Keringat Tak Pernah Berbau, Tapi Semua Orang Tetap Sibuk Beli Deodoran

Keringat yang keluar dari kelenjar kamu nyaris tidak berbau sama sekali. Bau menyengat itu sebenarnya hasil sisa metabolisme jutaan bakteri yang sedang makan di permukaan kulitmu.

Bagikan cerita ini:
Ilustrasi seorang wanita sedang mengaplikasikan deodoran pada area ketiak di pagi hari

Ada satu keyakinan yang hampir semua orang pegang seumur hidupnya tanpa pernah dicek ulang: keringat itu bau. Benarkah cairan yang diproduksi jutaan kelenjar di tubuhmu memang berbau? Tidak pernah. Keringat yang keluar dari dalam kelenjar nyaris tidak memiliki aroma sama sekali, dan ini bukan opini melainkan penjelasan yang sudah disampaikan berulang-ulang oleh dokter kulit maupun dokter penyakit dalam, termasuk saat mengutip pedoman American Academy of Dermatology.

Biang keladinya sudah bertengger di permukaan kulitmu sendiri sejak kamu lahir. Bakteri yang memecah komponen dalam keringat-lah yang menghasilkan aroma tidak sedap itu. Setiap orang punya komposisi bakteri yang unik, dan keringat yang kamu keluarkan adalah makanan favorit mereka. Terang saja bau tubuh setiap orang berbeda-beda, karena dapurnya juga tidak sama.

Bakteri Pemakan Keringat Punya Satu Menu Favorit

Foto jarak dekat tetesan keringat di permukaan kulit manusia yang diperbesar
Foto oleh Gustavo Fring di Pexels

Aroma yang muncul dari ketiak bukan satu jenis bau yang seragam. Dokter spesialis penyakit dalam dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Bramantya Wicaksana, mengurai peta menariknya. Bakteri Corynebacterium striatum, Corynebacterium jeikeium, dan Corynebacterium bovis menghasilkan senyawa pemicu aroma mirip kambing atau jintan, yakni asam 3-metil-2-heksenat dan asam 3-hidroksi-3-metilheksanat. Bau ketiak menyerupai bawang atau daging busuk biasanya berasal dari senyawa 3-metil-3-sulfanilheksan-1-ol yang diproduksi Staphylococcus hominis. Sementara bau kaki menyengat seperti keju berdalang lain, yaitu Staphylococcus epidermidis yang memecah asam amino leusin menjadi asam isovalerat.

Deodoran Tanpa Antibakteri Hanya Menutupi Masalah

Sekarang masuk ke bagian paling tidak intuitif. Banyak produk yang dijuluki deodoran di pasaran sebenarnya hanya berisi pewangi, sementara zat antibakterinya sedikit atau bahkan tidak ada. Dokter spesialis kulit dan kelamin dari Rumah Sakit Hermina Pandanaran Semarang, Retno Indrastiti, menjelaskan bahwa deodoran semacam itu justru menyulitkan. Kalau hanya berisi pewangi, produk itu tidak akan membunuh bakteri dan tidak mengatasi keringat, padahal dua hal itulah biangnya. Ketiak yang penuh bakteri lalu disemprot aroma melati atau citrus hanya menghasilkan campuran yang lebih sayur dari sebelumnya. Inilah alasan banyak orang merasa makin rajin memakai deodoran, ketiaknya malah makin bau.

Bedanya dengan antiperspiran cukup fundamental. Antiperspirant menggunakan senyawa berbasis aluminium seperti aluminum chlorohydrate atau aluminum zirconium yang membentuk sumbatan sementara pada saluran kelenjar keringat, sehingga keringat yang keluar ke permukaan kulit menjadi lebih sedikit. Deodoran hanya menaklukkan bakteri dan menutupi aroma, sementara kamu tetap berkeringat. Kalau masalah utamanya produksi keringat berlebih, antiperspirant memang lebih pas. Banyak produk modern menggabungkan keduanya, dan ini kombinasi yang paling masuk akal untuk cuaca Indonesia.

Deretan produk perawatan tubuh di rak toko kosmetik yang ramai dikunjungi pembeli
Foto oleh Antoni Shkraba di Pexels

Garam aluminium ini pula yang dipakai nenek moyang kita dalam bentuk yang lebih sederhana. Tawas, kata Ketua PDPOTJI Inggrid Tania, adalah garam kalium aluminium sulfat. Sifat antiseptik dan antimikrobanya menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau. Dokter kulit I Gusti Nyoman Darmaputra menambahkan peringatan kecil: pemilik kulit sensitif atau alergi aluminium bisa iritasi. Jadi tawas bukan obat segala, tapi logikanya jauh lebih benar daripada deodoran murni pewangi.

Deodoran Anda Tidak Berhenti Bekerja, Kulitnya yang Berubah

Adegan klasiknya begini. Sebuah merk deodoran sudah dipakai selama dua tahun dan selalu aman. Lalu tiba-tiba ketiak terasa bau lagi padahal produknya sama dan tidak ada perubahan kebiasaan. Bukan produknya yang berhenti bekerja, tapi kondisi tubuh pemakainya yang berubah. Mikrobioma kulit memang bukan komunitas statis. Pola makan, stres, perubahan hormonal, hingga cuaca bisa menggeser keseimbangan bakteri, sehingga deodoran yang dulu cocok tiba-tiba tidak lagi cukup kuat.

Stres punya andil lebih besar dari yang dibayangkan. Saat cemas atau tertekan, tubuh memproduksi keringat lebih banyak, dan kondisi lembap itu menjadi surga bagi bakteri. Keringat yang tertahan lama di tempat sejuk dan lembap memperburuk bau, begitu penjelasan Joshua Zeichner, direktur Penelitian Klinis Dermatologi di Mount Sinai. Bau paling menyengat sering muncul saat kamu sedang gugup, bukan saat kamu sedang berlari. Cara pakai deodoran juga sering keliru, karena mengolesnya saat ketiak masih basah habis mandi membuat produk tidak menempel dan lebih cepat hilang.

Kapan Keringat Berlebih Bukan Sekadar Keresahan

Ada batas di mana keringat berlebih bukan lagi masalah kosmetik. Hiperhidrosis aksila adalah kondisi produksi keringat yang sangat banyak bahkan saat sedang istirahat. Dokter spesialis dermatologi Irwan Saputra Batubara menjelaskan tanda khasnya: keringat hilang saat tidur, lalu muncul lagi saat bangun, meski tidak ada aktivitas berat dan tidak ada kondisi medis penyerta.

Klasifikasinya dibagi dua. Faktor primer berarti tidak ada pencetus lain, murni kelenjar keringat yang terlalu aktif, dan 30 hingga 50 persen kasus dipengaruhi faktor genetik. Faktor sekunder berarti keringat berlebih adalah gejala penyakit lain, seperti gangguan metabolisme, tiroid, diabetes melitus, efek obat-obatan tertentu, menopause, hingga kanker darah. Dampaknya juga cukup serius. Sekitar 70 persen orang dengan keringat berlebih mengalami stres yang ditandai kecemasan, dan sebagian lain menarik diri dari lingkungan sosial.

Untuk kasus berat, ada beberapa jalur medis. Obat antikolinergik oral memblokir sinyal kimia pemicu keringat, tapi efeknya merata ke seluruh tubuh, sehingga mulut kering dan sembelit sering menyertai. Suntik botox di ketiak meredakan keringat hingga sekitar enam bulan. Operasi laser assisted liposuction bahkan bisa mengikis dan menyedot kelenjar keringat secara permanen, dengan penurunan produksi keringat yang dilaporkan mencapai 70 hingga 90 persen.

Beberapa Orang Memang Lahir Tanpa Ketiak Berbau

Kalau kamu merasa tidak adil, ini mungkin menenangkan sekaligus menyebalkan. Sekitar 2 persen manusia di dunia memiliki gen ABCC11 yang tidak biasa. Mereka tidak pernah mengalami bau ketiak sekalipun seharian berkeringat. Mayoritas dari kelompok beruntung ini adalah orang Asia Timur, termasuk Korea Selatan dan Jepang. Di Korea, deodoran memang jarang dibeli, dan turis yang kehabisan stok bisa kerepotan mencarinya di minimarket.

Studi yang melibatkan 6.495 perempuan dalam program Children of the 90s di University of Bristol menemukan pola yang ironis. Dari mereka yang memiliki gen tanpa bau ketiak, 78 persen tetap memakai deodoran setiap hari karena norma sosial budaya. Sementara itu, sekitar 5 persen dari mereka yang sebenarnya berbau justru tidak memakainya. Pilihan soal kebersihan diri ternyata sering kali lebih dipengaruhi budaya ketimbang kebutuhan biologis.

Mandi dan Kering Adalah Senjata yang Sering Dilupakan

Semua produk di dunia tidak akan menang jika fondasinya kacau. Mandi teratur, menyeka area yang berkeringat dengan tisu, lalu mengeringkannya, adalah langkah yang lebih kuat dari sekadar semprotan wewangian. Tisu basah memang bukan terdengar glamorous, tapi Zeichner menilai cara ini sangat ampuh, terutama saat kamu terjebak di luar ruangan di tengah hari. Pakaian juga punya andil. Katun dan linen menyerap keringat lebih baik karena ada ventilasi di permukaannya, dan perancang busana Christian Siriano menyarankan blus dengan pola berani untuk menyembunyikan noda.

Pada akhirnya, keringat adalah metode alami tubuh untuk mendinginkan diri. Saat suhu naik di atas 37 derajat Celsius, kelenjar melepaskan cairan, dan penguapannya di permukaan kulit menurunkan suhu kembali. Ini adalah fungsi yang sehat, bagian penting dari kelangsungan hidup. Yang perlu dihentikan adalah bau bakteri pemakan keringat yang ikut serta.

Meresapi ini mengubah cara kamu melihat rak deodoran. Bau badan bukan masalah kurang mandi, dan bukan pula masalah keringat. Ini masalah bakteri yang sedang makan dengan baik di kulitmu. Berhentilah memberi mereka makan dengan sembarangan.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar