Lagu Afgan dan Hindia Dipakai Latih AI Tanpa Izin, yang Gugat Malah Label Asing
The Atlantic membongkar 12 juta lagu dipakai melatih AI tanpa izin, dan musisi Indonesia disebut ikut terdampak. Tapi yang menggugat hanya label asing, sementara hukum dalam negeri belum mengatur soal data pelatihan sama sekali.

Pagi itu, The Atlantic menerbitkan sesuatu yang membuat industri musik mendadak sibuk mengecek nama sendiri. Empat database bisa dicari publik, berisi jutaan lagu yang dipakai melatih kecerdasan buatan. Bukan catatan kecil, dan bukan pula lagu tak dikenal.
Di dalamnya ada Taylor Swift dan Bad Bunny. Dan kalau kamu merasa aman karena musik Indonesia biasanya tak dilirik raksasa global, beberapa laporan menyebut lagu Afgan sampai Hindia juga ikut masuk ke dapur mesin tanpa permisi.
Dua Belas Juta Lagu Dimakan, dan Tidak Ada Satu Pun yang Ditanya
Investigasi The Atlantic yang terbit 15 Juni 2026 memang membongkar skalanya. Satu database berisi 12 juta trek, database lain menampung 9 juta lagu, dan dua sisanya masing-masing berisi sekitar 100 ribu lagu. Alex Reisner, staf penulis The Atlantic, menjelaskan bahwa lagu-lagu hits berhak cipta itu dipakai untuk melatih model AI generatif musik seperti Suno dan Udio.
Mesin-mesin ini lahir cepat. Deezer melaporkan bahwa pada Juni 2026, hampir 90 ribu lagu yang sepenuhnya dibuat AI dikirim ke platform mereka setiap hari. Saat puncaknya, jumlah itu bahkan menyentuh lebih dari separuh seluruh musik baru yang diunggah. Sepanjang 2025, Deezer sudah mendeteksi dan menandai 13,4 juta lagu buatan AI dengan klaim akurasi 99,8 persen.
Tapi ada kabar yang menenangkan sekaligus aneh. Meski jumlahnya menggunung, musik AI hanya menyumbang 1 sampai 3 persen dari seluruh streaming di Deezer, karena platform itu tidak memasukkannya ke rekomendasi maupun playlist editorial. Dan dalam uji buta bersama Ipsos, 97 persen pendengar tidak bisa membedakan lagu buatan AI dengan karya manusia.

Perang Pengadilan: dari Boston sampai Munich
Label besar mengamuk duluan
Pada 24 Juni 2024, Sony Music Entertainment, Universal Music Group, dan Warner Records menggugat Suno dan Udio di pengadilan federal Boston dan New York. Keduanya dituduh menyalin dan mengeksploitasi rekaman musisi demi membuat musik serupa yang laku. Ganti ruginya dituntut hingga 150 ribu dollar AS per karya, atau sekitar Rp 2,46 miliar.
Bukan sembarang karya yang disebut dalam gugatan. Ada lagu yang penggemar setia ABBA pun katanya bakal kesulitan membedakannya dari rekaman aslinya. Udio juga disebut memakai lagu Mariah Carey dan The Temptations. Motifnya dinilai sangat komersial, dan label memperingatkan bahwa pencurian besar-besaran ini mengancam seluruh ekosistem musik.
Putusan Jerman yang berbalik arah
Jerman justru memilih sikap tegas. GEMA, lembaga pengelola hak cipta musik yang menaungi sekitar 100 ribu komposer dan penulis lagu, menggugat OpenAI pada November 2024. Pengadilan Munich akhirnya memutuskan ChatGPT melanggar hak cipta karena memakai sembilan lagu Jerman terkenal untuk melatih modelnya, termasuk lagu Herbert Grönemeyer dari 1984. Ganti ruginya dirahasiakan, dan OpenAI mengajukan banding.
Bukan cuma OpenAI. Pengadilan Munich juga memutuskan Suno bersalah karena melatih sistemnya dengan musik berhak cipta tanpa izin, dan Suno pun memilih banding. Pesan pengadilan cukup jelas: pengembang AI tetap pihak yang bertanggung jawab, bukan menyalahkan pengguna yang mengetik perintah.
Amerika Serikat malah bilang boleh
Sementara itu di California, Hakim William Alsup memutuskan 24 Juni 2025 bahwa Anthropic boleh melatih model bahasanya dengan buku berhak cipta selama bersifat transformatif. Tapi hakim menitipkan batas tegas: kalau bukunya didapat dari situs bajakan, itu tetap melanggar, sebaik apa pun niatnya. Dua putusan dari dua negara maju ini berlawanan, dan itu artinya dunia belum punya konsensus soal data pelatihan AI.
Jebakan di syarat layanan YouTube
Google juga digugat. Sekelompok musisi independen menuduh perusahaan itu memakai lagu yang mereka unggah ke YouTube untuk melatih model musik Lyria 3. Jawaban Google berlapis: tak bisa dibuktikan, dan bahkan kalau terbukti, syarat layanan YouTube sudah memberi lisensi luas untuk memakai konten unggahan.
Bukti publiknya cukup menjelaskan. CEO YouTube Neal Mohan mengakui kepada Bloomberg pada April 2024 bahwa sebagian video bisa dipakai melatih model seperti Gemini. Google juga sudah mengkonfirmasi soal Gemini dan Veo, tapi diam soal Lyria 3. Posisi diam itu bukan kebetulan, karena setiap pengakuan bisa memperlemah posisi mereka di pengadilan.
Musik Indonesia: Masuk Dapur tanpa Undangan
Sekarang soal kita. Medcom melaporkan bahwa lagu Hindia, Dewa 19, sampai Sheila on 7 dipakai untuk melatih AI tanpa izin. Artikel lain menyebut 39 lagu Afgan ikut terdampak dengan respons sang musisi. Untuk kasus Indonesia, ini yang sejauh ini paling sering disebut, walau dokumentasi publiknya masih tipis dibanding database global.
Yang lebih mungkin terjadi justru jarang dibahas. Analisis di ANTARA menulis bahwa dangdut, keroncong, gamelan, dan musik daerah dari Nusa Tenggara Timur sampai Papua tersedia bebas di platform digital. Besar kemungkinan karya-karya ini sudah jadi bahan pelatihan tanpa izin, tanpa pencatatan, dan pastinya tanpa kompensasi.
Hukum kita sebenarnya tidak kosong. Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 memberi perlindungan otomatis begitu karya diwujudkan, dan Pasal 9 mewajibkan izin untuk penggandaan komersial. Tapi undang-undang ini ditulis sebelum AI generatif ramai, sehingga tidak pernah mendefinisikan data pelatihan sebagai bentuk penggandaan. Celah inilah yang dieksploitasi.
Ada juga UU Pelindungan Data Pribadi yang melindungi suara sebagai data biometrik, dan Surat Edaran Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang etika AI. Sayangnya surat edaran ini tidak mengikat dan kurang memberi solusi konkret. Konvensi Berne yang kita ikuti hanya mengakui pencipta manusia, sehingga karya AI murni malah tak bisa dilindungi hak cipta.

Yang Bisa Dilakukan Sebelum Hukum Bergerak
Langkah paling konkret sekarang: cek nama kamu di database yang dirilis The Atlantic. Empat database itu sengaja dibuat bisa dicari agar musisi bisa memverifikasi apakah karyanya dipakai. Ini juga jadi amunisi kalau ingin menggugat atau bernegosiasi.
Platform mulai bergerak meski lambat. Suno mengumumkan watermark untuk setiap lagu buatannya, dengan teknologi yang disebut mirip SynthID milik Google, plus kerja sama dengan Audible Magic dan Musixmatch untuk menyaring audio serta lirik. Mereka juga membatasi unduhan agar lagu AI tak didistribusikan massal.
Sisi ekonomi juga diteken. Deezer mendemonetisasi pemutaran yang dicurigai, lantaran 85 persen streaming pada musik AI yang mereka identifikasi di 2025 berkaitan dengan aktivitas curang. Lagu AI tak masuk rekomendasi, sehingga pendengar yang mau mendengarkan manusia tetap bisa dilindungi.
Jalan tengahnya sebenarnya sudah mulai dilalui. Warner Music sepakat melisensikan karya dan citra musisinya ke Suno, dan pada September 2026 Suno merilis model terbaru bersama Warner Music Group dan BMG dengan pendekatan karya berlisensi dari artis yang berpartisipasi. Artinya, bayar royalti ternyata bisa, kalau kemauannya ada.
Kesimpulan: Bayar atau Berhenti Nyanyi
Yang jelas, mesin sudah makan jutaan lagu dan tak akan dimuntahkan kembali. Pertanyaannya sekarang bukan apakah AI boleh belajar dari musik, tapi apakah yang punya karya tetap dihormati saat mesin itu dijual. Kalau label asing saja harus ke pengadilan dulu untuk dapat perhatian, musisi Indonesia jelas butuh aturan main yang lebih cepat dari algoritma.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar