USB-C Sudah Menyeragamkan Gadget Kita, dan Jam Tangan Pintar Enggan Ikut

iPhone, tablet, laptop, sampai kakas dapur sudah pakai USB-C, tapi smartwatch masih betah dengan charger magnetiknya sendiri. Bukan sembarangan, ada alasan teknis yang membuat produsen jam tangan pintar enggan pindah.

Bagikan cerita ini:
Kabel dan charger USB-C yang sudah menjadi standar pengisian daya perangkat modern

Coba lihat laci meja kamu. Colokan iPhone, kabel Android, charger laptop, semuanya sekarang ujungnya sama, USB-C. Tapi satu perangkat selalu bikin kita mengambil charger lain, jam tangan pintar. Apple Watch, Galaxy Watch, Pixel Watch, Garmin, semuanya masih pakai piringan magnetik atau pogo pin khusus, bukan kabel USB-C yang sama dengan HP.

Kelihatan sepele, tapi ini jadi salah satu pertanyaan paling sering muncul setiap produsen gadget merilis jam tangan baru. Kenapa port yang sudah menyeragamkan hampir seluruh dunia elektronik ini belum juga masuk ke pergelangan tangan kita?

USB-C Sudah Menyeragamkan Hampir Semua Gadget

Dulu, setiap perangkat punya colokan sendiri. Dominasi micro USB di HP Android, Lightning di iPhone, port khusus di laptop, semuanya memenuhi satu laci kabel yang ujungnya tidak bisa ditukar. Kompas mencatat micro USB menghasilkan daya maksimal 5V dan 1,5A, cukup untuk standar pengisian jam dulu, sementara USB Type-C sanggup menyalurkan hingga 20V dan 5A.

Perbedaan ini bukan cuma soal kecepatan mengisi daya. USB Type-C juga mentransfer data jauh lebih ngebut, hingga 10 Gbps pada generasi yang umum dipakai, dibanding micro USB yang mentok di 480 Mbps. Singkatnya, satu colokan yang lebih cepat sekaligus lebih kompatibel.

Tekanan dari Uni Eropa mempercepat semuanya. Aturan charger tunggal mewajibkan perangkat elektronik portabel mengadopsi USB-C, dan Apple pun akhirnya menyerah, meninggalkan Lightning yang bertahan sejak 2012 di lini iPhone 15. Sekarang, colokan yang sama berlaku untuk iPhone, tablet, laptop, konsol game portabel, speaker Bluetooth, headphone, sampai charging case TWS. Semua sudah pakai USB-C.

Fungsinya pun belum tentu cuma untuk mengisi daya. Telset merangkum, port USB-C di smartphone bisa dipakai untuk mengisi daya perangkat lain secara darurat, mencolok flash drive dan pembaca kartu memori, mengetik dengan keyboard eksternal, menghubungkan layar tambahan, merekam audio berkualitas tinggi, sampai memakai headphone berkabel. Di perangkat tertentu, port ini bahkan dipakai untuk perangkat ilmiah seperti endoskopi dan ultrasound yang ditenagai smartphone.

Smartwatch menempel pada charger magnetik khusus di atas meja
Foto oleh Melike B di Pexels

Tapi Jam Tangan Pintar Punya Alasan Teknis Sendiri

Lalu kenapa smartwatch tidak ikut? Jawabannya bukan karena produsen jam tangan pintar tidak tahu tren. Ada beberapa alasan teknis yang membuat mereka enggan memasang port USB-C di bodi jam.

Tekanan Air yang Lebih Ekstrem

Pertama, ketahanan terhadap air. Bisa saja smartphone bersertifikat IP67, IP68, atau IP69 tetap memiliki port USB-C karena produsen memasang segel, perekat, dan desain internal di sekitar port tersebut. Tapi smartwatch cerdasnya lain. Perangkat ini lebih sering bersentuhan dengan air. Keringat saat olahraga, hujan, mencuci tangan, berenang, sampai mode snorkeling dan menyelam.

Itu sebabnya smartwatch sering memakai rating ketahanan air berbasis tekanan, seperti 5 ATM (setara tekanan air statis pada kedalaman 50 meter) atau 10 ATM (setara 100 meter). Angka ini bukan jaminan bisa menyelam sedalam itu, tapi toh menunjukkan betapa serius tuntutan kedap air pada perangkat yang nyaris tidak pernah lepas dari pergelangan tangan. Setiap lubang tambahan di bodi berarti satu titik lagi yang harus diberi segel. Menghilangkan port fisik jelas lebih aman daripada menambah celah baru.

Tiap Milimeter Berharga

Alasan kedua adalah ruang. Port USB-C memang terlihat kecil di smartphone atau laptop, tapi ukurannya cukup signifikan untuk bodi setebal beberapa milimeter. Produsen harus menjejalkan baterai, sensor detak jantung, sensor kesehatan lain, motor getar, speaker, mikrofon, antena, chipset, dan komponen layar ke dalam ruang yang sangat sempit. Menambahkan port USB-C berarti merebut ruang yang seharusnya bisa dipakai untuk komponen lain, termasuk baterai.

Bentuk jam tangan sendiri juga tidak seragam. Ada yang kotak seperti Apple Watch, bulat seperti sejumlah Galaxy Watch, sampai fitness band yang ramping. Posisi sensor di bagian belakang pun beda. Desain yang beragam ini membuat produsen memilih solusi pengisian daya yang disesuaikan dengan bentuk masing-masing perangkat.

Standar Tunggal Belum Tentu Jawabannya

Akibatnya, satu laci bisa terisi charger jam tangan yang bentuknya hampir sama, tapi belum tentu kompatibel satu sama lain. Harga yang tidak murah sering kita bayar untuk duplikasi yang sebenarnya bisa dihindari.

Tapi memaksa semua produsen memakai satu standar charger juga belum tentu solusi. Jitesh Ubrani, Research Manager IDC, menilai standardisasi lewat regulasi justru berisiko membatasi inovasi. Produsen bisa saja harus mendesain smartwatch berdasarkan standar charger tersebut, dan ini bisa memengaruhi bentuk, ukuran, sampai fitur yang dibawa.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang

Selama produsen besar belum bergerak, kita yang menanggung akibatnya. Beberapa produsen kecil memang sudah bereksperimen. boAt Storm Call 4 yang diluncurkan di India pada Mei 2026 sudah membawa port USB-C, dan Colmi P80 menggunakan pendekatan serupa dengan penutup karet untuk menahan air dan debu. Sayangnya, langkah ini belum diikuti produsen besar.

Sementara itu, merawat charger magnetik tetap lebih murah daripada mengganti jam tangan. Jika port USB-C di perangkat lain bermasalah, Suara menyarankan membersihkannya dengan hati-hati. Hembuskan udara ke dalam port untuk mengeluarkan puing ringan, lalu gunakan tusuk gigi kayu atau sikat gigi untuk membersihkan kotoran yang menempel. Jangan pakai kapas karena seratnya bisa tertinggal dan semakin menyumbat. Tusuk gigi logam jelas dilarang karena bisa mencederai konektor.

Soal kabel, ketakutan klasik soal mencampur kabel iPhone dan Android juga sering berlebihan. Kabel USB-C pihak ketiga yang berkualitas baik umumnya aman untuk semua perangkat, termasuk iPhone 15 ke atas. Yang bermasalah adalah kabel abal-abal yang harganya murahan. Seperti dilaporkan Kompas, kasus iPhone bermasalah saat charging lebih sering disebabkan kabel atau charger imitasi, bukan karena mencampur kabel dari brand lain.

Jadi selama jam tangan pintar belum pakai USB-C, terima saja kenyataan bahwa laci kita masih harus menyimpan satu charger khusus lagi. Setidaknya kita tahu sekarang, ini bukan karena produsen jam tangan pintar nakal, tapi karena tuntutan air dan ruang di dalam bodi jam yang memang ketat.

Smartwatch dipakai di pergelangan tangan saat berolahraga
Foto oleh Ketut Subiyanto di Pexels
Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar