Spons Cuci Piring Bersih itu Penipuan Terbesar di Dapur Kamu

Spons cuci piring bisa jadi benda paling kotor di rumahmu, lebih kotor dari kloset, karena busa berporinya adalah rumah susun bagi 54 miliar bakteri per sentimeter kubik.

Bagikan cerita ini:
Spons cuci piring basah di tepi wastafel dapur, ilustrasi kebersihan perkakas dapur

Setiap habis makan, kamu ambil spons itu, kasih sabun, lalu gosok-gosok piring sampai berkilau. Sponsnya terlihat bersih, berbusa, dan wangi. Padahal, penelitian mikrobiologi mengatakan hal sebaliknya: benda yang kamu pakai untuk membersihkan ini justru barang paling kotor di seluruh rumahmu.

Bukan sekadar kotor, tapi kotor sampai tingkat yang biasanya cuma ditemukan di sampel tinja manusia. Kalau kamu masih merasa spons itu aman karena selalu berbau sabun jeruk nipis, anggap saja kamu sudah ditipu oleh penampilan berbusa yang bersih.

54 Miliar Bakteri dalam Seukuran Satu Dadu Kecil

Pada 2017, ahli mikrobiologi Markus Egert dari Universitas Furtwangen meneliti spons dapur bekas dan menemukan 362 spesies mikroba berbeda di dalamnya. Kepadatannya mencapai 5,4 kali 10 pangkat 10 sel per sentimeter kubik, atau sekitar 54 miliar bakteri dalam potongan spons seukuran dadu kecil. Egert sendiri mengibaratkannya seperti sampel tinja manusia, seperti dilansir BBC Indonesia dan CNN Indonesia.

Kenapa bisa sesegar itu? Spons dibuat berpori, dan justru di situlah letak masalahnya. Lingchong You, ahli biologi sintetis dari Duke University, memodelkan struktur spons dan menemukan bahwa beragam ukuran pori mendorong pertumbuhan mikroba paling banyak. Ada bakteri individualis yang suka tumbuh sendiri, ada yang butuh teman, dan setiap pori menyediakan kamar untuk semuanya. Spons dapur pada dasarnya adalah rumah susun untuk mikroba.

Setiap kali piring digosok, serpihan makanan, protein, karbohidrat, dan lemak tersangkut di serat spons. Ditambah lagi lingkungan yang terus hangat dan lembap, lengkaplah sudah kondisi ideal untuk jamur, ragi, dan bakteri tumbuh subur, seperti dijelaskan Tirto.

Tangan mencuci piring kotor dengan spons dan sabun di bawah air mengalir
Foto oleh MART PRODUCTION di Pexels

Yang lebih menjengkelkan, lima dari sepuluh bakteri dominan yang ditemukan termasuk kelompok yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia. Sebut saja Salmonella, Staphylococcus aureus, Shigella, hingga Proteus. Bakteri-bakteri ini tidak cuma nempel, tapi membentuk biofilm di dalam rongga spons, lapisan pelindung yang membuatnya jauh lebih sulit dibasmi.

Semakin Sering Dibersihkan, Semakin Bandel yang Tersisa

Nah, ini bagian paling menyebalkan. Kamu mungkin berpikir merebus spons, atau memanaskannya di microwave, akan menyelesaikan masalah. Penelitian justru menunjukkan kebalikannya. Spons yang rutin dibersihkan terkadang didominasi bakteri yang lebih tahan terhadap stres atau proses disinfeksi. Membunuh bakteri lemah hanya menyisakan bakteri bandel yang berhasil bertahan.

dr Adam Prabata, dokter sekaligus edukator kesehatan, memperingatkan hal serupa. Dia menjelaskan membersihkan spons pada akhirnya adalah proses seleksi alamiah. Yang lemah mati, yang paling bandel tetap hidup dan merebut seluruh spons untuk dirinya sendiri.

Sementara itu, RRI mengutip studi Jurnal Pustaka Medika 2023 yang meneliti sampel spons dari tiga rumah makan di Palembang. Hasilnya, spons yang dipakai lebih dari empat minggu positif mengandung bakteri berbahaya seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Salmonella sp. Bakteri-bakteri ini tinggal di spons dan ikut tercuci ke setiap piring yang kamu cuci.

Risiko Real di Dapur Sehari-hari

Kontaminasi Silang adalah Masalah Utama

Studi dari Jepang menemukan dapur atau ruang makan adalah area dengan tingkat kontaminasi bakteri tertinggi kedua di rumah, setelah kamar mandi. Dan di antara semua benda di dapur, wastafel dan spons cuci piring menampung bakteri paling banyak, jauh melebihi kloset itu sendiri. Kumparan bahkan mengungkapkan bahwa spons cuci piring bisa 200 ribu kali lebih kotor dibanding dudukan kloset.

Mekanismenya sederhana. Spons yang basah dan lembap menyentuh piring kotor, lalu menyentuh piring yang sudah bersih, meja, hingga tanganmu. Bakteri berpindah dari satu permukaan ke permukaan lain tanpa kamu sadari. Satu-satunya cara efektif meminimalkan kontaminasi silang adalah memisahkan spons untuk piring dan spons untuk permukaan dapur, serta membilas sisa makanan dulu sebelum dicuci.

Mikroplastik yang Ikut ke Perutmu

Selain bakteri, ada masalah lain yang baru terungkap. Studi terbaru dari Universitas Bonn yang dimuat di jurnal Environmental Advances menemukan bahwa spons melepaskan partikel mikroplastik saat dipakai mencuci piring. Setiap orang diperkirakan melepaskan 0,68 hingga 4,21 gram mikroplastik per tahun hanya dari kegiatan ini.

Angka per orang memang terdengar kecil, tapi di Jerman saja akumulasi bisa mencapai 355 metrik ton per tahun. iNews melaporkan praktisi lingkungan Bang Sap menjelaskan, partikel plastik super kecil ini menempel pada piring dan akhirnya masuk ke makananmu. Matamu memang tidak bisa melihatnya, tapi jumlahnya tidak sedikit dan makin lama dipakai makin parah.

Piring bersih di rak pengering dan kain dapur tergantung kering di bawah sinar matahari
Foto oleh cottonbro studio di Pexels

Cara Mengakhiri Penipuan Bersih Ini

Langkah pertama paling jitu: ganti spons secara berkala. Popmama melaporkan dr Miza Afrizal, Sp.A, menganjurkan penggantian setiap tiga minggu sampai sebulan sekali, sementara dr Adam Prabata menyarankan lebih agresif, yakni setiap satu minggu sekali. RRI menambahkan, berdasarkan studi Palembang, empat minggu adalah waktu aman sebelum spons benar-benar berubah jadi sarang bakteri.

Setelah dipakai, peras spons sampai benar-benar kering, lalu simpan di tempat kering dan berudara. Jangan biarkan terendam di dalam air atau air sabun semalaman. Kondisi kering adalah musuh terbesar bakteri, dan spons yang selalu basah akan cepat berubah jadi inkubator penyakit.

Untuk lap dapur, Kompas.tv melaporkan studi yang menemukan 100 persen lap dapur terkontaminasi bakteri, beberapa bahkan lebih kotor dari kloset. Cuci lap setidaknya dua kali seminggu dengan satu cangkir cuka putih suling tanpa detergen, atau rebus dengan dua hingga tiga sendok baking soda sampai air mendidih. Alternatif lainnya adalah campuran lemon dan cuka sebagai pembersih organik.

Kalau lap dapur sudah berminyak membandel, Fimela merangkum trik dari YouTube CookEasyAndDelicious: rendam seharian dalam air suhu ruang yang sudah dicampur 2 sendok detergen bubuk, 1 sendok sabun cuci piring, 2 sendok baking soda, dan cuka secukupnya. Gosok dengan sikat kain, bilas, lalu jemur. Tidak perlu air panas sama sekali.

Terakhir, pilih spons dengan kandungan plastik lebih rendah atau berbahan alami. Studi Bonn menegaskan jenis ini melepaskan mikroplastik jauh lebih sedikit, dan memperpanjang masa pakai spons juga membantu mengurangi jejak lingkungan. Sebagai catatan, 85 hingga 97 persen total dampak lingkungan dari mencuci piring manual justru berasal dari konsumsi air, bukan mikroplastiknya, jadi hemat air juga tetap penting.

Bersih itu Sekadar Penampilan Berbusa

Spons yang berbusa, berbau sabun, dan terlihat mulus bukan jaminan bersih. Benda itu bisa saja menampung miliaran bakteri sekaligus melepaskan mikroplastik ke setiap piring yang kamu cuci. Mengganti spons secara berkala, menjaganya tetap kering, dan mencuci lap dapur dua kali seminggu adalah langkah kecil yang dampaknya besar.

Mungkin selama ini kamu merasa sudah sangat bersih saat mencuci piring. Kenyataannya, kamu mungkin baru saja membersihkan piring dengan salah satu benda paling kotor yang pernah ada di rumahmu.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar

Lihat kategori Tips ↗