Demam Anak Naik, Tangan Orang Tua Lebih Cepat Meraih Tamiflu Daripada Telepon Dokter

Tamiflu diborong orang tua begitu anak panas, padahal obat ini resep dokter dan belum ada kematian akibat influenza A di Indonesia.

Bagikan cerita ini:
Ibu menemani anak yang sedang demam tinggi di rumah saat musim influenza

Tamiflu Itu Obat Resep, Bukan Pelarian Pertama

Anak panas demam, dan tangan orang tua lebih dulu mencapai kotak obat atau nomor apotek daripada nomor dokter. Akhir-akhir ini kepanikan itu punya satu nama: Tamiflu.

Di grup media sosial, banyak orang tua saling membagi resep lama dan minta alamat untuk membeli oseltamivir. Praktik ini disebut para ahli medis sebagai kebiasaan berbahaya dengan konsekuensi yang berpotensi serius.

Tamiflu memang obat antivirus. Ia menyerang virus influenza dan mencegahnya berkembang biak di dalam tubuh. Tapi para dokter anak menegaskan obat ini bukanlah obat mujarab untuk semua penyakit pernapasan.

Obat ini hanya diindikasikan untuk kasus infeksi influenza yang rumit atau kelompok risiko tinggi, seperti anak di bawah dua tahun, penderita imunodefisiensi, asma, atau penyakit kardiovaskular.

Memberikan obat tanpa mengidentifikasi penyebabnya membuat anak terpapar efek samping seperti muntah, gangguan pencernaan, dan diare. Lebih pelik lagi, pemakaian sembarangan memicu resistensi obat.

Konsekuensi paling silumannya, obat menutupi gejala sebenarnya. Keluarga jadi lengah dan menunda membawa anak ke ruang gawat darurat tepat saat penyakitnya memburuk.

Jangankan membantu, pemberian obat tanpa sebab yang jelas juga menambah beban pengeluaran keluarga. Padahal influenza A termasuk penyakit yang sembuh dengan sendirinya tanpa diobati.

Demikian dr. Tran Thi Minh Ly dari Pusat Kesehatan Xuan La, Hanoi, yang menemui banyak orang tua langsung membeli antivirus begitu anaknya menunjukkan gejala batuk dan demam.

Obat antivirus resep untuk influenza tidak boleh dibeli dan diminumkan sendiri tanpa penilaian dokter
Foto oleh https://kaboompics.com/ di Pexels

Data Kemenkes Bicara Lain, Belum Ada Satu Pun Kematian

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan influenza A tidak berbahaya. Sampai akhir September 2026 belum ada kematian yang tercatat akibat influenza A.

Dante menyebutnya self-limiting disease, penyakit yang sembuh dengan sendirinya tanpa diobati. Tren kasus naik menjelang musim hujan, lalu turun kembali pada Februari dan Maret.

Hingga minggu ke-38 tahun 2026, dari 265 spesimen yang diperiksa, 148 di antaranya positif influenza. Aktivitas di surveilans puskesmas masih kategori sedang, dan surveilans rumah sakit masih rendah.

Kelompok usia 0 hingga 4 tahun memang paling banyak terinfeksi, yaitu 39 persen dari kasus yang terdeteksi. Pada 2025 tercatat 62 kasus di kelompok usia ini, dan 2026 baru delapan kasus.

Istilah superflu untuk H3N2 subclade K memang bikin heboh. Padahal itu bukan nomenklatur resmi WHO maupun CDC, dan temuan subclade K tahun ini justru lebih rendah dari tahun lalu.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut kenaikan kasus perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Dante menambahkan agar kasus ini jangan digoreng menjadi berita viral yang seolah menakutkan.

Yang terjadi di lapangan memang ada kenaikan, tapi kemiripan pola dengan tahun-tahun sebelumnya membuatnya jadi fenomena musiman biasa. Aktivitas influenza akan menurun lagi pada Februari dan Maret.

Virusnya Tak Menunggu Musim Hujan, Kebiasaan Kita yang Mengundang

Indonesia bukan negara empat musim, sehingga influenza bersirkulasi sepanjang tahun. Surveilans 2003 hingga 2007 bahkan menemukan influenza A dan B tetap terdeteksi di luar puncak musim hujan.

Justru musim kemarau membuat virus lebih cepat mati di luar ruangan. Tapi cuaca panas membuat orang menumpuk di ruangan berpendingin dengan ventilasi tertutup, kata Prof. Anggraini Alam dari Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Satu anak sakit di tempat penitipan, dan teman-temannya ikut tertular. Prof. Tri Wibawa dari Universitas Gadjah Mada menambahkan kelembapan tinggi memperpanjang droplet pernapasan di udara ruang tertutup.

Menurut dr. Nastiti Kaswandani, satu orang yang terinfeksi bisa menularkan virus ke dua hingga tiga orang di sekitarnya, terutama di ruang dengan ventilasi buruk.

Kementerian Kesehatan juga mencatat empat faktor di musim kemarau, yaitu kelembapan rendah, debu dan polusi yang meningkat, perubahan suhu yang tajam, serta virus yang memang ada sepanjang tahun.

Udara kering membuat lapisan mukosa hidung dan tenggorokan ikut kering, sehingga fungsi pertahanan alami saluran pernapasan ikut terganggu. Debu dan asap kendaraan memperburuk iritasi ini.

Suhu panas di siang lalu dingin di malam hari juga memicu iritasi saluran napas, terutama bagi penderita asma atau saluran napas sensitif.

Sekurang-kurangnya 13 provinsi telah mencatat kasus influenza A, dengan subtipe H1N1pdm09 paling dominan, ujar dr. Eva Susanti, dokter spesialis paru.

Tanda Anak Butuh Gawat Darurat, Bukan Strip Obat

Tanda bahayanya konkret. Demam di atas 39 derajat Celsius yang tak mereda setelah 48 jam, pernapasan cepat, mengi, atau dada terlihat tertarik ke dalam saat menarik napas.

Perhatikan juga anak yang jadi lesu, mengantuk, sulit dibangunkan, menangis terus-menerus, atau kejang. Begitu pula yang muntah-muntah, menolak makan, serta ujung jari tangan dan kaki dingin atau kebiruan.

Gejala-gejala ini adalah alarm, bukan sekadar flu biasa. Saatnya ke fasilitas medis, bukan ke apotek.

Pemeriksaan jenis virus sendiri membutuhkan metode PCR yang masih terbatas dan berbiaya tinggi, sehingga banyak daerah belum melaporkan subtipe virus yang beredar.

Pencegahan Termurah Ada di Jendela dan Dapur

Buka jendela. Aliran udara silang mengencerkan partikel virus di udara, sehingga risiko penularan turun, kata Tri Wibawa.

Kebiasaan kecil inilah yang sering dilupakan. Orang lebih sibuk mencari obat darurat ketimbang memastikan udara di rumah dan kelasnya mengalir.

Latih etika batuk dengan tisu atau siku, cuci tangan dengan sabun, dan pakai masker saat sedang sakit. Anak yang sedang sakit sebaiknya tidak masuk sekolah atau tempat penitipan.

Vaksinasi influenza tahunan tetap relevan untuk kelompok rentan, seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.

Mencuci tangan dengan sabun menjadi langkah pencegahan penularan influenza yang paling murah
Foto oleh Ketut Subiyanto di Pexels

Jadi saat demam anak naik, urusannya bukan seberapa cepat kita dapat Tamiflu. Urusannya seberapa cepat kita tahu kapan harus ke dokter.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar