Kacamata Anti Radiasi Dianggap Penyelamat Mata Layar, Padahal Jeda 20 Detik Sudah Cukup

Meta-analisis 17 penelitian menemukan lensa pemblokir cahaya biru tidak mengurangi kelelahan mata. Yang sebenarnya dibutuhkan mata hanyalah jeda 20 detik setiap 20 menit menatap layar.

Bagikan cerita ini:
Ilustrasi orang mengucek mata lelah usai lama menatap layar komputer di meja kerja

Sore hari, mata mulai terasa perih. Pandangan agak kabur sekilas, lalu membaik setika berkedip. Reaksi paling umum adalah mencari kacamata anti radiasi di katalog, atau paling tidak tetes mata di tas. Kedua pelarian itu tidak salah, tapi keduanya tidak menyentuh akar masalahnya.

Akar masalahnya bukan warna cahaya yang keluar dari layar, melainkan sesuatu yang berhenti kamu lakukan tanpa kamu sadari. Kamu berhenti berkedip.

Kedipan Berkurang Setengahnya, Itulah Biang Kelelahan Mata

Saat menatap layar, frekuensi berkedip seseorang turun sekitar setengahnya. Pernyataan ini bukan asumsi, melainkan penjelasan Hunter Cherwek, dokter spesialis mata sekaligus Global Ophthalmologist Orbis International, yang dirangkum Kompas.com. Berkedip adalah mekanisme alami untuk melumasi mata, dan ketika frekuensinya dipotong dua, permukaan mata jadi lebih kering. Hasilnya, ketidaknyamanan dan pandangan kabur yang dikenal sebagai kelelahan mata digital.

Kompas.com juga mencatat pernyataan American Academy of Ophthalmology bahwa sampai sekarang belum ada bukti layar digital atau cahaya biru yang dipancarkannya menyebabkan kerusakan mata permanen pada orang dewasa. Jadi kalau keluhan kamu cuma muncul jam lima sore dan hilang setelah tidur, musuhnya bukan layarnya, melainkan otot mata yang tidak pernah diberi jeda.

Mata Berair Sering Disangka Sehat, Padahal Isyarat Kekeringan

Gejala paling menyesatkan dari mata kering adalah mata berair. Banyak orang menganggap mata berair artinya mata sehat dan terjaga kelembapannya. Dokter spesialis mata Shibal Bhartiya dari Marengo Asia Hospitals menjelaskan kepada TIMES Indonesia bahwa air mata berlebih justru sering merupakan respons tubuh terhadap gangguan pada lapisan air mata, atau yang disebut reflex tearing.

Air mata terdiri dari tiga komponen, yaitu minyak, air, dan lendir. Ketika keseimbangan ini terganggu, mata mengirim sinyal ke otak untuk memproduksi air mata tambahan. Sayangnya air mata tambahan ini tidak mampu memberi pelumasan optimal, sehingga mata bisa terasa kering dan berair pada saat yang bersamaan.

Angkanya juga tidak main-main. INIRIAU melaporkan sekitar 27,5 hingga 30,6 persen penduduk Indonesia mengalami sindrom mata kering, dan di wilayah perkotaan seperti Jabodetabek serta Bandung, angkanya bisa mencapai 41 persen. Faktor pendorongnya saling berhubungan, yaitu paparan polusi udara, ruangan berpendingin, dan gaya hidup digital yang menatap layar berjam-jam.

Kacamata Anti Radiasi Tidak Sehebat Klaimnya

Lensa pemblokir cahaya biru dijajakan dengan janji mengurangi kelelahan mata hingga memperbaiki kualitas tidur. Bukti ilmiahnya sangat tipis. detikHealth melaporkan meta-analisis terhadap 17 uji coba terkontrol acak dari enam negara, yang dipimpin Laura Downie, profesor ilmu optometri dan penglihatan Universitas Melbourne. Hasilnya, tidak ditemukan bukti lensa blue light melindungi mata dari kerusakan retina, dan hanya tiga dari 17 penelitian yang menunjukkan sedikit perbedaan pada kelelahan mata. Ketiganya dilakukan dalam waktu singkat dan bersama-sama tidak memberi bukti yang baik.

Suara.com membedakan dua jenis lensa yang sering dicampuradukkan. Kacamata anti radiasi memfilter sinar biru dari perangkat digital, sementara lensa photocromic berubah gelap saat terkena sinar matahari untuk melindungi mata dari sinar UVA dan UVB. Fungsinya berbeda, dan salah pilih cuma akan membuat kamu mengenakan perlindungan yang tidak sesuai dengan musuhnya.

Ilustrasi kacamata anti radiasi diletakkan di dekat layar laptop
Foto oleh Daniil Komov di Pexels

Jeda 20 Detik Tiap 20 Menit, Tanpa Alat dan Tanpa Biaya

Aturannya sungguh sederhana. Setelah menatap layar 20 menit, alihkan pandangan ke benda berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik. Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, dr. Zoraya Ariefia Feranthy, mempromosikan aturan ini saat media gathering MEC di Jakarta, dan menurutnya aturan ini bisa diterapkan siapa saja, bahkan anak-anak, tanpa mengganggu produktivitas.

Prinsipnya soal otot, bukan soal cahaya. Saat melihat objek jarak dekat, otot fokus di dalam mata terus bekerja. Saat pandangan dialihkan ke objek lebih jauh, otot itu mendapat kesempatan rileks. Itulah sebabnya dr. Zoraya menempatkan aturan ini sebagai cara paling mudah menjaga kenyamanan mata Saat ini, dan Penanggung Jawab Indera Fungsional Kementerian Kesehatan Resti Dwi Hasriani juga merekomendasikannya, seperti dilaporkan detikcom.

Cara melakukannya tidak harus dramatis. Alihkan pandangan ke luar jendela, lihat koridor kantor yang panjang, atau fokus pada benda paling jauh dari posisi duduk kamu.

Empat Kebiasaan Pendamping yang Sama Pentingnya

Pertama, jaga jarak layar. detikcom merangkum anjuran untuk memberi jarak sekitar 60 hingga 65 sentimeter antara layar dan wajah, dan menghentikan aktivitas menatap layar 15 menit setelah dua jam pemakaian. Kedua, atur pencahayaan. Layar yang terlalu terang atau terlalu redup memaksa mata bekerja lebih keras, begitu juga menatap ponsel di kamar gelap.

Ketiga, kesadaran berkedip. Biasakan berkedip secara sengaja saat memakai perangkat digital, dan gunakan tetes mata kalau mata terasa kering. Keempat, kompres hangat. Dokter spesialis mata dr. Tri Wahyu menjelaskan kepada ANTARA bahwa kompres hangat membantu membuka saluran minyak di kelopak mata, dan dia menyarankannya dua sampai tiga kali sehari, lima sampai sepuluh menit per sesi, khususnya untuk kamu yang lama berada di depan monitor atau ruangan berpendingin.

Tanda yang Harusnya Membuat Kamu Ke Dokter Mata

Tidak semua keluhan mata bisa diselesaikan dengan jeda. dr. Devia Irine Putri menjelaskan kepada KlikDokter bahwa sakit mata yang disertai penglihatan ganda, gerakan bola mata yang terbatas, atau sakit kepala disertai mual muntah hebat, bisa menjadi tanda tekanan di otak yang perlu diperiksa lebih lanjut. Gejala mata yang sering dianggap remeh ini terkadang bukan masalah mata sama sekali.

Bhartiya juga punya patokan waktu yang berguna. Kalau keluhan mata berlangsung lebih dari dua minggu, segera berkonsultasi dengan dokter mata, karena pemeriksaan yang tepat dibutuhkan agar penyebabnya diketahui, bukan hanya mengandalkan tetes mata yang dibeli tanpa resep. Satu tanda lain yang sering dikesampingkan adalah silau berlebih saat berkendara malam, yang menurut life.indozone.id bisa menjadi penanda gangguan pada lensa mata.

Ilustrasi pemeriksaan kesehatan mata menggunakan alat slit lamp di klinik dokter mata
Foto oleh Antoni Shkraba di Pexels

Mulai dari Yang Gratis Dulu Sebelum Beli Apa-Apa

Kelelahan mata akibat layar memang nyata, tapi solusinya tidak selalu berbentuk barang. Urutan paling masuk akal adalah perbaiki jarak dan pencahayaan dulu, lalu disiplin jalani jeda 20 detik, baru pertimbangkan kompres hangat atau tetes mata kalau gejalanya bandel. Kacamata anti radiasi tetap boleh saja dibeli, asal kamu tahu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukannya.

Dan kalau keluhan tidak kunjung membaik setelah dua minggu kebiasaan baru itu, jangan tunda lagi. Mata sudah memberi sinyalnya, dan tugas kamu adalah membawanya ke dokter, bukan ke katalog.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar