Earbuds Kabel Disingkirkan Tahun Lalu, Sekarang Malah Jadi Penyelamat Dompet
Headphone berkabel yang sempat dianggap barang mati justru balik laris, sementara TWS rata-rata berumur dua sampai tiga tahun saja.

Earbuds Kabel yang Dulu Diejek, Sekarang Jadi Penyelamat Dompet
Ada yang lucu soal tren audio tahun ini. Barang yang tahun lalu kamu anggap usang, kabelnya dianggap saja-nggak-nggak, sekarang justru laris keras. Orang-orang kembali mencari earbuds berkabel, dan alasan utamanya bukan nostalgia.
Selama lima tahun berturut-turut penjualan headphone berkabel anjlok, bahkan menyentuh titik terendah dengan pendapatan jatuh ke angka US$42 juta pada 2024. Lalu di paruh kedua 2025 penjualannya melonjak 10 persen, dan memuncak di enam minggu pertama 2026 dengan kenaikan pendapatan sampai 20 persen. Angka ini datang dari laporan SoundGuys yang dirilis Mei 2026.
Alasan paling dingin kenapa orang balik ke kabel: harga. Rata-rata headphone berkabel dijual sekitar US$13, sementara versi Bluetooth dibanderol US$99. Selisihnya cukup buat beli beberapa kali pengganti.
Di tengah harga barang elektronik konsumen yang merangkak naik, selisih US$86 bukan angka kecil. Apalagi headphone berkabel tidak butuh charger sama sekali, jadi tidak ada pengeluaran tambahan untuk adaptor atau power bank cadangan.
TWS Memang Ganteng, Tapi Umurnya Pendek

Headphone nirkabel rata-rata mencapai akhir masa pakainya dalam dua sampai tiga tahun. Baterai lithium-ion di dalamnya tergerus perlahan di setiap siklus pengisian daya, dan karena baterainya nyaris mustahil diganti, sebagian besar produk audio Bluetooth akhirnya cuma jadi sampah.
Headphone berkabel bisa bertahan lebih dari satu dekade. Sebab dia tidak butuh baterai sama sekali, daya sepenuhnya ditarik dari perangkat yang terhubung. Lebih sedikit logam mulia ditambang, tidak ada baterai yang berakhir di tempat pembuangan akhir, dan lebih sedikit bahan kimia berbahaya yang mencemari tanah dan air tanah.
Titik kerusakan paling umum di headphone berkabel memang kabelnya. Tapi bedanya, saat kabel putus kamu cukup mengganti kabel itu saja. Tidak perlu membuang seluruh perangkat. Bandingkan dengan TWS yang baterainya melemah, padahal driver dan komponen lainnya masih sehat.
Logikanya begini. Di headphone kabel, kerusakan terkonsentrasi di satu titik yang murah. Di TWS, kerusakan menyebar ke baterai yang harganya nyaris sama dengan membeli unit baru. Itulah kenapa opsi kabel sering kali menang dalam hitungan total kepemilikan.
Mitos Radiasi Bluetooth yang Masih Diperdebatkan
Banyak orang bergeser ke kabel karena takut radiasi bluetooth membahayakan otak. Tapi profesi medis menilainya berbeda. dr. Edy saat diwawancarai detikSumut mengatakan bahwa secara medis anggapan earphone bluetooth lebih berbahaya dari yang berkabel tidak sepenuhnya benar.
Risiko utamanya bukan pada jenis koneksinya, melainkan pada volume suara dan lamanya penggunaan. Paparan suara berintensitas tinggi secara terus-menerus bisa berdampak negatif terhadap koklea, dan kerusakannya bisa bersifat permanen. Volume dan durasi adalah biangnya, bukan kabel atau bluetooth.
Profesor bioteknologi Universitas Pennsylvania Ken Foster menyebut radiasi perangkat bluetooth lebih rendah dibandingkan radiasi dari ponsel. Namun ahli neuro-onkologi di John Wayne Cancer Institute, dr. Santosh Kesari, tetap menyarankan headphone kabel sebagai alternatif lebih aman untuk panggilan telepon panjang. Jadi pilihan ada di tangan kamu, selama volume dan durasinya terjaga.
Satu catatan tambahan, penggunaan earphone jangka panjang juga berisiko memicu infeksi telinga kalau kebersihannya sampai terabai. Telinga berdenging alias tinnitus adalah keluhan yang sering menyertai.
Saat Kabel Jadi Masalah, Ini Cara Mengatasinya

Wajar kalau kabel jadi titik lemah. Untuk masalah headset tidak terdeteksi di laptop, port audio yang kotor dan dipenuhi debu adalah biang kerumut paling umum. Bersihkan portnya dengan cotton bud atau kuas kecil, lalu pasang kembali kabelnya.
Kalau headset tetap tidak terdeteksi, coba pindah ke port audio lain, biasanya ada ikon headset di samping port yang benar. Buka Control Panel, pilih Hardware and Sound lalu Sound, dan pastikan headset sudah diset sebagai perangkat default dan tidak dalam kondisi disable.
Beberapa kasus juga bisa berakhir pada driver audio yang usang. Pembaruan driver lewat Device Manager sering kali menyelesaikan masalah tanpa harus beli perangkat baru.
Lebih Hemat Sekaligus Lebih Awet
Kesimpulannya sederhana. Kalau kamu pengen audio yang awet, murah, dan gampang diperbaiki, kabel masih jawaban paling waras. Umur pakainya bisa lebih dari satu dekade asalkan kabelnya dirawat dan diganti saat putus.
Buat yang masih ragu, tidak perlu langsung beli headphone kabel mahal. Earbuds kabel seharga puluhan ribu rupiah saja sudah memberikan sebagian besar keuntungan ini, asalkan kamu tahu cara merawatnya.
Kalau kamu sudah punya TWS, tidak perlu langsung dibuang. Cukup atur volume di level aman, batasi durasi pemakaian, dan jaga kebersihannya. Tapi saat TWS itu berhenti berfungsi dan harganya jatuh, sekali lempar ke tempat sampah elektronik, ingat bahwa ada opsi lain.
Kabel mungkin terlihat kuno di zaman serba nirkabel ini. Tapi untuk dompet, lingkungan, dan ketenangan, dia justru pilihan paling masuk akal.
Artikel Terkait
Lihat kategori Tips ↗
Baju Kusut Selalu Disalahkan ke Setrika, Padahal Air Wastafel yang Melarikan
Baju kusut itu kebanyakan dibentuk saat masih basah, terlipat sendiri di dalam air, atau dipelintir kasar saat dibilas. Beberapa kebiasaan kecil di wastafel dan jemuran menyelesaikannya tanpa beli alat baru.
Setiap Malam Bakar Obat Nyamuk, Padahal Kamar Mandimu Sendiri Pabriknya
Asap obat nyamuk dibakar tiap malam, padahal genangan air di bak mandi dan talang rumah justru jadi pabrik jentik yang tak pernah libur. Fogging pun sebetulnya cuma mematikan nyamuk dewasa.
Sepatu Sekolah Sering Jadi Prioritas, Padahal Tas Beratnya Mengubah Postur Anak
Belanja perlengkapan sekolah biasanya berhenti di sepatu, padahal tas yang beratnya melebihi standar itulah yang diam-diam mengubah postur anak setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar