Perusahaan Indonesia Anggap Serangan Zero-Day Langka, Padahal AI Bikin Celah Makin Cepat Dibobol

Banyak CISO di Indonesia masih menganggap serangan zero-day jarang terjadi, sementara AI memperpendek waktu eksploitasi celah hingga sebelum patch dirilis. Masalahnya, kesalahan paling fatal ternyata bukan soal teknologi, tapi komunikasi antara tim IT dan manajemen.

Bagikan cerita ini:
Layar komputer menampilkan peringatan ancaman keamanan siber di ruang server

Kebocoran paling memalukan di dunia teknologi tahun ini bukan berasal dari ruang server yang dijaga ketat. Lebih dari satu terabita data rahasia Apple, mulai cetak biru iPhone sampai Vision Pro, diduga bocor lewat serangan ransomware terhadap Luxshare, salah satu mitra pabriknya di Tiongkok. Kelompok yang menamakan diri RansomHub mengklaim aksi itu, dan tim riset Cybernews sudah memverifikasi sebagian sampel datanya.

Kasus ini menjadi pengingat yang tidak nyaman. Seaman apa pun sebuah perusahaan mengunci sistem intinya, rantai pasok tetap punya pintu yang jumlahnya tidak terhitung. Dan pintu-pintu inilah yang sekarang jadi incaran utama, termasuk di Indonesia.

Tangan mengetik di atas keyboard dengan layar gelas berisi kode dan antarmuka peretasan
Foto oleh Tima Miroshnichenko di Pexels

Miskonsepsi Paling Mahal Soal Zero-Day

Danang Wijanarko, Head of Solutions Engineering F5 Indonesia, baru saja membeberkan kekeliruan yang ia temukan di banyak perusahaan nasional. Dalam sesi media di Teras Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu 9 September 2026, ia menceritakan dialognya dengan seorang Chief Information Security Officer atau CISO perusahaan besar yang tetap membiayai layanan AI bagi karyawannya. Hasil asesmen malah menemukan potensi kebocoran data alias oversharing akibat pemakaian AI tersebut.

Kekeliruan yang paling menonjol, kata Danang, adalah anggapan bahwa serangan zero-day itu langka. Padahal zero-day adalah kondisi ketika celah keamanan di perangkat lunak belum diketahui pengembangnya atau belum ada tambalannya, tetapi sudah dimanfaatkan penyerang.

Alasannya bukan sekadar ndeng. AI mempersingkat Time to Exploit, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mengeksploitasi celah. Penyerang bahkan tidak lagi butuh kemampuan teknis yang rumit untuk mencari celah. Artinya, penyerang bisa lebih dulu memasuki sistem sebelum perusahaan menyelesaikan proses temukan celah sampai pasang patch, padahal proses itu sendiri sudah memakan waktu lama.

18 celah di modem Exynos, cukup pakai nomor telepon

Bukti bahwa zero-day bukan skenario langka datang dari Project Zero, divisi keamanan siber Google. Dalam beberapa bulan, peneliti mereka menemukan 18 celah zero-day di modem Exynos buatan Samsung yang dipakai banyak ponsel Android, termasuk beberapa perangkat Vivo. Empat di antaranya berbahaya dan bisa dieksploitasi dari jauh secara diam-diam melalui jaringan seluler, hanya dengan modal nomor telepon korban.

Tim Willis, Kepala Project Zero, mengonfirmasi bahwa keempat celah itu memungkinkan penyusupan di level baseband tanpa interaksi pengguna. Kalau hacker berhasil menjalankan kode di level ini, mereka mendapat akses hampir tak terbatas ke panggilan telepon, SMS, dan data seluler tanpa sepengetahuan korban. Peneliti Maddie Stone juga mencatat bahwa pengguna Samsung belum menerima update perbaikan padahal sudah 90 hari sejak celah dilaporkan.

Penyebab Kebobolan Ternyata Jauh Lebih Praktis

Kalau ditanya apa penyebab utama sistem bobol, banyak orang membayangkan peretas jenius yang mengetik kode berjam-jam. Riset Kaspersky yang dimuat CNN Indonesia menunjukkan hal yang lebih membosankan dan lebih jujur, yaitu miskomunikasi antara tim keamanan IT dan manajemen non-teknologi.

Tim kantor berdiskusi di depan laptop soal kebijakan keamanan data perusahaan
Foto oleh Loe Moshkovska di Pexels

Satu dari sepuluh eksekutif non-teknologi belum pernah mendengar istilah seperti botnet, APT, atau exploit zero-day, meskipun mereka mendiskusikan masalah keamanan dengan tim IT setidaknya setahun sekali. Dari survei terhadap lebih 1.300 pemimpin bisnis di 25 negara, 98 persen responden non-IT mengalami miskomunikasi terkait keamanan IT.

Miskomunikasi memicu insiden, bukan sekadar keterlambatan

Angkanya cukup menyakitkan. 62 persen manajer tingkat atas mengakui miskomunikasi dengan tim keamanan TI telah mengakibatkan setidaknya satu insiden keamanan siber di perusahaan mereka. Hampir sepertiga responden mengaku mengalami masalah ini lebih dari satu kali. Efeknya menjalar ke anggaran yang terbuang, kehilangan karyawan, dan hubungan antar tim yang memburuk.

Alexey Vovk, Kepala Keamanan Informasi di Kaspersky, merangkumnya begini. CISO harus tahu bahasa bisnis dasar untuk menjelaskan risiko dan perlunya langkah keamanan, sementara pihak bisnis harus memahami bahwa keamanan informasi adalah bagian integral dari bisnis dan penganggaran. Menurutnya, menempatkan diri di posisi orang lain adalah kunci mencegah kesalahpahaman yang serius.

Biaya dari keterlambatan ini juga tidak main-main. Data Forrester menyebut perusahaan menghabiskan rata-rata 37 hari dan 2,4 juta dolar untuk mendeteksi dan memulihkan satu insiden siber. Waktu yang panjang itulah yang membuat perbedaan antara insiden kecil dan kebocoran masif.

Apa yang Bisa Dilakukan Sebelum Celah Ditemukan Orang Lain

Langkah pertama tidak harus muluk-muluk. Perusahaan perlu benar-benar memahami jenis layanan AI yang dipakai karyawan, pola penggunaannya, serta data sensitif apa yang masuk dan diproses di dalam sistem. Ini pesan Danang dari kasus oversharing yang ia temui sendiri.

Kedua, bangun visibility. Tanpa kemampuan melihat trafik jaringan, aktivitas pengguna, aplikasi yang dipakai, hingga penggunaan layanan AI, tim keamanan praktis buta. Miskonsepsi kedua yang masih banyak ditemukan di perusahaan Indonesia justru soal ini, yaitu menganggap sistem sudah aman padahal tidak ada visibilitas nyata.

Ketiga, terjemahkan bahasa teknis jadi bahasa bisnis. Kaspersky menyarankan pakar keamanan siber memakai argumen yang andal dan mudah dipahami, serta menggunakan informasi ancaman yang paling relevan dengan industri dan ukuran perusahaan untuk membenarkan anggaran keamanan.

Untuk pengguna biasa, saran Google saat menunggu vendor merilis patch bisa dipakai. Matikan panggilan Wi-Fi dan VoLTE di pengaturan perangkat sebagai pelindung sementara untuk HP yang terdampak celah modem. Tidak sempurna, tapi setidaknya memotong satu jalan masuk yang sedang terbuka.

Kasus Apple-Luxshare memberi pelajaran terakhir yang paling penting. Sekuat apa pun keamanan di kantor pusat, data tetap rentan saat dibagi ke jaringan pemasok global. Keamanan rantai pasok kini jadi titik lemah yang nyata di ekosistem teknologi modern, dan tidak ada perusahaan yang kebal, termasuk yang paling obsesif menjaga rahasia sekalipun.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar