan bahwa Alap-alap adalah hasil kerja bersama ilmuwan lintas bidang. Bagian dirgantara menangani soal aerodinamika, teknik mesin bertanggung jawab pada struktur dan mesin, sementara bidang elektro mengisi antena GPS hingga sistem kendali.
Pesawat ini didesain autopilot. Ilmuwan cukup memberikan koordinat, lalu Alap-alap terbang sendiri ke titik yang dimaksud. Biayanya sendiri berkisar ratusan juta rupiah, tergantung komponen dan kamera yang dipasang.
Bukan sekadar pajangan, wahana sejenis sudah benar-benar diterjunkan. Saat bencana di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, BRIN mengerahkan pesawat tanpa awak untuk memantau kondisi setelah akses jalan terputus. Tim di lapangan menerbangkannya untuk melihat seberapa luas kerusakan, apakah masih ada jalan lain yang putus, hingga memastikan tidak ada korban yang terlewat.
Saudarinya yang bernama LSU bahkan pernah diterbangkan dari Banten hingga ke Krakatau saat meletus 2018, sekadar untuk memotret gunung dari dekat dan membuat citra kondisi yang lebih detail. Hasilnya diserahkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai bahan analisis.
Uji Coba Pertama, Air Disemprotkan Langsung dari Udara ke Titik Api
Bukan cuma riset, drone juga sudah diuji di medan yang sesungguhnya. Akhir September 2026, Polri untuk pertama kalinya memakai drone untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Lahannya sendiri seluas 7 hektar.
Caranya tidak konvensional. Setelah dikalibrasi, pipa selang disambungkan ke badan drone. Wahana itu lalu mengangkat selang sambil terbang menuju titik api yang berjarak puluhan hingga ratusan meter dari jalan raya. Setibanya di atas sasaran, keran dibuka dan air bertekanan tinggi menyembur ke kobaran api.
Tiga unit drone dikerahkan. Satu drone bertenaga baterai 40.000 mAh dengan daya angkut 50 kilogram, sedangkan dua drone lainnya membawa baterai 35.000 mAh dengan daya angkut 35 kilogram. Durasi terbangnya sekitar 15 hingga 30 menit, dan butuh 40 menit untuk mengisi ulang daya.
Hasilnya lumayan, tapi tidak menggantikan manusia. Drone lebih banyak digunakan untuk membasahi kepala api dan perimeter agar kebakaran tidak meluas. Setelahnya, personel darat tetap masuk untuk menuntaskan pemadaman. Kepala Polres Ogan Ilir Rizka Aprianti menegaskan bahwa teknologi ini bukan untuk menggantikan peran satgas darat, melainkan fasilitas pendukung di area kritis yang berbahaya bagi personel.
Ada keterbatasan teknis yang jujur harus disampaikan. Terbang terlalu dekat berisiko membuat api membesar karena hembusan angin dari baling-baling. Terbang terlalu tinggi justru membuat air tersapu angin dan tidak presisi mengenai sasaran. Drone juga dipakai untuk membasahi area sekeliling lokasi agar petugas darat punya ruang kerja aman saat masuk menuntaskan sisa api.

Soal Taksi Terbang, Aturannya Memang Lagi Disiapkan
Dari pemadaman karhutla, kita lompat ke pembicaraan yang lebih futuristik, yaitu drone yang mengangkut manusia. Kementerian Perhubungan memang sedang menyiapkan aturan untuk penggunaan drone sebagai moda angkutan, termasuk membawa kargo hingga penumpang.
Dirjen Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan perkembangan teknologi membuat penggunaan drone semakin luas dan tidak lagi terbatas pada kebutuhan rekreasi. Drone sekarang digunakan untuk kargo, bahkan penumpang, sehingga aturan barunya perlu diselaraskan.
Indonesia sebenarnya tidak mulai dari nol. Sudah ada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 37 Tahun 2020 tentang pengoperasian pesawat udara tanpa awak. Sekitar 10.000 drone berbobot di bawah 25 kilogram juga sudah diregistrasi. Bahkan sejak November 2025, petunjuk teknis soal ruang udara khusus untuk pengujian Advanced Air Mobility sudah berlaku.
Tapi mengoperasikan drone kamera dan mengoperasikan wahana yang membawa manusia adalah dua level risiko berbeda. Standar kelaikudaraan, sertifikasi operator, kompetensi pilot, sistem komunikasi, hingga prosedur darurat harus disiapkan jauh lebih ketat. Kegagalan pada drone kecil mungkin hanya merusak perangkat. Pada wahana yang membawa manusia, dampaknya jauh lebih serius.
Jadi, jangan heran kalau sampai awal September 2026 pemerintah belum mengumumkan kapan layanan komersialnya dimulai. Yang lebih realistis lebih dulu adalah drone kargo, terutama untuk mengirim logistik ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Pertanyaan soal taksi terbang boleh saja kita tetap impikan, tapi fondasinya memang masih dalam proses pembangunan.
Kesimpulan, Kemandirian Itu Nyata dan Kamu Bisa Ikut Serta
Industri drone Indonesia bukan lagi cerita rencana. Dari 24 perusahaan yang didata Kemenperin, wahana buatan BRIN yang sudah diterjunkan ke medan bencana, hingga armada Polri yang menyemprotkan air dari udara, semuanya menunjukkan bahwa kemandirian teknologi ini nyata adanya. Kompetisi seperti Kontes Robot Terbang Indonesia 2026 di IKN, yang diikuti 94 tim dari 43 kampus, memastikan ada generasi berikutnya yang terus melanjutkan.
Bagi kamu yang tertarik, pintu masuknya tidak harus melalui pabrik besar. Banyak pelaku industri hari ini berawal dari hobi aeromodelling, komunitas robotika kampus, atau sekadar rasa penasaran soal bagaimana sebuah wahana bisa stabil di udara. Dari situ, kemampuan teknis bisa tumbuh sendiri, seperti yang sudah dibuktikan banyak orang sebelum kamu.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar