Cotton Bud Dianggap Pahlawan Kebersihan, Padahal Ia Mengusir Pasukan Pelindung Telinga
Korek telinga pakai cotton bud memang memberi rasa puas, tapi serumen yang dibuang sebenarnya menjadi perangkap debu, antibakteri, sekaligus penyambut kelembapan liang telinga.

Hampir setiap orang punya ritual yang sama di depan cermin kamar mandi. Selesai mandi, tangan otomatis meraih cotton bud, lalu mengorek liang telinga pelan-pelan sambil menikmati sensasi geli yang bikin mengerang. Rasanya tidak mandi namanya kalau telinga belum dikorek.
Nahas, kebiasaan yang terasa bersih justru kebalikannya. Yang kamu keluarkan itu bukan kotoran murahan, melainkan perlindungan alami yang sedang bekerja. Dan setiap cotton bud yang masuk berpotensi mendorong perlindungan itu makin dalam, bukan mengeluarkannya.
Serumen, Pasukan Keamanan Liang Telinga yang Dibuang Begitu Saja
Dokter THT RSPI Bintaro Jaya, Ashadi Budi, berbicara blak-blakan soal ini. Serumen, katanya, bukan sekadar kotoran, melainkan zat alami yang sangat berguna, sehingga tidak perlu dibersihkan. Ia menyebut empat peran utamanya, yakni pelindung, pembersih alami, pelembap, dan pencegah infeksi.
Sebagai pelindung, serumen menjadi penghalang yang mencegah debu, serbuk, hingga serangga kecil masuk ke liang telinga. Ia juga menjaga kelembapan saluran telinga agar tidak kering dan gatal, sekaligus menekan pertumbuhan mikroorganisme.
Dokter THT RSCM, Harim Priyono, menambahkan satu kunci yang sering luput. Serumen bersifat asam, dan keasaman inilah yang membantu menekan pertumbuhan kuman di rongga liang telinga yang panjang serta lembap. Serumen juga mengandung imunoglobulin, zat antibakteri yang melindungi telinga dari infeksi. Karena itulah ia hanya perlu diangkat kalau sudah menutupi sekitar 30 persen diameter liang telinga.
Ada pula mekanisme pembersihan yang berjalan tanpa kamu minta. Rosydiah Rahmawati, konsultan THT bidang Otologi dari Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa serumen akan keluar sendiri berkat pergerakan rahang dan rambut-rambut halus di liang telinga. Jadi setiap kamu mengunyah, berbicara, atau menggerakkan pipi, sapu mini itu sedang bekerja.
Cotton Bud Mendorong, Salah Arah Mengeluarkan
Inilah masalah utama. Kotoran telinga memang berada di sisi luar, tapi gerakan cotton bud justru bisa mendorongnya masuk lebih dalam. Rosydiah mengibaratkannya sederhana, kalau kotorannya sedikit dan lembek, membersihkan bagian luar tidak masalah. Tapi kalau produksinya banyak, keras, dan cenderung menumpuk, cotton bud malah mendorongnya masuk.
Dokter THT RS Indriati Solo Baru, Hutami Laksmi Dewi, melihat dampaknya di praktik sehari-hari. Banyak pasien datang dengan gendang telinga bolong karena tertusuk cotton bud, sebagian lainnya berdarah. Kotoran kering justru makin dalam terdorong, lalu menutup telinga dan menimbulkan rasa tidak nyaman hingga pusing.
Kasus Yogi Elka jadi contoh paling nyata. Pria ini mendadak tidak bisa mendengar pakai telinga kirinya. Kotoran yang menumpuk bertahun-tahun hingga mengeras terus didorong masuk oleh cotton bud, sampai akhirnya menyumbat dan melukai dinding telinganya, lalu membuatnya terinfeksi dan demam.

Earphone Berjam-Jam Menutup Pintu Keluar Telinga
Liang yang Ditutup Menjadi Rumah Baru Kuman
Masalah tidak berhenti di cotton bud. Penelitian terhadap 4.185 warga Australia pada 2017 menunjukkan bahwa rata-rata orang memakai headphone selama 47 hingga 88 jam per bulan. Angka itu menjelaskan kenapa telinga modern begitu sibuk, dan begitu tertutup.
Berbeda dengan headphone yang hanya menutupi telinga luar, earbuds dimasukkan ke bagian luar saluran telinga. Inilah yang menciptakan lingkungan hangat dan lembap, situasi ideal bagi bakteri atau jamur untuk berkembang, terutama kalau earbuds jarang dibersihkan.
Lisa Hellwege, direktur klinis Earworfx, menjelaskan bahwa apapun yang menghalangi jalan keluar alami cairan atau zat dari telinga bisa menyebabkan penumpukan di dalamnya. Earphone diletakkan di sepertiga luar telinga, tepat di tempat zat pelindung itu diproduksi, sehingga ia juga bisa merangsang produksi kotoran lebih banyak.
Satu kajian yang dilansir lewat jurnal Researchgate bahkan menemukan earphone yang kotor menjadi sarang bagi 68 persen bakteri. Kebiasaan meminjam earphone ke teman memperbesar risiko ini, karena bisa memicu infeksi telinga luar atau otitis eksterna. Solusi sederhananya, bersihkan earbuds dengan sikat halus dan air sabun, lalu keringkan sempurna sebelum dipakai lagi.
Aturan 60 Persen dan Jeda 60 Menit
Soal volume, Nyilo Purnami dari SMF THT FK Universitas Airlangga memberikan angka yang mudah diingat. Gunakan penyuara telinga maksimal 60 persen dari volume tertinggi, lalu istirahatkan selama 15 menit setiap 60 menit pemakaian. Paparan suara terus-menerus, katanya, bisa menyebabkan kelelahan sel pendengaran di rumah siput, dan kalau tidak diatasi kerusakannya permanen.
Angka itu tidak muncul begitu saja. Bising berbahaya saat intensitasnya lebih dari 85 desibel, setara kebisingan di jalan raya, sementara rata-rata volume pemakaian earphone menyentuh 95 hingga 105 desibel menurut MRC Institute of Hearing Research.
WHO mencatat 43 juta penduduk berusia 12 hingga 35 tahun mengalami penurunan pendengaran, dan separuhnya disebabkan volume yang terlalu kencang. Pada 2021, satu dari lima orang di dunia mengalami gangguan pendengaran atau ketulian. Sementara data CDC pada tahun yang sama menunjukkan 12,5 persen anak usia 6 hingga 19 tahun sudah mengalami trauma akustik.
Denging Itu Alarm Telinga, Sering Diabaikan Begitu Saja
Kalau telingamu berdenging setelah pakai headset, itu bukan kebetulan. Widayat Alviandi, dokter THT RSCM, menjelaskan tinnitus sebagai kondisi mendengar suara tanpa sumber bunyi eksternal. Suaranya macam-macam, ada denging, dengung, gemuruh, klik, siulan, dan desis.
Kapan denging itu perlu diwaspadai? Kalau berlangsung lebih dari 5 menit atau terjadi 2 kali seminggu hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, ini sudah masuk kategori patologis dan butuh penanganan. Tinnitus subjektif sering bersumber dari gangguan di telinga bagian dalam, khususnya organ koklea.
Tidur juga memengaruhi. Peneliti di Henry Ford Hospital Detroit mengkaji hampir 117 pasien tinnitus, dan menemukan bahwa makin parah gejala insomnia mereka, makin besar keluhan tinnitus serta makin buruk gangguan emosionalnya. Mengobati insomnia, kata peneliti, ternyata bisa mengurangi keparahan gejala tinnitus.

Cara Bersih yang Tidak Menambah Masalah
Kalau serumen sudah menumpuk dan mengganggu, ada jalur aman. Tanda-tandanya jelas, pendengaran turun secara tiba-tiba atau bertahap, telinga terasa penuh atau tersumbat, muncul nyeri, atau gatal di dalam saluran telinga. Pada kondisi ini, Ashadi menyarankan untuk tidak mencoba membersihkannya sendiri.
Untuk perawatan harian, bersihkan hanya bagian luar telinga pakai waslap bersih yang dibasahi air hangat. Hutami memberi alternatif lain, celupkan kapas ke air hangat, linting perlahan, masukkan ke telinga, lalu gerakkan dari dalam ke luar searah jarum jam. Tidak perlu memasukkan apapun lebih dalam dari itu.
Obat tetes bisa dipakai untuk melunakkan serumen yang keras, tapi harus sesuai resep dokter. Isinya biasanya gliserin atau karbamid peroksida, dan beli sendiri tanpa resep berisiko tidak tepat. Kalau sudah menyumbat, biarkan dokter yang menanganinya dengan alat khusus, suction, atau irigasi lembut.
Satu peringatan keras dari Hutami, jangan lakukan irigasi telinga secara mandiri. Memasukkan air ke telinga bisa merangsang saraf hingga menyebabkan pusing berputar. Telinga juga dialiri saraf vagus, dan kalau saraf ini sampai terangsang, bisa menyebabkan pingsan. Sekali lagi, biarkan tangan dokter yang melakukannya.
Frekuensi idealnya juga ada aturannya. Kalau kotoran sedikit dan lunak, membersihkan satu kali seminggu secara mandiri cukup. Tapi kalau banyak dan cenderung menumpuk, periksakan ke dokter THT maksimal enam bulan sekali, karena dokter akan memeriksa kondisi liang telinga dulu sebelum memutuskan penanganan.
Telinga Tidak Butuh Diselamatkan, Cukup Dibiarkan Bekerja
Mungkin ada baiknya kita mengubah cara pandang. Telinga tidak butuh diselamatkan dari kotorannya, karena kotoran itulah yang menyelamatkan telinga. Yang dibutuhkan hanyalah tidak mengganggunya, memberinya jeda dari earphone, dan memeriksakannya ke dokter kalau memang ada keluhan.
Sensasi geli saat mengorek telinga memang sulit ditolak, tapi sensasi itu sebanding dengan risikonya. Cotton bud di rak kamar mandi memang terlihat tak berbahaya, tapi setiap kali ia masuk, ada pelindung kecil yang diusir dari tempatnya bekerja.
Artikel Terkait
Lihat kategori Kesehatan ↗
Tulangmu Membangkang Diam-Diam, dan Satu-Satunya Pengkhianatan Adalah Sunyimu Sendiri
Kepadatan tulang menurun tanpa gejala sampai patah terjadi. Kunci penundaannya bukan sekadar susu, melainkan kombinasi kalsium, vitamin D, protein, dan kaki yang rajin bergerak.
Jam Tujuh Pagi Bersikeras Kamu Sudah Beristirahat, Tubuhmu Bilang Belum
Bangun lelah padahal tidur sudah tujuh atau delapan jam bukan kesalahan kasur. Sebagian besar kerusakan terjadi jauh sebelum kepala menyentuh bantal.
Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara
Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar