Keramas Jadi Kambing Hitam Rambut Rontok, Korea Selatan Malah Minta Asuransi Menanggung
Setiap helai rambut yang jatuh sering disalahkan pada frekuensi keramas, padahal biang utamanya adalah hormon DHT yang diwariskan secara genetik. Korea Selatan bahkan sampai mengajak negara menanggung biaya perawatannya.

Setiap helai rambut yang menyangkut di sisir selalu memicu pertanyaan yang sama: apakah saya terlalu sering keramas? Kebiasaan ini begitu sering dianggap biang kerontokan, sampai banyak orang memaksakan diri mencuci rambut hanya sehari sekali padahal kulit kepalanya berminyak. Padahal sebagian besar helai yang berjatuhan itu akan tumbuh lagi, dan keramas sama sekali bukan biangnya.
Yang menarik, kerontokan rambut juga bukan cuma soal penampilan. Di Korea Selatan, urusannya sudah naik sampai ke tingkat negara. Presiden Lee Jae Myung mengusulkan asuransi kesehatan negara menanggung biaya perawatan rambut rontok. Sebuah negara maju sampai mempertimbangkan pos anggaran untuk masalah yang selama ini dianggap sepele.
Keramas Tiap Hari Tidak Menipiskan Rambut Anda
Nestya Sedayu, Head of Marketing Kerastase Indonesia, membantah asumsi ini. Menurutnya keramas setiap hari sebenarnya tidak masalah, asalkan produk yang dipakai sesuai dengan kondisi kulit kepala dan tipe rambut.
"Botak itu kan karena rambutnya rontok. Nah, rambut rontok itu penyebabnya banyak, bisa karena hormon, style, gaya hidup, atau proses kimia di rambut. Jadi bukan semata-mata karena frekuensi keramas," jelas Nestya.
Indonesia beriklim tropis, sehingga produksi sebum di kulit kepala cenderung lebih aktif. Wajar kalau orang Indonesia merasa perlu keramas setiap hari, apalagi yang banyak beraktivitas di luar ruangan atau rutin olahraga. Kebutuhan setiap orang memang berbeda, tergantung aktivitas harian, cuaca, dan tipe kulit kepala.
Justru saat rambut sedang rontok, sampo yang dipilih harus sangat lembut. Tujuannya menjaga kebersihan kulit kepala tanpa memicu iritasi. Kondisioner dan serum kulit kepala juga membantu menjaga kekuatan akar rambut.

Yang sering dilupakan, kesalahan justru ada pada cara keramas. Banyak orang mengosokkan sampo ke seluruh helai rambut, padahal fokus yang benar ada di kulit kepala. Mengosok rambut basah secara kasar membuatnya kusut dan mudah patah.
Kebiasaan lain yang ikut menyiksa rambut: menggosok handuk dengan kasar setelah keramas, menyisir rambut saat masih basah, sampai kuncir kuda atau cepol yang ditarik terlalu kencang. Rambut basah memang lebih elastis dan mudah meregang, jadi disisir dalam kondisi basah berisiko merusak batang rambut.
Biang Sebenarnya Adalah Hormon DHT, Sampo Hanya Kambing Hitam
Rambut tumbuh dalam tiga fase: anagen untuk pertumbuhan, catagen untuk transisi, dan telogen untuk kerontokan. Dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Aulia Rahman, Sp.DV, menjelaskan bahwa rontok 50 sampai 100 helai per hari masih masuk batas normal. Yang berbahaya adalah saat jumlah yang rontok lebih banyak daripada yang tumbuh.
Di titik inilah letak perbedaan utamanya. Rontok biasa akan tumbuh kembali, sedangkan kebotakan pola pria atau androgenetic alopecia tidak, karena folikelnya mengecil sampai akhirnya hilang.
"Kalau rontok biasa, rambut akan tumbuh kembali, tetapi kebotakan pada pria itu folikelnya mengecil sampai akhirnya hilang," terang dr. Arini Astasari Widodo, Sp.DVE, pendiri klinik Dermalogia, dalam talkshow Canisius Health Expo 2026 di Jakarta.
Penyebab kebotakan jenis ini adalah kombinasi genetik dan hormon DHT atau dihydrotestosterone. Hormon ini membuat ukuran folikel makin lama makin kerdil. Helaian yang tumbuh menjadi jauh lebih tipis dan rapuh, lalu kehilangan pigmen warnanya sebelum pori-pori kulit kepala akhirnya tertutup permanen.
Dr. Elisabeth Ryan, Sp.DVE, merinci komposisinya. Dari seluruh kasus kerontokan rambut, faktor genetik dan hormon memberi kontribusi terbesar yaitu 35 persen. Setelahnya ada stres 24 persen, kekurangan nutrisi 15 persen, infeksi kulit kepala 14 persen, efek samping obat atau penyakit 7 persen, serta kondisi pascamelahirkan dan PCOS masing-masing 5 persen.
Skalanya juga cukup besar. Sekitar 50 persen pria mengalami kebotakan di usia 50 tahun, dan angkanya naik menjadi 80 persen pada usia 80 tahun. Pria biasanya mulai dari garis rambut yang mundur disertai penipisan di ubun-ubun, sedangkan wanita mengalami penipisan yang menyebar di bagian tengah kepala tanpa banyak mengubah garis rambut depan.
Ada pula kerontokan sementara yang tidak berakhir kebotakan. Dr. Nur Anindhawati, Sp.BP-RE, menyebut telogen effluvium, yaitu kerontokan yang muncul beberapa bulan setelah tubuh mengalami stres fisik berat seperti demam tinggi atau operasi besar. Penurunan berat badan yang terlalu cepat juga bisa memicu hal serupa. Pada kondisi ini rambut biasanya bisa pulih.
Korea Selatan Sampai Mengajak Negara Ikut Membayar
Sementara di Indonesia sampo yang jadi kambing hitam, di Korea Selatan urusannya sudah naik kelas. Desember 2025 lalu, Presiden Lee Jae Myung mengusulkan perluasan cakupan asuransi kesehatan nasional untuk menanggung biaya perawatan rambut rontok.
Alasannya, perawatan medis untuk kerontokan rambut tidak bisa lagi dianggap sekadar masalah kosmetik. Kebotakan perlu dipandang sebagai masalah kelangsungan hidup.
Data yang melatarbelakangi usulan itu cukup mencengangkan. Dari 240.000 orang yang datang ke rumah sakit karena masalah rambut rontok pada 2025, sekitar 40 persen di antaranya berusia 20-an atau 30-an tahun. Jumlah pasien rambut rontok yang ditanggung asuransi naik dari 234.780 orang pada 2020 menjadi 241.217 orang pada 2025.
Usulan ini langsung memicu perdebatan sengit. Asosiasi Medis Korea berpendapat prioritas asuransi harus diberikan kepada warga yang lebih rentan. Ketua Asosiasi Penyakit Berat Korea Kim Sung-joo, yang juga pasien kanker esofagus, mengingatkan bahwa banyak penderita penyakit mematikan masih membayar puluhan juta won dari kantong sendiri.
Tekanan budaya di Korea Selatan memang luar biasa kuat. Survei tahun lalu menemukan 98 persen anak muda percaya bahwa orang yang menarik secara fisik akan lebih diuntungkan secara sosial. Kim, warga berusia 40 tahun yang sudah tiga tahun mengonsumsi obat rambut, bercerita bahwa banyak anak muda didiskriminasi saat melamar kerja atau berkencan.
"Bagi banyak orang, terutama anak muda, kehilangan rambut itu lebih dari sekadar masalah penampilan," kata Kim kepada The Korea Times.
Yang Masih Bisa Anda Kendalikan Sendiri
Gen dan hormon memang tidak bisa diubah, tapi banyak hal lain masih sepenuh di tangan Anda. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan perawatan rambut yang tepat, konsumsi makanan bergizi seimbang, serta pengurangan stres.
Nutrisi punya peran yang lebih besar dari yang dibayangkan. Ahli gizi Abhishree Goyal dan dr. Kiran Sethi menjelaskan bahwa kekurangan zat besi, protein, vitamin D, vitamin B12, zinc, dan asam lemak omega-3 bisa mengganggu siklus pertumbuhan rambut.
"Rambut rontok musiman hampir selalu berkaitan dengan kekurangan nutrisi tertentu, bukan hanya faktor iklim," ungkap Goyal.

Beberapa makanan dianggap membantu. Bayam mengandung zat besi, folat, dan vitamin A yang penting untuk memasok oksigen ke kulit kepala. Vitamin A dan C di dalamnya juga dipakai tubuh memproduksi keratin, protein utama penyusun rambut. Biji chia menjadi sumber omega-3 yang menjaga kelembapan kulit kepala, sementara walnut membantu mengurangi peradangan dan melindungi struktur rambut.
Menunda Tidak Bisa Dijadikan Pilihan
Satu pesan yang berulang dari para dokter: jangan menunda pemeriksaan. "Banyak pasien datang setelah rambut sudah sangat menipis, padahal jika ditangani lebih awal, kondisi ini bisa dikendalikan dan rambut dapat tumbuh kembali dengan lebih optimal," kata dr. Aulia.
Dr. Elisabeth menegaskan hal yang sama. Folikel yang masih aktif jauh lebih mudah dirangsang untuk tumbuh kembali. Setiap bulan yang berlalu berarti hilangnya kesempatan itu.
Jadi kalau rambut rontok lebih dari 100 helai sehari atau garis rambut mulai terlihat jelas mundur, saatnya berkunjung ke dokter kulit. Bukan mengganti sampo lagi.
Artikel Terkait
Lihat kategori Kesehatan ↗
Tulangmu Membangkang Diam-Diam, dan Satu-Satunya Pengkhianatan Adalah Sunyimu Sendiri
Kepadatan tulang menurun tanpa gejala sampai patah terjadi. Kunci penundaannya bukan sekadar susu, melainkan kombinasi kalsium, vitamin D, protein, dan kaki yang rajin bergerak.
Jam Tujuh Pagi Bersikeras Kamu Sudah Beristirahat, Tubuhmu Bilang Belum
Bangun lelah padahal tidur sudah tujuh atau delapan jam bukan kesalahan kasur. Sebagian besar kerusakan terjadi jauh sebelum kepala menyentuh bantal.
Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara
Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar