Update Sistem Difitnah Bikin HP Lemot, Padahal Pintu Masuk Peretas Justru Dibuka Lebar

Lebih dari satu miliar HP Android sudah berhenti menerima patch keamanan, dan pemiliknya tetap memakainya setiap hari untuk mobile banking. Males update karena takut lemot adalah alasan paling umum, dan juga paling berbahaya.

Bagikan cerita ini:
Ilustrasi layar smartphone sedang mengunduh dan memasang pembaruan sistem operasi Android

Hampir semua orang punya alasan yang sama untuk menunda update sistem. Takut HP jadi lemot, takut baterai boros, takut memori yang sudah mepet makin penuh. Alasan-alasan ini terdengar masuk akal, tapi angka di lapangan menunjukkan biaya yang sebenarnya sedang dibayar.

Google mencatat lebih dari satu miliar pengguna Android sudah tidak lagi menerima pembaruan keamanan untuk perangkat mereka. Mereka tetap memakai ponsel itu untuk mobile banking, menyimpan foto keluarga, dan login ke aplikasi pekerjaan. Pembaruan sistem yang ditunda selama berbulan-bulan bukan sekadar soal fitur baru, tapi soal apakah pintu depan rumah digital kamu masih terkunci atau tidak.

Mitos Update Membikin HP Lemot Ternyata Tidak Sengaja Dibikin

Setiap kali Apple dan Google merilis sistem operasi baru, keluhan soal HP lama yang tiba-tiba lemot bermunculan di media sosial. Banyak yang yakin produsen sengaja memperlambat perangkat lama agar konsumen cepat beli yang baru. Michael Cowling, associate professor Teknologi Informasi dan Komunikasi di Universitas CQ Australia, dan rekan sesama dosen Amy Johnson punya penjelasan yang berbeda.

Setiap pembaruan sistem memang ditulis untuk hardware dan chip terbaru. Fitur-fitur baru dirancang untuk perangkat yang baru dirilis. Konsekuensinya, sistem operasi baru harus berjalan di dua dunia sekaligus: mengoptimalkan chip baru dan tetap bekerja di perangkat lama yang spesifikasinya jauh tertinggal. Inilah penyebab HP lama terasa berat setelah update, bukan kode jahat yang sengaja ditanam pabrikan.

Tapi ada sisi lain yang jarang dibahas. Produsen memang mengutamakan dukungan untuk perangkat terbaru mereka, sebagaimana dijelaskan dalam laporan The Conversation. Perusahaan teknologi juga tidak melakukan cukup banyak untuk mendidik pengguna soal pengaturan mana yang harus disesuaikan setelah update. Jadi meski tidak ada konspirasi memperlambat HP secara sengaja, pengguna lama memang ditinggalkan secara perlahan.

Satu Miliar Ponsel Tanpa Gembok, dan Isinya Lebih Berharga dari Foto

Data distribusi Android yang dikumpulkan Google menunjukkan kondisi yang tidak nyaman dilihat. Android 16 baru terpasang di 7,5 persen perangkat, Android 15 di 19,3 persen, Android 14 di 17,9 persen, dan Android 13 di 13,9 persen. Sekitar 42 persen perangkat atau lebih dari satu miliar unit berjalan di Android 12 atau versi yang lebih lama, dan Google sudah menghentikan pembaruan keamanan kritis untuknya.

Lebih dari 30 persen pengguna Android di seluruh dunia masih memakai Android 13 atau versi lebih lama, menurut data StatCounter yang dikutip detikInet. Android 13 sendiri dirilis pada 2022. Kubu Apple jauh lebih terkendali, sekitar 90 persen iPhone aktif masih menerima pembaruan perangkat lunak. Fragmentasi inilah yang membuat distribusi update Android jadi rumit, karena setiap pembaruan harus disesuaikan dengan hardware, prosesor, dan antarmuka masing-masing produsen.

Ilustrasi perlindungan keamanan data pribadi di ponsel dari ancaman peretasan dan malware
Foto oleh Julio Lopez di Pexels

Kerusakan Tidak Tunggu HP Benar-benar Mati

Google sudah menghentikan pembaruan keamanan kritis untuk Android 12 dan versi sebelumnya. Perangkat yang masuk daftar EOL atau end of life tidak akan lagi menerima pembaruan sistem operasi, fitur baru, perbaikan bug, hingga patch keamanan. Kompas mencatat sepuluh HP Xiaomi, Redmi, dan Poco yang baru saja masuk daftar ini, lima di antaranya pernah dipasarkan resmi di Indonesia, termasuk Xiaomi 12 dan Poco X5 5G.

Aplikasi yang mengedepankan keamanan seperti mobile banking dan dompet digital berpotensi membatasi dukungan pada perangkat EOL dalam jangka panjang. Artinya, HP yang kamu pakai untuk mentransfer uang bisa saja ditolak oleh aplikasi bank, atau tetap diterima tapi dengan celah keamanan yang sudah didokumentasikan publik. Security Boulevard menyebut kondisi ini menciptakan pola berbahaya, kerentanan sudah terdokumentasi dan tetap bisa dieksploitasi di jutaan perangkat karena pembaruan belum sepenuhnya tersebar.

Lemot Sebagian Besar Bersumber dari Hal Selain Sistem

Kalau HP kamu lemot, kemungkinan besar masalahnya bukan di sistem yang baru. Liputan6 merangkum tiga biang kerok utama yang sering terlewat: fragmentasi penyimpanan, pembatasan termal, dan penumpukan cache. Fragmentasi terjadi saat data di memori tersimpan terpisah-pisah sehingga prosesor harus bekerja lebih keras untuk mengaksesnya. Pembatasan termal menurunkan kecepatan prosesor saat suhu naik, dan debu yang menumpuk seiring usia membuat sistem pendingin tidak lagi seefisien saat baru.

Cache yang menumpuk juga bisa berbalik membebani sistem. Idealnya ponsel punya sekitar 10 hingga 15 persen ruang penyimpanan kosong. Tanpa ruang itu, pengelolaan RAM jadi kurang efisien dan multitasking ikut terganggu. Semua ini terjadi tanpa pembaruan sistem sama sekali, dan semuanya bisa diperbaiki tanpa menunda update.

Baterai Boros Setelah Update Itu Wajar, dan Sementara

Keluhan paling sering setelah update besar adalah daya tahan baterai yang anjlok. Suara.com melaporkan kasus update HyperOS di HP Xiaomi, di mana SOT atau screen-on time bisa turun dari 6 hingga 7 jam menjadi 3 hingga 4 jam, dan ponsel kehilangan 2 hingga 3 persen baterai per jam saat idle.

Ini bukan kerusakan, melainkan bagian normal dari transisi perangkat lunak besar. Pembaruan membersihkan cache aplikasi dan data optimasi AI, sehingga sistem butuh waktu hingga tiga hari untuk membangun ulang cache dan mempelajari pola pemakaianmu. Setelah masa transisi selesai, baterai biasanya kembali normal.

Cara Update Tanpa Drama dan Tanpa Kehilangan Data

Update sistem sebenarnya aman asal dilakukan dengan persiapan. Telset.id merangkum enam langkah standar: cadangkan data penting ke cloud atau penyimpanan eksternal, pastikan memori internal punya ruang kosong minimal 2 hingga 3 GB, gunakan koneksi Wi-Fi stabil, periksa ketersediaan pembaruan di menu Pengaturan, pastikan baterai cukup, dan biarkan ponsel idle selama proses berjalan.

CNN Indonesia menambahkan dua detail teknis. Unduh pembaruan hanya dari menu pengaturan sistem atau sumber resmi produsen, karena file dari situs agregator berisiko mengandung malware. Google menyarankan baterai terisi minimal 75 persen sebelum instalasi, dan Kaspersky menyarankan menjadwalkan unduhan di malam hari. Saat baterai habis di tengah proses instalasi, ponsel bisa mati dan mengganggu sistem.

HP Anda Mungkin Punya Tanggal Kedaluwarsa yang Tidak Anda Ketahui

Setiap HP Android punya masa dukungan resmi yang ditetapkan pabrikan, dan sangat sedikit pengguna yang tahu kapan perangkatnya akan mencapai end of life. HP kelas atas seperti Samsung Galaxy S26 atau Google Pixel terbaru mendapat dukungan hingga tujuh tahun, sementara kelas menengah seperti Xiaomi dan Motorola umumnya hanya tiga tahun.

Cara ceknya mudah. Buka menu Pengaturan untuk mengetahui model HP, lalu cari perangkat kamu di situs informasi dukungan pabrikan. Situs ini biasanya menampilkan kapan HP rilis dan berapa lama lagi garansi pembaruan akan berakhir.

Pembaruan sendiri terbagi dua: pembaruan versi Android setiap tahun untuk fitur baru, dan pembaruan keamanan yang dirilis sepanjang tahun untuk menutup celah. Yang kedua ini yang paling sering diabaikan padahal paling penting. Samsung kini memberikan dukungan enam tahun untuk beberapa model kelas menengah seperti Galaxy A16 5G, yang berarti HP kelas menengah bisa tetap aman lebih lama dari sebelumnya.

Ilustrasi ponsel Android lama yang sudah berusia tahunan dan tidak lagi menerima pembaruan sistem
Foto oleh Fernando Arcos di Pexels

Tetap di OS Lama Itu Pilihan, tapi Pilihan yang Rawan

Pakar IT Rosihan Ari Yuana, dosen Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer Universitas Sebelas Maret, memakai analogi yang tepat. Update OS itu ibarat tambalan, jadi HP jadi lebih tahan terhadap virus, malware, atau serangan jahat lain yang makin canggih dari hari ke hari. Sistem enkripsi biasanya diperkuat, sehingga kata sandi dan dokumen penting lebih terlindungi.

Ia juga jujur soal sisi negatifnya. Kadang aplikasi yang biasa dipakai malah error atau tidak bisa dibuka setelah update, apalagi kalau pengembangnya belum menyesuaikan aplikasinya dengan OS baru. Tapi menunda update selamanya bukan jalan keluar. Kompas mencatat dua ancaman nyata: Coruna exploit kit yang menyerang iPhone lama, dan Rafel RAT yang menyasar perangkat Android yang tidak diperbarui. Keduanya aktif menyerang perangkat dengan OS usang.

Google Play Protect memang masih mendukung perangkat hingga Android 7 untuk pemindaian malware. Tapi perlindungan tambahan ini tidak menggantikan patch keamanan sistem yang sudah berhenti. Kalau perangkat kamu sudah tidak bisa diperbarui ke Android 13 atau lebih baru, Google menyarankan mempertimbangkan membeli HP baru, dan menilai ponsel kelas menengah yang masih didukung lebih aman daripada flagship lama yang sudah EOL.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar