Ban Kempis Selalu Disalahkan, Padahal yang Menyerah Duluan Pentil dan Velg
Ban mengerut dan langsung disalahkan belum ganti baru. Kadang memang benar, tapi sering juga karetnya masih sehat dan yang menyerah duluan justru pentil yang getas atau velg yang tak lagi duduk pas.

Ban motor kempis dan refleks pertama kita adalah mencari kesalahan pada karetnya. Dianggapnya, ban itu sudah berumur, gundul, atau kualitasnya meragukan. Tidak jarang langsung ditebus uang ratusan ribu untuk beli ban baru. Padahal kalau dicek di bengkel, sering kali karetnya masih sehat dan yang sebenarnya menyerah adalah pentil, atau velg yang sudah tidak duduk pas lagi.
Empat Penyebab Kempis yang Jarang Diperiksa
Bima Aryo W., Product Manager Aspira Premio dari PT Astra Otoparts Tbk, punya gambaran lain soal ban yang sering kehilangan angin. Ia justru menyarankan pengecekan tekanan angin seminggu hingga dua minggu sekali, karena dalam kurun seminggu saja tekanan bisa turun 2 psi tanpa ban tersebut tertusuk benda apapun.
Ia memilah penyebabnya menjadi beberapa skenario. Pertama, memang ada kebocoran karena ban tertusuk benda tajam. Kedua, ban tidak tertusuk sama sekali tetapi tetap bocor, dan ini biasanya berkaitan dengan kondisi pentil. Karet pentil yang sudah getas karena terlalu lama ditekan, atau kotoran kecil yang mengganjal sehingga pentil tidak menutup sempurna, cukup untuk melepaskan angin pelan-pelan tanpa kita sadari.
Logikanya sederhana. Kalau angin berkurang tanpa ada paku, tanpa ada sobekan, berarti ada jalur keluar yang tidak terlihat. Pentil adalah katup paling sibuk di roda dan paling jarang dilirik. Getasnya bisa karena usia, bisa juga karena dipaksa menahan beban yang seharusnya tidak tanggungnya.
Skenario ketiga dan keempat biasanya menimpa pemakai ban tubeless. Karet penutup atau seal yang mencegah udara keluar dari ban bisa rusak seiring waktu pakai. Begitu seal-nya lemah, fungsi tubeless-nya hilang dan angin merembes perlahan. Lalu ada velg, yang untuk tubeless harus benar-benar rata dan bersih agar bibir ban bisa menempel rapat. Velg tergores, berkarat, atau bergelombang ringan saja sudah cukup untuk menciptakan celah mikro.
Dipaksa Jalan Saat Kempis, yang Patah Bukan Cuma Karet

Dodiyanto, Senior Brand Executive dan Product Development PT Gajah Tunggal Tbk selaku produsen IRC Tire, menjelaskan mekanisme kerusakannya. Saat tekanan udara berkurang, ban secara otomatis menanggung beban lebih berat dari yang dirancang. Pada ban tipe dalam, posisi pentil ikut miring karena ban menyerah ke bobot motor, dan bagian bawah pentil yang menyambung ke ban dalam tidak sanggup menahan beban. Hasilnya, pentil copot atau bahkan robek dari ban dalamnya.
Pada tubeless, kerusakannya berbeda tapi sama mahalnya. Saat ban kempis dipaksa berputar tanpa angin apalagi sambil dinaiki, struktur karetnya berubah dan ban bisa tidak mengembang lagi. Dodiyanto menyebut bagian bead, sisi bawah dinding ban yang menempel ke velg, punya serat baja di dalamnya. Kalau serat itu membengkokkan diri, bibir ban tidak lagi duduk pas di pelek dan muncul celah tempat angin lolos. Setelah itu, ban tubeless-nya secara teknis sudah selesai, meski motornya hanya didorong beberapa ratus meter.
Ban pada dasarnya tersusun dari beberapa lapisan benang dan compound. Dipaksa jalan dalam kondisi kempis, lapisan-lapisan itu saling bergesekan tanpa bantalan angin. Efeknya menumpuk, ban jadi melendung, retak-retak, atau menderita kerusakan lain yang tidak bisa diperbaiki dengan tambalan.
Cairan Anti Bocor Bisa Menyelamatkan, Bisa Juga Bikin Pentil Mampet
Membeli ban tubeless baru di bengkel hampir selalu diiringi tawaran cairan anti bocor. Bahan campuran gel, lem, dan karet ini memang bisa menyelamatkan ban dari lubang kecil. Saat terkena tajaman batu atau paku kecil, gel akan langsung menambal kerusakan dari dalam.
Tapi kualitas cairan ini menentukan semuanya. Putra Pratama, Head of PR Planet Ban, menjelaskan cairan berkualitas rendah justru mengeras dan berkerak di pelek. Keraknya bisa memicu korosi pada velg dan menyumbat lubang pentil. Kalau sudah begitu, tidak ada perawatan yang bisa menyelamatkannya. Pentil harus diganti baru dan cairannya dibuang.
Kepala Bengkel Ahass Honda PT Usaha Cipta Mandiri, Muhamad Taufik, punya pengalaman serupa. Ia menjelaskan cairan anti bocor mengandung serbuk yang keras menyerupai karet saat mengering. Kalau serbuk itu bersarang di pentil, angin tidak bisa masuk dan angin di dalam ban tidak bisa keluar. Pentil terpaksa dipotong dan diganti. Sebagai penawar, ia menyarankan rutin cek tekanan angin seminggu atau dua pekan sekali, lalu sebulan atau dua bulan sekali pentil dibuka dan ditusuk pakai paku kecil agar serbuk yang nyangkut lepas, kemudian dipompa lagi.
Selain itu, sebotol cairan anti bocor cukup besar, sekitar 300 ml, dan dimasukkan penuh ke satu ban. Saat roda berputar, cairan itu ikut berputar di dalamnya. Gaya sentrifugal dari cairan yang terlempar-lempar mempengaruhi bobot dan kestabilan motor, terutama di kecepatan tinggi.
Tambal String Jadi Penyelamat Darurat, tapi Bisa Bikin Ban Benjol
Kalau sudah kena paku di jalan, kebanyakan tukang tambal pinggir jalan memakai teknik string atau tusuk-sumpal karena cepat. Jimmy Handoyo, Technical Service and Development Dept Head PT Suryaraya Rubberindo Industries, produsen ban FDR, membenarkan ini memang pilihan darurat yang masuk akal.
Tapi ia memperingatkan komponen nylon di dalam ban bisa putus kalau tusukannya tidak pas. Konstruksi ban rusak dan bisa mengakibatkan ban jadi benjol. Kalau masih ada pilihan, teknik tip top yang melepas ban dari velg dan menambal dari dalam adalah yang paling direkomendasikan Jimmy.
Menjaga tekanan udara tetap jadi pertahanan paling murah. Tekanan kurang membuat ban lebih mudah tertusuk benda tajam. Tubeless memang tidak akan langsung kempis saat tertusuk karena angin keluar sedikit demi sedikit, tapi itu membeli waktu, bukan menghilangkan masalah. Tetap harus ditambal.
Perawatan Sepeda Motor untuk Umur Ban Lebih Panjang

Beberapa kebiasaan kecil bisa memperpanjang umur ban tubeless. Isi tekanan dengan gas nitrogen kalau memungkinkan, karena gas ini mengurangi panas yang dihasilkan saat ban dipakai lama di kecepatan tinggi, dan lebih bertahan menjaga tekanan dibanding angin biasa. Jangan lupa pakai tutup pentil, karena berfungsi menjaga ban tak mudah bocor.
Seal di dalam ban tubeless bisa melemah seiring waktu. Kalau sudah rusak, jangan dipaksakan, ganti saja. Untuk umur pakai, disarankan mengganti ban sepeda motor dalam dua tahun, meski tampak masih tebal. Karet yang sudah mengeras tidak bisa menahan tekanan sebaik karet baru.
Dan kalau ban tiba-tiba kempis di tengah jalan, jangan dipaksa jalan. Cari pompa atau tukang tambal terdekat, atau siapkan ban dalam sementara seperti saran Dodiyanto. Lebih cepat dan lebih murah daripada harus beli ban baru plus velg baru.
Artikel Terkait
Lihat kategori Tutorial ↗
HP 5G Harganya Selangit, Tapi Cakupan 5G Indonesia Baru 4,44 Persen
Membeli HP 5G itu nggak murah, padahal cakupan jaringan 5G di Indonesia baru sekitar 4,44 persen per April 2025. Sebelum menyalahkan ponselnya, ada beberapa pintu yang sebaiknya dicek dulu.
Kamu Beli Kuota untuk Diri Sendiri, Tapi Aplikasi Diam-Diam Makannya Lebih Dulu
Sebagian besar kuota yang kamu beli habis dimakan aplikasi di latar belakang, bukan olehmu. Cara menghentikan pembocoran ini hanya butuh beberapa pengaturan.
Tombol Power dan Volume Sudah Lumayan Tua, Sementara Semua HP Punya Cara Lebih Cepat
Semua HP punya empat sampai lima pintu untuk mengambil tangkapan layar, tapi kebanyakan kita cuma hafal satu yang paling tua.
Ruang Diskusi & Komentar