Medsos Kasih Kamu Atur Algoritma Sendiri, Padahal Tujuannya Baca Kamu Lebih Dalam
Threads, Instagram, dan TikTok hampir bersamaan merilis fitur yang membiarkan pengguna menyetel algoritma mereka sendiri. Setiap kali kamu memilih topik yang ingin ditampilkan, platform justru mendapat data yang lebih akurat tentang apa yang membuatmu betah.

Sejak pertengahan 2026, tiga raksasa media sosial hampir bersamaan meluncurkan sesuatu yang terdengar terlalu bagus untuk kenyataan. Pengguna diberi semacam remote control untuk menyetel sendiri algoritma yang selama ini jadi koki di balik beranda mereka. Threads keluar dengan Your Algo, Instagram hadir dengan Your Algorithm, dan TikTok sebenarnya sudah lebih dulu mempraktikkan lewat Manage Topics.
Tiga Nama Fitur dengan Satu Janji yang Sama
Pada 16 Juni 2026, Threads merilis Your Algo, dibangun di atas fitur Dear Algo yang hadir empat bulan sebelumnya. Cara pakainya sederhana. Kamu cukup memerintahkan jenis konten apa yang ingin dilihat lebih banyak atau lebih sedikit di beranda, sekaligus berapa lama konten jenis itu bertahan. Your Algo juga memungkinkan preferensi itu diatur secara pribadi tanpa harus diunggah ke publik.
Instagram, saudara satu atap di bawah Meta, meluncurkan Your Algorithm pada awal Juni 2026. Setelah masuk ke bagian pengaturan, kamu akan melihat topik-topik yang menurut Instagram paling diminati, lalu memberi tahu apa yang ingin ditampilkan lebih banyak atau lebih sedikit di beranda, explore, dan reels. Semula alat itu hanya berlaku untuk reels.
TikTok justru lebih dulu jalan. Tahun 2024 platform itu meluncurkan Manage Topics untuk beranda For You, lalu memperluasnya pada 2025 dengan Kata Kunci Cerdas bertenaga AI. Filter ini otomatis menangkap sinonim, jadi saat kamu menyaring kata remodeling, TikTok juga memblokir kata renovasi dan renovations.
Apa Kata Kepala Instagram
Kepala Instagram Adam Mosseri mengaku, model peringkat media sosial selama ini dibangun dengan teknologi yang tidak transparan bagi pengguna. Kehadiran model bahasa besar katanya membuat sistem rekomendasi lebih mudah dipahami, sekaligus membiarkan pengguna mengomunikasikan preferensi mereka secara eksplisit.

Logika di Balik Kebaikan yang Tampak
Arif Perdana, Associate Professor di Monash University sekaligus Direktur Action Lab Indonesia, melihat fenomena ini dengan kacamata yang berbeda. Menurutnya, apa yang dilakukan raksasa platform hanya berubah di permukaan, sementara detail soal siapa memegang kendali akhir tidak ada yang berubah.
Yang berubah adalah mekanisme input. Pengguna bisa memberikan sinyal yang lebih jelas mengenai preferensi jenis konten, tetapi keputusan akhir tetap berada di kendali platform media sosial, ujar Arif saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Artinya, algoritma tetap bisa dioptimalkan demi kepentingan perusahaan, terutama mempertahankan atensi dan memaksimalkan pendapatan iklan. Selama ini platform menjalankan micro targeting yang membagi pengguna ke kelompok makin spesifik, mulai dari perilaku daring, minat, pembelian, lokasi, tekanan finansial, hingga preferensi politik. Pengelompokan seperti ini sebenarnya lebih banyak hasil prediksi algoritma daripada fakta yang terverifikasi.
Bahan Bakar Datang dari Mana Saja
Bahan bakarnya diambil dari mana saja. Platform mengumpulkan data pihak pertama dari aktivitasmu sendiri, seperti riwayat pencarian, video yang ditonton, pembelian, dan interaksi. Lalu ada juga data pihak ketiga yang dikumpulkan dari laman serta aplikasi lain lewat cookie, piksel pelacakan, ID iklan, dan kit pengembangan perangkat lunak.
Makin Kamu Menyetel, Makin Jelas Kamu Terbaca
Kalau sebelumnya platform harus menebak-nebak preferensimu dari kelakuan, sekarang kamu diminta menjawab sendiri pertanyaannya secara sukarela. Arif justru melihat kecenderungan ini menguntungkan platform. Dari sudut pandang mesin pembelajaran, user algorithmic control adalah input yang jauh lebih presisi dibanding sekadar mengamati perilaku pengguna.
Dari segi tata kelola AI, hal ini memang meningkatkan transparansi. Tapi logika optimasi, tujuan bisnis, dan pemanfaatan data tetap ditentukan oleh perusahaan. Arif menyarankan fokus regulasi bergeser dari sekadar perlindungan data pribadi menuju tata kelola inferensi perilaku, dengan mencontohkan sektor kesehatan. Perusahaan farmasi tidak wajib membuka seluruh rahasia dagangnya ke publik, tapi sebelum obat dipasarkan mereka harus menyerahkan bukti keamanan, efektivitas, dan menjalani evaluasi regulator.
Lubang Kelinci dan Pasal di Eropa
Kebutuhan regulasi itu bukan sekadar teori. Sebuah tragedi remaja di Italia membuka mata dunia soal sisi gelap algoritma. Ibu korban mengungkap anaknya terjebak dalam pusaran konten depresi dan menyakiti diri sendiri selama lima bulan sebelum peristiwa fatal terjadi. Kasus ini kemudian memicu gugatan kolektif pertama di Italia melawan Meta dan TikTok.
Fenomena rabbit hole atau lubang kelinci ini aktif secara masif sejak tim riset kecerdasan buatan Google membangun ulang sistem rekomendasi berbasis jaringan saraf tiruan pada 2015. Lewat metrik mikro seperti kecepatan gulir dan durasi tonton, algoritma terus menyajikan konten sejenis, makin lama makin dalam dan ekstrem, demi mengejar keterikatan serta pendapatan iklan. Psikolog menyebut mekanismenya memanfaatkan sistem penghargaan intermiten yang memicu lonjakan dopamin, mirip mekanisme kecanduan judi.
Buktinya, dokumen internal Meta yang dibocorkan oleh whistleblower Frances Haugen pada 2021 menunjukkan perusahaan sebenarnya sudah tahu detail dampak algoritmanya terhadap mental remaja, tapi sengaja mengabaikannya demi keuntungan finansial.
Uni Eropa Membidik Desain Platformnya
Alih-alih sekadar melarang akses, Uni Eropa membidik desain platformnya langsung lewat Digital Services Act yang mulai berlaku penuh pada 2024. Regulasi ini menargetkan fitur autoplay dan infinite scroll yang dianggap menyerang perhatian secara eksploitatif. Platform besar wajib menilai risiko terhadap kesehatan mental, terutama anak-anak, mengubah desain jika terbukti menciptakan perilaku adiktif, dan membuka akses data bagi peneliti independen. Kalau melanggar, dendanya bisa mencapai 6 persen dari pendapatan global.
Hasilnya, sejumlah platform mulai menyesuaikan diri di wilayah Eropa. TikTok menambah opsi mematikan personalisasi feed, Instagram dan Facebook menyediakan feed kronologis tanpa rekomendasi, sementara YouTube mengurangi rekomendasi video ekstrem atau sensasional.

Cara Kamu Tetap Menang dalam Permainan Ini
Pertama, anggap fitur seperti Your Algorithm atau Manage Topics sebagai kesempatan menyetel, bukan alasan untuk berhenti waspada. Pakailah untuk memangkas topik yang merusak mood, lalu cek juga opsi personalisasi dan feed kronologis yang kini sudah tersedia di beberapa wilayah.
Kedua, ingat bahwa data pihak ketiga masih mengalir dari laman dan aplikasi lain. Kamu bisa mulai dari hal sederhana, seperti membatasi pelacakan iklan di pengaturan ponsel, menolak cookie yang tidak perlu, dan sesekali mengosongkan riwayat pencarian supaya profil preferensimu tidak membeku.
Ketiga, variasikan sumber informasi. Penelitian Katadata tahun 2023 mencatat sekitar 72 persen masyarakat Indonesia mendapatkan berita dari media sosial, bukan dari situs berita resmi. Artinya algoritma sudah menjadi semacam redaktur yang menentukan apa yang kamu lihat, tanpa kode etik jurnalistik. Membuka langsung situs media terpercaya sekali sehari sudah cukup untuk memecah gelembung echo chamber.
Di sisi regulasi, pemerintah sedang memfinalisasi Otoritas Pelindungan Data Pribadi yang bekerja secara independen, serta Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI Nasional. Rencana pembatasan media sosial bagi anak mulai 28 Maret 2026 juga sudah menanti. Tapi pembatasan akses punya paradoksnya sendiri, karena untuk memverifikasi umur, platform justru butuh mengumpulkan lebih banyak data identitas yang sensitif.
Pengalaman negara lain layak jadi pelajaran. Australia yang melarang media sosial bagi anak di bawah 16 tahun masih melihat remaja pindah ke aplikasi lain, memakai VPN, atau menyusup lewat akun orang dewasa. Finlandia dan Denmark memilih jalan lain dengan membatasi smartphone di lingkungan sekolah saja, sehingga konsentrasi belajar dan interaksi sosial tetap terjaga.
Pada akhirnya algoritma hanya membaca pola perilaku lalu memantulkannya kembali dalam bentuk rekomendasi. Linimasa kamu pada dasarnya adalah cerminan dari pilihan-pilihan yang kamu buat sendiri. Jadi sebelum menyalakan fitur pengatur algoritma yang baru, pastikan kamu tahu sedang memberi tahu apa, dan kepada siapa.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar