Minum Pereda Nyeri Setiap Kepala Berdenyut, Lama-Lama Kepalanya yang Melawan Balik

Obat pereda nyeri memang meredakan migren hari ini, tapi ketika dikonsumsi terlalu sering justru membuat serangan datang makin padat. Ambangnya lebih dekat dari yang dikira.

Bagikan cerita ini:
Penderita sakit kepala migren memegangi pelipis dengan cahaya redup

Tenggorokan kering, layar laptop masih menyala, dan pelipis kiri mulai berdenyut. Langkah pertama yang terpikir biasanya bukan minum air atau meredupkan lampu, melainkan mengulurkan tangan ke laci yang isinya sudah hafal di luar kepala. Satu strip obat pereda nyeri, selalu ada, seolah menjadi tongkat sihir yang sah-sahu saja dimasukkan ke kantong.

Sekali dua kali memang tidak ada yang salah. Bersamaan dengan nyeri yang mereda, kerjaan bisa dilanjutkan, janji malam tidak perlu dibatalkan. Tapi jika satu strip habis dalam waktu kurang dari sebulan, posisinya pelan-pelan berubah. Obat yang tadinya penyelamat malah menjadi penjaga gawang yang sibuk sendiri.

Serangan Migren Tidak Berkurang, Justru Mengganda

Catatan dokter saraf soal kondisi ini sudah cukup gamblang. Penggunaan obat pereda nyeri yang berlebihan justru memicu jenis nyeri kepala baru, yaitu nyeri kepala akibat penggunaan obat berlebihan atau medication overuse headache (MOH). Artinya, semakin rajin menelan obat saat serangan datang, semakin sering kepala minta diobati lagi.

Batasannya pernah disampaikan langsung oleh dr Henry Riyanto Sofyan, Sp.N dari Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia. Obat pereda nyeri sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen sebaiknya tidak digunakan lebih dari 15 hari dalam satu bulan. Sementara obat kombinasi yang isinya lebih kompleks, batasnya diturunkan jadi 10 hari. Jika batas ini terlewati selama tiga bulan berturut-turut, pola nyeri kepala akan berubah dan kondisinya memburuk.

Angka 15 hari itu sebenarnya bukan ukuran jauh. Bagi yang sudah terbiasa menelan obat setiap kali kepala mulai pegal, hitungan satu bulan bisa habis hanya dari rutinitas kerja yang padat. Inilah jebakan yang membuatnya susah disadari, karena tidak ada hari di mana tubuh tiba-tiba membunyikan alarm.

Strip obat pereda nyeri dengan beberapa tablet yang sudah dikeluarkan
Foto oleh Polina Tankilevitch di Pexels

Prof Dr dr Hasan Sjahrir, SpN, juga dari Perdosni, memperingatkan hal serupa dengan angka yang lebih ketat untuk tahap awal. Penggunaan obat analgesik sebaiknya tidak lebih dari lima hari. Jika dalam lima hari tidak ada perkembangan, langkahnya bukan menambah dosis, melainkan ke dokter untuk dicarikan obat yang sesuai jenis nyeri kepalanya. Kalau dibiarkan menumpuk, katanya, mengobatinya justru makin sulit.

Gambaran sehari-harinya juga tidak sulit ditebak. Dr Devi Ariani Sudibyo, SpN, Ketua Pokja Nyeri Kepala Perdosni, kerap menemukan pasien yang stok obat di rumah dihabiskan seperti makan kacang, enam sampai delapan tablet sehari. Semakin banyak yang ditelan, rasa sakitnya bukan makin jinak, melainkan makin berat.

Yang Terjadi di Otak Bukan Sekadar Kebiasaan

Migren sendiri sebenarnya bukan sekadar sakit kepala biasa. Dr Irawati Hawari, SpS, menggambarkan migren sebagai nyeri kepala yang terasa berdenyut dengan intensitas sedang hingga berat, memburuk saat beraktivitas fisik, dan sering hanya terasa di satu sisi. Durasinya bisa empat jam hingga 72 jam, dan tidak jarang disertai mual, muntah, serta peka berlebih pada cahaya dan suara.

Secara global prevalensinya mencapai sekitar 12 persen populasi, dan menempatkannya sebagai salah satu penyebab disabilitas tertinggi. Jumlah kunjungan ke unit gawat darurat akibat migren juga tidak main-main, masuk dalam urutan empat atau lima terbanyak. Artinya, banyak orang yang sudah begitu terganggu hingga harus ke IGD, bukan sekadar mengeluh sakit ke teman.

Kondisi ini juga merupakan kondisi genetik dan neurologis, bukan sekadar reaksi berlebih pada stres. Otak penderita migren lebih sensitif terhadap perubahan, baik perubahan hormon, kadar gula yang tidak stabil, kurang tidur, maupun cuaca ekstrem. Serangan muncul saat faktor-faktor kecil ini menumpuk hingga ambang batas terlampaui. Alasan inilah yang membuat migren tidak bisa dimatikan hanya dengan menambah dosis obat, karena obat tidak menghapus ambangnya.

Mitos Pengobatan Rumahan yang Malah Menutup Jalan

Di luar obat, ada beberapa kebiasaan yang dipercaya meredakan migren padahal hasilnya sebaliknya. Mengikat kepala dengan kencang, misalnya. Dr Devi menjelaskan tidak ada kaitan langsung antara mengikat kepala dengan pereda migren. Tegangan yang diberikan justru bisa menambah keluhan nyeri, dan rasa lega yang mungkin muncul lebih banyak berasal dari sugesti otak sendiri.

Lalu ada kopi, yang memang punya dua sisi berbeda. Bagi yang sudah terbiasa minum kopi, kafein bisa membantu meredakan nyeri, dengan batas sekitar 200 mg per hari atau sekitar dua cup espresso. Tapi bagi yang tidak terbiasa, minum kopi justru bisa menjadi pencetus migren. Singkatnya, kopi hanya ramah bagi yang tubuhnya sudah mengenalinya.

Mengabaikan rasa haus juga termasuk kebiasaan yang sering luput. Gula darah rendah dan dehidrasi adalah pemicu klasik yang dijelaskan dr Henry saat membahas migren saat puasa. Jantung tidak bisa memompa darah ke otak secara optimal, dan sakit kepala pun muncul. Untuk yang mengalami ini setiap sore, segelas air di samping meja kerja jauh lebih murah dari satu strip obat.

Segelas air putih di meja samping tempat tidur untuk mencegah dehidrasi
Foto oleh https://kaboompics.com/ di Pexels

Satu hal lain yang juga jarang disambungkan adalah sakit gigi. Drg Andy Wirahadikusumah menjelaskan saraf gigi saling berhubungan dalam satu area kepala, sehingga rasa sakit dari gigi bisa menjalar hingga ke belakang kepala. Banyak yang mengira nyeri kepalanya migren, padahal akarnya di gigi yang bermasalah. Mengobati kepalanya sendiri di rumah hanya akan memperpanjang rasa sakit tanpa menyentuh sumbernya.

Pilihan Pengobatan yang Tidak Selalu Berakhir di Apotek

Untuk yang serangannya makin sering, langkah pertama adalah memeriksa pola penggunaan obat sendiri. Jika dalam sebulan obat pereda nyeri sudah menumpuk melewati batas yang disebutkan di atas, melanjutkan pengobatan obat sendiri harus dihentikan. Menemui dokter umum atau spesialis saraf akan membantu menentukan jenis nyeri kepala yang sebenarnya terjadi, karena tidak semua nyeri kepala sebelah adalah migren.

Pengobatan modern juga tidak melulu tentang obat. Untuk kasus migren kronis, terapi dengan onabotulinumtoxinA atau botox disetujui FDA sejak 2010 untuk mencegah serangan dengan menyuntikkan cairan pada otot kepala dan leher. Efeknya tidak permanen dan perlu diulang setiap tiga bulan, dengan tujuan utama mencegah serangan, bukan mengobati yang sedang terjadi.

Selain obat, pengobatan nonfarmakologis juga memiliki tempatnya. Pendekatan psikosomatik seperti terapi biofeedback dan terapi kognitif membantu mengenali pemicu dan menurunkan frekuensi serangan. Pola hidup yang dijaga dr Henry, yaitu olahraga teratur, makan dengan jam dan gizi seimbang, tidur cukup, dan manajemen stres, terdengar membosankan, tapi justru itulah bagian yang tidak bisa diganti obat apa pun.

Sinyal Kapan Harus Berhenti Mengobati Sendiri

Ada beberapa kondisi di mana urusannya bukan lagi soal frekuensi serangan, melainkan kemungkinan masalah lain. Sakit kepala yang muncul konsisten setiap pagi saat bangun tidur, terutama disertai mual muntah yang makin lama makin berat, adalah satu yang perlu waspada. Demikian juga nyeri kepala yang disertai pandangan dobel, kesemutan, kelemahan anggota tubuh, atau demam, yang menurut dr Lilir Amalini, SpS, menjadi pertanda untuk segera ke dokter saraf.

Kesalahpahaman antara migren dan vertigo juga cukup umum. Dr Jeffry Foraldy Haryanto, Sp.N, kerap menemukan pasien yang menyebut keluhannya vertigo padahal sebenarnya migren. Membedakannya bisa dilihat dari karakteristiknya. Migren terasa berdenyut di satu sisi kepala dan bisa disertai mual serta mata berkunang-kunang, sedangkan vertigo lebih ke sensasi pusing berputar, bergoyang, atau merasa tidak stabil.

Kesimpulannya, obat pereda nyeri tetap bermanfaat jika digunakan pada waktunya. Tapi ketika sudah menjadi rutinitas harian, posisinya berubah dari pilihan menjadi beban. Mengenali pola sendiri, menghitung berapa hari dalam sebulan obat masuk ke tubuh, dan menyerahkan sisanya ke dokter adalah langkah yang lebih murah daripada membiarkan kepala makin sering berdenyut tanpa sebab yang jelas.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar