Tombol Off Ditekan, tapi 10 Alat di Rumah Tetap Sedot Listrik

Menekan tombol off di remote belum menjamin tagihan listrik berhenti merayap. Sejumlah alat di rumah tetap menyedot daya diam-diam, dan yang paling rakus justru bukan AC atau kulkas.

Bagikan cerita ini:
Stopkontak kosong di rumah modern dengan beberapa alat elektronik dalam keadaan dicabut kabelnya

Malam sudah larut, lampu kamar dimatikan, dan semua tombol off di remote sudah ditekan satu per satu. Kamu pikir rumah sudah beristirahat. Tapi di balik layar gelap itu, ada alat yang masih berjaga dan terus menarik listrik dari stopkontak.

Tombol Off Bukan Berarti Listriknya Berhenti

Alat elektronik modern punya kebiasaan yang menyebalkan. Matikan lewat tombol, lampu indikatornya masih menyala. Jam digital masih berdetak. Sensor remote masih siap menerima perintah. Semua fitur kecil itu sengaja dirancang biar alat bisa langsung dipakai lagi begitu dinyalakan. Konsekuensinya jelas, daya tetap mengalir meski alat sedang tidak bekerja.

Kondisi ini punya nama resmi, yaitu standby power atau vampire load. Beberapa orang menyebutnya beban hantu. Sebutan itu cocok, karena yang ngambil listrik memang tidak terlihat dan tidak pernah minta izin.

Riset Berkeley Lab yang dikutip CNBC Indonesia menegaskan skala masalahnya. Daya siaga memang terlihat kecil, tapi kalau dihitung selama 24 jam sehari dan dikalikan jumlah perangkat di rumah, hasilnya jadi signifikan. Inilah alasan kenapa tagihan kadang naik tanpa ada perubahan tarif.

10 Alat yang Masih Ngemut Listrik Saat Layarnya Gelap

CNBC Indonesia merinci sepuluh perangkat yang paling sering melakukan hal ini, lengkap dengan kisaran daya siaganya. Daftarnya cukup membuat kening berkerut.

Set-Top Box TV jadi kampiun terboros dengan 10 hingga 30 watt dalam kondisi siaga. Router WiFi dan modem internet menyedot 5 hingga 10 watt tanpa henti 24 jam. Speaker dan sistem audio memakan 5 hingga 10 watt meski tombol power sudah mati.

Lalu ada laptop dan komputer desktop di angka 0,7 hingga 20 watt, televisi modern 1 hingga 5 watt, microwave atau mesin kopi berjam digital 1 hingga 5 watt, printer dan scanner 2 hingga 5 watt, AC 0,6 hingga 10 watt, air purifier 0,2 hingga 1,5 watt, charger kendaraan listrik 0,3 hingga 5 watt, dan charger ponsel sekitar 0,2 hingga 2 watt.

Perhatikan satu hal. Charger ponsel memang paling kecil. Tapi berapa banyak colokan beseret di rumahmu yang selalu tertancap? Tiga? Lima? Angka kecil jadi cerita lain saat dikalikan jumlah unit dan jam terjunnya.

Colokan charger ponsel yang masih tertancap di stopkontak meski ponsel sudah tidak diisi daya
Foto oleh Markus Winkler di Pexels

Tagihan Bengkak Padahal Tarif Tak Naik

Keluhan soal tagihan mendadak naik memang semakin sering terdengar, sementara tarif listrik dari pemerintah tidak berubah. Data Energy Saving Trust yang dirangkum MalangTIMES menunjuk mesin cuci sebagai penyumbang terbesar konsumsi listrik rumah tangga, sekitar 14 persen dari total tagihan. Kulkas dan freezer menyumbang 13 persen, lalu perangkat hiburan seperti TV, laptop, dan konsol game sekitar 6 persen, lampu 5 persen, dan peralatan dapur 4 persen.

Angka itu adalah konsumsi normal saat alat bekerja. Yang kerap luput adalah beban tambahan dari perangkat standby, charger yang terus menancap, dan AC yang filternya sudah tebal debu. Kombinasi kecil-kecil inilah yang diam-diam mendorong angka di meteran naik.

Mitos Pertama, Mematikan Lampu Justru Boros

Banyak orang percaya menyalakan kembali lampu butuh lonjakan listrik besar, jadi lebih baik dibiarkan menyala. Anggapan ini memang berangkat dari fakta teknis, setiap peralatan listrik butuh lonjakan arus saat pertama kali dinyalakan. Tapi prinsip itu keliru disamaratakan.

Pada lampu LED yang kini banyak dipakai di rumah, lonjakan arus saat dinyalakan bersifat sangat singkat dan berdaya kecil. Energi tambahannya tidak sebanding dengan energi yang terbuang jika lampu dibiarkan menyala berjam-jam di kamar kosong. Kesimpulan dari Listrik Indonesia tegas, mematikan lampu saat tidak dipakai justru lebih hemat.

Mitos Kedua, Malam Hari Tarif Lebih Mahal

Narasi bahwa listrik jam 17.00 sampai 22.00 lebih mahal sempat viral di media sosial. Logikanya, jam itu adalah peak hours atau puncak beban karena semua orang baru pulang kerja dan menyalakan alat secara bersamaan.

PLN membantah keras. Executive Vice President Komunikasi Korporat PLN, Gregorius Adi Trianto, menyatakan seluruh pelanggan rumah tangga dikenakan tarif tunggal atau flat, tanpa dipengaruhi jam pemakaian. Kebijakan tarif berpedoman pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2024. Jadi pemakaian malam tidak bikin harga per kWh naik. Yang benar, jam puncak soalnya adalah beban jaringan, bukan dompetmu.

Langkah Praktis, Matikan Cabut Gunakan

Dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta, Toto Sukisno, merangkum rumus jitu untuk pelanggan listrik prabayar, yaitu MCG, matikan, cabut, gunakan. Matikan peralatan saat tidak dipakai, cabut sumber listriknya, dan gunakan listrik seperlunya.

Prinsip ini buktinya ampuh. Toto memberi contoh, token Rp 50.000 untuk pelanggan 900 VA non-subsidi di rumah tipe 36 bisa bertahan dua pekan atau 14 hari, asal pola pemakaiannya bijak.

Praktiknya bisa dimulai dari hal paling sederhana. Pakai power strip atau stopkontak ber saklar, lalu putus semuanya sekaligus dengan satu klik. Tambahkan smart plug atau timer untuk router dan mesin kopi yang suka lupa dimatikan. Cabut charger setelah ponsel penuh.

Untuk kulkas, isiannya sebaiknya relatif penuh dan freezer tidak kosong, karena bahan makanan membantu menjaga suhu stabil dan meringankan kerja kompresor. Jangan memasukkan makanan masih panas, dan sesuaikan pengaturan suhu dengan kebutuhan. Mesin cuci sebaiknya dipakai saat kapasitasnya penuh, bukan mencuci sedikit-sedikit tapi sering.

Pilihan lampu juga punya andil. Energy Saving Trust menyebut pemakaian lampu LED bisa menghemat hingga 15 poundsterling atau sekitar Rp 329.000 per tahun. Angka itu untuk rumah dengan kebiasaan lampu menyala cukup lama, tapi arahnya jelas, LED menang tipis.

Ruang keluarga dengan layar televisi dalam keadaan mati namun kabel dayanya masih terhubung ke stopkontak
Foto oleh Jan van der Wolf di Pexels

Stopkontak Adalah Saklar Sebenarnya

Menekan tombol off di badan alat hanya memidahkan kamu dari mode aktif ke mode siaga. Sementara itu, stopkontak tetap menjadi gerbang utama yang ngirim listrik tanpa henti.

Jadi sebelum tidur malam ini, coba lempar pandangan ke arah colokan dinding. Kalau ada yang masih tertancap tanpa pasangannya, sekarang adalah waktu paling tepat untuk mencabutnya. Tagihan bulan depan yang akan berterima kasih.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar

Lihat kategori Tips ↗