Suara Anakmu di Telepon Terdengar Panik, Padahal yang Menelpon Bukan Dia

Seorang warga Malang kehilangan Rp80 juta setelah menelpon suara teman dekatnya sendiri. Suara itu hasil kloning AI, dan korban menyerahkan uangnya dengan sukarela.

Bagikan cerita ini:
Ilustrasi panggilan telepon palsu yang menyamar menggunakan suara hasil kloning AI

Kantor OJK Malang membongkar satu kasus pada Jumat 2 Oktober 2026. Seorang warga di Malang Raya mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Di ujung telepon, suara teman dekatnya terdengar panik dan meminta bantuan uang. Korban percaya penuh karena suaranya identik, lalu mentransfer uangnya. Kerugian mencapai Rp80 juta.

Yang menelpon bukan temannya. Suara itu hasil kloning AI. Kepala OJK Malang Faried Faletehan menjelaskan pelaku mempelajari kebiasaan, hobi, dan pola percakapan targetnya di media sosial sebelum membuat tiruan suara yang sangat presisi. Kerabat sendiri yang menerima telepon tidak lagi bisa membedakan mana suara asli dan mana hasil rekayasa mesin.

Cukup Tiga Detik Rekaman, Suaramu Bisa Diciutkan Jadi Senjata

Cara kerja modus ini nyaris terlalu sederhana. Satgas PASTI mencatat penipu menelepon sampai korban mengangkat, lalu diam-diam merekam suara korban selama tiga sampai sepuluh detik. Rekaman singkat itu diolah AI menjadi versi digital yang bisa ditiru kapan saja. Suara versi digital inilah yang dipakai menelpon orang terdekat korban sambil meracik situasi darurat palsu.

Modus ini punya banyak nama. Satgas PASTI menyebutnya AI Voice Spoofing, dan dikenal juga sebagai vishing, deepfake audio scam, atau AI-powered impersonation. BCA memperingatkan bahwa orang yang suaranya dicuri sering tidak sadar identitasnya sudah disalahgunakan. Mereka baru tahu setelah kerabatnya menelepon dan bertanya kenapa minta uang mendadak.

Ada beberapa ciri yang bisa dikenali. Suara hasil kloning sering punya jeda aneh sebelum menjawab, respons tidak natural, dan tidak bisa menjawab hal spesifik. Irama bicaranya terlalu stabil, seolah dibaca dari naskah, dan kadang muncul distorsi halus yang tertangkap kalau kita benar-benar fokus.

Nomor di Layar Layaknya Milik Kerabat, Suaranya Pun Hasil Rekayasa

Kloning suara hanya separuh perangkapnya. Penipu juga memanipulasi jaringan memakai perangkat lunak berbasis internet agar nomor yang muncul di layar persis seperti nomor asli milik anggota keluarga, teman, atau atasan. Korban melihat nama orang yang dikenal di layar, mendengar suara orang yang dikenal, dan akhirnya menyerahkan uangnya.

Kombinasi spoofing nomor dan kloning suara inilah yang Google sebut sebagai impersonation scams. Google mengumumkan fitur deteksi telepon palsu yang ditanamkan langsung pada aplikasi Phone by Google. Jika kedua pihak memakai aplikasi itu, keduanya saling berkomunikasi secara senyap di latar belakang untuk mengonfirmasi panggilan benar-benar terjadi di antara dua perangkat keras. Proses ini lewat jaringan RCS yang dilindungi enkripsi ujung-ke-ujung.

Saat penipu menyamar lewat trik spoofing, sinyal konfirmasi dari smartphone asli penelepon akan hilang. Aplikasi langsung memunculkan peringatan bahaya secara real-time di layar. Fitur ini aktif otomatis, bisa dimatikan lewat menu pengaturan, dan mulai digulirkan untuk perangkat Android 12 ke atas. Pengguna Samsung, Xiaomi, atau Oppo tetap bisa memanfaatkannya dengan mengunduh aplikasi Phone by Google gratis dari Play Store lalu menjadikannya aplikasi telepon default.

Ilustrasi panggilan video di mana wajah pengirim bisa direkayasa teknologi deepfake
Foto oleh Edward Jenner di Pexels

OJK Terdesak, Industri Fintech Angkat Tangan

Kasus Malang bukan kejadian tunggal. Faried menyebut penipuan berbasis AI secara nasional pada 2026 melonjak menembus lebih dari 1.300 kasus. Pengaduan ke OJK Malang antara Januari hingga Juli 2026 mencapai 2.300 laporan, dan 21 sampai 22 persennya adalah kasus penipuan. Grafik penipuan tahun ini membengkak hampir 50 persen dibanding periode sebelumnya.

OJK sendiri mengakui mulai terdesak. Ketua Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi menyebut penipu kini mampu memalsukan identitas, suara, hingga wajah seseorang. Korban merasa sedang berkomunikasi dengan kerabat atau rekan kerja yang dipercaya, padahal identitas itu sudah direkayasa.

Karakteristiknya membuatnya semakin sulit dibendung. Pada kejahatan fisik, korban kehilangan harta karena dipaksa. Pada penipuan digital, korban justru menyerahkan uang dan datanya secara sukarela karena sudah percaya. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, layanan Indonesia Anti Scam Centre OJK menerima lebih dari 668 ribu laporan, dan dana korban yang berhasil dibekukan mencapai Rp771,2 miliar.

Fintech Sedang Borong AI, Celah Palsu Ikut Terbuka

Di sisi industri, AFTECH Annual Members Survey 2025-2026 mencatat 84 persen anggota asosiasi sudah mengadopsi AI dalam proses bisnisnya. Niki Luhur, founder dan Group CEO VIDA sekaligus anggota pengawas AFTECH, menyoroti bahwa kemudahan akses tools AI membuat praktik impersonasi memakai deepfake semakin meyakinkan, terutama saat onboarding pengguna secara remote dan autentikasi transaksi.

Ancaman deepfake tidak hanya berupa manipulasi visual di depan kamera. Niki menyebut serangan injeksi, yaitu manipulasi yang disisipkan ke aliran data saat verifikasi identitas melalui kamera virtual. Bentuknya beragam, mulai dari wajah sintetis yang dibuat dari foto KTP atau swafoto yang beredar luas, video tukar wajah, hingga rekaman proses verifikasi asli yang diputar ulang untuk meniru pengguna sah.

Dua Pertahanan Praktis yang Bisa Mulai Hari Ini

Herman Tolle, dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, meminta masyarakat membatasi kebiasaan membagikan seluruh sisi kehidupan pribadi di media sosial. Data suara, rekaman video, daftar teman dekat, hingga hobi yang diunggah terbuka menjadi bahan baku utama bagi penipu untuk melatih mesin AI. Kurangi oversharing, dan penipu kehilangan bahan bakunya.

Kedua, lakukan konfirmasi ganda. Herman menegaskan kunci proteksi mandiri adalah verifikasi ulang ke nomor lama setiap kali ada kerabat yang meminta bantuan keuangan mendadak. Friderica mengingatkan jangan pernah membagikan OTP, PIN, maupun kata sandi kepada siapa pun, termasuk yang mengaku berasal dari bank atau orang yang dikenal.

Ilustrasi pengguna memverifikasi ulang permintaan transfer lewat aplikasi pesan
Foto oleh cottonbro studio di Pexels

BCA menambahkan beberapa langkah pencegahan untuk panggilan asing. Telepon dari nomor tidak dikenal sebaiknya tidak langsung diangkat. Kalau terpaksa menjawab, segera tutup telepon dan hubungi orang-orang terdekat untuk mengingatkan mereka waspada terhadap telepon dari nomor tidak dikenal yang memakai suaramu. Mengaktifkan fitur privasi pemblokir nomor tidak dikenal juga membantu mempersempit pintu masuk.

Teknologi Pelindung Mulai Berdatangan, tapi Bukan Pengganti Kewaspadaan

YouTube sudah memperluas fitur deteksi kemiripan wajah untuk seluruh pengguna berusia 18 tahun ke atas. Sistem yang dikembangkan selama dua tahun ini memindai wajah dan diverifikasi dengan identitas resmi, lalu dicocokkan dengan konten video yang beredar. Kalau sistem mendeteksi kemiripan wajah, pengguna mendapat notifikasi lewat YouTube Studio dan bisa meninjau serta melaporkan konten yang dianggap melanggar privasi.

Fitur ini tidak langsung menghapus semua video yang memuat wajah kita. YouTube hanya membantu proses pemantauan dan mempermudah pengajuan laporan. Sebelumnya akses ini hanya diberikan kepada kreator, musisi, atlet, jurnalis, dan tokoh publik tertentu sejak September 2025.

Perangkatnya akan terus datang, dan penipunya juga terus berinovasi. Friderica menyebut setiap kali satu modus disosialisasikan, modus baru akan muncul lagi. Pelaku mempelajari kebiasaan kita dari apa yang kita bagikan secara terbuka, jadi kewaspadaan tetap ada di tangan kita sendiri. Menelpon balik ke nomor lama masih lebih murah daripada menyesali transfer yang sudah berlalu.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar