Setrika Murah Meriah, Satu Kesalahan Kecil Bikin Tagihan Listrik Melar dan Tangan Kelelahan
Sebagian besar tagihan setrika yang membengkak bukan disebabkan jam pemakaian, melainkan kebiasaan menyetrika sambil jeda. Setrika murah tanpa tapak anti lengket memperparah hasilnya.

Ni Putu Swastini berusia 14 tahun. Siswa kelas VIII SMPN 2 Dawan, Klungkung, Bali itu menyetrika baju seragamnya pada pagi hari sebelum berangkat sekolah. Ibunya baru sebentar masuk kamar mandi. Beberapa menit kemudian terdengar teriakan, dan ketika ibunya buru-buru keluar, Swastini sudah tergeletak di lantai kamarnya dengan setrika masih menempel di leher.
Kejadian pada Senin pagi itu berakhir fatal. Korban dibawa ke IGD RSUD Klungkung namun nyawanya tidak tertolong. Di tempat kejadian, polisi menemukan dua pakaian sekolah yang masih lembap, dan kondisi setrika yang kurang baik. Alat itu diamankan sebagai barang bukti. Cerita ini memang terdengar seperti berita kecelakaan biasa. Tapi sebetulnya ada pola yang sama di banyak rumah, yaitu menyetrika baju yang belum benar-benar kering pakai setrika yang usianya sudah lama.
Baju Setengah Kering Adalah Beban Ganda
Saat musim hujan, jemuran sering kali angkat dalam keadaan lembap. Sebagian orang langsung menyetrikanya supaya cepat rapi dan tidak berbau. Langkah ini sah-sah saja, selama sadar bahwa pekerjaannya jadi dua kali lipat.
Panas setrika tidak cuma merapikan kerutan. Pada baju lembap, panas itu juga harus menguapkan sisa air yang tersisa di serat kain. Butuh waktu lebih lama dan panas lebih tinggi sampai baju benar-benar kering dan licin. Inilah penyebab setrika bekerja lebih lama dari seharusnya.
Yang sering luput, baju lembap juga jauh lebih mudah lengket di tapak setrika. Serat kain yang masih lembut menempel pada logam panas, lalu seratnya rusak atau menempel permanen. Tapak setrika pun lama-kelamaan menjadi kasar. Solusi praktisnya cukup sederhana. Angkat jemuran hanya saat sudah kering sempurna. Kalau terpaksa menyetrika yang masih lembap, pakai setrika uap atau setrika dengan tapak anti lengket berbahan keramik atau Ceralon.
Menyetrika Malam Hari Tidak Selalu Bikin Boros
Ada keyakinan yang beredar di kelompok ibu rumah tangga, kalau menyetrika setelah jam lima sore bikin tagihan listrik bengkak. Keyakinan ini sebetulnya keliru, dan kesalahannya bisa dijelaskan secara teknis.
Dedet Candra Riawan, Kepala Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral ITS, menjelaskan bahwa setrika listrik memakai elemen pemanas berbahan nikel-chromium. Daya yang diserap merupakan fungsi kuadrat dari tegangan. Artinya makin tinggi tegangan, makin besar daya yang diserap. Pada malam hari tegangan jala-jala justru biasanya sedikit menurun karena beban sistem tinggi, sehingga daya yang diserap setrika lebih rendah dibandingkan siang hari.
Selain itu, setrika sudah punya thermostat yang otomatis memutus arus saat suhu yang disetel sudah tercapai. Selama menyetrika, alat ini sebetulnya hidup-mati secara berkala. Jadi selama jumlah pakaiannya sama, total energi yang dipakai tetap sama tanpa memandang waktu.
Untuk pelanggan rumah tangga, tarif listrik siang dan malam memang tidak ada perbedaan. Tarif waktu beban puncak hanya berlaku untuk pelanggan bisnis, industri, pemerintah, dan sosial. Yang sebetulnya membedakan tagihan adalah gaya menyetrika kita sendiri.

Jeda Saat Menyetrika Adalah Pencuri Tagihan Terbesar
Dedet menegaskan, kalau selama proses setrika terlalu banyak jeda, panas yang dihasilkan terbuang ke udara. Artinya energi listrik juga ikut terbuang. Jeda di sini bukan cuma berhenti untuk mengambil baju lain. Menyetrika sambil menonton televisi, sambil mengobrol di waktu lama, atau membiarkan setrika menyala sambil dilipat-lipat dulu, semuanya termasuk.
Suhu udara malam yang lebih dingin juga membuat panas setrika cepat hilang. Alat jadi lebih sering menyala lagi untuk mempertahankan suhu. Tapi pengaruh ini kecil sekali dibandingkan kebiasaan banyak jeda.
Ibu Dahwan, penjaga setrika di sebuah laundry Jakarta, punya cara kerja yang efisien. Mulai dari bagian leher, lalu lengan kanan, lengan kiri, kancingkan dulu, baru bagian depan dan belakang. Urutan ini membuat setrika terus bergerak, tidak ada jeda berarti, dan baju selesai dalam satu putaran. Hasilnya rapi dalam waktu singkat.
Cara Memilih Setrika Sesuai Isi Dompet
Tidak semua setrika murah bernasib sama. Beberapa setrika keluaran rumah tangga dengan daya 350 watt justru terkenal awet dan hemat. Tapak anti lengketnya membuatnya meluncur mulus, dan harganya berkisar Rp 380 ribu hingga Rp 450 ribu.
Setrika lokal seharga Rp 150 ribu hingga Rp 180 ribu juga layak dipertimbangkan. Beberapa model dilengkapi thermostat dan thermofuse, yaitu pemutus arus otomatis saat suhu terlalu panas. Fitur ini cukup penting, karena mencegah kain terbakar saat menyetrika baju lembap terlalu lama.
Untuk baju lembap dan bahan tebal seperti jeans, setrika uap adalah jawaban yang lebih baik. Uap panas menembus serat kain, merapikan kerutan membandel, sekaligus membantu menguapkan sisa air. Versi portablenya banyak diminati karena bisa dipakai secara vertikal tanpa papan setrika. Beberapa model hanya butuh sekitar 30 detik untuk siap digunakan dan dibanderol sekitar Rp 300 ribuan.

Baju dari Jemuran Tanpa Disetrika Sebetulnya Aman Saja
Bagi yang malas menyetrika, ada kabar baik. dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter menyatakan, langsung memakai baju dari jemuran tanpa disetrika sebetulnya sah-sah saja. Syaratnya baju itu dijemur di tempat bersih dan benar-benar kering sempurna, tidak lembap dan tidak berbau.
Sebaliknya, kalau kebersihannya tidak bisa dipastikan, setrika dulu sebelum disimpan atau dipakai. Panas setrika tidak cuma merapikan, tapi juga membantu mematikan mikroba yang menempel saat penjemuran. Mikroba inilah yang sering bikin kulit gatal-gatal.
Cara menjemur yang benar juga menentukan hasil akhirnya. Peras baju sekuat tenaga dulu agar air terbuang optimal, lalu gantung di tempat tinggi yang banyak terkena matahari dan angin. Jangan menumpuk jemuran karena baju di bagian bawah akan susah kering, dan baju di atasnya ikut ikutan lembap.
Lima Langkah Kecil yang Langsung Bisa Dicoba Hari Ini
Pertama, cabut setrika dari colokan saat harus meninggalkan ruangan. Jangan pernah membiarkan setrika menyala tanpa pengawasan. Kedua, periksa kabel setrika tua secara berkala. Kabel yang sudah mengeras atau terkelupas adalah peringatan, bukan sekadar tampilan jelek. Ketiga, angkat jemuran saat sudah kering sempurna, bukan setengah kering.
Keempat, urus satu tumpukan baju sampai selesai tanpa jeda panjang. Gerakkan setrika terus dengan urutan tetap seperti orang laundry profesional. Kelima, periksa apakah setrika rumah masih punya tapak yang mulus. Kalau sudah lengket dan kasar, ganti dengan yang punya lapisan anti lengket dan fitur pemutus arus panas berlebih.
Kasus di Klungkung mengingatkan bahwa setrika adalah alat listrik biasa yang tetap perlu diperlakukan dengan hati-hati. Perbedaan antara tagihan yang stabil dan yang melar sering kali hanya pada kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Artikel Terkait
Lihat kategori Tips ↗
Baju Kusut Selalu Disalahkan ke Setrika, Padahal Air Wastafel yang Melarikan
Baju kusut itu kebanyakan dibentuk saat masih basah, terlipat sendiri di dalam air, atau dipelintir kasar saat dibilas. Beberapa kebiasaan kecil di wastafel dan jemuran menyelesaikannya tanpa beli alat baru.
Setiap Malam Bakar Obat Nyamuk, Padahal Kamar Mandimu Sendiri Pabriknya
Asap obat nyamuk dibakar tiap malam, padahal genangan air di bak mandi dan talang rumah justru jadi pabrik jentik yang tak pernah libur. Fogging pun sebetulnya cuma mematikan nyamuk dewasa.
Sepatu Sekolah Sering Jadi Prioritas, Padahal Tas Beratnya Mengubah Postur Anak
Belanja perlengkapan sekolah biasanya berhenti di sepatu, padahal tas yang beratnya melebihi standar itulah yang diam-diam mengubah postur anak setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar