Qualcomm Diam-Diam Habisi Chip Tengah Favoritnya, dan HP Murah Mulai Gelisah
Qualcomm menghentikan seri Snapdragon 8s Gen 5 dan mendorong prosesornya ke 5 GHz. Chip kelas menengah jadi korban paling sunyi, dan harga HP terjangkau diam-diam tergeser.

Ada satu berita yang muncul diam-diam di industri ponsel minggu ini. Qualcomm dikabarkan tak akan merilis Snapdragon 8s Gen 5 di 2026. Bagi kebanyakan orang, nama itu terdengar seperti kode ruang server. Tapi bagi dompet kita, ini penting. Seri 8s selama ini jadi andalan untuk ponsel kelas menengah yang dibanderol Rp 5 sampai 7 jutaan.
Chip Tengah yang Tiba-Tiba Kehilangan Tempat
Snapdragon 8s Gen 4 dengan kode internal SM8735 memang bukan bintang utama. Ia cuma alternatif yang lebih murah dari Snapdragon 8 Elite. Tapi justru di posisi inilah dia jadi penyelamat. Produsen ponsel bisa bikin perangkat nyaris flagship tanpa harus bayar harga flagship.
Sekarang, Qualcomm disebut berhenti main di jalur ini. Chip dengan kode SM8835 yang ditunggu-tunggu tak ada di peta jalan 2026. Produsen ponsel kelas menengah dipaksa menyeret Snapdragon 8 Elite generasi sebelumnya ke perangkat yang lebih murah. Efeknya, harga ponsel kelas menengah perlahan merangkak naik.
Kelihatannya sepele. Tapi ini perubahan strategi pertama sejak Qualcomm mulai merancang chip sendiri lewat arsitektur Oryon. Chip kelas menengah yang dulu jadi tulang punggung pasar Indonesia kini jadi korban paling sunyi.
Kenapa Chip Murah Jadi Korban Pertama
Alasannya ada di arsitektur. Sejak 2024, Qualcomm tak lagi membeli desain jadi dari ARM. Mereka mulai merancang inti sendiri. Hasilnya mulai kelihatan di generasi pertama Snapdragon X Elite untuk laptop, lalu berlanjut ke 8 Gen 4 dan 8 Elite.
Merancang chip sendiri itu mahal. Qualcomm harus mengoptimalkan setiap detail mikroarsitektur supaya performa puncak dan efisiensi energi bisa berjalan bersamaan. Chip murah dengan margin tipis jadi tak lagi menarik untuk diproduksi.
Konfigurasi 2+6 yang Mengubah Aturan Main
Di generasi berikutnya, Qualcomm dikabarkan memakai konfigurasi 2+6. Dua inti utama atau Prime Core berlari di 5 GHz. Enam inti performa menjaga multitasking tetap mulus. Tidak ada lagi inti efisiensi yang lambat seperti dulu.
Konfigurasi ini terdengar aneh kalau kamu ingat generasi lama yang selalu menyelipkan inti hemat daya. Niatnya jelas. Qualcomm ingin menyelesaikan tugas berat dengan cepat, lalu langsung kembali ke kondisi idle. Ponsel tidak lagi bekerja pelan tapi terus-menerus.
Dua inti utama ini punya IPC kuat. Setiap detak jam menyelesaikan lebih banyak instruksi. Tugas berat dari agentic AI bisa selesai cepat di inti utama, lalu dialihkan ke inti lain. Secara teori, ini justru menghemat daya keseluruhan.

FlexCache, Jawaban Saat RAM Semakin Mahal
Bagian paling menarik bukan kecepatan 5 GHz-nya, melainkan FlexCache. Ini arsitektur cache yang mengalokasikan ruang simpan secara dinamis. Saat tugas berat datang, inti utama bisa menyedot seluruh cache yang tersedia.
Kenapa ini penting? Karena harga RAM global sedang meroket. Dengan FlexCache, ponsel dengan RAM terbatas bisa berperforma setara perangkat kelas atas yang punya RAM jumbo. Data tak harus bolak-balik keluar masuk SoC, sehingga konsumsi daya ikut turun.
Dampak ke Kantong Pembeli Ponsel
Sekarang kita bicara soal uang. Kalau seri 8s benar-benar dihentikan, produsen ponsel punya dua jalur. Pertama, memakai chip flagship lawas yang harganya turun pelan. Kedua, pindah ke MediaTek Dimensity. Yang pasti, klaim performa murah yang dulu jadi penanda ponsel kelas menengah akan makin sulit dipertahankan.

Untuk konteks seberapa cepat perkembangan chipnya, Snapdragon 8 Gen 5 yang dirilis akhir November 2025 sudah mencatat skor AnTuTu 3,56 juta poin. Itu 600 ribu poin lebih tinggi dari Snapdragon 8 Elite generasi sebelumnya. CPU Oryon generasi ketiga di dalamnya berlari di 3,8 GHz, dengan NPU Hexagon yang performa AI-nya naik 46 persen.
Sementara itu, Snapdragon 8 Elite Gen 5 membawa Prime Core 4,74 GHz, GPU Adreno 840, dan skor AnTuTu di atas 3,9 juta. Flagship 2026 seperti Galaxy S26 Ultra, Xiaomi 17 Ultra, sampai ROG Phone 10 sudah bersiap memakainya. Di titik inilah jarak antara kelas menengah dan kelas atas semakin lebar.
LPDDR6 dan Senjata Berikutnya
Snapdragon 8 Elite Gen 6 yang dibocorkan Maret 2026 menambah satu kunci utama, yaitu dukungan RAM LPDDR6. Transisi dari LPDDR5X ini meningkatkan bandwidth sekaligus efisiensi daya. Versi kustomnya bahkan memungkinkan produsen menyesuaikan performa sesuai kebutuhan, entah untuk gaming, fotografi berbasis AI, atau komputasi generatif.
Ada kabar buruknya juga. Harga Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro disebut cukup tinggi sehingga sejumlah vendor terpaksa memangkas kualitas kamera demi menekan biaya produksi. Artinya, ponsel murah 2027 kemungkinan makin hemat pada bagian yang sebenarnya penting.
Apa yang Patut Dilakukan Pembeli
Pertama, jangan terburu menunggu ponsel dengan chip generasi baru kalau anggaranmu di segmen menengah. Sub-flagship yang tersisa di pasar saat ini masih memakai chip yang terbukti. Performanya masih jauh dari kata usang.
Kedua, perhatikan RAM dan tipe penyimpanan. Karena harga RAM sedang tinggi, sebagian vendor akan memangkas kapasitas atau memakai penyimpanan yang lebih lambat. Cek spesifikasi lengkap sebelum membayar.
Ketiga, kalau kamu mengincar fitur AI generatif yang jalan di perangkat, chip generasi baru memang menjanjikan. Tapi kalau kebutuhanmu cuma chat, main game ringan, dan scrolling sosmed, mengeluarkan Rp 12 juta untuk flagship terasa berlebihan.
Sikap paling waras saat ini adalah mencatat kebutuhan asli sebelum melihat daftar chipset. Industri sedang menggeser garis antara murah dan flagship, dan kita yang menentukan apakah garis itu berhenti di kantong kita.
Artikel Terkait
Lihat kategori Teknologi ↗
Aplikasi Keluar Sendiri di Tengah Pemakaian, dan Memori HP-mu adalah Tersangka Utamanya
Aplikasi yang keluar sendiri biasanya dianggap sebagai tanda aplikasi yang jelek. Padahal sebagian besar kasus berakar pada memori penuh, cache yang menumpuk, dan pengaturan hemat daya yang mengusir aplikasi dari latar belakang.
Jam Pintar Dijual Atas Nama Jantungmu, Tapi Algoritmanya Pilih Kasih
Iklan jam tangan pintar menjanjikan pemantauan jantung sepanjang hari, tapi sensor optiknya nyatanya kurang akurat pada warna kulit lebih gelap, dan pergelangan tangan pemakainya ikut membayar lewat iritasi tali silikon.
Rekam Video Lewat Aplikasi TikTok, Sekali Kompres Kualitas 4K Langsung Ambruk
Video yang kamu unggah ke TikTok atau Instagram Reels sering burik padahal kameranya bagus. Sebagian besar kerusakan kualitas terjadi jauh sebelum kamu menyentuh aplikasi edit.
Ruang Diskusi & Komentar