Tarif Listrik Tak Berubah, Token Cepat Habis, dan Biangnya Ternyata di Rumah Sendiri
Keluhan token listrik yang lebih cepat habis merebak kemana-mana, padahal PLN memastikan tarif resminya sama. Biangnya bukan kenaikan harga, melainkan kebiasaan kecil yang diam-diam menyedot daya seharian.

Token listrik Rp500.000 biasanya cukup untuk satu bulan penuh di rumah Dani, bahkan masih menyisakan saldo. Tapi pada Juli lalu, jatah itu habis beberapa hari sebelum waktunya, dan dia terpaksa membeli token tambahan Rp100.000. Peralatan di rumahnya tidak berubah: dua unit AC, kulkas, televisi, mesin cuci, dan lampu.
Dani bukan satu-satunya yang mengalami hal serupa. Di media sosial, keluhan soal token yang jadi lebih boros terus bermunculan. Ada yang terbiasa mengisi setiap tanggal 20 dan tiba-tiba bunyi lebih dulu sejak dua bulan ke belakang, walau jumlah kWh yang dibeli sama dan pemakaiannya tidak berubah. Lainnya bingung kenapa token yang biasanya bertahan sepuluh hari sekarang habis dalam delapan hari.
Keluhan Merebak, dan PLN Mengeluarkan Jawaban Resminya
Manajemen PLN akhirnya menanggapi keresahan ini melalui Gregorius Adi Trianto selaku Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN. Ia menegaskan tarif listrik periode Juli hingga September 2026 tidak berubah, mengacu pada ketentuan Kementerian ESDM. Jumlah kWh yang diterima pelanggan saat membeli token juga tetap mengikuti tarif resmi.
Jadi, kata kuncinya hanya satu, yaitu pola konsumsi. Cuaca yang lebih panas serta meningkatnya aktivitas di rumah membuat alat elektronik bekerja jauh lebih keras dari biasanya. PLN juga mengimbau pelanggan memantau pemakaian lewat aplikasi PLN Mobile, bukan sekadar menyerah pada keterbatasan.
Kendati demikian, memantau saja tidak cukup kalau kita tidak tahu mau memantau apa. Untuk itu, mari bedah dua pintu masuk daya terbesar di rumah, lalu kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering luput dari perhatian.
Biangnya Bukan AC-nya, tapi Cara Kita Menyalakan AC
Saat terik menyerang, kebiasaan banyak orang menyetel AC langsung di suhu terendah, sekitar 16 derajat. Masalahnya, suhu serendah itu memaksa kompresor bekerja tanpa henti dan menyedot daya yang sangat besar. Padahal untuk iklim tropis seperti di Indonesia, suhu 24 hingga 25 derajat sudah cukup sejuk.
Lebih hemat lagi kalau AC dipadu kipas angin. Setel AC di 25 hingga 26 derajat, lalu nyalakan kipas kecil berdaya 20 hingga 40 Watt. Suhu jadi terasa seperti 22 derajat, sebab kipas menyebarluaskan udara dingin ke sudut ruangan, sementara beban kerja AC sangat ringan. Kombinasi ini terbukti mampu menekan konsumsi harian hingga 30 hingga 40 persen.
Selain suhu, mode Auto atau Eco di remote AC juga patut dipakai. Mode ini mengatur kecepatan kipas dan kerja kompresor secara otomatis. Begitu suhu target tercapai, daya kompresor langsung turun sendiri. Jauh lebih bijak dibanding memaksa AC bekerja maksimal terus-menerus.
Satu hal lagi yang sering terlewat, yaitu kondisi ruangan. Udara panas yang masuk dari celah pintu dan jendela membuat sensor AC membaca ruangan masih panas, sehingga kompresor terus bekerja keras. Tutup rapat seluruh celah, dan kerja AC akan jauh lebih efisien.
Jangan lupa filter AC dan baling-baling kipas. Debu tebal menghambat sirkulasi, sehingga pendingin harus bekerja ekstra keras setiap detiknya. Biasakan membersihkannya minimal sebulan sekali, dan rasakan bedanya.

Kebiasaan Kecil yang Diam-diam Menguras Token
Tapi AC cuma sebagian cerita. Berdasarkan rangkuman dari Alliance to Save Energy, banyak kebiasaan remeh yang justru paling banyak menyedot listrik rumah tangga, dan semuanya berlangsung diam-diam.
Kulkas yang Dibuka Berulang Kali
Mengintip isi kulkas sekilas memang tampak tak bersalah. Padahal setiap kali pintu dibuka, kulkas membutuhkan tambahan hingga 7 persen energi dari total daya listriknya. Memasukkan makanan dan minuman dalam keadaan panas juga memperberat kerja kompresor, sama seperti membiarkan kulkas kosong menyala berhari-hari.
Kabel yang Tetap Menancap di Stopkontak
Men-charge HP atau membiarkan kabel menancap seharian membuat perangkat tetap dalam mode siaga. Mode standby ini bisa menyedot hingga 10 persen dari total pemakaian listrik di rumah. Jadi, kalau berencana keluar rumah dalam waktu lama, cabut kabelnya dari stopkontak.
Lampu, Bathtub, dan Barang Elektronik Tua
Lampu yang menyala hampir siang, bathtub yang selalu diisi penuh untuk berendam, sampai elektronik tua yang dirancang sebelum teknologi hemat energi jadi penumpang diam. Solusinya bermacam-macam, mulai dari lampu sensor cahaya bagi si pelupa, mengganti bathtub dengan pancuran air, hingga mempertimbangkan penggantian perangkat saat tagihan makin tidak masuk akal.
Langkah Nyata yang Bisa Dimulai Malam Ini
Pertama, pantau pemakaiannya. Pelanggan prabayar bisa melihat riwayat pembelian lewat menu Token dan Pembayaran, sementara pelanggan pascabayar bisa memakai fitur SwaCam atau Catat Meter. Semua tersedia di aplikasi PLN Mobile, jadi tidak perlu lagi menebak-nebak jumlah kWh yang sebenarnya.

Kedua, periksa instalasi listrik di dalam rumah secara berkala dan cabut perangkat elektronik yang sedang tidak dipakai. Sederhana, tapi tagihan bulan depan langsung terasa bedanya.
Ketiga, atur waktu pembelian token agar tidak terburu-buru. Gunakan fitur pengingat di ponsel atau pembayaran otomatis di aplikasi dompet digital, dan manfaatkan promo pembayaran untuk kebutuhan bulanan. Banyak pengguna baru bisa memperoleh promo pulsa maupun token hanya Rp1, selama memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.
Keempat, kumpulkan seluruh kebutuhan digital dalam satu aplikasi saja, mulai dari pulsa, paket data, token PLN, hingga tagihan BPJS, PDAM, internet, dan TV kabel. Selain lebih praktis, kamu juga lebih mudah melacak ke mana saja uang bulananmu pergi.
Kesimpulan: Token Cepat Habis Bisa Dipotong Akarnya
Wajar memang rasanya kesal saat token mendadak lebih boros. Tapi sebelum menyalahkan PLN atau menduga tarif naik, ada baiknya cek dulu suhu AC, hitung berapa kali kulkas dibuka sehari, dan lihat kabel mana yang masih menancap sekarang. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang sebenarnya paling banyak menguras isi dompet kita.
Kombinasi sederhana seperti menyetel AC 24 derajat plus kipas, membersihkan filter sebulan sekali, dan mencabut kabel saat keluar rumah sudah terbukti menekan konsumsi listrik hingga 30 hingga 40 persen. Bukankah jauh lebih enak, uang Rp500.000 itu sampai akhir bulan dengan tenang?
Artikel Terkait
Lihat kategori Tips ↗
Baju Kusut Selalu Disalahkan ke Setrika, Padahal Air Wastafel yang Melarikan
Baju kusut itu kebanyakan dibentuk saat masih basah, terlipat sendiri di dalam air, atau dipelintir kasar saat dibilas. Beberapa kebiasaan kecil di wastafel dan jemuran menyelesaikannya tanpa beli alat baru.
Setiap Malam Bakar Obat Nyamuk, Padahal Kamar Mandimu Sendiri Pabriknya
Asap obat nyamuk dibakar tiap malam, padahal genangan air di bak mandi dan talang rumah justru jadi pabrik jentik yang tak pernah libur. Fogging pun sebetulnya cuma mematikan nyamuk dewasa.
Sepatu Sekolah Sering Jadi Prioritas, Padahal Tas Beratnya Mengubah Postur Anak
Belanja perlengkapan sekolah biasanya berhenti di sepatu, padahal tas yang beratnya melebihi standar itulah yang diam-diam mengubah postur anak setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar