Smartwatch Makin Suka Pergi Tanpa HP, tapi yang Teriak Justru Baterainya

eSIM bikin jam tangan pintar bisa telepon dan chat tanpa HP, tapi ketahanan baterai langsung anjlok separuh. Inilah pertukaran nyata yang jarang dibahas pabriknya.

Bagikan cerita ini:
Smartwatch dilengkapi eSIM dipakai di pergelangan tangan untuk telepon mandiri tanpa HP

Xiaomi Watch S5 baru saja diluncurkan di China pada 19 Maret 2026 lalu, dan yang paling ramai dibicarakan bukan layarnya. Varian eSIM-nya memungkinkan kamu nelpon dan balas pesan tanpa HP tersambung, sesuatu yang dulu cuma bisa diandalkan dari jam tangan kelas atas. Tapi begitu fitur itu dinyalakan, ada satu hal yang langsung berubah drastis di pergelangan tangan kamu.

eSIM Jadi Senjata Andalan, Bukan Sekadar Aksesoris

Tren ini bukan isu satu produk. Oppo baru saja meresmikan Watch X3 pada Selasa 17 Maret 2026, dibingkai titanium kelas kedirgantaraan, dengan eSIM sebagai fitur andalan untuk telepon dan pesan mandiri. Vivo bahkan lebih seru lagi. Vivo Watch 5 bisa nyambung ke dua HP sekaligus, jadi kamu bisa terima notifikasi dari nomor kerja dan nomor pribadi tanpa bolak-balik ganti koneksi.

Dari sisi harga, memang masuk akal kenapa eSIM jadi daya tarik utama. Vivo Watch 5 versi standar dibanderol 799 yuan atau sekitar Rp 1,8 juta, sementara versi eSIM dijual 999 yuan atau Rp 2,3 juta. Selisihnya cuma Rp 500 ribuan. Bandingkan dengan Galaxy Watch4 46 mm LTE yang dulu dilempar Rp 6 juta, atau iQOO Watch versi eSIM yang tercatat Rp 2,8 juta. Tiba-tiba fitur telepon mandiri di jam tangan terasa terjangkau.

Smartwatch dengan sensor kesehatan dan pelacakan kebugaran di pergelangan tangan
Foto oleh Pixabay di Pexels

Baterai yang Jadi Pembayar Mahal

Ini bagian yang jarang dibahas pabrik di sesi peluncuran. Nyalakan eSIM dalam mode mandiri, dan ketahanan baterai anjlok jauh dari klaim iklan. Vivo sendiri terbukti jujur soal ini. Mereka mengklaim Vivo Watch 5 mampu bertahan 22 hari dalam mode Bluetooth saja. Aktifkan eSIM dengan koneksi dua perangkat, angkanya turun ke 14 hari. Lepas dari HP sepenuhnya alias mode mandiri, sisanya cuma 7 hari. Dari 22 ke 7 hari dalam sekejap.

Xiaomi Watch 5 menarik perbandingan yang serupa. Dilengkapi baterai 930 mAh dan klaim tahan 6 hari untuk penggunaan normal, atau 18 hari di mode hemat daya. Tapi angka itu tentu saja tidak kamu dapat jika koneksi seluler eSIM terus menyala. Chipset ganda Snapdragon W5 dan Hengxuan 2800 emang dirancang untuk menyeimbangkan performa dan efisiensi daya, tetapi radio seluler tetaplah radio seluler. Dia butuh daya konstan untuk berkomunikasi dengan menara BTS.

Yang lebih menarik, Xiaomi Watch S5 justru mengklaim ketahanan 21 hari pada varian eSIM-nya. Angka yang terdengar terlalu bagus jika dibandingkan kompetitor. Penjelasannya ada pada kapasitas 815 mAh dan optimalisasi sistem HyperOS. Tapi klaim vendor selalu punya bintang peringatan kecil. Angka 21 hari itu umumnya diukur dengan pemakaian minimal, bukan saat kamu bertelepon-teleponan atau pakai data seluler untuk navigasi.

Jadi kalau kamu suka lupa menaruh HP di dekat tubuh, eSIM memang penyelamat. Tapi setiap kali sinyal seluler diaktifkan, ada tagihan listrik kecil yang terus berjalan diam-diam.

Smartwatch sedang diisi daya di dock pengisi magnetik
Foto oleh Dario Fernandez Ruz di Pexels

Bukan Cuma Soal Baterai, Tapi Juga Ekosistem

eSIM di smartwatch sekarang tidak lagi cuma untuk nelpon. Vivo Watch 5 versi eSIM bahkan bisa dipakai untuk membuka pintu kendaraan listrik BYD dan menyalakan AC dari jauh. Xiaomi Watch S5 terintegrasi langsung dengan mobil listrik SU7 dan YU7. Oppo Watch X3 melengkapinya dengan NFC untuk pembayaran digital dan kartu transportasi. Jam tangan pelan-palan berubah jadi remote control untuk seluruh hidup digital kamu.

Sayangnya, ekosistem ini belum bisa kamu pakai sepenuhnya di Indonesia. Vivo Watch 5 baru dipasarkan terbatas di China bersamaan dengan HP lipat Vivo X Fold 5. Xiaomi Watch 5 dan Oppo Watch X3 juga sama, baru tersedia di pasar China. Samsung sendiri punya cerita berbeda. Mereka justru memilih membawa varian Galaxy Watch tanpa eSIM ke Indonesia, keputusan yang sempat mengundang pertanyaan banyak pengguna.

Lalu Apakah Patut Dibeli Saat Masuk Indonesia?

Pertanyaannya bukan apakah teknologinya siap. eSIM di smartwatch sudah matang dan lumrah dipakai. Pertanyaan yang lebih jujur adalah apakah kamu benar-benar butuh berpisah dari HP. Kalau kamu selalu membawa HP di tas atau saku, eSIM di smartwatch cuma jadi fitur pajangan yang menggerus baterai.

Sebaliknya, kalau kamu sering berolahraga di luar dan bawa HP dirasa merepotkan, atau sering bolak-balik ke dapur dan ruang server kantor tanpa HP, kemampuan telepon mandiri ini terasa seperti air di tengah gurun. Apalagi dibanderol dengan selisih harga yang tidak terlalu jauh dari versi biasa.

Hitung Kebutuhan Sebelum Ajak Teman Beli

Cek dulu operator seluler kamu, apakah sudah mendukung paket eSIM untuk perangkat wearable. Tidak semua operator di Indonesia menyediakannya, dan yang menyediakan sering mematok biaya tambahan per bulan.

Kedua, pahami pola pengisian daya kamu. Smartwatch dengan eSIM butuh pengisian lebih sering. Xiaomi Watch 5 mengisi penuh lewat dok magnetik, dan Vivo Watch 5 memerlukan sekitar dua jam untuk pengisian penuh. Kalau kamu termasuk orang yang lupa mengecas sampai jamnya mati, kemungkinan besar fitur telepon mandiri akan sering tidak bisa kamu pakai saat paling dibutuhkan.

Ketiga, lihat ekosistem mobil dan rumah pintar yang sudah kamu miliki. Kalau kamu belum punya kendaraan listrik BYD atau Xiaomi, fitur kunci pintu jarak jauh yang menjadi salah satu daya tarik utama eSIM tidak akan bisa dimanfaatkan.

Akhirnya, perangkat ini memang membuktikan bahwa jam tangan pintar kini punya nyawa sendiri, terpisah dari HP di saku kamu. Tapi seperti halnya kemandirian pada umumnya, ada harga yang harus dibayar, dan dalam hal ini harganya diukur dalam hari ketahanan baterai.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar