Tiga Kebiasaan Kecil di Rumah yang Diam-Diam Mengikis Dompet Lewat Tagihan Listrik
Tagihan listrik sering dipersalahkan, padahal pelakunya adalah tiga kebiasaan kecil yang kita lakukan tiap hari tanpa sadar di rumah.

Bulan ini tagihan listrikmu naik lagi, dan spontan yang disalahkan adalah PLN. Tunggu dulu. Sebelum menyalahkan siapa pun, ada baiknya kita lihat dulu apa saja yang sedang tercolok di rumah. Toaster oven yang dipakai tiga hari lalu, soundbar yang dipakai sekali, kabel charger di pojokan, dan ketel listrik yang sudah dingin sejak subuh.
Semua alat itu nyaris tidak kamu sentuh hari ini, tapi mereka tetap minum daya dari stopkontak. Bukan satu alat, bukan dua, dan kalau dijumlahkan dalam tiga puluh hari, angkanya cukup menyakitkan.
Kompas menunjuk bahwa AC dan pemanas ruangan memang penyumbang terbesar tagihan rumah, yaitu sekitar 45 sampai 50 persen dari total pemakaian listrik bulanan. Tapi sisanya, sekitar separuh lebih, berasal dari hal-hal kecil yang terus bekerja saat kita tidak melihatnya.
Colokan yang Dibiarkan Tersangkut Jadi Pencuri Tersembunyi
Mehdi Khachani, CEO Sunny Bliss Plumbing & Air, punya saran sederhana untuk siapa pun yang akan meninggalkan rumah dalam waktu lama. Cabut peralatan dapur kecil yang memakai elemen pemanas. Toaster oven, toaster, air fryer, kompor listrik portabel, dan ketel listrik. Sebab selain terus menyedot daya, alat penghasil panas ini membawa risiko lain yang jauh lebih mahal daripada tagihan.
Liputan6 mencatat bahwa gangguan listrik pada toaster oven dan alat sejenis bisa berujung kebakaran. Jadi, ada dua alasan sekaligus untuk mulai membiasakan tangan mencabut colokan: dompet dan keselamatan rumah.
Kelompok kedua yang sering luput adalah perangkat hiburan. Televisi, dekoder TV kabel atau satelit, perangkat streaming, konsol gim, soundbar, speaker, hingga pemutar DVD dan Blu-ray. Mereka tidak benar-benar mati saat kamu tekan tombol off. Mereka hanya tidur, dan dalam mode tidur itu mereka tetap menerima aliran listrik dari stopkontak.
Kabar baiknya, kalau semua perangkat itu tersambung pada satu terminal listrik yang sama, kamu tidak perlu mencabutnya satu per satu. Cukup matikan terminalnya. Satu kali sentuhan, selesai.

AC Dinyalakan Seharian Tapi Suhunya Disetel Di Bawah 20 Derajat
Cuaca panas membuat AC terasa seperti kebutuhan utama, dan mematikannya bukan pilihan yang menyenangkan. Yang sering tidak disadari adalah cara kita memakainya, bukan lamanya, yang membuat kompresor bekerja tanpa henti.
Kesalahan paling umum, menurut panduan praktis Daikin yang dirangkum Liputan6, adalah memilih kapasitas AC yang tidak pas dengan luas ruangan. Kalau daya AC kekecilan, kompresor dipaksa terus menyala tanpa pernah benar-benar mendinginkan ruangan. Hasilnya, tagihan naik tapi kamar tetap gerah.
Lalu ada kebiasaan menyetel suhu di angka 16 atau 18 derajat Celsius saat cuaca sedang ekstrem. Niatnya cepat dingin, tapi yang terjadi adalah sistem pendingin bekerja tanpa henti. Suhu ideal dan paling efisien untuk iklim tropis seperti kita sebenarnya berkisar 24 hingga 26 derajat Celsius.
Filter udara yang kotor juga memperparah keadaan. Debu yang tersumbat menghambat aliran udara, sehingga proses pendinginan terhambat dan mesin harus beroperasi lebih lama dari seharusnya. Solusinya ringan: bersihkan filter sendiri setiap dua minggu sekali, dan jadwalkan servis oleh teknisi profesional setiap 3 hingga 4 bulan.
Kalau sedang mencari unit baru, AC inverter lebih ramah dompet dalam jangka panjang. Kompresornya tidak sering mati-nyala seperti AC konvensional. Dan saat membeli, perhatikan Label Tanda Hemat Energi resmi pemerintah. Pilih yang Bintang 4 atau Bintang 5, karena makin banyak bintangnya, makin efisien konsumsi dayanya.

Ngotot Hitung Sendiri Biaya Pemakaian Listrik Bulanan
Sebenarnya kamu tidak perlu menunggu tagihan datang untuk tahu berapa banyak listrik yang dihabiskan rumahmu. PLN menghitung tagihan pascabayar berdasarkan pemakaian energi yang tercatat dalam satuan kWh, dan rumusnya cukup sederhana untuk dihitung sendiri.
Rumusnya, energi listrik dalam kWh sama dengan daya dalam watt dikali lama pemakaian dalam jam, lalu dibagi 1.000. Setelah total kWh diketahui, kalikan dengan tarif sesuai golongan pelangganmu. Selesai.
Suara.com memberikan contoh perhitungannya. Limabelas lampu 10 watt yang dipakai delapan jam sehari menghasilkan 0,4 kWh per hari, atau 12 kWh selama tiga puluh hari. Televisi 100 watt yang menyala lima jam sehari menghasilkan 15 kWh per bulan. Saat dijumlahkan untuk lima peralatan contoh, totalnya mencapai 85,8 kWh per bulan.
Sebagai gambaran tarif, golongan rumah tangga dengan tarif contoh Rp1.444,70 per kWh akan membayar sekitar Rp144.470 untuk pemakaian 100 kWh dalam sebulan, sebelum komponen lain dalam tagihan. Dan satu AC 800 watt yang dipakai enam jam sehari selama tiga puluh hari sendiri sudah menyumbang 144 kWh. Angka yang membuat kebiasaan-kebiasaan kecil di atas tiba-tiba terdengar lebih penting dari sekadar kedisiplinan.
Jadi sebelum tagihan bulan depan datang, ada baiknya keliling rumah malam ini. Cek colokan yang masih tersangkut, suhu AC yang sedang disetel, dan filter yang entah kapan terakhir dibersihkan. Dompetmu akan tahu bedanya, dan barang-barang elektronikmu juga akan bertahan lebih lama.
Artikel Terkait
Lihat kategori Tips ↗
Baju Kusut Selalu Disalahkan ke Setrika, Padahal Air Wastafel yang Melarikan
Baju kusut itu kebanyakan dibentuk saat masih basah, terlipat sendiri di dalam air, atau dipelintir kasar saat dibilas. Beberapa kebiasaan kecil di wastafel dan jemuran menyelesaikannya tanpa beli alat baru.
Setiap Malam Bakar Obat Nyamuk, Padahal Kamar Mandimu Sendiri Pabriknya
Asap obat nyamuk dibakar tiap malam, padahal genangan air di bak mandi dan talang rumah justru jadi pabrik jentik yang tak pernah libur. Fogging pun sebetulnya cuma mematikan nyamuk dewasa.
Sepatu Sekolah Sering Jadi Prioritas, Padahal Tas Beratnya Mengubah Postur Anak
Belanja perlengkapan sekolah biasanya berhenti di sepatu, padahal tas yang beratnya melebihi standar itulah yang diam-diam mengubah postur anak setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar