Benjolan di Leher Sering Dipukul Sekolah, Padahal Kelenjar Tiroid Sedang Bikin Kacau

Seorang jemaah haji asal Sarolangun meninggal di Makkah karena krisis tiroid yang memicu gagal jantung. Penyakitnya sering mulai dari benjolan kecil di leher yang terlalu sering dianggap remeh.

Bagikan cerita ini:
Perempuan memegang bagian leher tempat kelenjar tiroid berada

Satu Benjolan Kecil yang Berakhir Fatal

Berita duka datang dari Tanah Suci pada Sabtu 23 Mei 2026. Asniyati Ahmad Bawari, jemaah haji asal Desa Limbur Tembesi, Kabupaten Sarolangun, Jambi, tergabung dalam Kelompok Terbang 24, menghembuskan napas terakhirnya di King Faisal Hospital, Makkah, pukul 22.36 waktu setempat. Sertifikat kematian dari Indonesian Medical Mission menuliskan syok kardiogenik atau gagal pompa jantung sebagai penyebabnya. Gagal jantung itu dipicu aritmia, dan aritmia berakar dari krisis hormon tiroid yang melonjak drastis. Riwayat diabetes yang diderita almarhumah memperberat kondisinya secara keseluruhan.

Krisis tiroid atau thyroid storm adalah fase ketika hormon tiroid menumpuk hingga tubuh masuk ke keadaan darurat. Jantung berdetak tak teratur, tekanan darah anjlok, dan suhu tubuh bisa melonjak. Dalam kasus ini, rantai kejadiannya bergerak cepat, dari kelainan kelenjar kecil di leher, lalu menyerang jantung, lalu memutus nyawa di tengah ibadah haji. Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jambi Wahyudi Abdul Wahab mewakili PPIH mengantar rasa duka, sementara tim medis berkoordinasi untuk proses pemakaman di Tanah Suci.

Kasus ini menunjukkan satu hal yang sering luput. Kelenjar tiroid berbentuk seperti kupu-kupu kecil di leher bagian depan, dan fungsinya menjaga metabolisme seluruh tubuh. Ketika produksi hormonnya terlalu banyak atau terlalu sedikit, dampaknya merembet ke jantung, suhu tubuh, pencernaan, hingga tumbuh kembang anak.

Dokter memeriksa leher pasien dengan ultrasonografi
Foto oleh Pavel Danilyuk di Pexels

Tiga Jejak yang Sering Disepelekan

Gangguan tiroid sering terlambat ditangani karena dua hal, akses informasi tepercaya dan akses pengobatan. Agustina Puspitasari, Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, mengungkapkan hal itu saat Pekan Kesadaran Tiroid Internasional di Jakarta. Keterlambatan ini bukan soal malas berobat, melainkan gejalanya memang licik.

Pakar tiroid dr Tjokorda Gde Dalem Pemayun, Ketua Pengurus Pusat Indonesian Thyroid Association, punya penanda yang sering keliru dianggap berkah. Nafsu makan makin besar tapi berat badan tetap turun. Banyak orang menyambutnya sebagai rejeki, padahal itu tanda klasik hipertiroid. Penegasannya jelas, gejala ini harus didukung pemeriksaan thyroid-stimulating hormone, dan bila TSH di bawah normal curiganya mengarah ke hipertiroid.

Tanda lain yang sering tertukar ada di mata. Dokter spesialis mata Universitas Padjadjaran dr Tri Wahyu menyebutkan 50 persen penderita gangguan tiroid mengalami Thyroid Eye Disease, dan 90 persen dari mereka berada dalam kondisi hipertiroid. Matanya menonjol seperti melotot, pandangan jadi dobel, kelopak mata sulit menutup rapat. Banyak yang mengira itu bawaan lahir, sampai diagnosa tiroid muncul dari keluhan mata lebih dulu. Perubahan wajah ini cukup berat, sampai sebagian pasien menarik diri dari pergaulan atau berhenti bekerja. Faktor pemicunya genetik, stres, dan kebiasaan merokok aktif maupun pasif.

Parfum di Leher dan Kebiasaan Kecil Lainnya

Satu kebiasaan yang dekat dengan kelenjar ini adalah menyemprot parfum langsung ke leher. Alasannya logis dari sisi pengguna, area itu tipis dan wangiannya menyebar cepat. Tapi dari sisi medis, letaknya justru berisiko. Pakar Multiomics Cancer IPB University dr Agil Wahyu Wicaksono menjelaskan parfum umumnya mengandung phthalates, parabens, dan triclosan yang berpotensi menjadi endocrine disruptors.

Parfum disemprotkan ke area leher yang berdekatan dengan kelenjar tiroid
Foto oleh Ron Lach di Pexels

Triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara paraben memengaruhi keseimbangan sistem endokrin. Kulit leher dekat dengan kelenjar tiroid dan relatif tipis, sehingga paparan berulang di lokasi ini secara teoritis meningkatkan peluang efek zat tersebut bekerja. Yang sudah terkonfirmasi adalah kaitan dengan risiko gangguan kelenjar, bukan kanker. Karena itu saran dr Agil menyerahkannya ke pakaian, bukan kulit, menghindari pemakaian rutin di leher atau ketiak, dan memilih produk berlabel phthalate-free atau paraben-free. Kelompok yang paling perlu waspada adalah ibu hamil, anak-anak dan remaja, serta orang yang sudah punya gangguan hormon sebelumnya.

Cek Sendiri di Depan Cermin dalam Satu Menit

Penanganan tidak harus selalu menunggu rumah sakit. Dokter spesialis bedah konsultan onkologi RSUPN dr Cipto Mangunkusumo dr Erwin Danil Yulian punya langkah sederhana yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Berkacalah, lalu lihat apakah ada benjolan di leher bagian tengah. Setelah itu telan ludah, dan amati apakah benjolan itu ikut bergerak ke atas. Kelenjar tiroid selalu ikut bergerak saat menelan.

Raba leher di bawah jakun untuk memastikan ada atau tidaknya benjolan. Bila ditemukan, langkah berikutnya adalah pemeriksaan fisik dan ultrasonografi leher. Dokter akan memeriksa darah lalu melakukan USG untuk melihat apakah benjolan padat atau berisi cairan. Dari sekitar 85 persen benjolan yang terdeteksi, hanya sekitar 10 persen yang bersifat ganas.

Pemeriksaan ultrasonografi bukan sekadar formalitas. Hasilnya menentukan apakah benjolan bisa dipantau, diobati, atau butuh tindakan. Prosedur minimal seperti ablasi dengan energi gelombang radio bisa menghancurkan sel nodul tanpa mengangkat seluruh kelenjar. Sayatannya kecil, dipandu USG, dan pasien bisa pulang di hari yang sama. Dokter penyakit dalam konsultan endokrin metabolik Eka Hospital BSD Dicky Levenus Tahapary menjelaskan prosedurnya berlangsung 30 hingga 60 menit dengan anestesi lokal. Tapi RFA bukan untuk semua kondisi, tertunda bagi ibu hamil, nodul dekat pita suara, atau nodul yang belum terdiagnosis jelas.

Angka Sembuhan Tinggi Selama Ditemukan Dini

Kata kanker sering membawa kepanikan otomatis, tapi kanker tiroid adalah pengecualian. Dokter bedah onkologi RS Pondok Indah dr Diani Kartini mengungkapkan pasien bisa bertahan hingga 20 tahun asalkan kanker dikenali sejak awal. Sekitar 90 persen kasus adalah tipe papiler dan folikuler yang punya angka kesembuhan sangat baik bila ditangani tepat dan dini. Tipe anaplastik memang agresif, tapi jumlahnya hanya 1 hingga 2 persen dari seluruh kasus.

Usia pasien saat kanker ditemukan juga menentukan prognosis. Pasien di bawah 50 tahun umumnya memiliki prospek jauh lebih baik. Tanda yang harus diwaspadai selain benjolan adalah suara serak yang menetap, karena sel kanker bisa menekan saraf di belakang kelenjar tiroid. Bisa juga muncul sesak napas dan batuk yang tak kunjung sembuh. Standar pengobatan kini terdiri dari operasi, terapi nuklir dengan yodium radioaktif, terapi hormon pengganti, dan radiofrekuensi ablasi untuk kasus dini.

Di tingkat nasional, Kementerian Kesehatan memperluas deteksi dini lewat program percontohan skrining di tujuh wilayah dengan prevalensi tinggi, yaitu Deli Serdang, Jakarta, Malang, Makassar, Medan, Cirebon, dan Surabaya. Program ini menargetkan 80 ribu pemeriksaan TSH di puskesmas. Prevalensi hipotiroidisme di Asia Pasifik mencapai sekitar 11 persen pada populasi dewasa, jauh di atas angka global yang berkisar 2 hingga 4 persen. Hasil skrining akan dipakai membentuk registry nasional pasien tiroid.

Satu Menit di Depan Cermin Lebih Murah dari Satu Bulan di Rumah Sakit

Kisah Ahmad Sugiri (58), warga Dusun Widoro Wetan, Kalurahan Bunder, Kapanewon Patuk, Gunungkidul, membuktikan pengobatan tiroid bisa berjalan panjang tapi tetap tertolong. Ia harus menempuh perjalanan hampir satu jam ke fasilitas kesehatan rujukan di Kalasan, Sleman, setiap bulan selama setahun terakhir, karena benjolan di leher yang didiagnosis sebagai gangguan tiroid. Sebagai peserta JKN segmen PBPU BP Pemda, seluruh biaya pengobatannya ditanggung negara, bahkan setelah ia kehilangan pekerjaan ketika pabrik tempatnya bekerja tutup.

Awalnya benjolan itu mengganggunya saat makan. Setelah kontrol rutin di poli penyakit dalam dan mengonsumsi empat jenis obat secara teratur, kini kondisinya jauh membaik. Ahmad bahkan sudah siap bila dokter nanti menyarankan operasi. Cerita ini dan kasus Asniyati berdiri di dua ujung yang berbeda. Satu menunjukkan gangguan tiroid bisa berakhir fatal dalam satu krisis di Tanah Suci, satu lagi menunjukkan gangguan yang sama bisa dipantau dengan tenang selama setahun penuh. Bedanya cuma satu, seberapa cepat benjolan kecil itu dianggap serius.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar