Setelan 16 Derajat Dianggap Penyelamat Tengah Terik, Padahal Kompresornya yang Digebuki

Banyak yang yakin makin rendah angka di remote, makin cepat ruangan dingin. Angka 16 derajat jadi andalan, padahal yang kerja keras tanpa henti justru kompresor AC-nya.

Bagikan cerita ini:
Tangan menyetel suhu AC lewat remote, keputusan kecil yang menentukan berat kerja kompresor

Cuaca panas beberapa pekan ini memang bikin AC seolah jadi penyelamat. Pulang kerja, kamar masih mengap, dan reflek paling natural adalah merebut remote, menekan panah bawah sampai ketemu angka 16. Perasaannya, makin rendah angkanya, makin cepat kesegaran datang. Sayangnya cara kerja AC nggak mengikuti perasaan itu.

Angka di Remote Itu Target, Bukan Kecepatan Angin

Toto Sukisno, dosen Pendidikan Teknik Elektro di Universitas Negeri Yogyakarta, sudah berulang kali menjelaskan hal ini. Angka yang ditunjuk remote adalah suhu target yang ingin dicapai ruangan, bukan seberapa dingin angin yang dikeluarkan indoor unit. Jadi ketika disetel 16, AC bukannya meniup embun beku, melainkan disuruh mengejar target yang mustahil dicapai di kamar biasa.

Kompresor lalu bekerja terus-menerus, nggak pernah istirahat, karena sensor selalu melaporkan ruangan masih terlalu panas. Efeknya berlapis: konsumsi listrik melonjak, usia kompresor pendek, dan ruangan tetap saja nggak sedingin yang dibayangkan. Toto menyebut rentang nyaman tubuh manusia ada di 22 sampai 26 derajat, dan setelan ideal yang ia sarankan ada di angka 24.

Sebuah unggahan TikTok soal bahaya setelan 16 derajat sempat ditonton lebih dari 350 ribu kali dan menuai sekitar 160 komentar. Di video itu, pengunggah mengaku tagihannya naik sampai Rp300 ribu dalam sebulan hanya gara-gara salah setting AC. Angka yang besar untuk sebuah kebiasaan yang dianggap sepele.

Unit indoor AC menempel di dinding putih ruangan, sumber udara sejuk di rumah
Foto oleh Max Vakhtbovych di Pexels

Beban Kompresor Makin Berat Saat Kotoran Menumpuk

AC yang jarang disentuh perawatannya membuat masalah ini berlipat ganda. Filter yang dipenuhi debu menghambat aliran udara, evaporator berjamur, dan kompresor harus berhutang tenaga ekstra hanya untuk mempertahankan suhu yang sama. Akian, teknisi AC berpengalama asal Sungailiat yang menjadi narasumber di RRI, menyebut efeknya langsung: kerja kompresor makin berat, dan konsumsi listrik naik jauh lebih tinggi.

Survei kecil yang pernah dijalankan seorang teknisi di Kompasiana menemukan hanya 30 persen responden yang rutin membersihkan AC-nya. Sisanya mengaku jarang atau bahkan tidak pernah servis. Padahal membersihkan filter adalah langkah paling murah, paling cepat, dan langsung ketagihan hasilnya. Sekali cuci, hembusan angin kembali lega dan beban kompresor turun.

Mitos Kedua, AC Dimatikan Lalu Dinyalakan Lagi Dianggap Lebih Hemat

Ada kepercayaan lain yang penyebarannya nyaris sama luas. AC dimatikan saat ruangan sudah terasa sejuk, lalu dinyalakan lagi panasnya mulai mengganggu. Niatnya hemat, kenyataannya boros. Setiap kali AC dinyalakan dari kondisi mati, sistem butuh daya besar untuk mendinginkan ruangan dari nol, dan kompresor bekerja penuh sampai target suhu tercapai.

Toto memberi ilustrasi yang mudah dibayangkan. Pada AC konvensional, kompresor akan mati setelah suhu stabil dan menyala lagi saat suhu naik. Kalau kebiasaan mati-nyala dilakukan terus-menerus, kompresor harus selalu mengulang proses dari awal, dan energi yang terbuang jauh lebih banyak daripada membiarkannya stabil. Survei yang sama menyebut banyak responden justru percaya AC mati-nyala lebih hemat, padahal sebaliknya.

AC Inverter dan Low Watt Tidak Sama Persis

Bahas soal inverter, banyak yang lupa bahwa AC low watt dan AC inverter adalah dua benda berbeda. Muhammad Nizam dari Universitas Sebelas Maret Solo menjelaskan bahwa AC low watt pada dasarnya adalah AC konvensional yang dirancang supaya konsumsi dayanya lebih rendah. Cara kerjanya tetap sama, kompresor hidup dan mati bergantian. Inverter beda, kompresornya menyesuaikan kecepatan kerja dengan kebutuhan pendinginan.

Toto memperkirakan penghematan inverter dibanding AC konvensional bisa 30 sampai 50 persen, dan beberapa spesifikasi produk menyebut sampai 60 atau 70 persen. Tapi Nizam memberi penanda penting, inverter baru terasa hematannya kalau dipakai rutin dan jangka panjang. Untuk pemakaian yang hanya sesekali, AC low watt tetap lebih masuk akal.

Tagihan listrik rumah tangga, akibat langsung dari kebiasaan pakai AC sehari-hari
Foto oleh Francesco Ungaro di Pexels

Langkah Kecil yang Bisa Dimulai Malam Ini

Tidak perlu langsung beli unit baru atau panggil teknisi. Beberapa kebiasaan sederhana bisa segera dicoba. Pertama, pindahkan setelan ke kisaran 24 sampai 26 derajat, area di mana tubuh masih terasa nyaman dan kompresor mendapat jatah istirahat. Kedua, tutup rapat pintu dan jendela saat AC menyala, dan perlengkap dengan kipas agar udara dingin menyebar merata. Ketiga, cek kapan terakhir kali filter dibersihkan.

Dan Dugan, pemilik Dugan Air Heating and Cooling, menambahkan trik lain yang sering terlewat, yaitu menutup tirai blackout tebal atau yang punya lapisan termal. Gorden jenis ini mampu memblokir masuknya panas matahari sampai 30 persen, sehingga ruangan tidak dipanaskan dari luar dan AC bisa menjalankan tugasnya dengan lebih ringan.

Tyler Lewis, pendiri Air Master HVAC and Electrical, punya catatan soal mode eco. Fitur ini bisa memangkas penggunaan energi sekitar 20 sampai 30 persen, tapi paling pas dipakai saat suhu luar sedang dan tidak ekstrem. Saat cuaca sedang sangat panas, mode eco justru membuat suhu ruangan sering berfluktuasi, dan AC bekerja lebih lama tanpa hasil yang maksimal.

Malam ini, sebelum tidur, ada baiknya remote AC dilihat sekali lagi. Kalau angkanya masih 16, coba naikkan ke 24 atau 26. Ruangan tetap terasa sejuk, tagihan tidak ikut merangkak naik, dan kompresor mendapatkan istirahat yang sudah lama menjadi haknya.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar