Kenapa Hobi Mengkretek Leher Saat Pegal Malah Berisiko Memicu Stroke di Usia Muda?

Sensasi letupan krek saat leher ditarik memang bikin lega seketika, tapi kebiasaan menyentak leher secara paksa menyimpan bahaya laten. Gerakan rotasi ekstrem bisa merobek arteri vertebralis yang memasok darah ke otak dan memicu stroke mendadak tanpa aba-aba.

Bagikan cerita ini:
Close-up seorang wanita yang mengalami nyeri leher saat berada di luar. Foto konsep kesehatan.

Setelah berjam-jam duduk menatap layar laptop atau scrolling ponsel sambil menunduk, leher dan bahu biasanya mulai terasa kaku bukan main. Pada momen seperti ini, banyak orang punya refleks otomatis yang terasa sangat memuaskan, yaitu memegang dagu atau pelipis, lalu menyentakkan kepala ke samping dengan cepat sampai terdengar bunyi krek yang renyah.

Sensasi setelahnya memang luar biasa lega. Otot yang tadinya kencang mendadak kendur, kepala terasa lebih enteng, dan ada kepuasan tersendiri tiap kali berhasil membunyikan ruas tulang leher. Masalahnya, kenikmatan sesaat ini menyimpan risiko fatal yang jarang disadari. Mengkretek leher dengan gerakan rotasi paksa bukanlah peregangan yang aman, melainkan manuver berisiko tinggi yang bisa merobek pembuluh darah utama menuju otak dan memicu stroke mendadak di usia muda.

Suara Krek di Leher Sebenarnya Berasal dari Mana?

Banyak orang salah kaprah mengira bahwa suara letupan saat leher dibunyikan adalah tanda tulang yang bergeser sudah kembali ke posisi semula. Faktanya sama sekali bukan demikian. Di antara ruas tulang belakang leher terdapat persendian kecil bernama sendi faset (facet joints). Sendi ini diselimuti cairan kental bernama cairan sinovial yang bertindak sebagai pelumas alami agar tulang leher bisa bergerak luwes.

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, dr. Liauw Roger Leo, SpOT, menjelaskan bahwa di dalam cairan pelumas tersebut terlarut berbagai gas, terutama nitrogen dan karbon dioksida. Saat kamu memutar atau menarik leher secara mendadak melebihi batas gerak normal, tekanan di dalam rongga sendi akan anjlok seketika. Penurunan tekanan ini memicu proses kavitasi, di mana gelembung gas mikro terbentuk lalu meletup seketika hingga menghasilkan suara kretek yang khas.

Lalu kenapa rasanya bisa begitu nyaman dan bikin rileks? Ketika kapsul sendi meregang ekstrem, tubuh merespons dengan melepaskan sejumlah hormon endorfin ke area sekitar leher. Endorfin ini bertindak layaknya pereda nyeri alami jangka pendek. Ditambah lagi, ada sugesti psikologis yang kuat karena sejak awal otak kita mengasosiasikan bunyi letupan tersebut dengan rasa lega. Jadi, rasa nyaman itu murni efek biokimia sesaat dan sugesti pikiran, bukan tanda ototmu benar-benar sudah sembuh dari ketegangan.

Kenapa Memutar Leher Malah Bikin Ketagihan tapi Bikin Sendi Longgar?

Pernahkah kamu memperhatikan bahwa semakin sering kamu mengkretek leher, semakin sering pula lehermu merasa butuh untuk dibunyikan lagi? Bukannya sembuh total dari pegal, selang beberapa jam kemudian leher justru terasa makin kaku dan mengganjal.

Kondisi kecanduan ini terjadi karena manipulasi sendi yang dilakukan berulang kali akan meregangkan ligamen leher secara berlebihan. Ligamen adalah jaringan ikat kuat yang bertugas menjaga agar susunan tulang leher tetap stabil. Saat kamu terus memaksanya meregang demi mengejar bunyi letupan, ligamen tersebut lama-kelamaan akan kehilangan elastisitasnya dan menjadi longgar, mirip karet gelang yang ditarik terlalu sering.

Dokter spesialis sedang memeriksa area leher dan persendian pasien di klinik medis
Foto oleh Pavel Danilyuk di Pexels

Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai hipermobilitas sendi servikal. Ketika ligamen sudah kendur, ruas tulang leher kehilangan penyangga kokohnya. Akibatnya, otot-otot leher terpaksa bekerja ekstra keras dan berkontraksi tanpa henti hanya untuk menahan kepala agar tetap tegak. Beban kerja otot yang berlebih inilah yang memicu spasme otot kronis, membuat leher makin kaku, dan menjebakmu dalam lingkaran setan mengkretek leher tanpa akhir. Selain itu, gesekan antarpermukaan sendi yang tidak stabil lambat laun mempercepat pengapuran sendi dini (osteoartritis servikal).

Ancaman Robekan Arteri Vertebralis yang Mengintai Otak

Di balik risiko sendi yang longgar, ada bahaya lain yang jauh lebih mengerikan dan bisa mengancam nyawa dalam hitungan detik. Anatomi leher adalah jalur paling padat dan vital di tubuh manusia. Di bagian belakang leher, terdapat sepasang pembuluh darah penting bernama arteri vertebralis. Arteri ini menembus lubang-lubang kecil pada tulang belakang leher (foramen transversarium) dan bertugas menyalurkan darah beroksigen langsung ke otak bagian belakang, termasuk batang otak yang mengatur pernapasan dan detak jantung.

Profesor klinis radiologi dan bedah dari Universitas Illinois Peoria, Dr. Raymond Bertino, menegaskan bahwa gerakan sentakan rotasi yang cepat dan kuat pada leher dapat menciptakan tegangan mekanis ekstrem pada arteri vertebralis. Saat kepala diputar paksa melebihi batas wajar, arteri tersebut bisa terpelintir hebat dan bergesekan keras dengan tonjolan tulang leher.

Bahaya Diseksi Arteri dan Munculnya Gumpalan Darah

Gesekan dan peregangan ekstrem tersebut berisiko merobek lapisan dinding bagian dalam arteri, kondisi gawat darurat yang disebut diseksi arteri vertebralis (vertebral artery dissection). Ketika lapisan dalam robek, darah akan merembes masuk ke dalam celah dinding arteri dan menumpuk di sana, menyebabkan pembuluh darah membengkak ke dalam dan mempersempit aliran darah.

Sebagai reaksi alami terhadap luka robekan tersebut, sistem tubuh akan berusaha menutup kebocoran dengan membentuk gumpalan darah (trombosis). Gumpalan darah ini bagaikan bom waktu. Gumpalan tersebut bisa membesar hingga menyumbat total aliran darah ke otak belakang, atau pecah menjadi serpihan kecil yang terseret arus darah lalu menyumbat pembuluh darah otak yang lebih sempit. Akibatnya sangat fatal: pasokan darah ke otak terputus dan memicu stroke iskemik mendadak. Hal inilah yang menjelaskan mengapa banyak kasus stroke akibat manipulasi leher justru menimpa orang usia 20 hingga 40 tahun yang tidak punya riwayat penyakit berat.

Tanda Bahaya yang Sering Disangka Masuk Angin Biasa

Kasus stroke akibat diseksi arteri leher sering kali terlambat ditangani karena gejala awalnya kerap disalahartikan sebagai pusing biasa atau masuk angin. Konsultan neurologi Dr. Sadique Pathan mengungkapkan bahwa pasien sering mengalami rasa nyeri tajam menusuk di bagian belakang kepala dan leher sesaat setelah membunyikan lehernya. Rasa sakit ini terasa seperti sensasi terbakar atau berdenyut hebat di satu sisi leher.

Jika dalam hitungan menit hingga jam setelah mengkretek leher kamu mulai merasakan pusing berputar (vertigo hebat), pandangan ganda, kesulitan berbicara, rasa kebas di wajah, hingga kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh, segera cari pertolongan medis ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Menunda penanganan bisa menyebabkan kerusakan jaringan otak permanen atau kelumpuhan seumur hidup.

Langkah Aman Melegakan Leher Kaku Tanpa Risiko Stroke

Pegal di leher sebetulnya sinyal peringatan dari tubuh bahwa posturmu sedang buruk atau otot lehermu sudah kelelahan. Membunyikan leher bukanlah solusi, melainkan cuma tindakan menutupi gejala sementara yang membahayakan pembuluh darah.

Agar leher kembali nyaman tanpa bertaruh dengan risiko stroke, ada beberapa langkah praktis yang bisa kamu lakukan di meja kerja:

Pertama, lakukan peregangan isometrik leher secara perlahan tanpa gerakan sentakan. Tempelkan telapak tangan di dahi, lalu dorong kepala ke depan secara lembut sambil ditahan oleh tangan selama lima hingga sepuluh detik tanpa membuat kepala bergerak. Ulangi gerakan serupa ke arah belakang dan kedua sisi samping. Latihan isometrik ini ampuh menguatkan otot leher tanpa memberi tekanan berlebih pada persendian maupun pembuluh darah.

Kedua, terapkan latihan chin tuck untuk memperbaiki postur leher. Duduk tegak dengan bahu rileks, lalu tarik dagu lurus ke belakang seolah membuat lipatan dagu ganda (double chin). Tahan posisi ini selama lima detik lalu lepaskan perlahan. Gerakan ini meregangkan otot suboksipital di pangkal tengkorak yang kerap menjadi biang kerok leher kaku akibat menatap layar terlalu lama.

Ketiga, manfaatkan kompres hangat pada otot leher yang kaku. Kompres hangat selama 15 menit sangat efektif melancarkan sirkulasi darah lokal dan mengendurkan serat otot yang tegang tanpa perlu memanipulasi sendi sama sekali. Terakhir, pastikan posisi layar monitor sejajar lurus dengan pandangan mata sehingga kamu tidak perlu terus menundukkan kepala sepanjang hari kerja. Menjaga leher tetap aman dan sehat jauh lebih berharga daripada kenikmatan sesaat dari suara letupan yang bisa merenggut masa depanmu.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar