Suara di Tempat Kerja Terdengar Biasa, Tapi Jatah Amannya Cuma Delapan Jam Sehari
Permenaker 5/2018 menetapkan 85 desibel aman selama delapan jam sehari, tapi konser, hajatan, dan cotton bud menghabiskan jatah itu jauh lebih cepat dari yang kamu kira.

Kamu mungkin tidak menilai tempat kerjamu berisik. Denganuh mesin pendingin, obrolan rekan satu meja, deru komputer, dan musik dari kafe sebelah terasa biasa saja setelah beberapa minggu. Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 melihat ruangan itu dengan cara berbeda. Kalau rata-rata suara di sana menyentuh 85 desibel, telingamu hanya dikasih jatah delapan jam sehari.
Delapan jam kebetulan adalah satu hari kerja penuh. Jatahmu habis tepat di jam pulang, tanpa kamu sadari.
Delapan Jam Itu Angka Resmi, Bukan Tawaran
Permenaker 5/2018 tentang keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan kerja menetapkan Nilai Ambang Batas kebisingan sebesar 85 desibel. Batasnya berlaku untuk paparan maksimal delapan jam sehari atau 40 jam seminggu. Angka ini bukan perkiraan kasar, dan dokter THT RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Sabilarrusydi, ingatkan satu hal yang sering luput.
Kenaikan kecil di angka ini langsung memangkas waktu aman. Setiap naik tiga desibel, durasi aman turun jadi setengahnya. Dengan hitungan itu, 88 desibel hanya aman empat jam. Lalu 91 desibel dua jam, 94 desibel satu jam, dan 97 desibel tinggal setengah jam.
Tangga Tiga Desibel Yang Tak Pernah Dipajang
Jadi sekali suara melampaui 85 desibel, waktu aman bukan berkurang sedikit demi sedikit. Ia terpotong separuh demi separuh. Konser musik, hajatan warga, dan sound system berdaya tinggi kerap jauh melewati angka ambang tadi.
Sabilarrusydi menyebut 120 desibel sudah masuk zona berbahaya dan hanya aman didengar sekitar sepuluh detik. Satu lagu di depan speaker besar bisa menghabiskan jatah harianmu dalam waktu singkat. Saat itu juga, kamu tidak akan merasakan apa-apa.

Di konser maupun hajatan, panitia sebenarnya bisa mengukur tingkat suara dengan sound level meter. Sayangnya alat itu jarang muncul, apalagi kalau tetangga sudah mulai mengeluh dari rumahnya.
Bising Bukan Hanya Milik Pabrik
Angka ambang batas memang dibuat untuk lingkungan kerja. Tapi tempat paling bising dalam hidup banyak orang bukanlah pabrik. Penonton konser, pengunjung kafe dengan speaker besar, atau pekerja lapangan yang menemani mesin seharian semuanya meminjam angka yang sama.
Kementerian Kesehatan mencatat paparan kebisingan di atas 85 desibel selama delapan jam, terus-menerus setiap hari, memicu gangguan kesehatan dan keselamatan kerja. Dampaknya bisa berupa ketulian sementara atau permanen.
Telinga Sembuh, Tapi Tidak Selamanya
Dokter Spesialis Okupasi dari Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia, dr. Handoyo, ingatkan prosesnya berjalan diam-diam. Pendengaran turun secara bertahap, bukan mendadak. Paparan pertama masih bisa pulih kalau diberi jeda.
Masalahnya, paparan berulang tanpa jeda akhirnya meninggalkan kerusakan yang tidak kembali. Banyak orang baru sadar saat obrolan di tempat ramai mulai terdengar seperti berlari. Sayangnya tahap itu sering muncul setelah kerusakan permanen terbentuk.
Kebiasaan Kecil Diam-Diam Memotong Jatah
Suara keras punya teman yang tidak terduga, yaitu benda kecil yang kamu masukkan ke telinga. Ketua Umum Perhati-KL Yussy Afriani Dewi menyebut masalah sumbatan serumen mencapai 7 sampai 35 persen penduduk dunia. Sumbatan ini bisa menurunkan pendengaran sebesar 5 sampai 10 desibel.
Laporan Perhati-KL tahun 2023 menemukan sumbatan serumen pada 30 sampai 50 persen anak usia sekolah dasar. Masalah ini menjadi rujukan terbanyak ke poli THT dalam layanan Jaminan Kesehatan Nasional.
Telinga Sebenarnya Sudah Punya Cara Sendiri
Dokter Sally Mahdiani dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung menjelaskan, serumen dihasilkan kelenjar di sepertiga bagian luar liang telinga. Fungsinya melindungi telinga dari infeksi, kotoran, dan benda asing. Normalnya serumen keluar sendiri saat kamu menggerakkan rahang, misalnya saat berbicara atau mengunyah.
Rambut halus di liang telinga menyapu kotoran ke arah luar. Cotton bud punya diameter nyaris sama dengan lubang telinga. Alih-alih mengambil kotoran, kapas itu justru mendorong serumen masuk lebih dalam, ke bagian yang tidak punya rambut halus. Sumbatan lalu terbentuk perlahan tanpa kamu sadari.

Membersihkan telinga dengan kapas adalah salah satu kebiasaan yang paling sulit diputus. Sayangnya telinga tidak butuh bantuan dari benda yang justru mendorong kotorannya masuk.
Cara Memperlambat Penghabisan Jatah
Aturan yang melindungi pekerja pabrik bisa dipinjam untuk hidup sehari-hari. Ahli keselamatan kerja menyebut urutan pengendalian bahaya dimulai dari eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan baru alat pelindung diri. Kamu tidak bisa menghapus konser dari dunia, tapi bisa memilih posisi yang lebih jauh dari speaker.
Untuk lingkungan yang sangat berisik, earmuff menutupi seluruh telinga dan memblokir suara eksternal lebih kuat. Earplug dari busa, silikon, atau karet lebih portabel dan cocok dipakai bersama helm maupun kacamata pelindung. Pilihannya tergantung tingkat kebisingan dan kenyamanan pemakai.
Tiga Langkah Yang Masuk Akal Hari Ini
Saat memakai penyuara telinga, Yudi Pramono dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menyarankan aturan praktis. Maksimal 60 persen dari volume maksimum, dan maksimal 60 menit sekali pakai.
Data Perhati-KL tahun 2024 menunjukkan separuh penduduk usia 12 hingga 35 tahun mendengarkan musik melalui earphone di atas ambang aman. Artinya aturan 60 dan 60 ini lebih relevan buat kamu daripada buat pekerja pabrik.
Langkah kedua, hentikan cotton bud dan biarkan telinga membersihkan dirinya sendiri. Langkah ketiga, kalau sudah ada keluhan pendengaran, periksakan ke dokter THT sebelum sumbatan jadi berat. Penapisan pendengaran dianjurkan sejak lahir, di masa prasekolah, pada pekerja yang terpapar bising, dan pada lansia.
Dunia sendiri sudah punya tagihan besar. Sekitar 430 juta penduduk dunia hidup dengan gangguan pendengaran, dan angka itu terus tumbuh.
Telinga Tidak Mengirim Tagihan Dulu
Kerusakan pendengaran jarang memberi peringatan awal. Yang ada hanya suara yang terasa biasa, padahal jatah amannya sedang dihabiskan tanpa dihitung. Tiga hal sederhana bisa menahannya, yaitu jaga volume earphone, jauhi speaker besar, dan tinggalkan cotton bud.
Delapan jam di angka 85 desibel bukan waktu yang banyak. Sekarang hitung sendiri, hari ini suara apa saja yang sudah kamu dengar lebih lama dari itu.
Artikel Terkait
Lihat kategori Kesehatan ↗
Tulangmu Membangkang Diam-Diam, dan Satu-Satunya Pengkhianatan Adalah Sunyimu Sendiri
Kepadatan tulang menurun tanpa gejala sampai patah terjadi. Kunci penundaannya bukan sekadar susu, melainkan kombinasi kalsium, vitamin D, protein, dan kaki yang rajin bergerak.
Jam Tujuh Pagi Bersikeras Kamu Sudah Beristirahat, Tubuhmu Bilang Belum
Bangun lelah padahal tidur sudah tujuh atau delapan jam bukan kesalahan kasur. Sebagian besar kerusakan terjadi jauh sebelum kepala menyentuh bantal.
Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara
Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar