Garam Dapur Bisa Jadi Baterai, Tapi Litium Masih Pegang Kendali
Baterai natrium udah dipakai menyalakan bangunan di Australia dan dijanjikan produksi massal tahun depan. Tapi litium belum akan tumbang, kita justru bakal punya dua jenis baterai sekaligus.

Garam dapur dan baterai kelihatannya dua hal yang nggak nyambung. Tapi di sebuah lembah di Australia, garam itu sekarang memang sedang dipakai untuk menyalakan rumah dan toko.
Baterai berbahan natrium sudah beroperasi di Lembah Yarra, dan yang lebih mengejutkan adalah cara kerjanya tergolong biasa saja. Pabrik yang sebelumnya membuat baterai litium bisa langsung membuat baterai natrium tanpa renovasi besar.
Di balik tenangnya berita itu, ada satu masalah yang selama ini jarang dibahas. Baterai litium yang ada di HP, laptop, dan mobil listrik kamu itu boros air, susah didaur ulang, dan bahannya makin diperebutkan.
Litium Pintar, Tapi Punya Tagihan Besar
Litium memang jenius. Masa pakainya panjang, dayanya besar, kepadatan energinya tinggi, dan harganya relatif terjangkau. Itulah kenapa dia ada di hampir setiap perangkat elektronik yang kamu pakai hari ini.
Tapi ada tagihan yang baru terlihat kalau kamu melihat ke belakang layar. Mengekstraksi logam di dalam baterai lalu memisahkannya dalam cairan butuh energi dan air dalam jumlah besar. Aqsa Nazir, peneliti postdoctoral di laboratorium penelitian baterai Florida International, menyebut proses daur ulangnya bisa menghabiskan lebih banyak sumber daya daripada memproduksi baterai baru. Alasannya jelas kenapa cuma sejumlah kecil baterai litium yang benar-benar didaur ulang.
Di kolam-kolam evaporasi seperti di Chili, kontaminan berpotensi lepas ke lingkungan saat air menguap. Kelangkaan air akibat pertambangan bisa mengancam penghidupan masyarakat adat, dan banyak lokasi tambang tumpang tindih dengan wilayah tinggal mereka. Sementara itu, metode tambang batuan keras yang dipakai Australia melepaskan sekitar 15 ton karbon dioksida untuk setiap ton litium yang dikeluarkan.
Bulan November 2021, Stanley Whittingham, salah satu dari tiga penemu baterai litium dan penerima Nobel Kimia 2019, sudah memperingatkan hal ini. Di World Laureates Forum keempat di Shanghai dia menyebut bahan baku litium terancam habis dalam 5 sampai 10 tahun mendatang, dan mendesak dunia segera cari alternatif.
Natrium Bukan Ide Baru, Tapi Waktunya Sekarang Berbeda
Konsepnya sederhana. Dalam baterai natrium, ion natrium yang bergerak bolak-balik antara katoda dan anoda, menggantikan ion litium. Natrium sendiri adalah unsur yang sama dengan garam dapur, dan dia hadir hampir di mana saja.
Perbandingannya cukup ekstrem. Rasio natrium di kerak bumi adalah 23.600 bagian per juta, sedangkan litium hanya 20 bagian per juta. James Quinn, kepala eksekutif Faradion yang memproduksi baterai untuk proyek Lembah Yarra, mengatakan butuh 682 kali lebih banyak air untuk mengekstraksi satu ton litium dibanding satu ton natrium.
Dari sisi pabrik, kabarnya juga bersahabat. Maria Forsyth, ketua ilmu elektromaterial dan korosi di Deakin University, menjelaskan pabrik yang saat ini memproduksi baterai litium bisa langsung memproduksi baterai natrium. Artinya produksi bisa ditingkatkan dengan cepat tanpa harus bangun industri baru dari nol. Bahkan foil tembaga di dalamnya bisa diganti dengan aluminium yang lebih murah.

Hyundai dan CATL Mulai Bicara Serius
Baterai sodium-ion buatan startup Amerika Serikat, Unigrid, baru saja lolos uji keamanan ketat dari Hyundai. Baterai itu memakai kimia sodium chromium oxide dan berhasil mencapai tonggak validasi teknologi kritis. Unigrid melaporkan degradasi kapasitas yang minimal setelah siklus pengisian berkelanjutan, dan baterainya mampu bertahan di rentang suhu minus 20 hingga 60 derajat Celcius.
CATL sebagai produsen baterai terbesar dunia sudah melangkah lebih jauh. Mereka mengumumkan produksi massal baterai sodium-ion sebelum akhir tahun 2026. Versi pertamanya, Sodium New Power Battery untuk kendaraan penumpang, menawarkan kepadatan energi 175 Wh/kg dan menempuh jarak lebih dari 500 kilometer sekali isi. Mereka juga punya versi 24V untuk truk berat. Pada 5 September baterai CATL lolos sertifikasi keselamatan nasional Tiongkok GB 38031-2025, dan desainnya sudah memenuhi standar modul 20 dan 25 termasuk sistem baterai swap.
CATL menilai teknologi ini bisa memenuhi sampai 40 persen kebutuhan kendaraan penumpang di pasar domestik Tiongkok. Pernyataan mereka jelas: baterai natrium bukan cuma pelengkap, tapi membuka alternatif baru dalam pengembangan kendaraan listrik.
Tiga Jebakan yang Masih Mengganjel
Baterai Lebih Tebal dan Lebih Berat
Kepadatan energi baterai natrium masih 140 sampai 160 Wh/kg, sementara litium di angka 150 sampai 220 Wh/kg. Bagi produsen mobil listrik ini adalah masalah karena langsung memengkai seberapa jauh mobil bisa melaju. Ukuran dan bobot baterai jadi lebih besar untuk daya yang sama.
Umur Pakai Lebih Pendek
Siklus pengisian baterai natrium saat ini sekitar 5.000 kali. Baterai litium-iron phosphate bisa 8.000 sampai 10.000 kali. Para peneliti sedang berusaha mengejar celah ini, dan tahun 2023 ilmuwan di Tiongkok berhasil mencapai 6.000 siklus dengan tipe elektroda yang berbeda.
Dataran Rendah Dulu, Bukan Puncak
Tinjauan tahun 2026 di Journal of Materials Chemistry A yang ditulis Abu Faizal Abdul Salam dan rekan menyebut kepadatan energi masih jadi tantangan utama. Kesimpulannya, sodium-ion lebih dulu cocok untuk penyimpanan energi skala besar, bukan langsung untuk perangkat kecil yang harus tipis. Perusahaan Tiongkok HiNa sudah membuktikan arah ini dengan pembangkit penyimpanan energi 100 kWh sejak 2019.

Apa Artinya Buat Ponsel dan Mobil di Garasi
Untuk saat ini, hampir nggak ada perubahan yang akan kamu rasakan langsung. Baterai natrium kemungkinan besar masuk dulu ke jaringan listrik, stasiun pengisian, dan kendaraan komersial. Bukan menggantikan baterai di ponselmu dalam waktu dekat.
Yang lebih realistis adalah kamu akan melihat dua jenis baterai hidup berdampingan. Sodium untuk skala besar dan tempat-tempat yang butuh aman dan murah, litium tetap untuk perangkat yang butuh kepadatan tinggi dan bobot ringan.
Kalau kamu berpikir ini cuma pindah dari satu ketergantungan ke ketergantungan lain, anggap saja sebagai diversifikasi. Persis seperti kata Forsyth, dunia nggak butuh satu pengganti tunggal untuk litium, tapi butuh alternatif yang tepat di tempat yang tepat.
Garam Masih Perlu Waktu
Jadi kalau besok ada iklan yang bilang baterai garam dapur akan langsung menggantikan litium, anggap saja itu terlalu semangat. Yang sebenarnya sedang terjadi adalah lebih tenang, tapi juga lebih nyata.
Baterai natrium sudah menyalakan bangunan, lolos uji raksasa otomotif, dan dijadwalkan diproduksi massal dalam hitungan bulan. Bukan pengganti yang langsung menggusur, tapi pelengkap yang datang tepat saat litium mulai kesulitan. Dan kadang, itulah yang sebenarnya dibutuhkan.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar