Dibilang Pusing Biasa, Vertigo Justru Mendudukkan Vokalis di ICU dan Mengusir Atlet dari Pelatnas
Vertigo bukan sekadar pusing, melainkan sistem keseimbangan yang dirusak dari mata, telinga, hingga otak. Kasus vokalis yang masuk ICU dan atlet bulu tangkis yang mundur dari Pelatnas membuktikan betapa mahalnya meremehkannya.

Satu Serangan yang Mengakhiri Panggung Selama Berbulan-bulan
Pusing berputar sering dianggap sekadar tanda kurang tidur atau terlalu banyak depan layar. Tapi bagi vokalis Kahitna Hedi Yunus, rasa itu datang tepat pukul 12.00 WIB saat dia sedang check-in di hotel Surabaya sebelum tampil. Dunia di sekitarnya langsung berputar keras, dan dia harus dibopong tim kembali ke kamar sambil muntah berkali-kali sampai isi perutnya kosong. Tekanan darahnya saat itu menembus angka 200-an per 130-an, dan observasi dokter beserta pemeriksaan MRI menetapkan semuanya sebagai vertigo.
Hasilnya bukan cuma satu panggung yang batal. Hedi harus masuk ICU, dirawat intensif beberapa hari, lalu diizinkan pulang ke Jakarta untuk melanjutkan pemulihan dan rutin minum obat. Dia juga menjalani pemeriksaan jantung di RSJPD Harapan Kita memastikan tensinya benar-benar stabil. Kisah serupa menimpa pebulu tangkis Gregoria Mariska Tunjung. Vertigo kronis yang dideritanya sejak Maret 2025 tak kunjung pulih sempurna, hingga dia resmi mengundurkan diri dari Pelatnas PBSI pada 15 Mei 2026 dalam usia 26 tahun, padahal dia baru finis sebagai runner-up Kumamoto Masters 2025.
Sistem Keseimbangan Bisa Rusak dari Tiga Organ Sekaligus
Dokter umum dr. Renny Bunjamin menjelaskan bahwa vertigo sebenarnya gejala gangguan sistem keseimbangan yang melibatkan tiga organ utama, yaitu mata, telinga bagian dalam, dan otak. Mata yang rabun berat, julung, atau bermasalah dalam gerak bola mata membuat otak menerima sinyal visual yang membingungkan. Otak akan merasa sekelilingnya berputar meski tubuh diam. Ketiga organ ini saling terhubung, dan jika salah satu terganggu, keseimbangan tubuh bisa hilang.
Telinga bagian dalam menjadi biang keladi paling sering. Pada Benign Paroxysmal Positional Vertigo atau BPPV, kristal kalsium kecil di telinga bergeser dan mengacaukan sinyal keseimbangan menuju otak setiap kali kepala digerakkan. Kondisi serupa terjadi pada labirinitis dan penyakit Meniere, di mana penumpukan cairan dan perubahan tekanan memicu rasa berputar disertai telinga berdenging dan gangguan pendengaran.
Sementara itu, otak dan sistem saraf pusat punya daftar masalahnya sendiri. dr. Renny menyebut stroke ringan, migrain vestibular, hingga tumor kecil di batang otak bisa memicu vertigo. Inilah sebabnya vertigo dibagi menjadi dua jenis. Vertigo perifer bersumber dari telinga bagian dalam dan lebih umum ditemui, sedangkan vertigo sentral berasal dari otak, seperti tumor, penyumbatan, atau infeksi.
Sinyal yang Sering Dikelirukan dengan Migrain Biasa
Banyak orang menyebut sakit kepalanya vertigo padahal sebenarnya migrain, dan kekeliruan ini terjadi dua arah. dr. Jeffry Foraldy Haryanto menegaskan migrain ditandai nyeri berdenyut di satu sisi, bisa kanan atau kiri, bahkan menyebar ke seluruh kepala, sering disertai mual dan mata berkunang-kunang. Lokasi nyeri memberi petunjuk sendiri, misalnya rasa di sekitar hidung dan pipi menunjuk ke sinusitis, sedangkan nyeri di belakang kepala mengarah ke infeksi telinga.

Vertigo sebaliknya bukan nyeri, melainkan sensasi tubuh atau lingkungan yang berputar, bergoyang, dan tidak stabil. Gejala penyertanya pun khas, mulai dari mual, muntah, gangguan pendengaran, telinga berdenging, rasa tertekan di telinga, hingga nistagmus atau mata yang bergerak cepat tanpa kendali. Membedakan keduanya jadi langkah pertama supaya penanganan tidak salah sasaran.
Saat Rasa Berputar Menjadi Alarm Stroke
Tidak semua vertigo mematikan, tetapi beberapa jenis menuntut perhatian cepat. dr. Arifian Wijaya Lana Putra, dokter spesialis saraf RS Samarinda Medika Citra, memeringatkan vertigo sentral bisa menjadi tanda stroke di batang otak atau otak kecil. Keluhan yang berlangsung lama, disertai mual, muntah, dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya tidak diabaikan begitu saja.
dr. Ramdinal Aviesena Zairinal dari RS Universitas Indonesia menambahkan vertigo mendadak pada orang dengan faktor risiko hipertensi, diabetes, atau gangguan pembuluh darah bisa mengarah ke gejala stroke. Banyak pasien yang menyebutnya pusing biasa atau kelelahan sehingga telat mendapat penanganan. Selain vertigo, pandangan yang tiba-tiba kabur atau gelap juga kerap luput dari waspada. Gejalanya dikenal lewat metode FAST, dan di Indonesia dirangkum dalam slogan SeGeRa Ke RS, yaitu senyum tidak simetris, anggota tubuh melemas, gangguan bicara, dan segera ke rumah sakit.
Empat Bulan Sempoyongan Ternyata Cuma Kotoran Telinga
Sebelum membayangkan hal besar, cek dulu hal kecil di telinga. Dokter THT dr. Tom pernah menangani pasien yang selama empat bulan merasa oyong dan terus kepala berputar, bolak-balik ke dokter saraf tanpa hasil. Penyebabnya kotoran telinga yang mengeras dan menyumbat saluran, berukuran sebesar kacang merah saat ditarik keluar. Setelah dibersihkan, vertigonya langsung hilang. Serumen yang menumpuk bisa menekan kanal telinga, memicu peradangan, dan mengganggu organ keseimbangan.
Mereka yang serang memakai cotton bud atau earphone jadi kandidat utama sumbatan semacam ini. Keluhannya biasanya disertai telinga berdenging dan penurunan pendengaran, dan pemeriksaan ke dokter THT menjadi jalan paling murah sebelum menjalani serangkaian tes saraf.

Langkah Pertama Saat Dunia Mulai Berputar
Saat serangan datang tiba-tiba, posisi adalah sahabat pertama. dr. Untung Gunarto, pelaksana tugas direktur RSUD Margono Soekarjo Purwokerto, menyarankan langsung ambil posisi nyaman, bersandar, atau berbaring miring di ruangan yang sejuk, dan yang paling penting jangan panik. Rilekskan seluruh tubuh, tarik napas dalam dengan irama teratur, lalu pejamkan mata sebentar sebelum membukanya kembali. Setelah gejala berkurang, posisi bersujud yang melemaskan pundak dan leher bisa membantu.
Bagi penderita BPPV, dr. Cecep Hermawan membagikan teknik gerakan mandiri yang memanfaatkan gravitasi untuk mengembalikan posisi kristal di telinga. Sebelum mulai, tentukan dulu sisi telinga yang bermasalah dengan merebahkan badan miring ke kiri dan kanan, lalu rasakan sisi mana yang memicu sensasi berputar paling kuat. Akar masalahnya memang bersifat mekanis, jadi manuver fisik jauh lebih masuk akal daripada menumpuk obat.
Dua Kapsul Kecil yang Menahan Rasa Berputar Kembali
Pencegahan kambuh ternyata bisa semurah vitamin. Penelitian Ji-Soo Kim dari Sekolah Tinggi Kedokteran Universitas Nasional Seoul, dipublikasikan di Neurology bulan Agustus 2020, mengamati hampir 1.000 orang Korea pasien BPPV yang sudah diobati lewat gerakan kepala terapeutik. Sekitar 86 persen dari mereka mengeluh vertigo mengganggu kehidupan sehari-hari sampai sering tidak masuk kantor.
Kelompok yang kadar vitamin D-nya di bawah 20 ng/mL diberi suplemen 400 unit internasional vitamin D dan 500 miligram kalsium dua kali sehari. Hasilnya, tingkat kekambuhan turun dari 1,10 kali menjadi 0,83 kali per tahun, atau menurun 24 persen. Penurunan paling tajam dialami mereka yang awalnya kekurangan parah, yakni 45 persen pada kadar di bawah 10 ng/mL, dibanding 14 persen pada kadar 10 hingga 20 ng/mL.
Periksa Sebelum Dunia Berputar Lagi
Sebagian besar vertigo memang tidak berbahaya, tapi pengecualiannya terlalu mahal untuk dipertaruhkan. dr. Arifian mengimbau masyarakat berhenti melakukan diagnosis sendiri saat mengalami keluhan pusing, karena membedakan pusing biasa dan vertigo jadi gerbang pertama menuju penanganan tepat. Jaga pola makan, pola tidur, dan rutin relaksasi, serta hindari perubahan posisi kepala yang mendadak.
Kalau rasa berputar sering kambuh, kunjungi dokter untuk mencari penyebab pastinya. Vokalis yang masuk ICU dan atlet yang mundur dari Pelatnas sudah membuktikan, vertigo tidak selalu memilih orang yang dianggap sehat, dan biaya meremehkannya bisa berupa panggung, karier, atau nyawa.
Artikel Terkait
Lihat kategori Kesehatan ↗
Tulangmu Membangkang Diam-Diam, dan Satu-Satunya Pengkhianatan Adalah Sunyimu Sendiri
Kepadatan tulang menurun tanpa gejala sampai patah terjadi. Kunci penundaannya bukan sekadar susu, melainkan kombinasi kalsium, vitamin D, protein, dan kaki yang rajin bergerak.
Jam Tujuh Pagi Bersikeras Kamu Sudah Beristirahat, Tubuhmu Bilang Belum
Bangun lelah padahal tidur sudah tujuh atau delapan jam bukan kesalahan kasur. Sebagian besar kerusakan terjadi jauh sebelum kepala menyentuh bantal.
Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara
Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar