Sepatu Sekolah Sering Jadi Prioritas, Padahal Tas Beratnya Mengubah Postur Anak

Belanja perlengkapan sekolah biasanya berhenti di sepatu, padahal tas yang beratnya melebihi standar itulah yang diam-diam mengubah postur anak setiap hari.

Bagikan cerita ini:
Anak sekolah berjalan membawa tas ransel yang penuh dan berat

Setiap tahun ajaran baru, urutan belanja perlengkapan sekolah hampir selalu sama. Seragam dulu, lalu sepatu, dan tas sering cuma dipilih sekadar muat. Sepatu memang yang paling bikin orang tua waswas, karena yang awet biasanya tidak murah dan yang murah sering jebol sebelum ujian pertama usai.

Padahal kalau ditanya mana yang paling sering bikin anak mengeluh sakit sepanjang hari, jawabannya jarang sepatu. Tas jadi penentu utama, dan bukan karena bahannya murah, melainkan karena beratnya yang terus menumpuk tiap hari.

Sepatu Sekolah Selalu Jadi Prioritas Pertama Orang Tua

Masyarakat sendiri sudah punya panduan. Merangkum laman Kementerian Kesehatan, Suara.com mengingatkan ukuran sepatu yang pas menyisakan ruang sekitar 1 sampai 1,5 centimeter di ujung jari agar kaki leluasa bergerak dan sepatu tidak cepat berubah bentuk. Bahan yang disarankan adalah kulit sintetis berkualitas atau kanvas yang kuat, karena selain awet juga mudah dibersihkan.

Bagian yang paling sering lupa dicek adalah jahitan dan solnya. Sol harus kuat, cengkeramannya baik, dan tetap fleksibel agar tidak mudah aus saat dipakai berlari atau naik turun tangga. Suara.com juga menyoroti sambungan antara bagian atas sepatu dan sol, karena daerah itu yang paling sering jebol pertama kali.

Untuk pelajar SMP dan SMA yang mobilitasnya tinggi, beberapa merek lokal memakai teknologi Shoes Injection Mould, di mana sol menyatu langsung dengan kain tanpa proses lem manual, sehingga klaimnya tidak bakal jebol meski kehujanan. Ada pula model dengan teknologi sol empuk dan heel tab yang ditinggikan untuk mencegah tumit lecet saat banyak bergerak.

Sepatu sekolah warna hitam yang dipakai anak setiap hari
Foto oleh hung chou di Pexels

Setelah dapat sepatu yang bagus, perawatannya menentukan umurnya. Suara.com mencatat kanvas yang kotor harus dibersihkan rutin dan sepatu wajib dikeringkan dengan benar setelah terkena air. Mengeringkan dengan cara salah, seperti dijemur dengan angin kencang langsung, justru bikin bahan mengeras dan sol makin cepat lepas dari badan sepatunya.

Tas yang Beratnya Diam-Diam Mengubah Postur Anak

Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Sarjoko mengungkapkan angka yang seharusnya bikin semua orang tua jentikan jarinya. Menurut standar internasional, beban tas sekolah tidak boleh melebihi 10 hingga 15 persen berat badan anak. Faktanya, beban tas pelajar saat ini sudah mencapai hampir 20 persen dari berat badan siswa.

Dampaknya bukan sekadar lelah. Beban berat itu menyebabkan nyeri bahu dan punggung, dan menurut Sarjoko dalam acara Education, Ergonomics and Innovation Symposium 2026, juga menjadi ancaman bagi pertumbuhan tulang belakang peserta didik. Selama ini, katanya, masih ada gap besar yang belum tersentuh soal ergonomi fisik anak di sekolah.

Artinya, tas yang ringan, taliyangnya lebal dan menopang bahu dengan rata, jauh lebih mendesak daripada sepatu merk. Kamu bisa bilang sepatu anak sudah paling mahal di kelas, tapi kalau tasnya menyeret postur tubuhnya ke arah bungkuk, sepatu itu tidak akan menyelamatkan susukan tubuhnya.

Aturan Seragam Punya Detail yang Sering Dilupakan

Banyak orang tahu seragam baru di jenjang baru, tapi jarang yang hafal aturannya. Berdasarkan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2022 yang dirangkum detikcom, siswa SD memakai kemeja putih dan celana atau rok merah hati, siswa SMP putih dengan biru, dan siswa SMA putih dengan abu-abu. Seragam nasional wajib dipakai minimal setiap Senin dan Kamis serta saat upacara bendera, lengkap dengan topi pet berlogo Tut Wuri Handayani dan dasi.

Kaos Kaki Putih dan Sepatu Hitam Punya Aturan Ketat

Detailnya lebih ketat dari yang dibayangkan. Kaos kaki harus putih polos dengan panjang minimal 10 centimeter di atas mata kaki, sepatu wajib hitam, kemeja dimasukkan ke celana, dan dilengkapi ikat pinggang hitam lebar 3 centimeter. Celana pendek diatur 5 centimeter di atas lutut, sementara untuk yang berkerudung, kemeja harus lengan panjang dengan rok panjang dan jilbab putih. Kelalaian detail kecil ini sering jadi alasan anak ditegur di upacara padahal perlengkapan lainnya sudah lengkap.

Buku Tipis dan Pensil Rapuh Lebih Sering Menyerah

Guru sekolah dasar Velti memberi saran yang mungkin tidak terlintas sama sekali. Menurutnya, anak kelas 1 dan 2 SD umumnya belum punya kontrol tekanan pensil yang stabil saat menulis. Kalau kertas buku terlalu tipis, halamannya sangat rentan robek akibat gesekan pensil atau saat anak memakai penghapus. Karena itu, ia menyarankan orang tua memilih buku folio dengan lembaran tebal.

Dampaknya ke catatan pelajaran. Dengan buku yang kokoh, materi dari guru bertahan lebih lama, tidak berceceran, dan kerapiannya tetap terjaga, sehingga anak lebih mudah membaca ulang materinya di rumah.

Soal serutan pensil, ada pelajaran ekstrem dari tempat yang paling jauh dari ruang kelas. detikcom menulis, astronaut dan kosmonaut awalnya memakai pensil di luar angkasa, tapi beralih ke pulpen karena ujung pensil bisa patah dan serutan mengambang bebas. Partikel kecil yang tersangkut di mesin halus adalah bahaya besar di kapal luar angkasa, hingga akhirnya dipakai pulpen dengan kartrid tinta bertekanan yang diperkenalkan pada misi Apollo 7 tahun 1968.

Buku tulis dan alat tulis anak tergeletak di meja belajar
Foto oleh Kampus Production di Pexels

Di kelas, serutan pensil memang tidak akan menjatuhkan pesawat. Tapi kebiasaan menyerut sembarangan dan membiarkan serutan berserakan bikin meja belajar cepat kotor dan buku makin cepat lusuh. Serut di tempat sampah kecil, dan biasakan anak memperlakukan perlengkapan sebagai barang kerja, bukan mainan sekali pakai.

Merawat Lebih Murah Daripada Mengganti Semuanya

Anak kecil dan coretan dinding memang pasangan yang tak terpisahkan. Kompas.com merangkum solusinya: buat pasta dari soda kue dan air dengan perbandingan kira-kira dua banding satu, lalu gosokkan memakai kain mikrofiber kering dengan gerakan memutar yang lembut dan berulang. Pasta gigi juga bisa dipakai untuk kasus yang ringan.

Yang harus dihindari justru niat baik yang salah arah. Menggosok kuat memakai spons abrasif atau bahan kimia keras memang terlihat efektif, tapi bisa ikut mengangkat lapisan cat dan merusak permukaan dinding. Dinding yang awet sekali dibersihkan dengan lembut, bukan dikerok dengan tenaga penuh.

Perlengkapan bekas pun masih bisa berbicara. Kompas.com melaporkan PT Datascrip mengumpulkan botol tinta plastik bekas lalu mendaur ulangnya menjadi meja tulis lipat bersama ATMI Recycle Studio, kemudian membagikannya untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera lewat Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta. Titik pengumpulannya sendiri tersebar di Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Bandung.

Terakhir, soal bekal. Profesor Stanford Karl Deisseroth, peraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2026, mengisi hari pertamanya setelah pengumuman dengan mewawancarai wartawan sejak pagi, lalu pulang dan membuat enam roti lapis untuk anak-anaknya yang akan berangkat sekolah. Bekal bukan urusan sepele, bahkan bagi orang yang baru saja menerima penghargaan tertinggi di dunia sains.

Jadi sebelum ngotot menambah budget sepatu, cek dulu berapa berat tas anakmu dalam persen dari berat badannya. Sepatu paling mahal di kelas tidak akan banyak gunanya kalau bahu yang membawanya sudah membungkuk duluan.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar

Lihat kategori Tips ↗