Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara

Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.

Bagikan cerita ini:
Orang memegang punggung bawah yang terasa nyeri saat duduk di kursi kerja

Nyeri Punggungmu Sering Hanya Otot yang Kelelahan

Pinggang sakit tiap mau tidur sering langsung ditakut-takuti sebagai saraf kejepit. Dokter spesialis bedah saraf dr Victorio, SpBS, dari Lamina Hospital punya jawaban yang menenangkan sekaligus menampar kebiasaan kita. Menurutnya rasa sakit di pinggang sebelum tidur umumnya cuma efek overuse dari otot atau sendi di tulang belakang. Kalau kamu koreksi posisinya atau beristirahat lalu sembuh, itu bukan saraf kejepit.

Memang ada bedanya, dan bedanya cukup jelas. Dokter spesialis bedah saraf dr M. Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS, dari RS Abdi Waluyo menjelaskan saraf kejepit di titik L4 dan L5 paling sering menampakkan diri sebagai sakit menjalar atau kebas pada paha bagian samping luar. Nyeri punggungnya datang dari tulang belakang dan bantalannya, tapi rasa yang sampai ke paha itu dari sarafnya.

Dokter spesialis bedah saraf dr Dimas Rahman Setiawan, SpBS, menambahkan saraf kejepit leher juga sering keliru disangka salah bantal. Bedanya, nyerinya menjalar sampai tangan kanan, kiri, atau keduanya, dan kadang disertai sensasi kesetrum serta baal, bukan sekadar sakit otot di tempat itu.

Anatomi tulang belakang manusia yang menjadi sumber nyeri ketika sarafnya terjepit
Foto oleh Magda Ehlers di Pexels

Karena itu, sebelum panik dan langsung mendaftar terapi mahal, ada satu hal murah yang harus dicoba. Berbaringlah. Dokter spesialis bedah saraf dr Gibran, SpBS, menjelaskan sakit dari tulang belakang biasanya membaik drastis seketika saat tidur berbaring. Kalau nyeri pinggang tetap kumat dan tidak berkurang padahal sudah rebahan, itu baru pertanda masalah lain, entah dari batu ginjal, liver, perut, atau tulang belakang yang kondisinya sudah parah.

Kursi Kerja dan Bantal Tidur Diam-Diam Berkhianat

Selama ini kasur dan bantal selalu jadi kambing hitam. Padahal Dr Nish Manek, dokter umum di London dan lulusan Imperial College London, menyarankan kita melihat lebih dulu ke bantal dan posisi tidur. Bantal yang tidak mendukung dengan baik bisa menyebabkan ketidaknyamanan di leher dan tulang belakang. Ia menyarankan bantal memory foam atau yang punya kontur khusus, dan yang penting, bantal harus diganti setiap beberapa tahun karena bantal lama sudah kehilangan kemampuannya menopang.

Posisi tidur punya aturan mainnya sendiri. Telentang paling baik dengan bantal kekerasan sedang yang menopang lekuk leher, plus bantal kecil di bawah lutut. Miring? Selipkan bantal di antara lutut agar tulang belakang tetap selaras. Tengkurap memang kurang disarankan, tapi kalau terpaksa, pakai bantal tipis atau tanpa bantal sama sekali, lalu beri bantal di bawah panggul.

Nah, yang paling sering luput dari sorotan justru yang paling sering kita lakukan siang hari, yaitu duduk. Konsultan senior bedah saraf dan tulang belakang dr Vikas Gupte dari Rumah Sakit Fortis Mulund, Mumbai, mengingatkan bahwa postur buruk saat duduk, seperti membungkuk atau menjulurkan leher, memberi tekanan pada otot inti dan melemahkannya. Jangka panjang ini menyebabkan ketidakseimbangan otot dan kelelahan, bahkan postur buruk bisa jadi permanen.

Aturannya sederhana saja. Saat duduk, pinggang dan lutut harus membentuk sudut 90 derajat, lekukan lumbar ditopang penyangga atau bantal kecil di belakang, kaki menyentuh lantai atau pakai alas, paha bertumpu penuh di kursi, dan layar komputer tepat sejajar mata. Dokter Andra dari RS Pondok Indah juga punya angka yang gampang diingat, yaitu kepala boleh menunduk maksimal 15 derajat saat bekerja. Kalau harus lebih dari itu, naikkan laptop pakai penyangga. Dan saat main HP, posisikan agak tinggi di depan muka, jangan menunduk sampai pinggang ikut membungkuk.

Urusan Punggung Sering Dicampuradukkan dengan Ginjal

Mitos paling bandel soal nyeri pinggang adalah langsung curiga ke ginjal. Spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dr Lydia Dorothea Simatupang, SpPD, Subsp GH(K), FINASIM, meluruskan bahwa sebagian besar sakit pinggang tidak disebabkan ginjal. Ginjal yang obstruksi atau meradang memang bisa memicu nyeri, tapi penyakit ginjal kronis seperti akibat diabetes dan hipertensi lama justru berjalan tanpa gejala sakit pinggang sama sekali.

Cara membedakannya bisa kamu lakukan sendiri di rumah. Nyeri otot atau tulang belakang akan berubah, membaik atau memburuk, tergantung posisi tubuh dan gerakanmu. Kamu juga biasanya bisa merasakan titik nyeri yang tepat saat ototnya ditekan. Sebaliknya, nyeri ginjal cenderung konsisten dan tidak membaik meski kamu ubah posisi. Sabitha Rajan, M.D., MSc, menjelaskan bagian tengah ginjal sebenarnya tidak punya saraf, jadi kalau muncul rasa sakit di sana, artinya ginjal meregang hingga mengenai saraf di dekat punggung.

Ada tanda yang lebih spesifik lagi. Dokter spesialis penyakit dalam dr Djoko Wibisono, SpPD, KGH, menggambarkan nyeri ginjal seperti diremas, hilang timbul, dan makin tak tertahankan saat batunya bergeser. Gejalanya disertai mual, keringat dingin, dan urine yang tampak lebih merah karena ada darah. Kalau sudah begini, segera periksa ke dokter dan minta USG, karena ukuran dan letak batu baru bisa dilihat dari sana.

Kesemutan yang Wajib Diwaspadai

Nyeri punggung dan kesemutan memang sering datang bersamaan, tapi kesemutan punya daftar tersangkanya sendiri. Kompresi akar saraf dari tulang belakang bisa membuat jari kaki kesemutan sampai terasa seperti terbakar, dan ini yang paling relevan dengan punggungmu. Tapi keluhan serupa juga muncul pada neuropati perifer, kondisi yang dialami sekitar 2,4 persen populasi umum.

Beberapa tersangkanya antara lain kebiasaan minum alkohol berlebihan, di mana 66 persen pecandu alkohol jangka panjang mengalami neuropati alkoholik. Lalu ada kecemasan yang memicu hiperventilasi dan membuat tangan kaki kesemutan, kekurangan vitamin B1, B12, dan E, efek samping obat-obatan tertentu, gagal ginjal, penyakit autoimun seperti sindrom Guillain-Barre, diabetes, dan penyakit arteri perifer. Ahli penyakit kaki bedah Nelya Lobkova, DPM, mengingatkan pengobatannya selalu diarahkan ke akar penyebabnya.

Orang melakukan gerakan peregangan untuk meredakan ketegangan otot punggung
Foto oleh Nothing Ahead di Pexels

Perbaikan Murah Sebelum Semua Jadi Mahal

Saat nyeri sedang hebat, langkah pertama tidak perlu mahal. Dokter spesialis bedah saraf dr Victorio, SpBS, menyarankan istirahat dan kompres dingin di titik yang paling sakit pada detik-detik pertama. Setelah dua atau tiga hari, barulah ganti kompresnya dengan yang hangat. Kalau tetap tidak tertahankan, parasetamol atau ibuprofen bisa membantu meringankan, tapi tetap setelah konsultasi dengan dokter.

Kalau kamu suka dipijat atau melakukan kretek sendiri, ketahuilah dulu dari mana asal nyerinya. Dokter spesialis ortopaedi dan traumatologi dr Omar Luthfi, SpOT(K)-Spine, tegas bahwa pemijatan tidak bisa menyembuhkan saraf kejepit dan justru bisa memperparahnya. Pijat hanya boleh kalau nyerinya berasal dari otot. Kalau nyerinya menjalar sampai ke kaki, segera berobat ke dokter, karena memijat dengan asal bisa menambah trauma.

Sisanya cuma soal disiplin. Bangun dari kursi setiap 30 sampai 60 menit, jalan sebentar, regangkan leher, pinggang, bahu, dan pergelangan tangan. Jaga berat badan tetap ideal, olahraga teratur, lakukan peregangan atau yoga. Dokter Gupte juga menyoroti bahwa kekurangan vitamin D sangat umum terjadi pada pekerja kantoran, jadi perhatikan nutrisi dan hidrasi, karena keduanya ikut mencegah kelelahan otot.

Ibu hamil adalah kelompok yang paling sering mengeluh, sekitar 50 sampai 70 persen menurut American Pregnancy Association. Rahim yang membesar menggeser pusat gravitasi, hormon relaksin melonggarkan sendi panggul, dan kenaikan berat badan yang bisa mencapai 15 kilogram membuat otot punggung bekerja jauh lebih keras. American College of Obstetricians and Gynecologists menyarankan segera ke dokter kalau nyerinya parah atau berlangsung lebih dari dua minggu.

Jadi sebelum menyalahkan kasur, bantal, atau langsung menduga saraf kejepit, coba periksa dulu berapa jam kamu benar-benar duduk hari ini. Punggungmu mungkin tidak butuh terapi mewah, hanya butuh kursi yang benar, bantal yang diganti, dan jeda untuk berdiri.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar