Dulu NPU Diklaim Kunci Emas AI Windows, Kini GPU RTX Buka Pintu Belakang

Microsoft melonggarkan syarat mutlak NPU untuk AI lokal Windows 11 lewat Windows App SDK 2.2.2, sehingga PC dengan GPU RTX 30 series ke atas kini bisa menjalankan Phi Silica tanpa harus membeli laptop Copilot+ baru.

Bagikan cerita ini:
Ilustrasi Teknologi: PC gaming dengan GPU RTX untuk menjalankan AI lokal Windows

Punya laptop atau PC gaming dengan GPU RTX generasi lama? Selama dua tahun terakhir perangkat itu nyaris tak dianggap oleh Windows untuk soal AI lokal. Microsoft bilang butuh NPU 40 TOPS, RAM 16GB, SSD, dan label Copilot+ PC baru semuanya jalan. Nah, sejak Juni 2026, Microsoft diam-diam melonggarkan aturan itu.

NPU dan Janji Kunci Emas Copilot+ PC

Saat Copilot+ PC diluncurkan pada 18 Juni 2024, Microsoft menetapkan rumus yang cukup kaku. Setiap perangkat wajib punya NPU (Neural Processing Unit) dengan kemampuan minimal 40 TOPS, ditambah RAM 16GB dan SSD. NPU ini lantas diposisikan sebagai kunci emas pembuka fitur AI lokal Windows seperti Recall, Click to Do, Live Captions, hingga model kecil Phi Silica.

NPU sendiri adalah chip khusus yang dibuat menangani tugas AI berulang. Berbeda dengan GPU yang rakus listrik, NPU dibangun untuk efisiensi. IBM mencatat arsitekturnya meniru cara otak memproses data, lengkap dengan memori on-chip berkecepatan tinggi sehingga hemat energi. NPU di laptop tipis umumnya hanya makan daya sekitar 5 watt, sementara GPU diskret bisa menyedot 100 watt lebih.

Alasannya cukup masuk akal. Fitur seperti Recall harus mengindeks aktivitas layar kamu tanpa henti di latar belakang, tanpa membuat baterai habis dalam dua jam. Untuk kerjaan seperti ini, GPU jelas bukan kandidat yang tepat.

GPU RTX Akhirnya Diajak Masuk Lewat Phi Silica

Melalui Windows App SDK 2.2.2 versi experimental yang dirilis Juni 2026, Microsoft membuka jalan baru. Model AI lokal Phi Silica kini bisa berjalan di PC non-Copilot+ asal dilengkapi GPU pendukung. DetikINET yang melaporkan hal ini menyebut pembaruan ini sebagai sinyal kuat bahwa Microsoft tak lagi terlalu mengikat fitur AI pada branding Copilot+.

Syaratnya ternyata tidak terlalu tinggi. Nvidia GeForce RTX 30 series atau lebih baru dengan VRAM minimal 6GB sudah memenuhi kualifikasi. Dokumentasi resmi Microsoft Learn bahkan sudah mencatat jalur AMD, yaitu Radeon RX 9060 series ke atas dengan VRAM 6GB atau lebih.

Phi Silica sendiri adalah model bahasa kecil turunan keluarga Phi, berukuran sekitar 3,3 miliar parameter dan dipadatkan dengan kuantisasi 4-bit sehingga hanya butuh 2 sampai 3 gigabyte memori. Model ini diunduh otomatis melalui Windows Update saat aplikasi membutuhkannya, lalu berjalan sepenuhnya di perangkat. Data kamu tidak perlu dikirim ke cloud, dan prosesnya tetap jalan walau koneksi lagi putus.

Ilustrasi Teknologi: prosesor dan modul chip pada motherboard komputer
Foto oleh Arturo A di Pexels

Yang Harus Disiapkan Sebelum Mencoba

Bukan sekadar pasang GPU lalu langsung jalan. Jalur GPU saat ini masih berstatus experimental dan tertahan di lapisan pengembang. Kamu butuh Windows 11 build 26300.8553 atau lebih baru, Developer Mode dalam kondisi aktif, serta driver GPU resmi dari produsen. Driver bawaan Windows Update biasa tidak cukup, untuk Nvidia minimal versi GeForce 615.21 beta, dan untuk AMD butuh Adrenalin Edition 26.10.2.

Selain itu, fitur ini juga butuh aplikasi yang memang memanggil Windows AI API. Jadi jangan berharap setelah update langsung muncul tombol ajaib di Start menu. End user baru akan merasakan efeknya ketika developer mulai mengintegrasikan API ini ke aplikasi mereka.

NPU vs GPU, Soal Kekuatan Mentah Hasilnya Bertolak Belakang

Di titik ini banyak orang salah kaprah. Angka TOPS di brosur laptop AI PC memang terdengar megah, tapi untuk kerjaan AI berat, GPU justru berbeda kelas. TeknoReview mencatat NPU laptop masa kini dijanjikan di angka 40 sampai 50 TOPS. Sementara itu, laptop dengan RTX 4060 bisa menyentuh 233 TOPS, dan RTX 4090 bahkan menembus lebih dari 1.300 TOPS.

Untuk generasi gambar, menjalankan model besar, atau editing video berbasis AI, gap tersebut sangat terasa. Tapi ada harga di balik tenaga itu. Jalur GPU tidak mendapat prompt compression dan speculative decoding, dua fitur yang membuat NPU super responsif. Akibatnya, latensi generate teks di GPU lebih tinggi, dan baterai laptop kamu akan lebih cepat terkuras saat AI sedang bekerja.

Selain soal angka mentah, ada perbedaan memori yang sering dilupakan. GPU punya VRAM dedicated berbandwidth tinggi, sementara NPU biasanya berbagi RAM sistem. Saat menjalankan model besar seperti Llama secara lokal, bandwidth ini sangat menentukan kecepatan token per detik. Ini alasan laptop gaming dengan 32GB RAM dan GPU dedicated sering jadi mesin AI lebih stabil dibanding laptop tipis berbasis NPU. Data IDC awal 2026 juga menunjukkan lebih dari 40 persen perangkat Windows 11 aktif sudah punya GPU diskret DX12 dengan VRAM 8GB ke atas, pasar yang terlalu besar untuk diabaikan.

Kenapa Microsoft Tidak Begitu Saja Membuka Semua Fitur

Ilustrasi Teknologi: laptop gaming di meja kerja untuk eksperimen AI lokal
Foto oleh Daniil Komov di Pexels

Windows Recall dan Click to Do tetap eksklusif untuk perangkat dengan NPU. Bukan semata karena pelit. Kedua fitur ini bekerja di latar belakang, menangkap dan mengindeks aktivitas layar secara terus menerus. Kalau dijalankan di GPU, laptop bisa cepat panas, kipas meraung, dan baterai tersedot dalam waktu singkat. Batasan ini sengaja dipertahankan demi pengalaman pengguna, bukan sekadar strategi pemasaran.

Kesimpulan, Beli Laptop AI PC atau Manfaatkan GPU Yang Sudah Ada

Kalau mobilitas tinggi, sering meeting online seharian, dan butuh baterai awet, laptop dengan NPU tetap paling masuk akal. Efisiensi daya NPU di atas kertas memang sulit ditandingi GPU. Tapi kalau kamu lebih sering bekerja di meja dengan colokan listrik di samping, punya PC atau laptop gaming dengan RTX 3060 ke atas, dan penasaran dengan AI lokal, tahan dulu jangan buru-buru checkout laptop AI PC mahal.

GPU yang sudah tergeletak di meja kamu itu kemungkinan besar sudah cukup kuat. Yang dibutuhkan sekarang hanya aplikasi yang mulai mengadopsi API baru ini, dan tren itu kemungkinan akan terus melebar sepanjang 2026. Daripada mengejar label Copilot+ di etalase, lebih baik pastikan dulu perangkat yang sudah kamu miliki benar-benar dimanfaatkan secara maksimal.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar