Power Bank Terbakar di Pesawat dan Bus, Harga Murah Jadi Tersangka Utama
Dua insiden nyata di pesawat dan bus membongkar risiko power bank abal-abal yang dipaksa bekerja keras. Sebelum mengeluarkan uang, ada beberapa hal yang wajib kamu cek di kemasannya.

Dua Insiden Nyata di Pesawat dan Bus
Sebuah power bank mulai berasap di kabin pesawat Batik Air penerbangan ID6143 rute Makassar-Jakarta, sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit setelah lepas landas pada 29 Juli 2026. Rekaman yang beredar memperlihatkan asap dan bau terbakar di kabin, sebelum awak kabin bergerak cepat mengisolasi perangkat dan memadamkan sumber api. Tidak ada laporan korban luka, dan pesawat tetap melanjutkan perjalanan hingga mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta.
Sebulan kemudian, insiden serupa terjadi di darat. Bus Al Hijrah jurusan Padang-Jakarta mengalami korsleting kelistrikan yang diduga dipicu pengisian daya power bank di dalam bus pada 22 Agustus 2026. Kedua peristiwa ini bukan pertanda power bank adalah barang berbahaya yang harus dijauhi, melainkan peringatan bahwa cara memilih dan memakainya sering kali sembarangan.
Pesawat dan Bus Menjadi Panggung Utama
Power bank menyimpan energi dalam baterai lithium-ion yang berisiko mengalami panas berlebih atau thermal runaway. Kondisi ini bisa memicu asap, api, bahkan ledakan kalau baterainya rusak, mengalami korsleting, atau terpapar suhu tinggi. Di ruang sempit seperti kabin dan bus, satu perangkat yang bermasalah cukup untuk menciptakan kepanikan massal.

Yohan Wahyudi, Sales Manager PT Hai Rimba Kencana yang memproduksi bangku bus, menjelaskan ke Kompas.com bahwa charger USB yang terpasang di bangku penumpang sebenarnya sudah dilengkapi sistem pengaman. Faktor terbesar penyebab korsleting, menurutnya, justru kondisi power bank yang dipakai penumpang, terutama yang berkualitas rendah atau sudah mendekati usia rusak.
Menariknya, Yohan melihat pengisian daya ponsel di bus relatif aman karena perangkat umumnya punya sistem cut off otomatis yang menghentikan aliran listrik begitu baterai penuh. Pada power bank berkualitas rendah, korsleting bisa terjadi justru sebelum proses pengisian selesai. Dengan kata lain, semakin besar kapasitas yang dipaksakan bekerja pada komponen murah, semakin besar pula ruangnya untuk gagal.
Tiga Tes Lab yang Membongkar Power Bank Murahan
Channel NewsAsia bersama Andreas Hauser, pakar baterai yang sudah menguji selama delapan belas tahun, menjalankan rangkaian tes pada tiga power bank: dua tanpa merek dengan harga sekitar 10 hingga 15 dolar Singapura, dan satu bermerek bersertifikat. Hasilnya cukup membuka mata tentang apa yang sebenarnya dibeli saat memilih produk termurah.
Uji Suhu, Arus Pendek, dan Kelebihan Isi
Ketiga perangkat lulus uji tekanan casing pada oven bersuhu 70 derajat Celsius dan uji arus pendek. Namun tes overcharging, salah satu faktor utama kebakaran, memperlihatkan perbedaan nyata. Salah satu power bank tanpa merek mengalami penggembungan baterai hingga casing aluminiumnya melengkung, meski perangkat tetap berfungsi normal. Andreas menyebut pengguna biasa akan menganggapnya aman, padahal potensinya bisa jauh lebih buruk.
Uji Getaran dan Jatuh
Pada tes getaran, perangkat murah dan tanpa sertifikat jelas terbuka dan ditemukan kabel internal yang hanya ditempel dengan lem. Andreas menunjukkan bahwa sel baterai adalah bagian terberat dari power bank, sehingga setiap guncangan saat berjalan, naik bus, atau naik mobil menciptakan tekanan pada kabel tersebut. Kalau lemnya lepas, kabel bisa menyentuh titik lain dan memicu korsleting. Power bank bermerek biasanya memakai strip logam yang dilas dan sel baterai yang terpasang pas di dalam casing.
Tes jatuh dari ketinggian satu meter ke lantai baja menutup rangkaian uji. Tidak ada casing yang retak, tetapi power bank berbahan aluminium menjadi agak renggang hingga sirkuit internalnya terbuka. Perangkat itu dinyatakan gagal uji, sementara dua lainnya lolos. Dari sini terlihat jelas bahwa harga sering kali mencerminkan kualitas dan keamanan, bukan sekadar keuntungan penjual.
Lima Kebiasaan yang Diam-Diam Memperpendek Umur Power Bank
Erafone merangkum sejumlah kesalahan pakai power bank yang paling sering dilakukan tanpa disadari. Kelima kebiasaan ini tidak akan langsung merusak perangkat dalam semalam, tapi semuanya menuju ke arah yang sama: degradasi sel baterai, penurunan kapasitas, hingga risiko kebakaran.
Pertama, memakai power bank tidak original dan tanpa sertifikasi. Produk abal-abal umumnya dibuat dengan komponen murahan dan tanpa perlindungan standar. Tiongkok bahkan sudah melarang power bank tanpa sertifikasi CCC untuk dibawa ke dalam penerbangan. Kedua, mengisi power bank dengan charger sembarangan, terutama adaptor murah tanpa proteksi arus yang bisa memicu overheat. Ketiga, mengisi baterai gadget dan power bank secara bersamaan, karena banyak perangkat tidak dirancang menangani input dan output pada saat yang sama.

Keempat, membiarkan suhu power bank terlalu panas karena dipakai terus-menerus tanpa jeda. Kelima, menggunakan kabel atau adaptor murahan yang membuat arus listrik menjadi tidak stabil dan memperbesar risiko lonjakan tegangan. Lima kebiasaan ini terdengar sepele, tapi semuanya berlangsung diam-diam di balik casing plastik.
Ceklis Beli Power Bank yang Tidak Menyesatkan
Kosadata mencatat bahwa kapasitas besar, fitur fast charging, wireless charging, hingga dukungan MagSafe kini jadi pertimbangan utama pembeli. Sayangnya, banyak yang berhenti di angka mAh dan melupakan hal-hal yang benar-benar menyelamatkan uang dan keselamatan. Untuk pemakaian harian, kisaran 10.000 hingga 20.000 mAh umumnya sudah lebih dari cukup. Pembuat konten atau pekerja lapangan baru perlu naik ke kapasitas yang lebih besar.
Cek Sertifikasi dan Label Kapasitas
Di banyak negara, baterai lithium-ion pada power bank portabel harus sesuai standar keamanan IEC 62133-2. Sayangnya produsen tidak selalu mencantumkannya, dan tidak ada kewajiban menempelkan stiker di perangkat. Dua set power bank yang dibeli dari lokapasar daring dengan harga murah ternyata tidak memiliki label ini, sementara produk bermerek justru mencantumkannya dengan jelas. Steven Chia dari CNA menyarankan pembeli untuk mencari label yang jelas, dan kalau tidak menemukannya di kotak, kirim email ke produsen untuk bertanya.
Label kapasitas juga wajib terlihat jelas. Maskapai seperti Batik Air dan Lion Group menolak power bank tanpa informasi kapasitas, dan ini bukan sekadar formalitas. Kapasitas menentukan apakah perangkat boleh masuk kabin sama sekali.
Pilih Output yang Sesuai dengan Kebutuhan
Power bank 20.000 mAh bermerek seperti VIVAN VPB-W20 mendukung pengisian cepat 22,5 watt dua arah, Power Delivery, dan Quick Charge 3.0. JETE B7 hadir dengan kapasitas 20.000 mAh, kabel USB-C dan Lightning bawaan, serta kemampuan mengisi empat perangkat sekaligus. Sementara itu, Xiaomi merilis power bank magnetik 10.000 mAh dengan output 33 watt dan sembilan lapis perlindungan. Perbedaan harga antara produk bermerek dan tanpa merek sering kali hanya selisih puluhan ribu rupiah, padahal yang kamu dapat jauh lebih dari sekadar nama.
Aturan Pesawat dan Bus yang Masih Sering Dilupakan
Mengacu pada panduan International Air Transport Association, penumpang dibatasi membawa maksimal dua power bank lithium-ion dengan kapasitas tidak lebih dari 100 Wh. Batik Air dan Lion Group menetapkan power bank maksimal 100 Wh atau sekitar 20.000 mAh boleh dibawa tanpa persetujuan khusus, sedangkan 100 hingga 160 Wh atau sekitar 20.000 hingga 32.000 mAh memerlukan persetujuan maskapai dengan jumlah maksimal dua unit. Di atas 160 Wh, perangkat dilarang dibawa ke pesawat.
Selain itu, power bank hanya boleh dibawa ke kabin dan dilarang dimasukkan ke bagasi tercatat. Perangkat tidak boleh dalam kondisi rusak, menggembung, bocor, atau terlalu panas. Terminal baterai harus dilindungi dengan penutup atau kantong pelindung terpisah, dan power bank dilarang digunakan untuk mengisi daya HP maupun perangkat elektronik lain selama penerbangan. Aturan serupa juga berlaku di bus: pengisian daya power bank pada colokan kursi kini dilarang di banyak armada, justru karena risikonya lebih besar daripada mengisi ponsel biasa.
Inti Pesannya Tidak Rumit, Tapi Sering Diabaikan
Data dari otoritas penerbangan Singapura menunjukkan dalam delapan tahun terakhir, lima dari sembilan insiden baterai lithium-ion di pesawat maskapai Singapura melibatkan power bank. Di luar pesawat, tercatat 38 kebakaran akibat power bank di Singapura antara 2018 hingga tahun lalu. Angka-angka ini bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa perangkat sehari-hari tetap punya risiko nyata.
Jadi sebelum membeli power bank baru, periksa label kapasitas dan sertifikasi keamanannya, pilih output yang sesuai kebutuhan, dan hindari produk tanpa nama jelas hanya karena harganya di bawah seratus ribu rupiah. Daya besar tidak ada gunanya kalau perangkatnya justru jadi sumber risiko di tas kamu. Uang yang kamu hemat di depan bisa jadi sangat murah dibandingkan harga keselamatan.
Artikel Terkait
Lihat kategori Tutorial ↗
HP 5G Harganya Selangit, Tapi Cakupan 5G Indonesia Baru 4,44 Persen
Membeli HP 5G itu nggak murah, padahal cakupan jaringan 5G di Indonesia baru sekitar 4,44 persen per April 2025. Sebelum menyalahkan ponselnya, ada beberapa pintu yang sebaiknya dicek dulu.
Kamu Beli Kuota untuk Diri Sendiri, Tapi Aplikasi Diam-Diam Makannya Lebih Dulu
Sebagian besar kuota yang kamu beli habis dimakan aplikasi di latar belakang, bukan olehmu. Cara menghentikan pembocoran ini hanya butuh beberapa pengaturan.
Tombol Power dan Volume Sudah Lumayan Tua, Sementara Semua HP Punya Cara Lebih Cepat
Semua HP punya empat sampai lima pintu untuk mengambil tangkapan layar, tapi kebanyakan kita cuma hafal satu yang paling tua.
Ruang Diskusi & Komentar