Tapak Ban Masih Tebal Tapi Karet Sudah Getas, Usia Lima Tahun Jadi Batasnya

Banyak pengendara hanya menunggu kembangan ban habis, padahal karet yang sudah berumur lima tahun bisa getas lebih dulu meski tapak masih tebal.

Bagikan cerita ini:
Ban motor depan tampak dekat dengan kembangan mulai menipis

Ban motor Anda masih terlihat tebal, kembangannya masih dalam, dan tidak ada sobekan sama sekali. Tapi saat melibas genangan air di tikungan, rasanya seperti meluncur di atas lantai licin. Kemungkinan besar bukan ban murah yang bermasalah, melainkan karet yang sudah tua.

Kebanyakan pengendara hanya menunggu satu tanda: kembangan habis. Padahal ada tanggal kedaluwarsa yang tertulis di dinding ban, dan hampir tidak ada yang sempat membacanya.

Tanggal Produksi di Dinding Ban yang Jarang Dicek

Di dinding samping ban ada deretan huruf dan angka yang terlihat seperti kode rahasia. Salah satunya adalah kode TIN, empat digit yang menunjukkan minggu dan tahun produksi ban. Dua angka pertama adalah minggu, dua angka terakhir adalah tahun. Ban keluaran minggu ke-20 tahun 2021, misalnya, sudah berusia lima tahun di tahun 2026.

Michelin merekomendasikan ban diganti saat mencapai usia sepuluh tahun sejak tanggal produksinya. Tapi Planet Ban lebih konservatif. Mereka menyarankan ban motor yang sudah berumur lebih dari lima tahun segera diganti, meski tapak masih terlihat tebal.

Alasannya jelas. Kualitas material turun, elastisitas berkurang, dan karet jadi kering atau getas. Ban yang getas sangat berbahaya saat dipakai, apalagi di perjalanan jauh atau kondisi jalan licin. Tanda lain yang mudah dilihat adalah warna ban yang memudar padahal jarang dipakai.

Ban Belakang Selalu Jadi Korban Pertama

Kalau dana terbatas dan harus memilih, ganti ban belakang lebih dulu. Zulpata Zainal, Proving Ground On Vehicle Test Manager PT Gajah Tunggal, menjelaskan ban belakang menanggung beban paling berat. Ia menopang bobot motor dan pengendara, sekaligus meneruskan daya dari mesin ke roda.

Hampir 60 persen beban motor ditopang oleh ban belakang, sehingga ia jauh lebih cepat aus. Jimmy Handoyo dari produsen ban FDR menambahkan, roda belakang adalah roda penggerak. Putarannya jauh lebih ekstra dibanding roda depan yang hanya ikut berputar.

Rasio keausannya cukup konsisten. Satu kali ganti ban depan biasanya setara dengan dua sampai tiga kali ganti ban belakang. Dodiyanto, Senior Brand Executive PT Gajah Tunggal, memberi patokan praktis. Ban belakang biasanya habis setelah dua tahun pemakaian, dan ban depan siap diganti sekitar satu setengah tahun setelahnya.

Botak Sebelah Berawal dari Suspensi yang Bocor

Kalau ban depan aus tidak merata, miring sebelah, jangan buru-buru menyalahkan pabrikan ban. Jimmy Handoyo menjelaskan keausan yang tidak merata umumnya disebabkan masalah pada salah satu suspensi depan. Suspensi tipe garpu yang bocor membuat tekanan pada ban tidak seimbang, dan sisi yang bocor akan lebih cepat terkikis.

Penyebab lainnya adalah segitiga atau komstir yang sudah tidak lurus. Solusinya bisa ganti komponen baru, atau jalan yang lebih hemat dengan press segitiga di bengkel.

Mekanik memeriksa dan mengganti ban motor di bengkel
Foto oleh Andrea Piacquadio di Pexels

Tekanan Angin dan Mitos Menguras Ban

Salman, pemilik bengkel motor di Tuban, menyarankan pengecekan tekanan angin secara rutin. Tekanan yang pas membuat ban tidak cepat aus dan motor lebih stabil. Beban berlebih juga mempercepat kerusakan, dan kebiasaan pengereman mendadak mengikis daya cengkeram di jalan.

Saat perjalanan jauh, banyak yang percaya angin harus dikuras setiap 70 hingga 100 kilometer. Secara teknis menguras total tidak terlalu perlu. Yang jauh lebih penting adalah mengistirahatkan ban. Gesekan dengan jalan memanaskan karet, dan udara di dalam ban memuai. Berhenti sejenak membuat suhu kembali normal.

Tekanan yang terlalu tinggi punya risiko sendiri. Ban bisa meledak tiba-tiba, aus tidak merata karena menonjol di tengah, dan area kontak dengan jalan mengecil sehingga daya cengkeram berkurang. Untuk perjalanan jauh, nitrogen lebih disarankan karena suhunya lebih stabil dan tidak cepat memuai.

Ban serep juga butuh perawatan, meski hanya diam di kolong mobil. Roni Agung dari Astra Internasional menyarankan tekanannya dinaikkan dua psi di atas spesifikasi pabrik untuk mengantisipasi penguapan. Cek minimal sebulan sekali, cuci, dan lapisi semir agar karet tetap lentur.

Lima Tanda Ban Wajib Pensiun

Mengacu pada panduan Suzuki Indonesia, tanda pertama adalah alur yang semakin tipis. Alur itu bukan hiasan. Fungsinya memecah air saat melintasi jalanan basah agar tidak terjadi selip. Saat permukaan mulai mendekati rata dengan tapak, cengkeraman ikut menurun.

Tanda kedua ada di TWI, atau Tread Wear Indicator. Tonjolan kecil di alur tapak ini bisa dikenali dari tanda segitiga di dinding ban. Kalau permukaan ban sudah sejajar dengan batas TWI, ban sudah sangat tipis dan harus segera diganti. Planet Ban menambahkan patokan jarak tempuh, biasanya ban diganti setelah 10.000 hingga 20.000 kilometer.

Ketiga, retakan halus atau benjolan kecil. Bukan cuma soal penampilan. Ban bisa tiba-tiba pecah saat melaju kencang atau menikung tajam. Keempat, ban botak. Haris dari Planet Ban mengingatkan kembangan yang berfungsi membuang air sudah tidak ada, dan lapisan cengkeram aspal juga habis. Tinggal karet polos yang licin, dan ban jadi lebih gampang bocor karena lapisannya menipis.

Kelima, ban depan goyang saat pengereman. Ini bukan masalah ban, melainkan bearing roda depan yang sudah aus dan butuh penggantian.

Motor melaju di jalan raya, satu-satunya titik kontak dengan aspal
Foto oleh Al Amin di Pexels

Ukuran Lebih Besar Tidak Selalu Lebih Baik

Mengganti ban dengan ukuran lebih besar dari standar memang terlihat lebih gagah, tapi pengaruhnya pada kenyamanan dan kendali motor bisa cukup signifikan. Honda Vario 125 contohnya. Model produksi di bawah 2018 memakai ban depan 80/90-14 dan belakang 90/90-14. Model di atas 2018 sudah memakai 90/80-14 depan dan 100/80-14 belakang. Semua diatur pabrikan untuk alasan keseimbangan.

Untuk pemakaian harian yang intensif, kompon karet menentukan umur pakai. Ban dengan kompon medium tidak mudah botak, sementara kompon lunak menempel lebih erat di aspal tapi lebih cepat habis. Pola kembangan juga penting. Desain alur yang dalam mampu memecah air dengan cepat, mengurangi risiko selip saat melibas genangan.

Cek Ban Sekarang, Sebelum Jalan yang Cekik

Mulailah dari hal paling gampang. Cari kode empat digit di dinding ban, lalu hitung usianya. Lanjutkan dengan mengecek segitiga TWI dan tekanan angin di pom terdekat. Lima menit di pom bensin jauh lebih murah daripada selip di tikungan basah.

Ban adalah satu-satunya titik kontak antara motor dengan aspal. Luasnya tidak lebih besar dari telapak tangan. Memberi perhatian pada sepotong karet itu bukan berlebihan, karena memang itu satu-satunya yang menghubungkan Anda dengan jalan.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar

Lihat kategori Tips ↗