Kelambu Tetap Menyelamatkan Nyawa Walau Nyamuk Makin Kebal Racun

Jutaan kelambu dibagikan gratis untuk membasmi malaria, tapi nyamuk pembawa penyakitnya kini membangun kekebalan terhadap racunnya. Ada langkah sederhana di rumah yang tetap membuat kelambu berharga.

Bagikan cerita ini:
Kelambu terurai menutupi ranjang sebagai pelindung gigitan nyamuk saat tidur

Bukti Dua Puluh Dua Tahun Bahwa Kelambu Menyelamatkan Nyawa Anak

Kelambu sering dianggap sebagai perlengkapan rumah tua, padahal ia adalah salah satu alat kesehatan masyarakat paling berhasil yang pernah dibagikan secara massal. Sebuah studi di Tanzania yang berjalan selama 22 tahun membuktikan dampaknya bertahan jauh melampaui masa kanak-kanak. Anak-anak yang terbiasa tidur di bawah kelambu berinsektisida memiliki peluang bertahan hidup lebih dari 40 persen lebih tinggi hingga dewasa dibanding mereka yang jarang memakainya.

Penelitian yang dimuat di New England Journal of Medicine pada 3 Februari 2022 itu mengikuti 6.706 anak di Distrik Kilombero dan Ulanga sejak 1998. Tim survei mengunjungi rumah tangga setiap empat bulan sampai 2003 untuk mencatat kebiasaan pemakaian kelambu, lalu kembali pada 2019. Mereka berhasil menemukan kembali 89 persen peserta, dan fakta yang ditemukan cukup berat, lebih dari 600 anak ternyata sudah meninggal.

Hasil itu menepis kekhawatiran lama di kalangan ahli epidemiologi. Selama ini banyak yang menduga mencegah malaria di usia dini hanya menunda penyakit, karena anak tidak sempat membangun kekebalan alami. Data jangka panjang ini tidak menemukan bukti adanya lonjakan kematian di masa dewasa. Salim Abdulla, ilmuwan utama dari Ifakara Health Institute, mengatakan selama ini mereka tahu kelambu menyelamatkan nyawa anak muda, tapi tidak pernah yakin berapa lama manfaatnya bertahan.

Günther Fink, associate professor epidemiologi dari Universitas Basel dan Swiss Tropical and Public Health Institute, menyebut penting untuk bisa kembali dan melihat apa yang terjadi pada anak-anak saat tumbuh dewasa. Rekan timnya, Joanna Schellenberg dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, menilai penelitian ini sekaligus membuktikan nilai membangun hubungan sosial yang mendalam dengan komunitas yang diteliti.

Nyamuk Pembawa Malaria Mulai Berlatih Kebal Racun

Kelambu berinsektisida memang bekerja, tapi musuhnya tidak diam. Studi di desa Dielmo, Senegal, yang dipimpin Dr Jean-Francois Trape dari Institut Riset Pembangunan Dakar dan dimuat di The Lancet, melacak 500 orang sebelum dan sesudah kelambu dibagikan pada Agustus 2008. Dalam tiga pekan pertama, kasus malaria anjlok hingga 13 kali lebih rendah.

Namun sekitar dua tahun kemudian, kasus justru meningkat tajam, di beberapa kondisi bahkan melebihi angka sebelum kelambu ada. Saat peneliti mengambil sampel nyamuk Anopheles gambiae, mereka menemukan proporsi serangga dengan kekebalan genetis terhadap pestisida melesat dari 8 persen menjadi 48 persen antara 2007 dan 2010. Pada 2010, nyamuk yang resisten terhadap Deltamethrin, bahan yang direkomendasikan WHO untuk melapisi kelambu, mencapai 37 persen.

Kombinasi dua kejadian itulah yang memicu lonjakan. Efektivitas kelambu menurunkan paparan warga terhadap gigitan, sehingga kekebalan alami mereka terhadap malaria ikut menurun, sementara di saat yang sama nyamuk makin resisten terhadap racun. Hasilnya, infeksi melonjak pada anak usia lebih tua dan orang dewasa. Trape menyebut temuan ini sebagai keprihatinan besar.

Tidak semua peneliti sepakat dengan kesimpulan itu. Dr Joseph Keating dari Tulane University, New Orleans, mengakui implikasinya penting bila ini benar-benar tren, tapi menganggap studi ini terlalu kecil untuk dijadikan acuan jangka panjang. Ia menyarankan penelitian diperluas beberapa tahun lagi untuk memastikan apakah ini kecenderungan umum atau hanya terjadi di wilayah tersebut.

Nyamuk beristirahat di permukaan air tempat berkembang biak
Foto oleh Helena Jankovičová Kováčová di Pexels

Insektisida Pertama dalam Empat Puluh Tahun

Dunia tidak kehabisan akal. Peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, National Institute for Medical Research, Kilimanjaro Christian Medical University College, dan University of Ottawa menguji kelambu dengan insektisida baru, yang pertama dalam 40 tahun. Hasilnya, mengurangi prevalensi malaria sebesar 43 persen di tahun pertama dan 37 persen di tahun kedua dibanding kelambu biasa.

Uji coba itu melibatkan lebih dari 39.000 rumah tangga dan 4.500 anak usia 6 bulan hingga 14 tahun di Tanzania. Insektisida baru bernama chlorfenapyr ini bekerja berbeda dari pyrethroid, yakni menyebabkan kram sayap sehingga nyamuk tidak bisa terbang lagi untuk menggigit. Kelambu yang dikembangkan BASF Jerman itu sedikit lebih mahal, sekitar tiga dolar AS atau Rp40.015 per buah, tetapi peneliti menyebut kasus yang dicegah jauh melebihi tambahan biaya awal.

Jacklin Mosha, penulis utama studi dari National Institute for Medical Research Tanzania, menyebut ini bukti pertama dalam kondisi kehidupan nyata. WHO sudah memberi prakualifikasi untuk kelambu baru tersebut. Tapi timnya menyampaikan peringatan, penting memastikan nyamuk tidak cepat mengembangkan resistensi terhadap chlorfenapyr jika dipakai secara luas.

Kelambu Sering Berakhir Jadi Jaring Ikan

Ada masalah lain yang tidak banyak dibicarakan. Studi yang melaporkan kelambu malaria disalahgunakan sebagai jaring ikan menemukan praktik ini terjadi di seluruh daerah tropis. Jaring kelambu yang dirancang rapat meraup segala jenis dan ukuran ikan tanpa pandang bulu, sehingga para ahli khawatir populasi ikan akan habis terkuras.

Yang menarik, penulis studi tersebut justru memahami alasan di baliknya. Kemiskinan adalah akar masalahnya, dan membatasi penangkapan ikan dengan kelambu berisiko merugikan orang-orang yang hanya berusaha mencari nafkah. Perlu diingat, distribusi kelambu berinsektisida adalah alasan utama kematian akibat malaria turun 60 persen pada 2015 dibanding 2000, dan pada tahun itu saja lebih dari 150 juta kelambu dikirim ke negara-negara endemik, umumnya gratis atau disubsidi.

Langkah di Rumah yang Tetap Bikin Kelambu Berharga

Kelambu tidak akan berhenti berguna hanya karena sebagian nyamuk makin kebal. Cara pakainya hanya perlu sedikit diperbaiki, dan beberapa kebiasaan tambahan di rumah bisa memperkuat perlindungannya.

Matikan Tempat Berkembang Biaknya

Nyamuk butuh air untuk bertelur, jadi genangan di halaman, pot bunga, atau talang adalah pabrik jentik. Kosongkan dan keringkan wadah penampung air secara rutin. Jika ada genangan yang sulit dikeringkan, taburkan bubuk kopi ke permukaannya. Telur nyamuk akan naik ke permukaan lalu mati karena kekurangan oksigen.

Andalkan Tanaman dan Aroma Pengusir

Tanaman seperti kemangi dan serai punya senyawa citronella yang menyembunyikan asam laktat dan karbon dioksida, dua hal yang dipakai nyamuk untuk melacak mangsa. Letakkan satu sampai dua tanaman di depan rumah. Lilin beraroma serai juga ampuh, nyalakan 15 sampai 20 menit lalu matikan agar aromanya menyebar. Minyak esensial lavender bisa disemprotkan ke pakaian atau ke seluruh ruangan, sementara bawang putih yang dihancurkan bisa ditaburkan di sekitar teras karena kandungan allicinnya tidak disukai nyamuk.

Rumpun serai tumbuh di halaman rumah sebagai pengusir nyamuk alami
Foto oleh Tuấn Kiệt Jr. di Pexels

Ganggu Cara Terbangnya dan Tutup Celah

Kipas angin ternyata senjata efektif karena anginnya menghilangkan jejak karbon dioksida sekaligus mengganggu penerbangan nyamuk. Memakai pakaian warna terang dan lebih tertutup juga membantu, karena nyamuk cenderung hinggap di tempat gelap. Perangkap portabel bertenaga baterai atau propana bisa memikat dan menjebak nyamuk sepanjang hari, meskipun butuh waktu pemasangan.

Untuk kelambu itu sendiri, pastikan benar-benar tertutup rapat saat dipakai dan cuci atau vacuum secara berkala agar tidak jadi sarang debu. Kamper atau kapur barus dengan aroma tajam bisa diletakkan di mangkuk berisi air, asalkan di tempat yang tidak terjangkau anak dan hewan peliharaan. Kalau punya halaman, tempat makan burung bisa diajak bekerja sama karena burung adalah pemangsa nyamuk yang rajin.

Kelambu tetap lebih murah dalam jangka panjang dibanding terus membeli obat nyamuk. Penelitian di Tanzania menunjukkan manfaatnya bertahan sampai anak-anak tumbuh dewasa, sementara nyamuk yang kebal racun hanya berarti kita perlu memilih kelambu baru dengan insektisida jenis baru dan menutup celah lain di rumah.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar

Lihat kategori Tips ↗