Serbet Dapur Lebih Penuh Kuman dari Kloset, dan Sebagian Orang Tetap Memakainya

Sebagian besar orang mengelap piring dengan kain yang 89 persennya mengandung bakteri kotoran manusia. Berikut cara mencucinya yang benar.

Bagikan cerita ini:
Tumpukan kain serbet dapur bersih siap digunakan untuk mengelap peralatan makan

Angka Kasar Serbet Dapur yang Bikin Geli

Serbet dapur cuma seutas kain. Tapi penelitian yang dimuat di Food Protection Trends memeriksa 82 lap tangan bekas pakai di dapur, dan hasilnya cukup membuat tangan berhenti sejenak sebelum mengelap piring. Sekitar 89 persen lap itu mengandung bakteri coliform, dan 25,6 persen membawa Escherichia coli. Coliform memang flora normal usus manusia, dan keberadaannya di kain menandakan kontak dengan kotoran serta praktik cuci tangan yang kurang higienis.

Studi terpisah dari University of Mauritius memperkuat gambaran itu. Tim peneliti mengumpulkan 100 serbet dapur yang sudah dipakai selama sebulan, dan 49 persen menunjukkan pertumbuhan bakteri. Konsentrasi coliform dan E. coli lebih tinggi pada serbet dalam kondisi lembab, terutama di rumah dengan anggota keluarga banyak. Susheela D. Biranjia-Hurdoyal, dosen senior di kampus tersebut, menyimpulkan bahwa aktivitas dapur langsung memengaruhi jumlah mikroba di kain lap.

Bandingkan dengan kloset duduk. Sejumlah riset menyandingkan angka kontaminasi dudukan toilet dengan kain lap dapur, dan serbet kerap kali kalah bersih. Alasannya sederhana. Kain itu dipakai berulang untuk mengelap tumpahan di meja, menyerap minyak di kompor, mengeringkan tangan, hingga memegang peralatan makan yang baru dicuci.

Kesalahan Paling Umum, Mencuci Serbet Bareng Baju

Kain serbet dapur sedang dicuci dengan air panas dan detergen di wastafel
Foto oleh zaid mohammed di Pexels

Menggabungkan serbet ke mesin cuci bersama pakaian sehari-hari memang menghemat waktu. Tapi ahli perawatan kain dari P&G, Kim Romine, mengingatkan bahwa noda minyak dan bumbu dapur di serbet bisa menodai pakaian. Kristi Lord, pendiri L'Avant Collective, menambahkan bahwa kain tipis seperti kaos paling berisiko rusak kalau dicuci bersama serbet. Karena itu, pisahkan kedua jenis kain ini agar masing-masing benar-benar bersih.

Masalah lain adalah kontaminasi silang. Bakteri menumpuk dari waktu ke waktu di serbet, dan mencucinya bersama pakaian menciptakan jembatan bagi kuman untuk berpindah ke baju, handuk, hingga bantal. Cucilah serbet dapur secara terpisah, atau digabung dengan kain-kain kotor lain yang selevel.

Berapa Lama Sebenarnya Serbet Boleh Dipakai

Richardson, pakar yang dilansir Southern Living, membagi aturan praktis. Serbet yang khusus dipakai mengeringkan tangan aman dicuci setiap empat hari atau lebih sering. Tapi serbet yang dipakai menyerap tumpahan dan menyeka permukaan meja sebaiknya tidak digunakan lebih dari satu hari.

Pertanda serbet harus segera dicuci adalah warna yang menguning, bau apek, permukaan yang terasa licin karena lapisan lemak, atau serat yang sudah keras. Serbet yang lembab adalah surga bagi bakteri. Mikroba berkembang biak cepat di lingkungan hangat dan basah, dan setiap kali kain dipakai mengelap permukaan, sebagian kuman berpindah kembali ke piring dan ke tangan. Karena itu, memeras lalu menjemur serbet setelah dipakai jauh lebih penting daripada sekadar mencucinya seminggu sekali.

Cara Mencuci yang Benar Tanpa Sikat dan Sitrun

Ada dua alat dapur yang ternyata ampuh untuk pekerjaan ini, yaitu sabun cuci piring dan air panas. Metode yang dibagikan Rina Kartomisastro lewat video berisi langkah sederhana. Masukkan serbet ke ember, tambahkan detergen pakaian secukupnya dan sedikit sabun cuci piring, lalu tuang air panas hingga seluruh serbet terendam. Takaran sabun harus pas, tidak boleh kelebihan atau kesedikit.

Aduk campuran itu dengan sendok atau capitan, bukan tangan, karena suhu airnya panas. Setelah itu, diamkan serbet selama dua jam. Air rendaman akan berubah keruh kehitaman, tanda lemak dan noda lama sudah luruh dari serat. Buang airnya, bilas serbet dengan air bersih, lalu kucek sedikit untuk sisa noda yang tertinggal. Peras dan jemur hingga kering sempurna.

Untuk pencucian rutin, Kim Romine menyarankan air panas sekitar 60 derajat Celsius dan detergen berkualitas tinggi. Jangan pakai pelembut pakaian karena residunya menurunkan daya serap serbet. Sebagai tambahan, detergen cair pada siklus pembilasan membantu memecah residu penyebab bau yang terjebak di serat. Kalau khawatir kuman, gunakan pemutih beroksigen, karena pemutih klorin merusak warna dan menurunkan serat.

Agar Serbet Awet dan Tidak Cepat Bau

Permukaan meja dapur yang dibersihkan dengan kain serbet kering dan bersih
Foto oleh Jep Gambardella di Pexels

Setelah mencuci dan mengeringkan, Richardson menyarankan untuk menyetrika serbet. Uap panas setrika membantu kain lebih tahan noda, walau langkah ini opsional. Kalau tidak ada waktu, lipat rapi dan simpan kembali di laci hingga dibutuhkan lagi.

Beberapa kebiasaan kecil memperpanjang umur serbet. Sediakan minimal dua serbet yang dipakai bergantian agar ada waktu untuk mencuci dan mengeringkan. Serbet berat seperti pengelap minyak kompor sebaiknya dipisah, karena minyak inilah yang paling sulit dihilangkan dan paling cepat membuat kain menguning. Jangan sekali pun memakai serbet dapur untuk mengelap tangan setelah ke kamar mandi.

Serbet yang sudah sobek, berlubang, atau aromanya tidak hilang setelah dicuci sebaiknya memang pensiun. Kain seperti itu lebih cocok jadi lap lantai atau pembungkus pot sebelum akhirnya dibuang.

Kalau Serbet Sudah Tak Bisa Diselamatkan

Banyak orang membuang serbet yang sangat kotor karena malas mencuci, dan itu pilihan yang sah. Tapi sebelum dibuang, perhatikan bahwa kain katun serbet bisa dijadikan komposter sederhana, lap peralatan kendaraan, atau pembungkus hasil kebun. Beberapa pengrajin juga mengolah serbet bekas menjadi keset kain perca.

Serbet baru tidak perlu mahal. Yang penting adalah memilih bahan katun dengan serat rapat agar daya serapnya baik, lalu menjaganya tetap kering dan terpisah dari tugas berat minyak. Anggaran kecil untuk kain lap yang rutin diganti jauh lebih masuk akal dibanding memakai satu serbet selama berminggu-minggu hingga bakterinya beranak pinak.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar

Lihat kategori Tips ↗