Cotton Bud Digerakkan ke Dalam, Bukan Mengambil Kotoran, Melainkan Menguburnya

Kotoran telinga bukan kotoran sama sekali, melainkan sapu mini antibakteri yang bergerak keluar sendiri saat kita mengunyah. Dorong cotton bud ke dalam hanya menumpuknya makin dalam sampai menutup gendang.

Bagikan cerita ini:
Ilustrasi membersihkan telinga dengan cotton bud, kebiasaan yang justru mendorong serumen makin ke dalam

Ada kepuasan kecil yang sulit dijelaskan saat mengeluarkan cotton bud dari telinga dan melihat ujungnya berubah kuning. Sensasi itu bikin banyak orang ketagihan, lalu mengulanginya tiap habis mandi, tiap selesai berenang, atau bahkan saat bosan duduk. Sayangnya, yang dianggap sedang dibersihkan sebetulnya sedang didorong makin ke dalam.

Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan RSPI Bintaro Jaya, Ashadi Budi, menyebut kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud atau alat runcing lainnya tidak perlu dilakukan. Malah, kebiasaan ini cenderung berbahaya karena cotton bud justru mendorong kotoran masuk ke dalam, bukan mengeluarkannya.

Serumen Bukan Kotoran, Tapi Sapu Mini Antibakteri

Kotoran telinga, atau serumen, adalah zat lilin yang diproduksi kelenjar di saluran telinga. Bukan kotoran yang harus disingkirkan, melainkan pelindung alami dari serangan debu, bakteri, dan benda asing lainnya.

Serumen punya sifat antibakteri dan antijamur, sekaligus menjaga kelembapan saluran telinga supaya tidak kering atau iritasi. Kandungan inilah yang membuat telinga sehat tidak perlu dibantu cairan pembersih khusus.

Bagian paling menarik adalah cara tubuh membuangnya. Serumen yang menempel di dinding saluran telinga terdorong ke luar secara alami saat kita mengunyah, berbicara, atau menggerakkan rahang. Proses ini disebut migrasi epitel, dan berjalan tanpa kita sadari setiap hari.

Ilustrasi cara membersihkan daun telinga bagian luar dengan waslap hangat tanpa memasukkan benda ke liang telinga
Foto oleh cottonbro studio di Pexels

Empat peran serumen yang sering dilupakan

Pertama, serumen jadi penghalang yang mencegah benda asing seperti debu, serbuk, atau serangga kecil masuk ke telinga. Kedua, saat bergerak ke luar ia membawa serta sel kulit mati dan partikel debu, seperti sapu jalan mini di saluran telinga. Ketiga, kelembapan yang dijaganya mencegah saluran telinga kering dan gatal. Keempat, kandungan antibakterinya menekan pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi.

Karena empat peran inilah, sebagian besar orang sebetulnya tidak perlu membersihkan telinganya secara manual. Serumen sudah keluar sendiri tanpa diminta, dan kalau dibiarkan, liang telinga justru lebih terjaga kesehatannya. Masalah baru muncul saat proses alami ini diganggu, entah oleh cotton bud, peniti, atau ujung jari.

Dorongan Kecil di Liang Telinga, Risikonya Sampai ke Gendang

Alih-alih bersih, cotton bud justru membalik proses alami di atas. Dorongan kecil di liang telinga bisa menyebabkan penyumbatan, luka, bahkan pecahnya gendang telinga jika digunakan terlalu dalam. Yang awalnya ingin dikeluarkan, akhirnya menumpuk dan mengeras di tempat yang sulit dijangkau.

Kondisi ini dikenal sebagai serumen prop, yakni serumen yang menumpuk dan membentuk sumbatan. Bisa mengganggu pendengaran, bikin telinga terasa penuh atau berdenging, memicu rasa nyeri, sampai gatal di dalam saluran telinga.

Dorongan kecil juga punya andil pada masalah pendengaran yang lebih luas. Dokter Senior THT-KL Rumah Sakit Cut Meutia, Indra Zachreini, menyoroti masih banyaknya kasus gangguan pendengaran yang berawal dari kebiasaan sehari-hari, termasuk mengorek telinga. Ia melihat banyak pasien usia muda yang harus memakai alat bantu dengar karena kurangnya perhatian pada organ pendengaran.

Headset dan Volume Keras, Tetangga Berisik dari Kamar Sebelah

Masalahnya tidak hanya dari benda yang dimasukkan ke telinga. Kebiasaan mendengarkan musik dengan volume tinggi dalam waktu lama, apalagi sampai tertidur dengan headset masih terpasang, ikut menambah beban sel sensorik di telinga. Paparan suara keras terus-menerus membuat sel sensorik kelelahan, dan kalau berulang dalam waktu lama kerusakannya bisa permanen.

Ilustrasi pemeriksaan telinga oleh dokter THT dengan alat khusus untuk membersihkan serumen prop
Foto oleh https://kaboompics.com/ di Pexels

World Health Organization menyarankan volume perangkat audio di bawah 60 persen dari tingkat maksimal, dengan rata-rata paparan di bawah 80 desibel. Semakin keras suaranya, semakin singkat waktu amannya. Pada 80 desibel telinga masih kuat sekitar 40 jam per minggu, tapi naik ke 90 desibel waktunya tinggal sekitar empat jam per minggu. Indra merangkusnya dengan aturan 60:60, volume maksimal 60 persen dan pemakaian headset tidak lebih dari 60 menit.

Mengapa volume naik sendiri di tempat ramai

Lingkungan sekitar juga membuat kita tanpa sadar menaikkan volume, apalagi di kendaraan umum atau tempat yang ramai. Suara mesin dan obrolan orang banyak menutupi musik yang sedang diputar, jadi refleksnya tinggalkan volume sampai lagu kedengaran jelas, padahal telinga sudah kewalahan.

Salah satu cara mengakalinya adalah memakai earphone atau headphone yang pas dan punya fitur peredam bising. Perangkat ini membantu meredam suara dari lingkungan sehingga volume tidak perlu dibanting tinggi hanya untuk mendengar musik atau percakapan. Tapi jangan salah, fitur itu tidak lantas membuat volume tinggi jadi aman. Volume dan durasi tetap harus dijaga.

Tanda dini yang sering dianggap biasa

Telinga berdenging setelah mendengarkan suara keras atau suara terasa teredam sejenak adalah tanda yang sering diabaikan. Gejala ini biasanya membaik setelah telinga beristirahat. Tapi kalau berdengingnya terus berlanjut, sulit mendengar suara bernada tinggi, atau mulai kesulitan mengikuti percakapan, segera periksakan pendengaran ke tenaga kesehatan.

Cara Membersihkan Telinga Tanpa Membahayakan Gendang

Untuk bagian luar, gunakan waslap bersih yang dibasahi air hangat untuk membersihkan daun telinga. Jangan memasukkan apa pun ke dalam liang telinga, termasuk cotton bud, peniti, atau ujung jari.

Kalau serumen keras dan menempel, dokter bisa meresepkan obat tetes seperti gliserin atau karbamid peroksida untuk melunakkannya sebelum dibersihkan. Dan kalau sudah terbentuk sumbatan, biarkan dokter THT menanganinya dengan alat khusus seperti suction atau irigasi lembut. Merasa serumen sudah menumpuk, mendingan langsung periksa ke dokter daripada ngotot membersihkan sendiri di rumah.

Bukan Harus Meninggalkan Earphone, Cukup Lebih Sopan ke Telinga

Tidak perlu langsung membuang semua earphone di rumah. Perangkat ini tetap bisa dipakai untuk menikmati musik, bekerja, atau telepon selama kebiasaannya aman. Yang perlu dijaga hanya tiga hal, volume tetap rendah, durasi tidak berlebihan, dan beri telinga waktu beristirahat.

Telinga sebetulnya sudah punya sapu mini sendiri yang bekerja setiap kita mengunyah. Tugas kita cuma satu, jangan masukkan hal lain ke liang telinga yang sedang bersetia membersihkan dirinya sendiri.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar