Sikat Gigi Tiap Hari tapi Giginya Tetap Bolong, dan Ini Biasanya Biangnya
Nyatanya 95 persen orang Indonesia sudah sikat gigi tiap hari, tapi kurang dari 3 persen melakukannya di waktu yang tepat. Bukan soal malas, tapi soal waktu, teknik, dan beberapa kebiasaan kecil yang diam-diam mengikis enamel.

Hampir semua orang di kantor atau di rumah pasti bakal angkat tangan kalau ditanya, "Siapa yang sikat gigi tiap hari?" Tapi coba tanya pertanyaan lanjutannya, kapan terakhir gigi bolong atau gusi berdarah waktu sikat gigi. Tiba-tiba banyak yang jadi lebih pelan menjawab.
Bukan ilusi. Data Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) menunjukkan lebih dari 95 persen masyarakat Indonesia sudah menyikat gigi setiap hari. Tapi yang melakukannya di waktu yang tepat, yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur malam, jumlahnya kurang dari 3 persen. Artinya, sebagian besar dari kita rajin, tapi salah momen.
Wakil Ketua PB PDGI drg. Tari Tritarayati bahkan pernah mendapat gambaran langsung soal ini. Saat Wakil Menteri Kesehatan bertanya kepada siswa SD, siapa yang sikat gigi pagi hari, semua siswa mengangkat tangan. Begitu ditanya siapa yang sikat gigi setelah sarapan, tidak ada satu pun yang angkat tangan.
Rajin Sikat Gigi Malam Sebelum Tidur Justru Yang Paling Sering Dilewati
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kerap menyoroti tiga kesalahan paling umum soal ini, dan yang pertama bukan soal malas. Banyak orang sikat gigi cuma di pagi hari, dengan alasan utamanya supaya napas segar saat bertemu orang di kantor. Sikat gigi malam sebelum tidur dianggap opsional.
Padahal malam justru saat paling krusial. Saat kita tidur, produksi air liur turun drastis. Air liur itu semacam sistem bilas alami yang terus bekerja sepanjang hari. Kalau sebelum tidur gigi tidak dibersihkan, bakteri punya sekitar delapan jam untuk berpesta di mulut yang kering, dan sisa makanan yang tertinggal perlahan berubah jadi asam yang menggerogoti enamel.
Menteri Kesehatan menyarankan dua kali sehari, termasuk sebelum tidur. Alasannya sederhana: tujuan utama sikat gigi itu membersihkan sisa makanan, bukan sekadar bikin napas harum. Kalau makanan sarapan masih nempel saat kita berangkat kerja, sikat gigi yang dilakukan sebelum sarapan jadi percuma.
Langsung Sikat Gigi Sehabis Makan, Ternyata Bukan Kebiasaan Baik
Di sisi lain, ada kelompok yang terlalu semangat. Baru selesai makan, langsung buru-buru sikat gigi karena merasa sudah benar. Dokter gigi Andy Marashi mengingatkan kebalikannya: setelah makan, pH di mulut sedang turun dan asam dari sisa makanan sedang aktif. Sikat gigi yang langsung dijalankan justru ikut menggesek asam itu ke permukaan gigi.
Yang dianjurkan adalah tunggu sekitar 15 sampai 20 menit dulu, atau setidaknya berkumur dengan air sebelum sikat gigi. Kasus Wamenkes Dante Saksono Harbuwono saat berinteraksi dengan siswa SD menunjukkan polanya dengan jelas: anak-anak tahu mereka harus sikat gigi, tapi tidak tahu kapan saatnya.

Sikat Sehebat Mungkin Makin Bersih? Justru Enamel yang Terkikis
Asumsi kedua yang banyak dipercaya: makin keras dan makin sering disikat, makin bersih. Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Drg. Ahmad Syaify, Sp.Perio (K), memotong asumsi ini. Menyikat gigi berlebihan dengan gerakan horizontal yang monoton bisa mengikis enamel, lapisan terluar pelindung gigi.
Kondisinya disebut abrasi, biasanya muncul di bagian leher gigi yang dekat dengan gusi. Gejalanya tidak main-main. Gigi jadi hipersensitif, terasa ngilu waktu kena minuman dingin, dan pada kasus lebih parah bisa meradang sampai ke pulpa gigi. Rasa sakitnya berdenyut, bukan sekadar tidak enak.
Syaify menegaskan frekuensi ideal dua kali sehari. Lebih sering sebenarnya tidak masalah, asalkan tekniknya benar. Sayangnya, banyak orang tetap mengandalkan gerakan maju-mundur yang keras, plus menekan bulu sikat seolah-olah mau menghapus cat. Padahal karang gigi dan noda kecokelatan tidak akan hilang disikat sekeras apa pun. Yang hilang justru enamel kita sendiri.
Cara Sikat Gigi yang Benar, Tanpa Perlu Keluar Biaya Ekstra
Posisikan sikat pada sudut 45 derajat dari gusi, lalu gerakkan memutar dengan lembut sekitar 20 detik per bagian. Pakai gerakan seperti mencungkil ke arah permukaan gigi supaya plak di sela gusi terangkat. Permukaan gigi untuk mengunyah bisa disikat maju-mundur, dan jangan lupa bagian belakang gigi depan, area yang paling sering luput. Totalnya sekitar dua menit, dan lidah juga wajib disikat karena banyak bakteri numpang di sana.
Pemilihan sikat gigi juga sering keliru. Banyak yang merasa bulu sikat keras lebih efektif membersihkan. Sebaliknya, dokter gigi banyak yang setuju bulu halus lebih efektif karena bisa masuk ke celah kecil tanpa melukai gusi. Sikat gigi juga jadi barang yang sering dilupakan untuk diganti. Setiap tiga sampai empat bulan, atau begitu bulunya mulai mekar dan memudar warnanya, saatnya ganti baru.
Pasta Gigi Seukuran Biji Polong, dan Kesalahan Saat Selesai Sikat
Soal pasta gigi, banyak dari kita tumbuh dengan kebiasaan memerah odol sepanjang bulu sikat, padahal untuk orang dewasa cukup seukuran biji polong. Selain irit, kandungan fluoride di pasta gigi bekerja menambal permukaan gigi. Tapi fluoride ini punya musuh, yaitu kebiasaan langsung berkumur pakai banyak air begitu selesai sikat.
Menteri Kesehatan menyarankan, setelah sikat gigi sekitar dua menit, cukup diludahkan saja. Tunggu sebentar, biarkan fluoride bekerja. Berkumur langsung dengan air banyak membuat fluoride ikut terbilas se sempat melindungi gigi. Detail kecil, tapi efeknya menumpuk harian.
Masih soal cairan, obat kumur sering dianggap penyelamat. American Dental Association menegaskan obat kumur hanya pelengkap. Dia bisa menjangkau area yang sulit dijangkau sikat, tapi tidak bisa mengganti sikat gigi maupun pembersihan sela gigi. Bahkan ada penelitian terhadap 540 orang yang mengaitkan penggunaan obat kumur dua kali atau lebih setiap hari dengan risiko hipertensi yang lebih tinggi. Jadi, pakai secukupnya, dan ikuti aturan pakainya.

Makanan Manis Bukan Bikin Gigi Lubang Langsung, Tapi Prosesnya Berjalan Pelan
PB PDGI mencatat 45,7 persen masyarakat mengonsumsi makanan atau minuman manis lebih dari satu kali sehari. Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia Prof. Drg. Suryono menjelaskan mekanismenya dengan gamblang. Bakteri di mulut tidak makan gigi kita. Bakteri makan yang manis-manis, lalu menghasilkan asam, dan asam itulah yang menghancurkan permukaan gigi.
Dosen Fakultas Kedokteran Gigi UM Surabaya Cinitra Anindya menambahkan daftar musuh lain: makanan asam seperti cuka dan permen asam yang ikut melarutkan enamel, soda yang punya kombinasi gula, asam, dan karbonasi, serta es batu yang sering digigit begitu saja sampai gigi retak. Kopi dan teh menempelkan tanin pada enamel sampai gigi perlahan menguning.
Tidak harus total berhenti, tapi batasi dan imbangi. Setelah minum soda atau kopi, biasakan minum air putih atau berkumur. Pakai sedotan saat minuman asam dan manis, dan jangan biasakan menggigit es batu keras.
Kondisi Gigi Nasional Juga Soal Akses, Bukan Cuma Soal Kebiasaan
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat sekitar 90 persen masyarakat yang punya masalah gigi belum mendapatkan perawatan dari tenaga medis profesional. Sembilan dari sepuluh orang cenderung membiarkan keluhan atau mengobati sendiri tanpa diagnosis dokter. Rasio pelayanan medisnya berada di angka 1:8.000, dan ribuan puskesmas beroperasi tanpa dokter gigi.
Artinya, sebagian masalah memang ada di sistem. Tapi selama akses belum merata, perawatan harian di rumah jadi tameng utama. Membersihkan sela gigi dengan benang gigi atau water floss, lanjut pakai mouthwash sekadar pelengkap, plus cek gigi rutin ke dokter setiap enam bulan, adalah langkah yang berada di kendali kita.
Mungkin selama ini kita sudah merasa rajin. Tapi kalau gigi masih sering berlubang atau gusi gampang berdarah, sinyalnya jelas. Bukan soal kurang rajin, tapi soal salah waktu, salah teknik, dan kebiasaan kecil lain yang luput. Perbaiki satu per satu, dan enamel kita bakal jauh lebih sehat dari hari ke hari.
Artikel Terkait
Lihat kategori Kesehatan ↗
Tulangmu Membangkang Diam-Diam, dan Satu-Satunya Pengkhianatan Adalah Sunyimu Sendiri
Kepadatan tulang menurun tanpa gejala sampai patah terjadi. Kunci penundaannya bukan sekadar susu, melainkan kombinasi kalsium, vitamin D, protein, dan kaki yang rajin bergerak.
Jam Tujuh Pagi Bersikeras Kamu Sudah Beristirahat, Tubuhmu Bilang Belum
Bangun lelah padahal tidur sudah tujuh atau delapan jam bukan kesalahan kasur. Sebagian besar kerusakan terjadi jauh sebelum kepala menyentuh bantal.
Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara
Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar