Monitor Seribu Hertz Dijual Belasan Juta, Tapi PC Anda Hampir Pasti Tidak Mampu Menggerakannya
Pabrikan sedang berlomba menggantung angka refresh rate raksasa di kardus monitor, tapi angka megah itu baru hidup penuh kalau PC di meja Anda juga kelas RTX 50.

Pekan lalu LG membuka pemesanan awal UltraGear 25G590B di Indonesia. Periode 7 sampai 25 September 2026 ini pembeli dapat bonus gaming chair Rp2,5 juta. Harga monitornya sendiri sengaja tidak diumumkan, jadi patokan saja versi Amerika Serikatnya yang dijual USD 999,99 atau sekitar Rp16 jutaan.
Yang ditawarkan memang bukan sekadar layar. LG menyebut 25G590B adalah monitor gaming Full HD pertama di dunia yang menjalankan refresh rate 1.000 Hz secara native, tanpa harus menurunkan resolusi seperti monitor dual-mode lain. Prema Dipta, Head of Product Marketing Monitor MS LG Electronics Indonesia, menyebut kedatangan cepat ini sebagai bentuk seriusnya LG pada pasar esports lokal.
Beberapa pekan sebelumnya Samsung memamerkan Odyssey G6 (G60H) di Gamescom 27 Agustus 2026. Monitor 27 inci itu diklaim sebagai monitor gaming pertama di dunia dengan refresh rate 1.100 Hz, atau 1,1 kilohertz, sehingga setiap frame hanya bertahan kurang dari satu milidetik.
Angka 1.100 Hz itu naik dari 1.040 Hz yang dipamerkan Samsung di CES. Tapi ada cetakan kecil di brosur yang jarang dibaca orang.
Angka Raksasa di Kardus Tidak Bisa Dibeli Terpisah dari PC di Meja

Windows 11, DisplayPort 2.1, dan Kartu Grafis Kelas RTX 50
LG menulis syaratnya dengan terang-terangan. Untuk mencapai 1.000 Hz, monitor ini harus dipasangkan dengan Windows 11, koneksi DisplayPort 2.1, dan kartu grafis NVIDIA RTX 50 Series atau AMD Radeon RX 9070, RX 9060, RX 7900 Series ke atas. Performa sebenarnya masih bergantung pada prosesor, memori, game, dan driver yang dipakai.
Samsung menulis syarat yang lebih menohok. Refresh rate 1.100 Hz pada Odyssey G6 hanya bisa dinikmati pada resolusi HD. Begitu Anda pindah ke mode QHD yang gambarnya lebih tajam, angkanya langsung turun menjadi 600 Hz.
Masalahnya, refresh rate adalah kemampuan monitor, bukan kemampuan komputer. Frame rate yang dihasilkan kartu grafis adalah hal yang berbeda. Monitor 144 Hz tidak akan terasa bedanya dengan monitor 60 Hz kalau kartu grafis Anda hanya sanggup menghasilkan 60 FPS. Layar baru terasa sebagai investasi kalau kartu grafis sudah mendorong 120 sampai 165 FPS.
Hingga sekarang hampir tidak ada game populer yang berjalan 1.100 FPS pada PC rumahan biasa. Jadi jangan heran kalau angka raksasa di kardus terasa seperti membeli mobil balap untuk jalanan macet.
Untuk meredam gambar yang patah-patah, monitor masa kini membawa teknologi Adaptive Sync, FreeSync dari AMD, atau G-Sync dari NVIDIA. Ketiganya menyinkronkan refresh rate layar dengan frame rate kartu grafis supaya tidak muncul tearing atau stuttering.
Layar Mahal Tidak Akan Mengerti Postur Anda
Aturan 50 Sentimeter dari Mata
Sudah selesai dengan soal angka, sekarang ada satu hal yang sering luput: posisi layar itu sendiri. Occupational Safety and Health Administration di Amerika Serikat merekomendasikan bagian atas monitor sejajar atau sedikit di bawah garis mata pengguna, dengan jarak mata ke layar yang ideal berkisar 50 sampai 70 sentimeter.
Layar yang terlalu tinggi membuat kepala mendongak seharian. dr Nina Ratnaningsih, SpM, MSc (CEH), pakar oftalmologi komunitas dari RS Cicendo Bandung, menjelaskan posisi terlalu tinggi membuat mata lebih cepat kering karena laju penguapan di permukaan bola mata ikut tinggi.
Skalanya tidak kecil. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 145,8 juta orang Indonesia bekerja pada Agustus 2024, dan sebagian besar pekerjaan itu kini menghadap layar dari pagi sampai sore.

Pencahayaan ruangan juga ikut menentukan. Layar yang berhadapan langsung dengan jendela memunculkan pantulan cahaya, sementara ruangan yang terlalu gelap memaksa mata bekerja ekstra menyesuaikan kontras antara layar dan sekelilingnya.
Layar berukuran besar juga tidak selalu lebih baik. Yang terlalu dekat membuat mata cepat lelah, sedangkan yang terlalu jauh memaksa badan maju sendiri saat membaca tulisan kecil. Bagi yang memakai dua monitor, dua layar sebaiknya sama tinggi supaya kepala tidak terus bergerak naik turun.
International Labour Organization bersama Kementerian Ketenagakerjaan memang sudah memasukkan perbaikan lingkungan kerja ke Program Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2024 hingga 2029. Tapi memajukan monitor setinggi beberapa sentimeter tidak perlu menunggu program negara jalan.
Pasang Monitor Baru, Dapat Iklan Gratis
Beberapa pengguna monitor LG mendapat pengalaman yang jauh dari kata mulus. Lewat pembaruan sistem Windows, monitor mereka diam-diam memasang aplikasi bernama LG Monitor App Installer tanpa meminta izin pemilik komputer terlebih dahulu.
Keluhan paling terdengar adalah iklan langganan antivirus McAfee yang muncul terus-menerus saat bekerja. Saluran YouTube Gamers Nexus membuktikannya lewat pengujian langsung pada layar UltraGear kelas mahal, dan perusahaan keamanan asal Tiongkok Jiangmin bahkan mengklasifikasi program ini sebagai perangkat lunak mata-mata.
Yang lebih membuat geleng, masalah ini tidak hanya menimpa monitor keluaran baru. Beberapa pengguna melaporkan hal serupa pada layar yang sudah dibelinya tiga tahun lalu.
Cara mengatasinya sebenarnya sederhana. Buka menu pengaturan aplikasi bawaan Windows, hapus program pengganggu itu, lalu matikan fungsi peluncuran otomatisnya. Untuk jaringan kantor, administrator bisa memblokir unduhan aplikasi yang terkait perangkat keras tersebut secara permanen.
TV 50 Inci Bukan Pengganti Monitor 27 Inci
Input Lag Bikin Klik Mendarat Telat
Tarif murah, inci banyak. Banyak orang lalu kepikiran menyambungkan PC ke TV di ruang tamu. Kedua perangkat memang mirip dari luar, padahal keduanya dirancang untuk kebutuhan yang berbeda. TV memiliki tuner bawaan untuk menangkap siaran, sedangkan monitor sengaja tidak memilikinya karena memang dirancang bekerja dengan perangkat lain.
Kepadatan pikselnya juga beda jauh. Layar TV jenis HDTV rata-rata hanya sekitar 68,84 ppi, sementara layar laptop standar mencapai 141,21 ppi. TV kelas menengah rata-rata maksimal resolusi 1366x768, sehingga gambar dari PC terlihat pecah.
Untuk menonton film, tidak masalah. Tapi untuk main game kompetitif ini masalah besar. TV memberi efek input lag, ada jeda beberapa milidetik antara klik Anda dan tampilan di layar. Dalam game seperti Counter Strike atau DOTA 2 yang menuntut ketepatan, jeda itu terasa sekali.
Panelnya juga dibuat untuk penonton, bukan untuk pekerja. TV memakai panel QLED, OLED, atau LED, sedangkan monitor mayoritas masih memakai panel IPS, TN, atau VA. Rasio aspeknya pun berbeda, TV nyaman di 16:9 untuk dilihat banyak orang, sedangkan monitor punya opsi 21:9 hingga 32:9 untuk membuka beberapa aplikasi sekaligus.
Tiga Angka yang Layak Dicek Sebelum Membayar
Pertama, resolusi. Full HD masih cukup untuk yang baru mulai, tapi QHD atau 4K jauh lebih nyaman untuk pekerjaan kreatif. Kedua, refresh rate dan kartu grafis harus seimbang. Monitor 165 Hz tidak akan terasa kalau kartu grafis hanya mampu 60 FPS. Ketiga, waktu respon. Pilih yang 1 ms atau di bawah 5 ms supaya objek bergerak cepat tidak meninggalkan bayangan.
Cek juga teknologi sinkronisasi, filter cahaya biru, dan stand yang bisa diatur tinggi serta bisa dimiringkan. Kelengkapan kecil inilah yang membuat layar enak dipakai delapan jam sehari, bukan hanya enak satu jam main game.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar