Tekuk Spatula Dapur Sekali, Warna Putih yang Muncul Bongkar Bohong Produsen
Spatula plastik murah yang dipakai setiap hari bisa melepas senyawa berbahaya saat kena panas tinggi. Ahli biomedik IPB University tunjuk tanda-tandanya lewat satu tekukan sederhana di dapur.

Spatula plastik murah yang dipakai setiap hari bisa melepas senyawa berbahaya saat kena panas tinggi. Ahli biomedik IPB University tunjuk tanda-tandanya lewat satu tekukan sederhana di dapur.
Coba lihat spatula yang ada di dapur kamu sekarang. Kalau itu plastik, ujungnya mulai sedikit melengkung dan permukaannya terasa kasar, berarti benda itu sudah lewat masa tuanya. Sayangnya, hampir tidak ada yang sadar, karena posisinya memang selalu dekat dengan makanan keluarga setiap hari.
Benedikta Diah Saraswati, ahli biomedik IPB University, mengingatkan bahwa pemilihan sodet atau spatula tidak boleh sembarangan. Bahan yang keliru justru membahayakan kesehatan, terutama saat bersentuhan dengan panas tinggi. Penjelasan ini ia sampaikan lewat keterangan resmi kampus pada 5 November 2025, lalu diangkat oleh Kompas, detikHealth, dan Tempo.
Spatula Plastik Punya Satu Titik Lemah, Panas Dapur Sehari-hari
Masalahnya ada pada kata degradasi termal. Plastik dapur bukan bahan yang stabil selamanya. Saat terkena panas, ikatan kimia di dalam polimernya perlahan terurai dan melepaskan senyawa yang ikut menempel di makanan. Proses ini tidak kelihatan, tidak berbunyi, dan tidak meninggalkan jejak yang jelas di piring.
Senyawa yang terlepas ini bukan sembarang senyawa. Diah menyebut ada Bisphenol A atau BPA, ftalat, formaldehida, hingga amina aromatik. BPA dan ftalat tergolong endocrine disruptor, zat yang bisa mengganggu kerja hormon tubuh, terutama hormon estrogen. Paparan jangka panjang dikaitkan dengan gangguan kesuburan, resistensi insulin, masalah perkembangan janin, hingga peningkatan risiko kanker.
Yang Terjadi Saat Ujung Spatula Mulai Meleleh
Saat plastik benar-benar meleleh, kerusakannya naik satu tingkat. Ikatan polimernya terurai dan melepaskan monomer sisa seperti styrene, ethylene, dan propylene. Ketiganya bersifat neurotoksik dan hepatotoksik, serta berpotensi karsinogenik. Jadi, spatula yang ujungnya meleleh bukan sekadar jelek dipandang, tapi sudah menjadi sumber kontaminasi aktif.

Mikroplastik, Perpindahan Kecil yang Tidak Pernah Kita Hitung
Selain senyawa kimia, ada masalah lain yang lebih halus. Gesekan spatula dengan wajan, ditambah suhu tinggi, melepaskan partikel mikroplastik. Partikel ini sangat kecil, lalu ikut tertelan bersama makanan tanpa pernah terasa.
Menurut Diah, partikel ini bisa menembus dinding usus, masuk ke aliran darah, lalu mengendap di jaringan tubuh. Dampaknya berupa stres oksidatif dan peradangan kronik. Kondisi itulah yang memicu kerusakan sel, gangguan sistem imun, hingga penyakit metabolik. Angkanya memang tidak bisa dihitung sendiri di rumah, tapi rutenya jelas: dari wajan, ke piring, ke aliran darah.
Yang membuat soal ini tidak terdeteksi adalah sifat partikelnya. Tidak ada peringatan, tidak ada perubahan rasa, dan tidak ada tanda fisik yang bisa diamati. Semua sering dikira aman karena makanan tetap terlihat biasa saja. Justru di titik inilah paparan berulang terjadi setiap hari tanpa pernah tercatat sebagai keluhan apa pun.
Cara Milih Spatula Aman, Mulai dari Satu Tekukan
Kabar baiknya, Diah memberi panduan yang bisa langsung dipraktikkan. Untuk spatula silikon, ada uji sederhana yang namanya uji tekukan. Tekuk spatula itu, lalu perhatikan warnanya. Kalau warnanya berubah jadi putih atau muncul retakan, berarti silikon itu sudah dicampur plastik. Silikon murni tidak akan mengalami perubahan warna saat ditekuk.
Ciri pelengkap yang juga harus diperhatikan adalah harga yang tidak masuk akal dan bau kimia yang menyengat. Spatula silikon murah seringkali isinya bukan silikon murni. Untuk lebih yakin, cari label BPA-free, Phthalate-free, dan tulisan Platinum-cured silicone. Silikon yang diproses dengan katalis platinum lebih murni, tahan panas hingga sekitar 250 derajat Celsius, serta tidak mudah bereaksi dengan minyak atau asam makanan.

Tiga Bahan Lain di Dapur yang Masih Bisa Dipercaya
Silikon bukan satu-satunya pilihan. Kayu dan bambu alami juga masuk daftar aman karena punya sifat antimikroba alami, walau butuh perawatan agar tidak cepat berjamur. Stainless steel cocok untuk memasak suhu tinggi, tapi sebaiknya tidak dipakai di wajan antilengket karena bisa merusak lapisannya.
Bambu sebenarnya punya kelebihan ekstra yang jarang dibahas. Ia tumbuh cepat, seratnya rapat, dan tidak menyerap bau sekuat kayu keras biasa. Sayangnya, banyak spatula bambu di pasaran masih dilapisi pernis yang tidak semua layak untuk kontak dengan makanan panas. Cek apakah ada label food-safe sebelum memakainya untuk masakan bersuhu tinggi.
Stainless steel punya catatan tersendiri. Bahan ini stabil pada suhu tinggi, jadi cocok untuk menumis atau mengaduk masakan yang membutuhkan waktu lama. Tapi, penggunaannya harus dijauhkan dari wajan antilengket. Satu goresan saja sudah cukup untuk merusak lapisan Teflon, dan kerusakan itu tidak bisa diperbaiki sendiri di rumah.
Untuk dapur rumah tangga, Diah merekomendasikan kombinasi yang sederhana saja. Gunakan spatula silikon food-grade untuk wajan antilengket, dan spatula kayu untuk masakan bersuhu sedang. Dua bahan ini dianggap paling aman dan ideal untuk pemakaian harian.
Langkah Kecil di Dapur, Bukannya Membeli Satu Set Alat Baru
Tidak perlu langsung mengganti seluruh perkakas dapur dalam satu hari. Cara paling masuk akal adalah memeriksa spatula plastik yang ada sekarang. Kalau ujungnya sudah meleleh atau warna kusam, segera ganti dengan satu spatula silikon food-grade yang bertanda jelas, plus satu spatula kayu untuk suhu sedang.
Urutannya juga harus benar. Yang pertama diganti adalah spatula plastik yang sudah meleleh, karena kerusakannya sudah aktif dan jelas terlihat. Setelah itu, baru pertimbangkan spatula silikon murah tanpa label. Terakhir, lengkapi dengan satu spatula kayu atau bambu untuk masakan suhu sedang. Urutan ini membagi pengeluaran menjadi beberapa tahap, tanpa membuat anggaran dapur jebol sekaligus.
Sisanya, cukup biasakan mengecek label setiap kali membeli perkakas dapur baru. Benda kecil memang sering luput dari perhatian, padahal jumlah paparannya justru paling sering, karena ia bersentuhan dengan makanan hampir setiap kali kita memasak.
Artikel Terkait
Lihat kategori Tips ↗
Baju Kusut Selalu Disalahkan ke Setrika, Padahal Air Wastafel yang Melarikan
Baju kusut itu kebanyakan dibentuk saat masih basah, terlipat sendiri di dalam air, atau dipelintir kasar saat dibilas. Beberapa kebiasaan kecil di wastafel dan jemuran menyelesaikannya tanpa beli alat baru.
Setiap Malam Bakar Obat Nyamuk, Padahal Kamar Mandimu Sendiri Pabriknya
Asap obat nyamuk dibakar tiap malam, padahal genangan air di bak mandi dan talang rumah justru jadi pabrik jentik yang tak pernah libur. Fogging pun sebetulnya cuma mematikan nyamuk dewasa.
Sepatu Sekolah Sering Jadi Prioritas, Padahal Tas Beratnya Mengubah Postur Anak
Belanja perlengkapan sekolah biasanya berhenti di sepatu, padahal tas yang beratnya melebihi standar itulah yang diam-diam mengubah postur anak setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar