Direndam Tiga Hari Demi Kotoran Luntur, Bau Apeknya Justru Makin Bandel
Baju direndam berhari-hari agar nodanya mudah lepas, tapi yang datang justru bau apek yang menolak pergi meski sudah dicuci ulang. Penyebabnya bukan kotorannya, melainkan kondisi lembap yang dijadikan tempat tinggal oleh bakteri dan jamur.

Ada yang viral di TikTok beberapa waktu lalu. Seorang ibu, pemilik akun @mamaholid23, menceritakan dirinya merendam baju dengan deterjen lalu lupa selama tiga hari. Niatnya supaya kotoran mudah luntur, tapi yang terjadi baju tersebut berbau apek dan bau itu menolak hilang meski sudah dicuci ulang. Ceritanya terdengar familiar, karena hampir semua orang pernah merendam baju terlalu lama minimal sekali, dengan harapannya sama persis.
Bau Apek Itu Tumbuh Sendiri di Rendaman yang Dilupakan
Merendam memang bermanfaat. Air dan deterjen melunakkan noda agar mudah dibersihkan saat dicuci. Tapi kalau baju dibiarkan berjam-jam di air yang sama, kotoran dan zat dari pakaian justru menumpuk kembali ke dalam air tersebut, sehingga air rendaman menjadi sumber kotoran baru.
Kondisi lembap dan minim oksigen di rendaman itu adalah tempat ideal bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak. Inilah biang sebenarnya, karena mikroorganisme inilah yang menghasilkan bau tidak sedap, bukan kotorannya sendiri. Inilah alasan baju yang direndam lebih dari tiga puluh menit justru perlu segera diselesaikan pencuciannya.
Pemilik usaha Verzha Laundry, Alvina Marisa, menjelaskan hal serupa saat diwawancarai RRI. Menurutnya, baju yang didiamkan berhari-hari dalam kondisi lembap berpotensi menjadi sarang bakteri penyebab bau tidak sedap. Jadi niatnya membantu, kenyataannya justru memperpanjang masalah.

Residu Deterjen Lebih Sering Jadi Sumber Bau Daripada Kotorannya
Banyak orang berpikir makin banyak deterjen makin bersih hasilnya. Keyakinan ini dibantah langsung oleh Alvina Marisa. Terlalu banyak deterjen meninggalkan residu pada pakaian, membuat bilasan jadi tidak tuntas, dan residu inilah yang memicu aroma kurang sedap setelah baju kering.
Logikanya sederhana. Kalau pencucian belum benar-benar bersih, aroma pewangi tidak akan bertahan lama, karena masih ada kotoran atau bakteri yang menempel di kain. Wangi sembarangan hanya menutupi masalah sebentar, lalu bau aslinya kembali menyapa setelah beberapa jam.
Masalah serupa terjadi pada pelembut pakaian. Menuangnya langsung ke tumpukan baju memang terlihat praktis, tapi pelembut tidak disarankan bersentuhan langsung dengan pakaian karena dapat meninggalkan jejak noda. Tempat yang benar adalah kompartemen khusus yang sudah disediakan di mesin cuci.
Suhu air juga menentukan hasil akhir. Gwen Whiting dari The Laundress menjelaskan suhu air memengaruhi kekuatan pembersihan. Air hangat efektif mengangkat minyak tubuh, tapi air panas di atas lima puluh empat derajat Celsius berisiko membuat serat tertentu menyusut dan melemah. Kalau ragu, pakar gaya hidup Cheryl Nelson menyarankan air dingin karena lebih aman dan lebih hemat energi.
Mesin Cuci Punya Aturan Sendiri soal Busa dan Kapasitas
Busa melimpah sering dianggap tanda deterjen bekerja keras. Faktanya, formulasi dan kandungan aktif deterjen lebih menentukan hasilnya daripada banyaknya busa. Effendi Yonatan, R&D Product Development Manager Home Care Unilever Indonesia, menjelaskan bahwa untuk mesin cuci bukaan depan deterjen diformulasikan agar busanya tidak berlimpah karena busa berlebih justru memengaruhi kinerja mekanik mesin.
Selain soal busa, kapasitas mesin juga sering dilupakan. Memasukkan semua baju kotor sekaligus tanpa melihat berat dan bahan hanya membuat mesin tidak bisa memprosesnya dengan maksimal. Mencampur celana denim berat dengan bahan polyester atau linen juga memperpendek usia pakaian, karena bahan berat perlahan merusak serat bahan yang lebih halus.

Baju Bekas dan Baju Baru Punya Risiko Berbeda
Baju thrifting memang menarik, tapi pakai langsung tanpa dicuci berisiko. Spesialis kulit dr. Ruri Diah Pamela menyarankan mencuci pakaian bekas dengan air panas dan deterjen segera setelah dibeli, atau merendam dengan desinfektan khusus pakaian. Tanpa langkah ini, infeksi bakteri, virus, hingga reaksi alergi dari residu bahan kimia pemilik sebelumnya bisa muncul, terutama pada kulit sensitif.
Baju baru juga belum tentu bersih. Donald Belsito, profesor dermatologi di Columbia University Medical Center, mengingatkan bahwa pakaian baru sering mengandung pewarna azo-aniline dan resin formaldehida yang memicu ruam dan gatal. Kamar ganti toko juga menjadi tempat ideal bagi bakteri, kutu, dan jamur. Selain itu, penjemuran dalam ruangan disarankan untuk pakaian terpapar abu vulkanik, menurut dr. Agus Dwi Susanto dari RSUP Persahabatan.
Untuk pakaian yang lebih rewel, ada alternatif yang lebih ramah lingkungan. Buah lerak, yang sudah lama dipakai untuk mencuci kain tradisional seperti batik, mengandung saponin alami. Berbeda dengan deterjen, busanya memang sedikit, tapi warna kain tetap awet dan aman untuk kulit sensitif. Satu catatan, lerak lebih cocok untuk pakaian berwarna karena dapat meninggalkan noda cokelat pada baju putih.
Lima Langkah Kalau Rendaman Sudah Berbau
Pertama, keluarkan baju dari air rendaman dan bilas sampai tidak ada sabun yang menempel. Kedua, rendam kembali sekitar sepuluh menit dengan air dan karbol, seperti yang dilakukan @mamaholid23. Ketiga, cuci ulang dengan deterjen sesuai takaran, karena cuka makan lima tetes pada bilasan terakhir bisa menguatkan aroma pewangi.
Keempat, bilas sampai bersih dan jemur sampai benar-benar kering di tempat dengan sirkulasi udara baik. Kelima, simpan hanya setelah benar-benar kering, karena menyimpan pakaian dalam kondisi lembap mengundang bau kembali. Kalau noda kerah bandel masih bersikeras, campuran sitrun, pemutih, dan sabun cuci piring yang dipakai @kalaundry bisa dicoba, digosok pelan dengan sikat gigi bekas.
Baju yang bersih itu datang dari proses yang diselesaikan sampai tuntas, bukan dari durasi rendaman yang dipanjang-panjangkan. Menunda pencucian sekali mungkin terlihat efisien, tapi bau apek yang muncul biasanya meminta waktu dua kali lipat untuk diberantas.
Artikel Terkait
Lihat kategori Tips ↗
Baju Kusut Selalu Disalahkan ke Setrika, Padahal Air Wastafel yang Melarikan
Baju kusut itu kebanyakan dibentuk saat masih basah, terlipat sendiri di dalam air, atau dipelintir kasar saat dibilas. Beberapa kebiasaan kecil di wastafel dan jemuran menyelesaikannya tanpa beli alat baru.
Setiap Malam Bakar Obat Nyamuk, Padahal Kamar Mandimu Sendiri Pabriknya
Asap obat nyamuk dibakar tiap malam, padahal genangan air di bak mandi dan talang rumah justru jadi pabrik jentik yang tak pernah libur. Fogging pun sebetulnya cuma mematikan nyamuk dewasa.
Sepatu Sekolah Sering Jadi Prioritas, Padahal Tas Beratnya Mengubah Postur Anak
Belanja perlengkapan sekolah biasanya berhenti di sepatu, padahal tas yang beratnya melebihi standar itulah yang diam-diam mengubah postur anak setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar