Printer Rumah Rp700 Ribu Memang Miring, Tintanya Lebih Mahal dari Mesinnya
Harga printer rumahan memang mulai Rp700 ribuan, tapi total biaya tinta selama bertahun-tahun bisa mengalahkan harga mesinnya. Banyak yang baru sadar saat botol kedua habis.

Di toko, printer rumahan sekarang terlihat ramah sekali. Ada HP Deskjet Ink Advantage 2775 yang dihargai sekitar Rp939.000, dan Canon PIXMA MG2570S yang diperuntukkan bagi mahasiswa dengan kantong lebih tipis lagi. Spesifikasinya juga tidak mengecewakan, MG2570S mencetak 8 ipm untuk hitam-putih dan 4 ipm untuk warna, lengkap dengan scan 600 x 1200 dpi serta fotokopi. Sepintas tidak ada alasan untuk menolak membelinya.
Tapi angka di kardus itu hanya membayar pintu masuk. Yang menentukan apakah printer tersebut murah atau mahal adalah berapa banyak tinta yang ia minum selama tiga atau empat tahun ke depan, dan berapa harga botol pengisiannya. Di titik inilah banyak orang menyesal.
Harga Mesin Murah Itu Pancingan, Total Biaya Baru Bicara di Tahun Ketiga
Teddy Susanto, Country Sales Manager Fuji Xerox Printers Indonesia, membuka hitungan itu di depan media pada 8 Februari 2012. Sebagai pembanding, ia meletakkan satu printer laser seharga USD 239 di samping satu printer inkjet yang hanya USD 109. Dari harga mesin saja, inkjet kelihatan menang telak. Tapi asumsinya adalah 36.000 lembar cetakan selama tiga tahun.
Dalam asumsi itu, biaya cetak printer laser adalah USD 0,038 per lembar dan inkjet USD 0,10 per lembar. Selama tiga tahun, printer laser mengeluarkan USD 1.368 untuk tinta, sedangkan inkjet menghabiskan USD 3.600. Total biaya kepemilikan printer laser menjadi jauh di bawah inkjet, dan Teddy menyebut printer laser 60 persen lebih efisien dibandingkan tinta.
Data pasar yang ia bawa saat itu juga menarik. IDC mencatat peluang pasar printer laser di Indonesia pada 2011 sebesar 208.428 unit, dan diproyeksikan tumbuh 17,09 persen menjadi 244.041 unit di 2012. Pasar inkjet jauh lebih besar, 2.201.081 unit di 2011, tapi hanya tumbuh 4,89 persen menjadi 2.308.688 unit. Laser tumbuh 3,5 kali lebih cepat. Teddy bahkan memprediksi laser akan mengalahkan inkjet dalam lima tahun.

Printer Rumah Jarang Dipakai, dan Itu Masalahnya Sendiri
Tinta Mengering Diam-Diam
Printer rumah punya kebiasaan buruk: ia tidak dipakai setiap hari. Anak kuliah mencetak tugas sekali seminggu, orang tua mencetak dokumen administrasi sekali sebulan. Pada inkjet, tinta yang mengendap di head cetak akan mengering perlahan saat mesin menganggur. Sekali head menyumbat, botol tinta baru tidak akan menyelamatkannya, yang dibutuhkan adalah servis atau head baru.
Inilah alasan tinta compatible menjanjikan harapan. PT Kudo Indonesia Jaya memproduksi tinta bermerek Maleo dengan sertifikasi tingkat komponen dalam negeri 61,56 persen. Direktur Eko Santiko menjelaskan produknya dibuat agar tidak merusak printer dan membuatnya lebih awet, dengan kemasan yang tidak mudah tumpah serta harga botol mulai Rp76.000 sampai Rp105.000 per satuan.
Ada satu titik buta di sini. Stigma yang ingin dipatahkan Maleo memang benar, tinta non-original tidak otomatis berarti buruk. Tapi pasar juga punya versi gelap yang asli: tinta palsu. Polri membongkar tempat produksi tinta printer palsu, dan pelaku meminta maaf secara terbuka sambil mengakui tinta itu bermutu rendah dan dapat merusak perangkat printer.
Cek QR Sebelum Membeli Botol
Untuk membedakan keduanya, Epson memperkenalkan pengecekan mandiri di Indonesia. Konsumen memindai kode QR pada kemasan dengan aplikasi mobile gratis bernama Epson Genuine, dan hasilnya langsung menampilkan apakah botol tinta itu asli atau palsu. Ribuan rupiah yang dibayar untuk botol asli jauh lebih murah daripada mengganti head printer yang disumbat tinta palsu.
Ink Tank Mengubah Arus, Tapi Tidak Menghapus Tagihan

Canon mengeluarkan jajaran PIXMA Ink Efficient G Series, yaitu G1020, G2020, G3020, dan G3060. Keempatnya memakai sistem tangki tinta isi ulang, dan untuk printer tangki tinta, angka konsumsinya memang fantastis: G1020, G2020, dan G3020 mampu mencetak hingga 7.600 halaman hitam-putih dan 7.700 halaman warna. PIXMA G3060 mencetak 7.600 halaman hitam-putih pada 10,8 ipm dan 7.700 halaman warna pada 6,0 ipm.
Harga keempat printer itu pada peluncurannya adalah Rp 1.899.000 untuk G1020, Rp 2.249.000 untuk G2020, Rp 2.849.000 untuk G3020, dan Rp 2.949.000 untuk G3060. Tinta GI-71 Cyan, Magenta, Yellow dihargai Rp 104.900 per warna, dan Maintenance Cartridge atau absorber Rp 110.000. Menariknya, absorber ini bisa diganti sendiri di rumah, jadi tidak perlu membawa printer ke service center hanya untuk penggantian rutin.
Merry Harun, Director of Canon Business Unit PT Datascrip, mengatakan seri G memang ditujukan untuk mereka yang mencetak banyak dengan biaya murah, cocok untuk pelaku usaha kecil dan kebutuhan keluarga. Untuk skala kecil, HP Smart Tank 580 dihargai Rp 3.000.000 dan diskon resmi Rp 2.375.000, dengan rekomendasi beban cetak 400 sampai 800 lembar per bulan, atau kapasitas sampai 3.000 lembar A4 per bulan.
Printer Itu Pengikat, Bukan Sekadar Mesin
Pilihan laser untuk rumah sebenarnya juga ada. Brother DCP-B7640DW mencetak 36 ppm untuk kertas Letter, atau 17 ppm saat pencetakan dua sisi otomatis, dengan resolusi scan 1200 x 1200 dpi pada flatbed. Sayangnya DCP-B7640DW adalah printer hitam putih, jadi tidak bisa menghasilkan cetakan berwarna. Pilihan ini masuk akal kalau kebutuhan Anda 90 persen dokumen teks, dan cetakan warna bisa dijahit di tempat lain.
Sebelum mengeluarkan uang, ada tiga angka yang lebih penting dari harga mesin. Pertama, berapa lembar Anda cetak per bulan. Kedua, berapa harga pengisian tinta atau toner penuh. Ketiga, berapa harga penggantian drum atau maintenance cartridge. Tiga angka ini, bukan angka di kardus, yang akan menentukan apakah printer rumah Anda benar-benar murah atau justru menggerogoti tabungan.
Sekali punya printer, Anda cenderung akan tetap membeli tintanya selama bertahun-tahun. Itulah model bisnisnya. Jadi anggaplah harga mesin sebagai biaya pendaftaran, dan anggaplah tinta sebagai iuran bulanan. Membaca brosur dengan kacamata ini akan membuat Anda berpikir dua kali sebelum mengambil printer termurah di rak.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar