Rata-rata Orang Indonesia Tidur Cuma 6,8 Jam, dan Badan Menagih Kekurangannya Tiap Pagi

Rata-rata kita cuma tidur 6,8 jam, dan angka itu sudah lebih pendek dari batas bawah rekomendasi internasional. Sayangnya, durasi bukan satu-satunya utang yang harus dibayar.

Bagikan cerita ini:
Ilustrasi orang terlelap di tempat tidur pada malam hari

Coba ingat bangun pagi tadi. Baterai tubuh rasanya cuma nyampe setengah, padahal jam tidur kemarin lumayan, mata melek sampai pukul dua belas tapi bangunnya tetap jam enam. Secara hitungan, enam jam. Secara perasaan, kayak baru tidur dua jam. Inilah neraca keuangan tubuh yang tidak pernah bisa kita bohongi, dan hampir semua orang Indonesia saat ini punya utang yang sama.

Rata-rata Kita Tidur 6,8 Jam, dan Itu Saja Kurangnya

Dokter spesialis kesehatan tidur Andreas Prasadja menyebut konsensus internasional merekomendasikan orang dewasa tidur 7 hingga 9 jam setiap malam. Jadi batas bawahnya saja sudah tujuh jam. Hasil survei menunjukkan rata-rata masyarakat Indonesia cuma tidur sekitar 6,8 jam per hari. Padahal batas minimum rekomendasi adalah tujuh jam, dan orang Asia memang tercatat punya durasi tidur tersingkat dalam sejumlah survei.

Alasannya bukan karena kita bangga begadang. Terutama di kota besar, waktu yang tersedia setelah pulang kerja dipotong-potong. Perjalanan pulang-pergi, urus rumah, waktu bareng keluarga, lalu masing-masing dari kita masih butuh sejenak buat self-rewarding. Tujuh jam tidur terasa boros, padahal sebenarnya jam-jam itu adalah pengembalian kendali atas jadwal sendiri.

Jam Mengantuk Lebih Penentu Daripada Jam Bangun

Konsulen tidur sekaligus ahli saraf Chelsie Rohrscheib mengingatkan bahwa waktu tidur harus selaras dengan ritme sirkadian. Ritme ini adalah jam internal tubuh yang berputar dalam siklus sekitar 24 jam, mengatur kapan kita merasa melek dan kapan mengantuk, sekaligus produksi hormon, metabolisme, kekebalan tubuh, hingga perbaikan sel. Cahaya dan kegelapan adalah dua sinyal utama yang menjaga jam biologis ini tetap pada waktunya.

Tidur lewat tengah malam secara konsisten berarti kita memaksa tubuh bekerja di luar jendela ritmenya. Rohrscheib menyebut kebiasaan ini menempatkan kita pada risiko lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, demensia, hingga depresi. Kerugian utamanya bukan cuma hitungan jam, melainkan kualitas tahapan tidur yang penting bagi kesehatan.

Dua Hormon yang Saling Berebutan Waktu

Ilustrasi jam weker di samping tempat tidur menunjukkan waktu larut malam
Foto oleh Towfiqu barbhuiya di Pexels

Psikiater dan ahli kedokteran tidur Alex Dimitriu menjelaskan dua aktor utama di balik jam biologis. Melatonin memberi sinyal waktu tidur, memuncak di malam hari dan menurun saat pagi datang. Kortisol sebaliknya, membantu tubuh merasa waspada, naik menjelang pagi seperti alarm alami. Paparan cahaya terang saat kita masih melek di atas jam dua belas semakin mengacaukan pola kedua hormon tersebut, dan penyesuaian ini jebolan melintaskan blok-blok waktu.

Tidur Tujuh Jam Tapi Bangun Tetap Gelisah, Knalpot

Dimitriu menambahkan satu hal yang sering bikin bingung. Tidur terlalu larut mengurangi kesempatan mendapatkan tidur gelombang lambat atau slow-wave sleep, tahapan yang dominan di paruh pertama malam dan bertugas memulihkan tubuh secara mendalam. Hasilnya, seseorang bisa tidur cukup menurut jam tangga, tapi bangun tetap lelah dan tidak segar. Inilah kenapa banyak dari kita merasa sudah istirahat, tapi tetap bangun dengan tubuh loyo.

Tahapan ini berhubungan erat dengan fungsi otak. Saat tidur terjadi proses konsolidasi memori, momen ketika otak mengolah ingatan dan pengalaman yang diterima sepanjang hari. Maka kurang tidur tidak bikin cuma mengantuk, tapi juga menurunkan kewaspadaan. Pakar tidur Raj Dasgupta mengingatkan kualitas tidur yang buruk secara terus-menerus bisa berdampak serius pada kesehatan jantung, otak, suasana hati, hingga risiko penyakit kronis.

Dampak kesehariannya gampang ditebak dan sering kita salahkan ke hal lain. Konsentrasi lebih sulit dipertahankan, informasi yang baru diterima lebih cepat hilang, mood mudah tersinggung. Kementerian Kesehatan bahkan sudah memetakan risiko jangka panjang dari kebiasaan kurang tidur, yaitu tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, obesitas, depresi, hingga stroke. Daftar ini bukan ancaman jangka pendek, melainkan kuitansi yang dibayar pelan-pelan.

Ngantuk Berat Tapi Perut Minta Makan Melulu

Efek paling tidak terduga dari semua ini adalah rasa lapar. Dokter Yohana S Merrynda mengatakan kurang tidur bisa memicu rasa lapar dan meningkatkan keinginan makan, sehingga seseorang bisa mengonsumsi lebih banyak tanpa menyadarinya. Penelitian uji klinis menunjukkan pembatasan tidur bisa meningkatkan rasa lapar, keinginan makan, asupan energi, bahkan ukuran porsi. Kalau berat badan merangkak naik tanpa sebab, mungkin pola tidur adalah departemen yang harus kita audit.

Balas Dendam Tidur Siang Tidak Mau Mengganti Semuanya

Prasadja menjelaskan tidur siang memang membantu, tapi tidak sepenuhnya menggantikan kualitas tidur malam. Satu siklus tidur malam berlangsung sekitar 90 hingga 120 menit, sedangkan tidur siang sekitar 20 hingga 30 menit. Disarankan power nap sekitar 20 menit di rentang pukul 13.00 hingga 14.00, cukup untuk mengembalikan kebugaran, tidak cukup untuk membayar utang semalam suntuk. Bila setelah tidur malam yang dianggap cukup kita masih terus butuh tidur siang, Dr. Nick Antoniades menilai itu pertanda kualitas tidur malamnya belum optimal.

Jalan Keluar Tanpa Drama dan Tanpa Restart Total

Langkah pertama terdengar terlalu sederhana, tapi inilah ujung tombaknya. Bangun di jam yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan. Sarah Silverman, spesialis kedokteran tidur perilaku, menyebut waktu bangun adalah jangkar harian yang mengatur ritme sirkadian. Karena tubuh beroperasi dalam siklus 24 jam, jam bangun yang konsisten akan memancing rasa kantuk di waktu yang seragam setiap malam. Langkah kedua, cari paparan sinar matahari pagi sebentar, makan sarapan berprotein, dan kalau sempat bergerak sedikit.

Langkah ketiga, kita mulai gantinya jadwal. Lakukan aktivitas santai tanpa layar sebelum tidur, seperti membaca, peregangan ringan, atau pernapasan dalam. Gunakan tempat tidur hanya saat mata sudah benar-benar terasa berat, bukan untuk menunggu mengantuk. Tambahkan kamar yang sejuk, gelap, dan tenang. Bagi pekerja shift malam, tips ini berlaku sebaliknya, seperti membikin suasana seperti malam hari, dengan tirai gelap, penutup mata, atau earplug. Yang penting totalnya dalam 24 jam, bukan harus sama persis dengan orang yang kerja jam normal.

Dan perhatikan kafein. Kopi adalah penunjang, bukan pengganti tidur. Kafein yang dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur hanya membuat jadwal semakin berantakan. Jangan juga jadikan kurang tidur sebagai alasan balas dendam makanologis. Siapkan makanan dengan protein, sayur, dan karbohidrat sesuai kebutuhan, bukan ngemil kecil-kecilan setelah tubuh kelelahan.

Ilustrasi orang kelelahan menyeruput kopi di pagi hari setelah kurang tidur
Foto oleh Kari Alfonso di Pexels

Tagihan 0,2 Jam yang Dipungut Setiap Pagi

Kurangnya 0,2 jam dari batas minimum terdengar sepele, tapi jadikan kebiasaan, kompromi ini dikenakan bunga. Kemenkes dan CDC sepakat bahwa kerusakan kesehatan dari kurang tidur tidak akan terasa dalam semalam, dan itulah letak bahayanya. Hilangnya konsentrasi di pagi hari adalah cicilan pertama, dan penyakit kronis adalah tagihan terakhir.

Sumber Rujukan Utama

Artikel ini disusun dari laporan CNBC Indonesia tentang rata-rata durasi tidur masyarakat Indonesia 6,8 jam (September 2026), laporan ANTARA tentang tidur lewat tengah malam dan ritme sirkadian, laporan RRI Makassar tentang dampak tidur larut menurut Kementerian Kesehatan, laporan OWRITE tentang kurang tidur pada pekerja shift malam, laporan Kompas tentang empat trik sederhana untuk tidur yang lebih nyenyak, dan laporan Memorandum tentang dampak kurang tidur pada konsentrasi dan daya ingat.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar