Radiasi Headset Bluetooth Terlalu Lemah Melukai Otak, Tapi Volume Keras Menghancurkan Pendengaran

Radiasi headset bluetooth masuk kategori frekuensi rendah yang belum pernah terbukti melukai otak. Yang jelas-jelas mengancam telinga justru kebiasaan memutar volume di atas batas aman.

Bagikan cerita ini:
Headset bluetooth nirkabel beristirahat di meja kerja

Hampir semua orang punya satu ketakutan yang sama soal headset nirkabel. Maklum, berita dan obrolan soal radiasi bluetooth yang katanya merusak otak sudah menyebar bertahun-tahun. Akibatnya, tidak sedikit yang merasa bersalah setiap kali earphone terpasang berjam-jam di telinga.

Tapi anehnya, ketakutan itu sering bikin kita melihat arah yang salah. Kita curiga pada sinyal tak kasat mata, padahal ancaman paling nyata ada di jari kita sendiri. Soalnya, suara yang diputar terlalu kencang jauh lebih kejam daripada radiasi sekecil apa pun.

Radiasi Bluetooth Terlalu Lemah untuk Melukai Otak

Radio bluetooth memancarkan radiasi elektromagnetik non-ionisasi. Sebut saja radiasi frekuensi radio dengan daya yang sangat rendah. National Cancer Institute Amerika Serikat bahkan sudah menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mengaitkan langsung pemakaian perangkat nirkabel seperti TWS dan headphone bluetooth dengan kanker.

Profesor bioteknologi Universitas Pennsylvania, Ken Foster, menggarisbawahi hal serupa. Menurutnya, radiasi dari perangkat bluetooth justru lebih rendah dibanding radiasi ponsel yang didekatkan ke telinga. Dalam ulasan teknologi yang dirangkum Sumeks, disebutkan pula bahwa radiasi smartphone saat sedang mencari sinyal jauh lebih kuat dibanding headset bluetooth yang menempel di telinga sehari-hari.

Jurnal-jurnal ilmiah dan World Health Organization juga menyebut pemakaian bluetooth aman bagi manusia. Alasannya sederhana. Level energinya terlalu lemah untuk merusak DNA maupun jaringan otak. Jadi selama ini kita waspada ke arah yang salah.

Casing pengisian daya earbuds nirkabel terbuka
Foto oleh Andrey Matveev di Pexels

Volume Keras adalah Biang Kerok Sebenarnya

Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan miliaran anak muda di dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran karena kebiasaan memakai headphone. Bukan karena radiasi, melainkan karena volume yang dipasang terlalu tinggi terlalu lama.

Dokter Alvin Nursalim dari KlikDokter memperingatkan hal yang sama. Memakai headphone dalam waktu lama dengan volume keras bisa mengganggu pendengaran dan merusak gendang telinga. Beberapa pakar menyarankan menjaga jarak ponsel sekitar 25 sentimeter dari wajah saat mendengarkan musik atau menelepon, serta memakai perangkat hanya saat sinyal kuat.

Keluhan sebenarnya bisa dicegah sejak dini. Suara yang mulai terdengar pecah atau bergetar saat volume tinggi sering jadi tanda awal kerusakan. Sayangnya banyak yang menganggapnya cuma gangguan biasa, padahal komponen kecil di telinga kita tidak pernah kompromi dengan kebisingan.

Headset Mati Muda Biasanya Karena Tangan Kita Sendiri

Mitos kedua yang sama-sama populer: headset itu rentan dan gampang rusak padahal harganya mahal. Faktanya, banyak kerusakan terjadi murni karena kecerobohan. Dari kabel yang digigit hewan peliharaan, badan earphone yang duduki tanpa sengaja di dalam mobil, sampai tangkai yang diputar terlalu keras saat menyesuaikan posisi.

Ada pula yang baru beli tiga minggu sudah berisiko rusak karena terlalu kasar saat menyimpan. Jack headphone juga sering bermasalah bukan karena pabriknya jelek, melainkan debu dan serat yang masuk dan menghalangi sambungan. Senter kecil bisa membantu melihat seberapa kotor bagian dalamnya.

Untuk versi nirkabel, masalah klasiknya berbeda. Earphone bluetooth cenderung memutus koneksi secara berkala saat baterai hampir habis. Bukan karena rusak, melainkan karena dayanya memang sudah menipis. Debu dan panas berlebih juga mempercepat penurunan komponen audio, sama seperti pada speaker laptop.

Perawatan Kecil yang Bikin Umur Headset Berlipat

Tidak perlu perlakuan khusus untuk membuat headset awet. Beberapa kebiasaan kecil saja sudah cukup. Pilih earphone bermagnet dengan desain berkalung supaya mudah dikeluarkan dari telinga. Pastikan juga segel bantalan karet pas, karena memengaruhi peredam bising sekaligus kualitas suara.

Hapus koneksi bluetooth yang tidak perlu dari ponsel. Smartphone bisa kewalahan jika banyak perangkat mencoba tersambung sekaligus. Menjauhi router wifi juga membantu, karena spektrumnya bisa tumpang tindih dengan sinyal earphone.

Saat membersihkan, matikan dulu perangkatnya atau lepaskan baterainya. Gunakan kain microfiber dengan sedikit sabun, lalu keringkan dengan microfiber bersih. Untuk bagian sempit, cotton bud lebih aman daripada benda tajam. Dan jangan sekali-sekali meniup lubang speaker dengan mulut, karena justru mendorong kotoran makin ke dalam.

Seseorang memakai headset sambil menatap layar ponsel
Foto oleh Karolina Grabowska www.kaboompics.com di Pexels

Saat Suara Mendadak Menghilang, Cek Urutan Ini Sebelum ke Bengkel

Ponsel tiba-tiba senyap sering bikin panik. Padahal urutan pengecekannya cukup kejam hanya kalau dilewati. Pertama, pastikan volume media tidak dikecilkan total dan mode senyap atau jangan ganggu benar-benar nonaktif. Kedua, putuskan semua perangkat audio eksternal yang masih terhubung, karena ponsel akan mengarahkan suara ke sana.

Ketiga, bersihkan speaker dari debu membandel dengan sikat gigi bekas yang bersih, pipet, atau selotip. Keempat, lakukan restart. Banyak gangguan perangkat lunak yang berakhir hanya dengan langkah ini. Kalau masih gagal, coba mode aman untuk melihat apakah ada aplikasi pihak ketiga yang ikut ikut merusak audio.

Pengguna Samsung punya jalan pintas tambahan. Buka aplikasi Samsung Members, pilih fitur Diagnose, lalu uji speaker. Atau ketik kode rahasia di aplikasi telepon untuk masuk ke menu uji perangkat keras. Di laptop, perhatikan juga gejalanya. Jika headphone berfungsi normal tapi speaker internal bisu, kemungkinan masalahnya pada perangkat keras, bukan driver.

Pengguna Windows juga perlu tahu satu hal. Selama ini suara headphone bluetooth kerap terdengar jelek saat membuka aplikasi voice chat, karena sistem otomatis beralih ke mode komunikasi yang mengorbankan kualitas stereo. Update terbaru Windows memperbaiki ini dengan memisahkan jalur audio dan mikrofon, sehingga codec seperti AAC dan aptX tetap stabil.

Beli Murah Boleh, Asal Tidak Gadaikan Telinga

Tidak punya budget mahal bukan halangan. Pasar sekarang punya banyak TWS di bawah Rp100 ribu dengan baterai lumayan dan koneksi stabil. Yang wajib diingat, belilah lewat toko resmi demi garansi dan menghindari barang tiruan.

Pada akhirnya, musuh terbesar headset bukan radiasi. Kebiasaan memutar volume ke batas maksimal, menyimpan perangkat sembarangan, dan tidak pernah membersihkannyalah yang paling sering jadi penjebak. Gadgetnya tidak pernah berkhianat. Yang mengkhianati telinga kita biasanya cuma kebiasaan kita sendiri.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar