Suara Mesin Cuci Biasa Saja, Tapi Bagi Penderita Hiperakusis Setara dengan Siksaan

Ada orang yang tidak tuli, justru telinganya terlalu peka. Suara mesin cuci, knalpot, atau obrolan ramai yang biasa didengar ternyata terasa menyakitkan, dan kondisi ini jauh lebih sering dari yang kamu kira.

Bagikan cerita ini:
Tangan menekan telinga dengan ekspresi kesakitan, merepresentasikan penderita hiperakusis yang peka terhadap suara.

Mesin cuci menyala di ujung rumah. Kamu mungkin tidak menganggapnya apa-apa, bahkan sampai lupa kalau sedang berjalan. Tapi ada orang yang langsung menutup telinga, wajah mengerut, dan ingin pergi sejauh mungkin dari suara itu. Bukan karena mereka sedang marah atau manja. Telinganya sedang memproses suara itu sebagai rasa sakit.

Kondisi ini disebut hiperakusis, dan ia berbanding terbalik dengan yang biasa kamu kira. Orangnya tidak tuli. Telinganya justru terlalu peka, sampai-sampai suara harian yang sama sekali tidak keras terasa seperti diteriaki tepat di depan liang telinga.

Telinga Tidak Tuli, Justru Terlalu Peka Membaca Suara

Dilansir Orami, hiperakusis adalah gangguan pendengaran berupa kepekaan tidak biasa terhadap suara-suara tertentu. Suara yang tidak memekakkan bagi kebanyakan orang justru sulit diterima penderitanya. Efeknya bisa sangat bervariasi, mulai dari rasa tidak nyaman yang ringan sampai nyeri telinga yang parah. Pada kasus yang serius, penderita bisa kehilangan keseimbangan total, bahkan mengalami kejang di otak.

Sebuah jurnal Neurosensory Disorders in Mild Traumatic Brain Injury bahkan menemukan bahwa penderita hiperakusis menangkap suara bertenaga rendah sebagai sesuatu yang keras dan menyakitkan. Artinya, masalahnya bukan pada volume aslinya, melainkan cara telinga dan otak menerjemahkan suara tersebut.

Mengapa Tes Pendengaran Biasa Sering Tidak Ketahuan

Tempo.co mencatat satu hal yang menjengkelkan dari kondisi ini. Hiperakusis tidak bisa diukur pakai audiometer seperti halnya kehilangan pendengaran. Cara paling umum mendeteksinya adalah menanyakan langsung pada penderita apakah ia merasa terlalu sensitif terhadap suara sehari-hari. Itu sebabnya banyak yang baru sadar setelah bertahun-tahun mengira dirinya hanya orang yang gampang terganggu suara.

Jangan salah, kondisi ini jauh lebih sering dari kesan kamu. Tempo.co merujuk data yang memperkirakan prevalensinya mencapai 8 hingga 15 persen populasi umum, nyaris sama umumnya dengan kehilangan pendengaran. Hiperakusis juga lebih sering menyerang perempuan dan lansia, serta kerap hadir bersamaan dengan tinnitus, migrain, depresi, gangguan stres pascatrauma, dan kecemasan.

Mesin cuci menyala di dalam rumah, salah satu sumber suara harian yang memicu rasa sakit pada penderita hiperakusis.
Foto oleh Mathias Reding di Pexels

Dari Gemuruh Knalpot Hingga Dentuman Sound Horeg

dr. dr. Fikri Mirza Putranto, Sp.THT-KL(K), dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengingatkan bahwa gejala awal masalah pendengaran sering halus. Setelah menonton konser atau memakai headset berjam-jam, telinga terasa budek atau berdenging. Itu pertanda sel rambut telinga sedang meradang. Kondisi ini bisa membaik dalam 24 jam, tapi kalau terus diulang, kerusakannya jadi permanen.

Ada juga fenomena yang lebih sulit dideteksi, namanya sinaptopati. Hasil tes pendengarannya normal, tapi saat penderita disuruh mendengarkan percakapan di tempat bising, ia gagal membedakan suara utama dari suara sekitar. Filter alami di telinga sudah rusak, sehingga otak harus kerja ekstra memilah suara. Akibatnya penderita cepat lelah, susah fokus, dan prestasi belajar atau kerjanya ikut turun.

Ambang Aman yang Sering Dilanggu Tanpa Disadari

World Health Organization menetapkan ambang batas aman paparan suara adalah 85 desibel selama maksimal 8 jam per hari. Bandingkan dengan sound horeg yang biasa mengisi acara karnaval atau bersih desa. detikHealth mencatat suaranya mencapai 120 hingga 135 desibel, setara dengan pesawat yang sedang lepas landas. Pada angka 120 desibel, WHO menyebutnya sudah masuk batas menyakitkan, dan batas aman berada di dekatnya hanya sekitar 12 detik.

dr. Gina Noor Djalilah dari Universitas Muhammadiyah Surabaya menjelaskan bahwa paparan suara setinggi itu bisa merusak sel rambut halus di koklea, bagian dalam telinga yang mengubah getaran menjadi sinyal listrik menuju otak. Kerusakannya ireversibel karena sel-sel tersebut tidak bisa tumbuh kembali. Selain tinnitus dan hiperakusis, sistem keseimbangan yang juga dikendalikan telinga dalam bisa ikut terganggu, lalu muncul pusing hingga vertigo.

Dampaknya bahkan tidak cuma di telinga. dr. Yuri Afifah, spesialis jantung, menyebut kebisingan di atas 50 desibel sudah berisiko memicu penyakit jantung dan pembuluh darah, meskipun butuh waktu lama. Paparan bising kronis juga memicu lonjakan hormon stres, gangguan tidur, dan naiknya tekanan darah. Di Pasuruan, sebuah pondok pesantren bahkan sampai mengeluarkan fatwa haram untuk sound horeg, dan keputusan itu didukung penuh MUI Jawa Timur.

Dokter memeriksa liang telinga pasien dengan otoskop di klinik, langkah diagnosis gangguan pendengaran seperti hiperakusis.
Foto oleh Castorly Stock di Pexels

Kabar Baiknya, Ini Bisa Dikelola Tanpa Haru Menghindari Semua Suara

Orami mengungkap satu ironi yang penting dipahami. Menghindari suara terus-menerus justru kontraproduktif. Semakin tenang lingkungan yang dibiasakan, sistem pendengaran akan semakin sensitif karena jarang mendapat input suara. Inilah mengapa pelindung telinga tidak disarankan dipakai untuk aktivitas normal sehari-hari. Yang tepat adalah memakainya hanya saat memang benar-benar bising, misalnya saat menyalakan mesin potong rumput atau alat kerja bertekanan.

Penanganan utamanya biasanya lewat rujukan ke klinik audiologi untuk terapi suara. Penderitanya bisa memakai generator suara di samping tempat tidur, umumnya berupa white noise yang terdengar seperti desiran pelan. Pendekatan kedua adalah terapi perilaku kognitif atau CBT, yang membantu penderita mengenali hal-hal apa yang memperburuk atau meringankan gejalanya, lalu menemukan cara hidup yang lebih terkelola.

Tanda Wajib Periksa ke Dokter THT

dr. Fikri memberi patokan praktis untuk kamu yang sering memakai headset. Periksakan telinga kalau muncul dua dari tiga tanda ini, yaitu pemakaian headset lebih dari 4 jam sehari, volume yang selalu diatur di atas 80 persen, atau muncul rasa nyeri serta dengingan di telinga. Jangan tunggu sampai gejalanya menetap, karena kerusakan saraf tidak akan pulih dengan sendirinya.

Hiperakusis memang bukan sekadar urusan bawel atau tidaknya seseorang terhadap suara. Ia kondisi nyata dengan mekanisme yang bisa dijelaskan secara medis, dan menurut Orami banyak penderitanya berhasil mengelolanya setelah mendapat penjelasan dan penanganan yang tepat. Jadi kalau suara mesin cuci atau knalpot tiba-tiba terasa menyiksa, mungkin bukan suaranya yang berubah, melainkan telinga kamu yang sedang minta diperiksa.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar