Selimut Tebal Dituduh Penyebab Tidur Nyenyak, Padahal Bau Apek Berasal dari Dalam Lemari
Selimut yang sama dipakai berbulan-bulan tanpa dicuci, lalu dilipat basah di lemari. Itulah resep bau apek yang menempel setiap malam.

Selimut Lebih Sering Dilipat Daripada Dicuci
Hampir setiap rumah punya satu selimut andalan. Digunakan tiap malam, dilipat tiap pagi, lalu disembunyikan di lemari paling dalam. Selimut jenis ini biasanya tebal, berbulu, dan terasa seperti pelukan ketika cuaca menyerang. Tapi selimut yang sama juga menyerap keringat, debu, minyak dari tangan, dan kelembapan tanpa pernah mengeluh.
Hasilnya mudah ditebak. Suatu malam selimut itu bau apek, dan bau itu tidak hilang hanya karena dijemur sebentar. Menjemur memang mengusir bau sebagian, tapi tidak mengangkat kotoran yang sudah mengendap di serat kain. Itulah bedanya wangi sementara dan benar-benar bersih.

Frekuensi Mencuci Selimut Lebih Panjang dari yang Dibayangkan
Anggapan umum, selimut dicuci cukup enam bulan sekali atau bahkan setahun sekali. Padahal selimut yang dipakai harian sebaiknya masuk mesin cuci setiap satu sampai dua bulan. Keringat dan kotoran yang menumpuk lama-lama menembus jalinan kain, masuk ke isian, dan membuat selimut tidak nyaman dipakai lagi.
Mary Gagliardi, ilmuwan dan pakar kebersihan dari Clorox, mengingatkan bahwa tumpukan debu, keringat, dan minyak di selimut bisa memicu alergi, iritasi kulit, hingga gangguan pernapasan. Bagi yang punya alergi debu, sebulan sekali pun tidak akan terlalu sering. Untuk selimut berbahan halus seperti sutra, wol, atau bulu angsa, justru sebaliknya. Bahan-bahan ini mudah rusak kalau terlalu sering dicuci, jadi cukup enam bulan sampai satu tahun, kecuali ada noda membandel.
Pakai penutup duvet? Selimut di dalamnya lebih aman dari noda dan kotoran, sehingga pencucian bisa lebih jarang. Kathy Cohoon dari Two Maids menyarankan justru cuci penutupnya, bukan selimutnya. Selimut dengan penutup duvet bisa bertahan satu sampai dua tahun antar pencucian.
Bau Apek Itu Sebenarnya Muncul Saat Dilipat
Bau apek sering disalahkan pada musim hujan. Padahal kuncinya ada di satu kebiasaan kecil, yaitu melipat selimut yang belum benar-benar kering. Ida, pemilik usaha laundry di Bintuhan, menjelaskan bahwa kelembapan yang tertinggal di bagian dalam selimut tebal memicu bau apek begitu selimut masuk lemari. Penyimpanan adalah momen di mana bau itu lahir, bukan saat selimut dipakai.
Ia juga punya catatan soal deterjen. Pakai berlebihan justru bikin bau, karena sisa deterjen yang tertinggal di serat kain menjadi tempat kotoran menempel lagi. Kapasitas mesin cuci juga perlu disesuaikan dengan ukuran selimut. Mesin terlalu penuh membuat pembilasan tidak optimal, dan selimut keluar dalam kondisi masih sabunan.
Musim Hujan Tidak Membuat Selimut Mustahil Dibersihkan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan musim hujan 2026/2027 masuk secara bertahap, dengan puncak di Desember 2026 hingga Februari 2027. Artinya hari cerah dan hujan deras bisa berganti cepat. Langkah pertama yang paling menentukan adalah cek prakiraan cuaca sebelum mulai mencuci, lalu mulai pagi hari agar tersedia waktu seharian untuk pengeringan.
Sebelum masuk mesin, kibaskan selimut di luar ruangan untuk merontokkan debu, lalu tangani noda di bagian tepi yang sering bersentuhan dengan wajah. Oleskan deterjen cair yang sudah diencerkan, diamkan beberapa menit, dan tepuk perlahan tanpa menggosok keras. Periksa juga jahitan yang longgar, karena isian bisa keluar saat pencucian.
Masukkan selimut terpisah dengan siklus bulky atau bedding, dan gunakan panas rendah saat mengeringkan. Consumer Reports menyarankan waktu pengeringan yang lebih lama dari pakaian biasa. Kalau mesin cuci di rumah terlalu kecil, selimut tebal memang lebih cocok dibawa ke laundry dengan mesin berukuran besar.
Trik Lama yang Masih Berlaku dan Yang Perlu Dihindari
Beberapa orang memasukkan bola tenis ke mesin pengering bersama selimut tebal. Frej Lewenhaupt dari Steamery menjelaskan bola tenis bekerja seperti bola pengering, yaitu meningkatkan sirkulasi udara, memisahkan bagian yang basah, dan mencegah isian menggumpal. Kimberly Romine, ilmuwan perawatan kain dari P&G, menambahkan bola ini membantu mendistribusikan kembali isian selimut, baik bulu angsa, sintetis, maupun katun.
Beberapa aturan kecil perlu diikuti. Gunakan air dingin atau hangat, karena air panas merusak inti karet bola. Bungkus bola dalam kantong cucian untuk mengurangi benturan dan gesekan pada tabung. Dan pastikan bola tenis masih baru dan bersih, bukan yang sudah aus dan penuh debu.
Untuk selimut yang sudah apek parah, cuka makan bisa membantu. Pengguna YouTube Laundry Ria membagi cara yang terbukti efektif, yaitu larutan 10 liter air dengan tiga tutup botol cuka, aduk selimut tanpa merendam berjam-jam, langsung tiriskan. Setelah diperas di mesin, rendam lima menit dalam larutan pewangi, lalu jemur tanpa diperas lagi. Hasilnya selimut lebih halus dan wangi tahan lama.

Selimut Tebal Tidak Selalu Menjadi Jawaban untuk Cuaca Dingin
Selimut tebal memang memberi rasa hangat, tapi tidak semua tubuh cocok. Dr Andrew Miller dari Canberra Hospital menjelaskan meringkuk dalam selimut bisa mengurung panas tubuh. Pada beberapa orang kondisi ini justru memperburuk eksim atau psoriasis, dan kepanasan saat tidur memicu garukan tidak sadar yang menimbulkan jerawat serta ketombe. Suhu tidur yang lebih dingin umumnya lebih sehat untuk kulit dan kualitas tidur.
Dokter Saddam Ismail dari Jambi punya peringatan lain. Menggigil saat demam adalah respons tubuh yang otaknya mengatur suhu lebih tinggi dari normal. Saat demam, tubuh perlu melepaskan panas, bukan menyimpannya. Selimut tebal justru merangkap panas dan berisiko menaikkan suhu, terutama pada anak-anak yang bisa memicu kejang demam. Pakaian tipis dan kompres air hangat jauh lebih aman.
Bulu yang Lembut Bisa Jadi Masalah bagi Paru-paru
Selimut berbulu memang terlihat mewah dan terasa hangat. Tapi bulu yang halus bisa terbang dan terhirup. Martin Taylor, pria asal Skotlandia, mengalami sesak napas berbulan-bulan setelah mengganti selimutnya dengan yang berbulu. Diagnosisnya pneumonitis hipersensitif, yaitu reaksi alergi pada paru-paru terhadap debu bulu burung. Setelah selimut diganti, pernapasannya kembali normal.
Kasus ini tercatat dalam studi di British Medical Journal. Bagi yang punya riwayat asma atau alergi pernapasan, selimut berbulu perlu dipertimbangkan dua kali. Alternatifnya adalah katun, yang menyerap kelembapan dan makin lembut setiap kali dicuci.
Beli Selimut Baru Tidak Menyelesaikan Masalah
Saat selimut mulai bau atau kasar, godaan untuk membeli yang baru selalu ada. Padahal selimut baru juga membawa risiko. Sebuah survei di Amerika menemukan lebih dari separuh orang tua masih menambahkan selimut dan bantal di kasur bayi, padahal American Academy of Pediatrics sudah lama memperingatkan hal ini memicu sindrom kematian bayi mendadak. Selimut tambahan yang terlalu banyak menutupi wajah adalah bahaya nyata, bukan kehangatan.
Selimut pesawat juga punya catatan. Natalie Magee, pramugari dengan pengalaman 20 tahun, mengungkapkan selimut pesawat bisa jadi sarang rambut, sisa makanan, jamur, hingga cairan tubuh. Pada penerbangan domestik, beberapa maskapai hanya melipat kembali selimut bekas tanpa mencucinya. Membawa selimut tipis sendiri jadi pilihan yang lebih bersih.
Langkah Praktis agar Selimut Awet dan Tidak Bau
Pertama, kenali bahannya. Katun tahan dicuci rutin dan makin lembut setelah dicuci. Wol dan bulu angsa butuh perawatan ekstra, dan hanya jenis tertentu yang boleh masuk mesin. Kedua, cek label perawatan sebelum mencuci maupun mengeringkan, karena setiap bahan punya aturan sendiri.
Ketiga, keringkan sempurna sebelum dilipat. Angin-anginkan selimut di tempat dengan sirkulasi baik, dan pastikan tidak ada kelembapan tersisa di bagian dalam. Keempat, gunakan deterjen secukupnya. Sisa deterjen di serat kain justru menarik kotoran dan menimbulkan bau.
Kelima, perhatikan cara menyimpan. Lipat selimut setelah benar-benar kering, simpan di lemari yang tidak lembap, dan beri jarak agar udara tetap mengalir. Kelima langkah ini terlihat sepele, tapi kebiasaan kecil inilah yang membedakan selimut awet lima tahun dan selimut yang harus diganti setiap musim.
Artikel Terkait
Lihat kategori Tutorial ↗
HP 5G Harganya Selangit, Tapi Cakupan 5G Indonesia Baru 4,44 Persen
Membeli HP 5G itu nggak murah, padahal cakupan jaringan 5G di Indonesia baru sekitar 4,44 persen per April 2025. Sebelum menyalahkan ponselnya, ada beberapa pintu yang sebaiknya dicek dulu.
Kamu Beli Kuota untuk Diri Sendiri, Tapi Aplikasi Diam-Diam Makannya Lebih Dulu
Sebagian besar kuota yang kamu beli habis dimakan aplikasi di latar belakang, bukan olehmu. Cara menghentikan pembocoran ini hanya butuh beberapa pengaturan.
Tombol Power dan Volume Sudah Lumayan Tua, Sementara Semua HP Punya Cara Lebih Cepat
Semua HP punya empat sampai lima pintu untuk mengambil tangkapan layar, tapi kebanyakan kita cuma hafal satu yang paling tua.
Ruang Diskusi & Komentar