Robot LG Lipat Baju di Pameran Sementara 17 Gadget Ini Sudah Masuk Dapur Kita

LG mempertontonkan robot rumah CLOiD di CES 2026, tapi sampai sekarang tidak ada harga maupun jadwal jualnya. Bersamaan dengan itu, Modena merilis 17 perangkat IoT yang benar-benar bisa dipesan di Indonesia bulan ini.

Bagikan cerita ini:
Dapur modern dengan perangkat rumah pintar terintegrasi sebagai pusat kendali IoT di rumah

Di ajang CES 2026, LG mempertontonkan robot bernama CLOiD yang mengambil susu dari kulkas, memasukkan croissant ke oven, menyalakan mesin cuci, memindahkan pakaian ke pengering, lalu melipat dan menata semuanya. Penonton di area pameran melihat skenario rumah nyata, bukan sekadar video promosi. Tapi ketika ditanya soal harga dan kapan produk ini dijual, LG diam saja.

Itu inti masalahnya. Rumah pintar selama ini jauh lebih sering dipamerkan ketimbang ditempati. Yang menarik di tahun ini, sisi lain dari industri justru bergerak ke arah sebaliknya. Modena meluncurkan 17 perangkat Internet of Things di Jakarta awal Juni, dan sebagian besar sudah bisa dipesan langsung di kanal penjualan resmi mereka.

Robot yang Memasak dan Melipat Baju Masih Tanpa Harga

LG menyebut visi di balik CLOiD sebagai Zero Labor Home, rumah masa depan di mana beban kerja domestik ditekan seminimal mungkin. Robot ini digambarkan sebagai asisten serba bisa yang terhubung ke ekosistem LG ThinQ dan ThinQ ON, sekaligus jadi hub pintar yang bergerak memahami kebutuhan rumah secara menyeluruh.

Otak CLOiD disebut Physical AI, gabungan dari Vision Language Model dan Vision Language Action. Kombinasi ini membuatnya memahami apa yang dilihat dan didengar, lalu menerjemahkannya jadi aksi fisik. Bagian kepalanya berisi chipset, kamera, speaker, layar animasi, dan sensor untuk navigasi, pengenalan objek, hingga penghindaran hambatan.

Secara bentuk, CLOiD humanoid hanya bagian atas. Ada torso, dua lengan artikulasi, dan tangan lima jari. Setiap lengan punya tujuh derajat kebebasan, dan tiap jari bisa bergerak sendiri-sendiri sehingga bisa memanipulasi objek secara presisi. Alih-alih kaki, ia memakai basis roda rendah yang dianggap aman bergerak di sekitar manusia dan hewan peliharaan. Torsonya bisa naik-turun dan miring untuk menjangkau area rendah sampai countertop dapur.

Robot ini bisa diajak ngobrol pakai bahasa sehari-hari, menampilkan ekspresi di layar kepalanya, dan mempelajari rutinitas penghuni rumah. Tapi sekali lagi, belum ada harga dan belum ada jadwal rilis komersial.

Pertarungan Ekosistem Diam-Diam Berhenti

Sementara robot masih menjadi pertunjukan, pertarungan ekosistem di belakang layar sudah jauh lebih tenang. Tiga nama yang mendominasi pasar smart home global adalah Google Home, Apple Home, dan Amazon Alexa. Masing-masing punya karakter berbeda, dan sekarang ada standar yang membuat mereka tidak harus saling bunuh.

Google Home cocok untuk pengguna yang aktif memakai layanan Google tiap hari. Platform ini didukung Google Assistant dan mulai terintegrasi dengan Gemini AI, dengan keunggulan memahami perintah suara kompleks dan percakapan yang lebih alami.

Apple mengambil jalur berbeda, fokus pada keamanan dan privasi. Banyak proses kontrol perangkat dilakukan secara lokal tanpa harus selalu mengirim data ke server cloud. Kekurangannya, dukungan perangkat lebih terbatas dan biayanya relatif lebih tinggi.

Amazon Alexa justru unggul dari sisi jumlah. Banyak produsen menjadikan Alexa platform utama, sehingga pengguna punya lebih banyak pilihan perangkat dan harga. Sistem otomatisasi atau routines-nya juga fleksibel, bisa membuat skenario kompleks dari sensor gerak, waktu tertentu, sampai kondisi lingkungan.

Lalu datang standar Matter. Teknologi ini membuat perangkat dari berbagai merek bisa bekerja lebih mudah lintas platform tanpa terjebak di satu ekosistem. Persaingan tetap ada, tapi pembeli tidak lagi harus bertaruh seluruh rumahnya ke satu pihak.

17 Perangkat yang Benar-Benar Bisa Dipesan Bulan Ini

Robot vacuum dengan navigasi LiDAR membersihkan lantai ruang tamu secara otomatis
Foto oleh MART PRODUCTION di Pexels

Modena memamerkan total 17 produk IoT dalam acara Seamless IoT Launch di Jakarta. Nicole Jizhar, Executive Vice President Modena, menyebut ini baru langkah awal untuk membangun ekosistem yang lebih personal, cerdas, dan berkelanjutan. Sepuluh produk seperti water dispenser, LED bulb, CCTV, robot vacuum, cooker hood, dan smart panel sudah dirilis sebelumnya. Tujuh produk lain seperti air purifier, water heater, dan smart door lock baru resmi diluncurkan hari itu.

Semuanya dikendalikan lewat Modena Seamless App yang jadi pusat kendali untuk mengakses perangkat secara real-time dari mana saja.

Untuk kebersihan, ada Smart Robot Vacuum RV 3040 GXWH dan RV 3452 ITWA. Keduanya memakai navigasi multi-ruangan LiDAR dengan fitur SafePath Sensing, mampu memetakan hingga lima ruangan berbeda. Ada juga fitur Auto Empty Dustbin yang membuatnya bisa bekerja tujuh minggu tanpa perlu mengosongkan tangki debu secara manual.

Untuk udara, Smart Air Purifier AP 3667 ITWA dibekali sensor PM2.5 dan filter HEPA-13 yang mendeteksi partikel mikro seperti debu dan asap secara real-time. Fitur Smart Auto-Purifying menyesuaikan tingkat pemurnian sesuai kebutuhan. Di kamar mandi, ada Smart Instant Water Heater dengan sistem pemanas EverHeat dan pompa WhisperPump, plus storage water heater 15 liter berlapis enamel anti karat.

Di bagian keamanan, Modena merilis tiga varian CCTV. CV 1101 ITWA untuk pemantauan indoor dengan sudut pandang 360 derajat dan interaksi dua arah. CV 2101 ITWA untuk area outdoor dengan night vision dan perlindungan cuaca IP65. CV 2103 ITWA bahkan memakai panel surya dengan fitur SolarGuard.

Kunci pintu digitalnya juga tiga macam. DL 1200 ITLA punya kamera dan layar untuk melihat tamu langsung. DL 1310 ITLA memakai pengenalan wajah 3D untuk akses cepat. DL 2000 ITLA hadir dengan keypad NoTrace berbahan anti-sidik jari yang tidak menyimpan bekas sentuhan, plus alarm pembobolan. Bahkan dispenser airnya, DD 4118 BOBK, bisa memantau konsumsi air harian dan menyimpan preset suhu untuk setiap anggota keluarga.

Beberapa perangkat ini sudah bisa dipesan di kanal penjualan resmi, baik online maupun offline. Modena hanya mencatat bahwa sebagian produk baru akan tersedia di pertengahan atau akhir Juni.

Dari Konsep ke Dapur, Jaraknya Lebih Pendek dari yang Dikira

Jajaran pimpinan LG sendiri tidak menggambarkan rumah pintar sebagai kumpulan mesin. Jaeseung Kim, CEO Regional LG Electronics Asia Pasifik, memperkenalkan konsep Affectionate Intelligence di InnoFest 2026 di Busan. Intinya, kecerdasan buatan yang paham konteks kehidupan sehari-hari, belajar dari kebiasaan pengguna, dan memberi respons personal.

Pernyataannya cukup jelas. Peralatan rumah tangga bukan lagi perangkat yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem terintegrasi yang saling berkomunikasi dan beradaptasi dengan kebutuhan pengguna. Ini sejalan dengan apa yang Modena coba bangun di Jakarta, tapi dengan jalur yang berbeda. LG bicara dari atas panggung pameran, Modena bicara dari etalase toko.

Yang membuat tahun ini berbeda, hambatan klasik rumah pintar pelan-pelan hilang. Dulu pembeli dipaksa memilih satu ekosistem dan menyerahkan seluruh rumah ke satu merek. Standar Matter memotong ketergantungan itu. Sekarang seseorang bisa mulai dari satu lampu pintar, menambah robot vacuum, lalu pasang kunci digital tanpa harus mengulang pembelian dari nol.

Langkah Masuk Akal Sebelum Borong Semua Perangkat

Aplikasi di ponsel mengendalikan perangkat rumah pintar dari jarak jauh
Foto oleh Jakub Zerdzicki di Pexels

Pertama, tentukan ekosistem utama. Pengguna Android yang setiap hari memakai Gmail dan Google Maps akan paling cocok dengan Google Home. Pengguna iPhone yang mengutamakan privasi akan lebih tenang dengan Apple Home. Yang menginginkan fleksibilitas merek terbanyak akan cocok dengan Amazon Alexa.

Kedua, periksa label Matter pada kemasan. Perangkat dengan standar ini bisa bekerja lintas platform, jadi investasi tidak hangus kalau ekosistem utama diganti suatu hari.

Ketiga, mulai dari satu perangkat yang paling sering dipakai. Banyak orang langsung membeli paket pintar lengkap dan tidak pernah memakai separuh fiturnya. Robot vacuum dengan LiDAR atau lampu pintar dengan jadwal otomatis biasanya memberi manfaat yang langsung terasa.

Keempat, periksa infrastruktur dasar di rumah. Beberapa perangkat butuh Wi-Fi stabil di sudut rumah, sebagian butuh stopkontak tambahan, dan kamera outdoor butuh tempat yang terlindung dari hujan. Ini lebih sering jadi penyebab perangkat pintar berakhir di laci ketimbang kegagalan teknologinya.

Mengecek satu perangkat di rumah malam ini bukan berarti harus langsung memesan. Lihat dulu ekosistem yang sudah dipakai, cek apakah ada perangkat yang berdiri sendiri tanpa terhubung apa-apa, dan bandingkan harga di kanal resmi. Yang pasti, rumah pintar sudah lama tidak membutuhkan robot berbentuk manusia untuk mulai benar-benar bekerja.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar